Belajar dari Pilkada Serentak

PEMILIHAN kepala daerah di 171 daerah (17 propinsi, 115 kabupaten dan 39 kota) di seluruh Indonesia atau yang sering kita sebut dengan pilkada serentak baru saja berlalu (27/6/2018). Kesibukan dan hiruk pikuk persiapan dan pelaksanaan pilkada terbesar sepanjang sejarah republik ini pun berlalu sudah. Bahkan KPUD berbagai daerah pun sudah mengumumkan hasil pilkada serentak.

Walau ada 8 hasil pilkada yang digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK), secara umum pilkada serentak berjalan dengan baik. Keterlibatan kita sebagai pemilih pada momentum pemilihan yang terhitung hanya beberapa detik itu pun kini menjadi sejarah. Sejarah, sebab proses tersebut sangat menentukan masa depan daerah di mana kita ikut memilih, baik propinsi maupun kabupaten/kota, minimal untuk 5 tahun ke depan. Baca lebih lanjut

Iklan

Menggembirakan Perbedaan

PILKADA serentak yang dilaksanakan di 171 daerah (17 propinsi, 115 kabupaten dan 39 kota) di seluruh Indonesia pada Rabu (27/6/2018) lalu secara umum sudah berlangsung cukup hikmat: damai dan tenang. Hal ini ditandai dengan tidak adanya masalah besar yang terjadi pada momentum hari pencoblosan. Kondisi semacam ini minimal hingga tulisan ini saya hadirkan di hadapan pembaca.

Walau begitu ada saja masalah yang sedikit-banyak mendapat perhatian publik, bahkan menjadi berita berbagai media nasional. Pilkada yang dianggap sebagai pemanasan untuk pemilihan umum (pilpres, pileg) pada 17 April 2019 yang akan datang ini cukup dicederai oleh peristiwa hilangnya 2.467 kertas suara di salah satu Desa/Kecamatan di Kabupaten Cirebon. Di samping masalah lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu dalam tulisan ini. Kita berharap agar pihak berwenang mampu menindak secara tegas para pelaku dan yang terlibat hingga mendapatkan hukuman sesuai hukum yang berlaku. Sebab kalau dibiarkan, itu akan menjadi embrio bagi adanya pelanggaran lanjutan pada pemilu (17 April 2019) yang akan datang. Bahkan bisa menjadi sumber dan suluh konflik horizontal yang tak pernah kita harapkan. Baca lebih lanjut

Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan

RAMADHAN adalah tamu yang sangat agung yang selalu dinanti oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Bulan ramadhan memiliki banyak nama lain yaitu bulan pendidikan. Sebab pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah dalam banyak hal. Dengan manajemen yang khas dan unik, ramadhan telah menyajikan proses pendidikan yang nyaris tak ada bandingannya.

Beberapa nilai pendidikan yang terkandung dalam shaum ramadhan sebagiannya dapat kita sebutkan, pertama, mendidik untuk menjaga sikap disiplin. Shaum adalah ibadah paling rahasia di mata manusia, yang bisa menumbuhkan sikap disiplin diri, merasa diawasi (muraqabah) oleh Allah. Sikap ini akan memunculkan perasaan ada pengawasan diri sendiri dan saat mengawasi itu kita pun sadar bahwa kita sedang diawasi oleh Zat Yang Maha Mengetahui segala-galanya. Baca lebih lanjut

Berjihad Melawan Terorisme

PADA Mei 2018 (8-14 Mei) ini kita dihebohkan oleh beberapa aksi teror yang menggemaskan. Dari kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Depok (8/5), upaya penusukan anggota polisi oleh dua terduga teroris di Mako Brimob, Depok (12/5), upaya pengeboman oleh empat terduga teroris ke Mako Brimob yang digagalkan oleh Densus 88 di Cianjur (13/5), bom bunuh diri oleh tiga keluarga terduga teroris di Surabaya (13/5), ledakan bom bunuh diri di rumah susun Wonocolo di Sidoarjo (13/5), penyerangan dengan pengeboman yang dilakukan terduga teroris di gerbang masuk Mapolresta Surabaya (14/5), penangkapan atas lima orang terduga teroris dan penembakan atas empat terduga teroris di Graha Pena dan kawasan Jembatan Merah, Surabaya (14/5), hingga pengeboman di Mapolda Riau (16/5) dan sebagainya.  Baca lebih lanjut

Melawan Hegemoni Syahwat dengan Shaum

TAZKIYYATUN nafs (penyucian jiwa) menjadi satu tugas penting yang diemban oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam terhadap umat beliau. (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2). Karena itu, kewajiban besar manusia pengikut beliau adalah melakukan upaya pensucian jiwanya (QS. Asy-Syams [91]: 9-10). Jiwa manusia memang diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih yang baik dan yang buruk. (QS. Asy-Syams [91]: 8). Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Allah berfirman bahwa sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian datanglah setan kepada mereka, maka kemudian setan pun menyelewengkan mereka dari agama mereka.” (HR Muslim). Baca lebih lanjut

Melawan Teror Alat Praga Kampanye

KEMARIN (Selasa 15 Mei 2018) saya kembali didaulat menjadi narasumber acara Selamat Pagi Cirebon (SPC) di RCTV yang dipandu oleh intelektual muda sekaligus pemerhati sosial-politik Mas Afif Rivai. Pada acara yang mengambil tema “APK; Antara Sosialisasi dan Syahwat Politik” ini saya dipanelkan dengan Mas Dani Jaelani Ketua Generasi Muda FKPPI Kota Cirebon.

Tema yang dingkat SPC memang itu layak diperbincangkan terus menerus. Sebab pelaksanaan pilkada serentak 27 Juni 2018 dan pemilu 17 April 2019 segera menjelang. Dinamika politik dan berbagai persiapan pun sudah terlihat, termasuk alat praga kampanye (APK) yang dapat ditemukan di mana-mana. Harapannya, hal ini menjadi indikasi positif bahwa kontestasi penentuan pemimpin (eksekutif, legislatif) sudah menjadi hal yang dinanti-nanti oleh berbagai elemen, termasuk pemilih sebagai penentu kontestasi. Baca lebih lanjut