Tak Retak Karena Pilkada Serentak

pilkadaPilkada serentak tahap dua kali ini dilaksanakan secara serentak pada Rabu 15 Februari 2017 kemarin. Dalam catatan Amran (2016), ada 101 daerah otonom yang menyelenggarakan pilkada yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 5.252.870.982.383 tersebut. Anggaran tersebut dialokasikan untuk penyelenggara atau KPU/KPUD (Rp 4.235.298.808.688), pengawas atau Bawslu/Panwas (Rp 955.046.847.085), dan Pengamanan (Rp 63.231.326.610).

Kalau ditelisik, pilkada serentak tahap dua kali ini diadakan di 7 propinsi (Aceh, DKI Jakarta, Banten, Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan Papua Barat), 76 kabupaten dan 18 kota. Tersebar pada 29 propinsi dengan jumlah terbesar di Acah sebanyak 20 kota/kabupaten, Papua sebanyak 11 kota/kabupaten. Sedangkan Bali, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Bengkulu dan Jawa Timur masing-masing 1 kabupaten. Baca lebih lanjut

Menyoal Golput Pemilu dan Pemilukada

mengapa-golputHAMPIR 18 tahun lebih umur reformasi adalah waktu yang cukup panjang untuk melakukan pembenahan di berbagai sisi. Namun, pada kenyataannya ia terlalu pendek bagi penyelesaian berbagai permasalahan bangsa. Salah satu dirkursus yang hampir tak luput dibicarakan, misalnya, masalah kegagalan elite politik dalam menjalankan perannya sebagai lokomotif perubahan pasca reformasi ‘98.

Demokratisasi hadir sebagai dua sisi dari satu keping mata uang. Di satu sisi, demokratisasi telah menghadirkan kebebasan, memfasilitasi perluasan (bahkan ledakan) partisipasi, dan menyuburkan kompetisi—termasuk adanya peluang terbuka bagi warga negara untuk menggugat elite politik yang “norak” dan “amoral”.

Pada sisinya yang lain, demokratisasi sejauh ini begitu telanjang telah gagal menegakkan akuntabilitas, mandat dan keterwakilan politik. Maka, yang sejauh ini terbangun adalah, meminjam istilah Guillermo O’Donnell, “demokrasi delegatif”. Orang banyak terlibat dalam prosedur-prosedur pokok demokrasi tetapi produk yang dihasilkannya tak mengabdi pada kepentingan rakyat banyak. Di hadapan rakyat, demokrasi hadir sebagai “ongkos” bukan “keuntungan”. Para pejabat publik—yang berkhianat pada rakyatlah—yang memetik keuntungan itu. Baca lebih lanjut

Publikasi atau Minggir!

publikasi-yukDALAM dunia akademis dan kepenulisan, ungkapan Publish or Perish kerap “memanasi” telinga banyak orang, termasuk saya yang masih baru dalam dunia kepenulisan. Intinya sederhana tapi tegas : terbitkan gagasan kita, atau kita lenyap begitu saja. Maka, menulis (buku, novel, artikel, essay, puisi, cerpen dan serupanya), misalnya, memiliki nilai eksestensial tersendiri, yang membuat penulisnya merasa lebih hidup bermakna atau bermakna dalam hidupnya.

Karena menulis dapat memberi efek semacam itu, maka menulis menjadi sebuah agenda prioritas. Itulah yang kita perlu tanamkan dalam hati dan pikiran kita ketika menyebut dan menempatkan aktivitas menulis sebagai passion kita. Gairah atau semangat kita dalam menulis akan menuntun kita pada situasi yang berdarah-darah, yaitu bahwa kita harus berusaha ekstra keras demi menulis hingga menerbitkan karya tulis kita apapun bentuk atau jenisnya : buku, novel, artikel, essay, puisi, cerpen dan serupanya. Baca lebih lanjut

Menulis adalah Cinta

pembaca-buku-2Sahabat, menulis itu seperti cinta. Cinta membuatmu terdorong tuk melakukan sesuatu tanpa harap balas jasa. Maka menulis pun mengajak kamu tuk terus memberi: mengeja huruf menjadi kata, menatasetiap kata hingga menjadi kalimat, kemudian menjadi paragraf dan begitu seterusnya.

Sahabat, ya menulis itu mencintai apa yang ada dalam pikiran juga hatimu. Cinta, sebab dengannya kamu dapat berbagi manfaat dengan sesiapa. Hatimu terasa tenang bila semuanya dapat kamu bagi dengan siapapun di sekitar kamu. Tanpa cinta, maka sangat susah rasanya berbagi kata, demikian ungkap seorang teman.

