Kiai Hasyim, Ulama Militan yang Berwatak Moderat

MENINGGALNYA KH Hasyim Muzadi (Kiai Hasyim) hari Kamis (16/3/2017) benar-benar mengagetkan sekaligus menyisahkan kesedihan tak berbilang berbagai kalangan. Bukan saja kalangan NU, tapi juga kalangan ormas Islam lainnya, termasuk tokoh bangsa dan dunia, juga rakyat biasa di berbagai penjuru Indonesia juga dunia.

Sebagai sesama Pondok Pesantren Gontor Ponorogo sekaligus sahabat dekatnya Prof Dr. Din Syamsuddin yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, mengenang Kiai Hasyim sebagai ulama yang memiliki wawasan keislaman yang luas, wawasan kebangsaan dan kemasyarakatan yang luas, serta memiliki pemikiran strategis, serta mampu menempatkan Islam secara tepat dalam konteks global. Baca lebih lanjut

Menelisik Eksistensi Pendidikan Luar Sekolah

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) merupakan salah satu jenis pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan non formal yang bukan pendidikan formal dan informal (UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, Pasal 13 ayat 1). Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa, “Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.” (Pasal 26 ayat 1) Baca lebih lanjut

Bangkitlah Pemuda dan Mahasiswa Indonesia!

PERGERAKAN pemuda dan mahasiswa dalam kancah pergulatan politik Indonesia mempunyai tempat tersendiri. Peran pergerakan pemuda dan mahasiswa menempatkan diri pada penguatan politik dan logika gerakan. Logika tersebut lahir dari sebuah realitas bangsa yang sedang mengalami masa transisi dan belum stabil dalam menempatkan posisinya menjadi bangsa yang kuat dan dihargai. Karenanya penguatan logika dan peranan gerakan pemuda dan mahasiswa akan menjadi bagian tersendiri dalam sejarah bangsa yang sedang mengalami perubahan ini. Baca lebih lanjut

Alhamdulillah Bukhari Muhtadin Sudah Berusia 3 Tahun

Aku, istri, Azka dan Bukhari

Tak terasa, Bukhari Muhtadin anakku yang ke-2, pada hari ini Jumat 10 Maret 2017 genap berusia 3 tahun. Bukhari, demikian aku dan keluarga besar menyapanya, lahir pada 10 Maret 2014 lalu di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Di usianya yang ke 3 tahun ini Bukhari sudah bisa berhitung, ikut menghafal ayat-ayat pendek al-Qur’an, berbagai macam doa, bacaan shalat, membaca dan mencoret berbagai buku, membuka sekaligus mengacak-acak buku dan tentu saja bernyanyi ala anak seusianya.

Kakaknya, Azka Syakira yang sudah berusia 5 tahun lebih tak mau kalah. Selain bisa berhitung, ikut menghafal ayat-ayat pendek al-Qur’an, berbagai macam doa, bacaan shalat, membaca dan mencoret berbagai buku, membuka sekaligus mengacak-acak buku dan tentu saja bernyanyi ala anak seusianya, Azka juga kerap membaca puisi dengan gayanya sendiri.

Bukhari-3 tahun
Bukhari Muhtadin, 3 tahun

Sebagai orangtua, aku dan istri kerap kewalahan untuk meladeni ajakan keduanya untuk bermain bareng. Bukan saja mengajak untuk menulis, membaca dan bernyanyi, keduanya juga mengajak kami tuk jalan-jalan keliling komplek perumahan, termasuk untuk ke toko buku.

Di atas segalanya, di usia 3 tahunnya kali ini, aku berdoa kepada Allah semoga Bukhari selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah agar menjadi anak yang kuat iman dan takwanya, menjadi anak soleh yang cerdas juga bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat luas. Termasuk mampu menjadi adik yang baik bagi kakak terbaiknya Azka Syakira. Begitu juga Azka, semoga selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah agar menjadi anak yang kuat iman dan takwanya, menjadi anak solehah yang cerdas juga bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat luas.

