Titik Terang Skandal KTP Elektronik

HARUS diakui bahwa korupsi adalah salah satu penyakit yang sedang mewabah di negeri ini. Menurut Etty Indriati (2014), korupsi merupakan transaksi kalkulatif untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri (self-gain) secara terencana. Bila dianalogikan dengan pembunuhan, korupsi bagaikan pembunuhan tingkat satu (first degree murder) karena dilakukan dengan terencana.

Di hampir semua sektor termasuk di DPR, Kementrian, Kepala Daerah, Kejaksaan, Pengadilan, Sektor Swasta dan sebagainya terjangkit penyakit korupsi. Kepolisian juga tak luput dari kasus paling berbahaya ini. Kita masih ingat kasus simulator yang melibatkan swasta pemenang tender simulator. Satu kasus yang tentu saja membuat kita tercengang.

“KPK menetapkan Saudara SN, anggota DPR periode 2009-2014 sebagai tersangka baru kasus KTP elektronik”, kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam konferensi pers di Kantor KPK, Kuningan, Jakarta (17/7/2017). Ya, akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menetapkan tersangka baru kasus KTP Elektronik (KTP-e). Tak tanggung-tanggung, Setya Novanto (SN) yang kini masih menjabat sebagai Ketua DPR sekaligus Ketua Umum Golkar ditersangkakan KPK. Baca lebih lanjut

Guru Sebagai Penentu Anak Berkarakter

Menurut ajaran Islam, pendidikan adalah kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dalam dan kehidupannya.

Pendidikan Islam sendiri merupakan disiplin ilmu yang di dalamnya mengandung berbagai dimensi. Seperti dimensi manusia sebagai subyek atau pelaku pendidikan (baik berstatus sebagai pendidik atau peserta didik), maupun dimensi landasan, tujuan, materi atau kurikulum, metodologi, dan dimensi institusi dalam penyelengaraan pendidikan. Dimensi-dimensi tersebut merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan pelaksanaan proses kegiatan pendidikan, dan masing-masing dimensi ini memiliki paradigma fungsional sendiri-sendiri dan saling terkait bersinergi dalam sebuah sistem pendidikan. Baca lebih lanjut

Melawan Korupsi Tanpa Basa-basi

BEBERAPA waktu terakhir kita dihebohkan oleh bergulirnya hak angket DPR untuk KPK. Wacana angket awal munculnya terkait pernyataan penyidik KPK di persidangan perkara kartu tanda penduduk elektornik (KTP-el) bahwa politisi partai Hanura, Miryam S Haryani, yang menjadi salah satu saksi perkara itu ditekan sejumlah anggota DPR. Angket dimunculkan setelah KPK menolak memberikan rekaman pemeriksaan Miryam kepada Komisi III DPR karena dinilai bisa menghambat pengungkapan kasus KTP-el.

Pada perkembangannya, panitia angket juga menemui Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mendapatkan pemaparan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK dari 2006 hingga 2016. Bahkan pada Kamis lalu panitia angket menemui sejumlah narapidana perkara korupsi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung. Baca lebih lanjut

Politik Sensasional, Cukup Sudah!

GELOMBANG digital pertama di Indonesia dimulai sekitar tahun 1990, dengan lahirnya situs digital seperti astaga.com, detik.com, kaskus.com, lipposhop.com, Satunet.com, dan beberapa situs digital era pertama kalinya. Keberadaan situs digital ini sangat besar pengaruhnya terhadap gerakan awal internet di Indonesia.

Media sosial sendiri mulai masif terdengar di Indonesia sejak kemunculan frienster tahun 2002, dan mulai ramai menjadi gerakan sosial dan menyatu dalam keseharian masyarakat sejak kehadiran facebook tahun 2006 kemudian ditambah twitter pada tahun yang sama.

Tak sedikit yang memanfaatkannya untuk bisnis yang dikenal dengan industri digital, Technopreneurship. Saya sendiri dan beberapa kolega memanfaatkan keduanya dalam melanggengkan berbagai jenis usaha yang saya bangun sejak 2008 hingga sekarang. Efeknya memang sangat memuaskan. Lagi-lagi, itulah efek media sosial. Baca lebih lanjut

Keluarga Gila Buku

Alhamdulillah istri dan anak saya kalau ke mall langsung ke toko buku. Mereka sepertinya paham betul bahwa buku adalah jendela ilmu dan informasi. Memiliki dan membacanya merupakan satu bentuk kemajuan, terutama dalam konteks keluarga kecil seperti kami. Saya sangat percaya bahwa mereka kelak akan menjadi sumber inspirasi negeri ini tuk terus maju ke masa depan. Hal ini ditandai, misalnya, beberapa waktu lalu istri saya mendapat penghargaan sebagai salah satu guru Sekolah Dasar yang paling banyak membaca buku di tingkat Kota Cirebon-Jawa Barat. Sebelumnya istri saya juga sukses menulis buku bersama saya yang berjudul “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Semoga ke depan prestasi dan karyanya semakin berkualitas. Salam literasi, salam penerbit mitra pemuda. [Oleh: Syamsudin Kadir, Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda. Senin 26 Juni 2017]

Saat Cinta Menyapa

Tak ada yang salah dengan rasa suka, tak ada yang keliru dengan jatuh cinta… Setiap insan tercipta tuk menyempurnakan cintanya…
Tak ada yang salah dengan sebuah janji,
Terlebih janji suci antara dua insan untuk memadu kasih, mengokohkan pijakan kaki di semesta ini… Karena itu adalah sebuah kenikmatan yang berbuah pahala…
Tapi jika rasa dan cinta itu dibiarkan liar berkelana, memilih tambatan nya tanpa diawali janji suci maka bersiaplah kita tuk mendapatkan murkaNya…
Rawatlah rasa dan cinta itu, janganlah buat janji sebelum Allah tetapkan taqdirNya untuk kita. Biarlah ketawakkalan kita akan taqdir Allah dengan segenap ikhtiar yang bening, sejernih air tanpa noda mengotorinya menjadi sandaran kita. Baca lebih lanjut