Sahabat, masih ingatkan kamu di saat Rasulullah mengingat umatnya dengan ungkapan “umatiy…, umatku”? Sungguh, itu karena rasa cinta beliau kepada kita umatnya. Begitu juga menulis. Kalau kamu mencintai ia, ya menulis, maka kamu akan tergoda tuk menulis dan menulis. Kamu tak kalah oleh rasa malas yang kerap datang. Kamu tak mau takluk oleh berbagai alasan yang mengada-ada.. yang membuat kamu enggan berkarya. Baca lebih lanjut

212-Aksi Bela Islam III-2 Desember 2016

212-monas Bismillah… Saya menyaksikan keikhlasan, kesungguhan, pengorbanan, semangat dan niat baik mereka yang hendak aksi bela Islam hari ini di Jakarta. Minimal dari status media sosial mereka, dari jawaban mereka ketika ditanya dan diajak ngobrol langsung. Sungguh, sangat menenangkan hati. Terlalu naif rasanya bila masih ada yang memfitnah mereka dibayar oleh tokoh politik atau pengusaha tertentu. Bahkan terlalu biadab orang atau mereka yang menuduh para massa aksi itu sebagai makar bahkan teroris. Dengan segala keterbatasan dan kealpaan saya, saya doakan semoga semunya dilindungi Allah dan mendapat keberkahan dari-Nya. Ingat, jaga kesantunan, jauhkan caci maki, hindari kata-kata kotor, jangan menghina agamanya Ahok, tidak anarkis, dan tidak merusak. Cukup perbanyak zikir dan istighfar, upayakan kenalan dgn peserta aksi yang lain, minta nomor handphon, akun media sosial dan alamat rumahnya, perkuat ukhuwah dan persatuan sesama peserta aksi, taati komando, jangan lempari anggota TNI dan Polri sebab mereka adalah sedarah dan sedaging, bukan musuh. Kalau berkenan, sekalian doakan Ahok dan pembelanya mendapat petunjuk dari Allah hingga mampu belajar bersama tentang Islam bahkan masuk Islam. Semoga selamat di saat berangkat, selamat juga di saat kembali. Selebihnya, maaf kalau dalam tulisan ini ada kata yang tak patut. Wassalam. (Syamsudin Kadir, Pegiat Kantin Seni dan Sastra Mitra Pemuda; Cirebon, Jumat 2 Desember 2016)

Mencintai Ibu, Mencintai Surga

ibukuIbu, mengenangmu tak cukup dengan berkata, kata-kata dan kalimat. Ucapan terima kasih pun hanyalah selingan yang tak sebanding dengan apa yang kau berikan untukku, selamanya. Sejak dalam kandungan hingga kini, semua yang kau lakukan adalah amal besar, ya kerja besar dalam sejarah umat manusia.

Ibu, mengingatmu seperti mengulang kembali seluruh perjalanan hidup yang pernah kulewati. Tak ada lakon yang kau tunaikan yang bebas dari rasa cinta dan perngorbanan yang memang kau miliki sejak dulu. Pemberianmu tak mampu kubalas hingga dalam segala hitungan dan ruang batas. Maka ibu pun bukan saja ibu yang melahirkan tapi juga pemberi warna dalam kehidupanku. Baca lebih lanjut

Tuhan dalam Teori Barat

tuhanSeorang remaja Amerika suatu hari keluar rumah untuk jalan-jalan bersama tiga orang kawannya. Sewaktu pamitan, ibunya berpesan: “Semoga Tuhan bersama kalian”. Anaknya dengan ringan menjawab: “Tuhan boleh ikut asal mau di bagasi”. Dalam perjalanan, mobil yang dinaiki anaknya mengalami kecelakaan hebat. Anak remaja itu meninggal dunia, mobilnya hancur, tapi bagasinya masih utuh.

Bagi seorang mukmin kisah ini sudah membuktikan adanya Tuhan. Tapi kisah kecelakaan maut itu hanya sekelumit dari jutaan kisah ateisme yang melanda masyarakat Barat. Asalnya adalah buah pikiran para intelektual yang menjadi teori. Buah pikiran itu lalu dipraktikkan dalam dunia pendidikan dan hasilnya adalah lahirnya pandangan hidup masyarakat. Baca lebih lanjut