Akhirnya, mohon maafkan Ayah dan Bunda karena belum mampu menjadi orangtua terbaik bagi kalian berdua. Semoga hidup kalian selalu dalam keberkahan-Nya ya sayang. Salam cinta dari Ayah dan Bunda. Emmuaaach! [Oleh: Syamsudin Kadir–Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Ayahnya Azka Syakira dan Bukhari Muhtadin]

Jadilah Orang Goblok yang Goblok

gblokKarena saya membaca bukunya Jalaludin Rahmat langsung saya dibilang kaum Syiah.
Terus kalau saya baca bukunya Samuel Huntington apa langsung dibilangin Kristen ya?
Karena suka beli obat di assunah langsung dibilang agen wahabi.
Pas baca surat yasin dan alkahfi malam jumat langsung dibilang kaum bid’ah NU.
Ketika jarang qunut dibilang orang Muhammadiyah dan Persis.
Pas baca bukunya Anis Matta langsung dibilang orang PKS.
Pas baca bukunya Adian Husaini langsung dibilang pentolan Masyumi.
Nonton RCTV langsung dibilang intelnya Dahlan Iskan.
Lalu kalau nonton TV One apa langsung dibilang agennya ARB?
Atau apakah kalau saya beli air galon di tokoh seorang Konghucu saya langsung dibilang Konghucu?
Atau jika saya baca ayat ayat tentang jihad langsung dilabeli sebagai teroris juga?
Kita memang kerap melabel orang tanpa kita paham siapa dan dengan siapa kita menempel label, dan bagaimana konteksnya.
Lalu, kalau pakai facebook apa langsung dibilangin antek Yahudi juga?
Atau apakah setiap memakai baju berlogo persib itu pemain persib?
Jangan-jangan nanti kalau ada dokter masuk rumah sakit jiwa langsung dibilangin orang gila alias sakit jiwa juga tuh. Hadeuh..
Dengarin ya… Kalau jadi orang goblok itu agak cerdas dikit, atau coba gobloknya diturunin dikit… Hidup di dunia ini pakai akal sehat, dikit aja… Itu dah cukup.

Baca lebih lanjut

Menelisik Demokrasi dan Pilkada Serentak

pilkada-serentakPADA praktiknya demokrasi mengalami masa rumitnya, dimana para penggawa yang diberi mandat untuk menjalankan rumusan dan nilai-nilai demokrasi terjebak dalam berbagai tindak-tanduk tak menentu. Bukan saja pelanggaran hukum dalam bentuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), penistaan agama, tindak amoral dan pelanggaran terhadap prinsip etis, bahkan para penggawa terjebak dalam konflik kepentingan dan saling “mengunci”. Ujung-ujungnya, demokrasi menjadi defisit aksi atau dengan istilah lain “defisit demokrasi”. Lagi-lagi, rakyat tetap menjadi objek penderita yang dikorbankan secara terbuka.

Jika mengkaji ini lebih jauh, istilah “defisit demokrasi” awalnya merupakan kritik terhadap legitimasi dan keterwakilan dalam Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) pada akhir 1970-an yang kemudian diadopsi dalam kajian politik secara luas di seluruh dunia. Dari banyak definisi, dapat disimpulkan bahwa, pertama, defisit demokrasi adalah situasi tidak terpenuhinya secara maksimum nilai-nilai demokrasi di dalam prosedur dan lembaga negara. Ketidakcukupan itu tercermin dari tidak berfungsi secara optimalnya lembaga-lembaga negara, terutama karena terhambatnya pengaruh dan aspirasi rakyat kepada pemerintah dalam memenuhi kehendak atau kebutuhan kenyamanan dan kesejahteraan rakyat secara luas. Baca lebih lanjut

Tak Retak Karena Pilkada Serentak

pilkadaPilkada serentak tahap dua kali ini dilaksanakan secara serentak pada Rabu 15 Februari 2017 kemarin. Dalam catatan Amran (2016), ada 101 daerah otonom yang menyelenggarakan pilkada yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 5.252.870.982.383 tersebut. Anggaran tersebut dialokasikan untuk penyelenggara atau KPU/KPUD (Rp 4.235.298.808.688), pengawas atau Bawslu/Panwas (Rp 955.046.847.085), dan Pengamanan (Rp 63.231.326.610).

Kalau ditelisik, pilkada serentak tahap dua kali ini diadakan di 7 propinsi (Aceh, DKI Jakarta, Banten, Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan Papua Barat), 76 kabupaten dan 18 kota. Tersebar pada 29 propinsi dengan jumlah terbesar di Acah sebanyak 20 kota/kabupaten, Papua sebanyak 11 kota/kabupaten. Sedangkan Bali, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Bengkulu dan Jawa Timur masing-masing 1 kabupaten. Baca lebih lanjut