Bencana Politik, Politik Bencana

2 Jan

UNGKAPAN yang menyatakan bahwa 2018 merupakan tahun politik bukanlah isapan jempol. Siapapun maklum bahwa fenomena atau berbagai agenda dan peristiwa politik  terjadi pada hampir seluruh hari-hari di tahun 2018. Terutama lagi berbagai persiapan menjelang pemilu (Pilpres dan Pileg) pada 17 April 2019 mendatang.

Memahami berbagai fenomena di atas secara serius merupakan bentuk sikap yang elok. Sebab sekecil apapun kontribusi kita terhadap urusan satu warga pun adalah satu bentuk pengabaian yang mulia. Lebih-lebih jika peduli terhadap urusan publik yang lebih luas, itu merupakan pengabdian yang lebih mulia, bahkan sangat sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. Baik yang dilakukan oleh para elite maupun oleh rakyat biasa.

Sekadar contoh, perbedaan pandangan dan pilihan politik, masih saja  mengundang dinamika sosial yang membuat energi kolektivisme kita sebagai sebuah bangsa yang kaya menjadi lunglai karena tersiksa oleh diri kita sendiri. Sebagai sebuah bangsa, kita masih belum mampu bersedia “menjadi orang lain” untuk diri kita sendiri. Padahal kemampuan menempatkan orang lain seperti diri sendiri adalah cikal bakal bangsa ini dulu menjadi merdeka dan berdiri tegak menjadi negara yang berdaulat. Baca lebih lanjut

Iklan

Membangun Optimisme Warga Negara

2 Jan

DALAM memahami dan menghadapi berbagai kondisi yang “tidak menguntungkan” yang melilit bangsa kita, kita sebagai warga negara tak perlu terjebak lama dalam kubangan putus asa. Semestinya, selalu tersedia alasan untuk optimis. Sebab warga negara sejati adalah mereka yang tak terjebak dalam kesalahan, kekeliruan dan ketidakjelasan penguasanya. Itulah yang kita namai sebagai warga negara, tahu hak dan paham kewajiban.

Betul bahwa fenomena kegalauan bangsa kita terus menayang di hadapan mata, namun tanpa optimisme rakyat maka negara ini hanya akan menjadi gugusan tak berbentuk apa-apa. Selain itu, pesimisme pada dasarnya tak akan pernah menjadi modal memadai untuk merebut hari ini dan esok yang lebih baik. Pesimisme justru lebih “mantap” untuk menegasikan bahkan menghambat perubahan. Meminjam Noam Chomsky, “Jika Anda berlaku seolah-olah tak ada peluang bagi perubahan, maka sebetulnya Anda sedang menjamin bahwa memang tak akan ada perubahan.” Baca lebih lanjut

Menjadi Khotib dan Dai Profesional

30 Des

PERKEMBANGAN dakwah Islam akhir-akhir ini cukup mencengangkan. Islam bukan saja disajikan di berbagai pesantren dan masjid-masjid, tapi juga melalui forum-forum formal seperti perkantoran dan sebagainya. Bahkan juga tempat-tempat umum juga lapangan terbuka. Efeknya, nilai-nilai Islam mulai diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat luas, bahkan di level kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi ini tentu saja membuat kita layak bersyukur kepada Allah. Di samping mengapresiasi kepada mereka yang berjuang dan banyak berjasa.

Namun kondisi demikian, tidak boleh membuat kita lalai dan tak jaga. Sebab tak sedikit masyarakat yang belum begitu menikmati indahnya Islam. Penyebabnya bukan saja karena “enggan belajar” tapi karena berbagai forum keagamaan seperti khutbah Jumat dan ceramah pengajian kerap tidak menampilan Islam secara indah. Dalam konteks itulah kegiatan yang menunjang penguatan kompetensi khotib dan da’i sehingga semakin profesional menjadi penting untuk didukung dan mendesak untuk dilakukan. Baca lebih lanjut

Menjadi Pemilih dan Pemimpin Idaman

20 Des

PERHELATAN besar yang dinanti-nanti oleh seluruh rakyat Indonesia segera menjelang. Ya, pemilihan Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif baik Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat tingkat propinsi dan kota/kabupaten serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD)—yang selanjutnya disebut Pileg yang diselenggarakan secara serentak akan diselenggarakan pada 17 April 2019 yang akan datang. Sebagai warga negara sekaligus pemilih, kita tentu punya harapan yang selalu terbersit dalam hati dan menggeliat dalam pikiran kita. Baca lebih lanjut

Parpol dan Pentingnya Etika Politik

27 Sep

KEMARIN (Ahad/23/9) saya menghadiri acara “Silaturahim Relawan, Pengenalan dan Pemaparan Visi-Misi Kang Dede Muharam” di Andalus City, Kota Cirebon. Acara kali ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Ahmad Kholiq, MA (Akademisi dan Ketua ICMI Kabupaten Cirebon) dan Kang Dede Muharam (KDM) yang merupakan calon anggota legislatif (Caleg) daerah pemilihan (Dapil) 8: Kota/Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, dari Partai Gerindra. Baca lebih lanjut

Menjadi Pemimpin yang Dicintai

27 Sep

SECARA konseptual dan teori, sukses kepemimpinan diukur dari keberhasilannya dalam memperjuangkan kepentingan seluruh rakyat. Gagal memperjuangkan kepentingan rakyat, maka gagal-lah sang pemimpin. Konsep dan teorinya sederhana, tak perlu berpanjang-lebar.

Dalam konteks itu, tak salah jika salah satu tokoh bangsa Kiai Haji Agus Salim pernah mengatakan, “Memimpin adalah menderita, leiden is lijden”. Menurut Yudi Latif (2018), kredo Kiai Salim itu seperti air jernih yang mengalir dari hulu sungai ketulusan zamannya. Benar-benar mencerminkan betapa pemimpin mestinya bukan sekadar melayani, tapi juga membimbing rakyatnya menuju idealisme kebangsaan dan kenegaraan yang hendak diwujudkannya. Baca lebih lanjut

Generasi Milenial dan Pemilu 2019

27 Sep

PERUBAHAN zaman semakin tak terbendung dan tak terprediksi. Realitas sosial yang semakin berubah pun, menjadikan persoalan manusia semakin kompleks dan penuh kompetisi. Alat komunikasi dan informasi yang kian bebas, terbuka dan maju, mengubah manusia menjadi beribah dan serba ingin cepat, tepat dan akurat dalam menjalani kehidupannya. Itulah yang dirasakan oleh generasi milenial.

Generasi milenial adalah terminologi yang saat ini banyak diperbincangkan di berbagai momentum dan forum. Generasi milenial atau generasi Y adalah kelompok demografis (cohort) setelah generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir antara 1980-2000 sebagai generasi milenial. Jadi, generasi milenial adalah generasi baru yang saat ini (tahun 2018) berusia antara 18–35 tahun. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: