Menginterpretasi Paradigma Gerakan KAMMI

1489_2563873153869_1929881120_nPada Kamis, 23 Mei 2013 lalu saya mendapat undangan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung menjadi pemateri—lebih tepatnya sebagai pemantik diskusi—untuk materi “Tafsir Paradigma Gerakan KAMMI” pada acara Madrasah Klasikal (MK) 1 yang rutin diadakan setiap Kamis tersebut.

Mengamini kehendak pengurus KAMMI tersebut, akhirnya, seperti biasa, saya hadir dan mewajibkan diri untuk membuat tulisan sederhana. Tulisan berikut—dengan tanpa merubah judul tulisan—merupakan elaborasi saya atas catatan sederhana dan diskusi santai yang diadakan di masjid kampus UIN SGD (Ikomah) dan yang  dihadiri oleh sekitar 30 orang pengurus dan kader KAMMI UIN SGD Bandung tersebut. Selamat membaca!

Pemantik awal

Sejarah adalah sebuah relativitas. Karena itu, memahami sebuah narasi historis memerlukan interpretasi yang kontekstual dan menyeluruh untuk menghindari pemihakan secara apriori. Sebuah teks yang diwariskan secara turun temurun, seperti paradigma gerakan KAMMI, sebagai transmiter historis ditafsirkan menurut basis ideologi setiap narator. Biasanya, dalam sejarah sebuah bangsa, penguasa memegang otoritas kebenaran sejarah. Semata karena ada vested interest yang bermain di sana. Karena setiap ilmu tidak neutral value, melainkan value-laden (dimuati nilai-nilai).

Menulis sejarah bukanlah sebuah tugas yang mudah. Berbeda dengan penulisan sejarah masa lalu yang terfokus pada penuturan kejadian atau event sejarah berdasar fakta (narrative type), historiografi masa kini tidak ubahnya dengan disiplin ilmu lain yang membutuhkan perangkat pembantu, seperti disiplin ilmu arkeologi, sosiologi, antropologi, psikologi, agama dan lainnya.

Keberhasilan penulisan sejarah, menurut Paul Veyne, kritikus teks asal Prancis dalam Writing History, tergantung pada kepandaian seorang narator sejarah dalam menganalisis dan menghubungkan data juga keahliannya dalam menerjemahkan sikap pelaku sejarah serta ketajaman intuisinya dalam menelusuri jalan pikiran, mentalitas serta kecenderungan kelompok atau bangsa yang diteliti dan ditulis. Alhasil, sejarawan harus memiliki erudition (pengetahuan memadai, wawasan luas dan pengalaman tinggi). Untuk itu, para pakar metodologi penulisan sejarah menggarisbawahi empat segi penting yang harus dipenuhi dalam proses historiografi. Secara berurut adalah : heuristik atau kemahiran teknik riset yang hanya dapat diperoleh dari pengalaman, pengetahuan tentang interpretasi kejadian sejarah, penelitian data dan selanjutnya penuturan melalui tulisan.

Dalam hal tertentu, menulis sejarah hampir sama dengan menafsirkan sesuatu, termasuk menafsirkan—atau lebih tepatnya menginterpretasi—paradigma gerakan KAMMI. Untuk itu, tulisan ini hanyalah upaya sederhana dari  menyukseskan “agenda menafsirkan” tersebut.

Selanjutnya, lebih elok kalau kita menyempatkan diri untuk mendiskusikannya secara serius dan mendalam. Mari memulai!

**

Faktanya, boleh dikatakan bahwa salah satu sebab dari keterkebelakangan kita adalah karena tidak tersangkutnya teori dengan praktik, atau ilmu dengan kenyataan. Kita, pergerakan Islam, seolah-olah telah gagal menjadikan wahyu sebagai dasar pijak kita dalam merumuskan banyak hal, terutama dalam proses menemukan kembali kejayaan umat atau peradaban Islam seperti yang telah terjadi masa lalu. Bahkan kita hanya menyerahkan perkembangan sejarah umat kepada ilmu-ilmu normatif, dan Ilmu-ilmu sosial yang kita kembangkan hanya membuat orang terasing dengan dirinya atau lebih parah lagi membuat orang asing dengan Islam.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai paradigma gerakan KAMMI, lebih awal kita perlu memahami apa yang dikenal tradisi keilmuan.

Dalam upaya merelevansikan perkembangan Islam dan kenyataan sosial, maka paling tidak ada tiga tradisi yang mesti diperhatikan dan dikembangkan, yaitu tradisi normatif, tradisi idealogis dan tradisi ilmiah. Artinya, teori-teori berbasis wahyu mesti menjadi terobosan bagi kita dalam menerjemahkan Islam dalam ruang realita. Itu juga bermakna, Ilmu-ilmu Islam mesti menjadi apa yang disebut Thomas S.Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution sebagai normal science. Cara merumuskan paradigma tersebut adalah dengan mengubah komitmen. Yang dalam hal ini kita klasifikasikan ke dalam beberapa komitmen, yaitu : Komitmen tradisi normatif ialah dakwah, komitmen tradisi idealogis ialah politik dan komitmen tradisi ilmiah ialah ilmu.

Paradigma tersebut harus mempunyai warnanya dalam konteks ide universal yang menurut Mohamad Mujahedd Mohamad Nasir dalam artikelnya “Ilmu Sosial Profetik Sebagi Gerakan Intelektual” bersifat ummatik (masyarakat, komuniti, rakyat, kaum dan bangsa),  sebagaimana yang tertuang dalam Qs. Ali Imran ayat 110, sebagai umat terbaik. Akar filosofis paradigma bahkan gerakan KAMMI itu sendiri terletak pada fungsi strategis tersebut.

Pengertian dan interpretasi

Secara sederhana, paradigma bisa diartikan sebagai kacamata, dia mempengaruhi cara kita melihat segala sesuatu dalam hidup kita/sumber dari sikap dan perilaku/mode of thought, mode of inquiry, mode of knowing.

Kuntowijoyo mengatakan bahwa paradigma Al-Qur’an berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana Al-Qur’an memahaminya.

Menurut GBHO KAMMI (Bab I pasal 1 poin 7), paradigma adalah cara pandang menyeluruh (holistik) KAMMI terhadap dirinya sendiri dan cara mendefinisikan perannya di dalam realitas kebangsaan dan peradaban.

Pada prinsipnya, paradigma gerakan inilah yang membentuk konstruksi gerakan KAMMI dan menderivasikannya dalam agenda gerakan.

 

Gerakan Dakwah Tauhid

Gerakan dakwah tauhid dapat dimaknai sebagai (1) gerakan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikan pada tempat yang sesungguhnya : Allah swt. (2) gerakan yang menyerukan deklarasi tata peradaban kemanusiaan yang berdasar pada nilai-nilai universal wahyu ketuhanan (Ilahiyyah) yang mewujudkan Islam sebagai rahmat semesta (rahmatan lil ‘alamin), dan (3) gerakan perjuangan berkelanjutan untuk menegakkan nilai kebaikan universal dan meruntuhkan tirani kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar).

Sejak awal didirikanya, KAMMI sudah mendeklarasikan dirinya sebagai gerakan dakwah Islam, tepatnya gerakan dakwah Islam berbasis mahasiswa. Atas dasar itu, maka keseluruhan rencana, strategi dan program gerakan KAMMI merupakan upaya dakwah. Dakwah sering diartikan sebagai upaya mengajak kepada kebaikan dan upaya menjauhi kemungkaran menuju keimanan kepada Allah Swt. Inilah yang kemudian dalam konteks filosofi gerakan KAMMI disebut sebagai gerakan dakwah tauhid.

Gerakan Intelektual Profetik

Gerakan intelektual profetik dapat dimaknai sebagai (2) gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal. (2) gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal, dan (3) gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik.

Di sini ada dua kata yang mesti kita defenisikan, yaitu Intelektual dan Profetik. Sejarawan Arnold Toynbe, menyebut intelektual sebagai human transformer, pengubah nasib manusia. Ali Syariati mengungkap tugas intelektual adalah sebagai Rausyan Fikr, mencerahkan lapisan masyarakat yang terpinggirkan. Gramsci dengan intelektual organik dan mekaniknya; yang berarti pejuang yang bergerak bersama dan menggerakan massa.

Memang sosok intelektual, jika didefinisikan akan menghasilkan beragam pemahaman dan pemaknaan. Namun, dalam tataran universal, intelektual selalu dipandang dari perannya. Intelektual selalu merupakan idiom bagi yang berilmu (memiliki pengetahuan), dimana ia selalu gelisah, punya komitmen untuk memperbaiki keadaan dan berani mengatakan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Intelektual tidak berdiam diri dengan keilmuannya, justru dengan ilmunya-lah intelektual melakukan aksi-aksi sosial untuk mengubah realitas stagnasi.

Lalu, dari mana dan bagaimana dengan “Profetik”nya? Seperti apa pula penalarannya dalam konteks filosofi KAMMI?

Gerakan intelektual profetik tidak bisa dipisahkan dari apa yang disebut oleh Kuntowijoyo sebagai Ilmu Sosial Profetik. Asal-usul intelektual Ilmu Sosial Profetik ialah dari buku Membangun Kembali Fikiran Agama dalam Islam, karya Muhammad Iqbal. Dalam bab tentang “Jiwa Kebudayaan Islam” dengan mengungkapkan kembali kata-kata seorang sufi, Abdul Quddus, Iqbal memaparkan perbedaan kesadaran Rasul (kesadaran profetik) dengan kesadaran mistik. Abdul Quddus mengatakan : Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku yang telah mencapai tahap itu, aku tidak akan kembali lagi.

Konteks pembicaraan Abdul Quddus—yang diafirmasi oleh Iqbal—adalah, bahwa, sebagai manusia biasa mestinya setelah mendapatkan nikmat luar biasa di langit, Muhammad tidak perlu turun ke bumi lagi. Namun, karena nabi memiliki tanggung jawab propetis, maka beliau rela turun atau kembali ke bumi. Beliau memiliki kesadaran bahwa menjadi nabi bukan berarti meluputkan diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Menjadi nabi justru meniscayakan diri untuk hadir dalam kehidupan publik, memberi mereka pencerahan dan turut serta dalam menyelesikan masalah-masalah kehidupan umat manusia. Begitu jugalah makna propetis dalam filosofi KAMMI. Sebagai kaum intelektual, KAMMI tidak mencukupkan dirinya dengan agenda-agenda akademis. Justru dengan basis akademisnya KAMMI turut mengambil bagian dalam merumuskan konsepsi dan menghadirkan peradaban islami di level kehidupan keummatan dan kebangsaan.

Jika kita menelaah surah Ali Imran ayat 110, maka kita akan menemukan empat hal yang tersirat untuk mengungkapkan ciri ide mengenai gerakan profetik yaitu (1) konsep tentang umat terbaik, (2) aktivisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran dan (4) etika profetik.

Pertama, konsep tentang umat terbaik. Umat Islam menjadi umat yang terbaik (kahira ummah) dengan syarat mengerjakan tiga hal seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut yakni amar ma’ruf, nahi mungkar dan tu’minuna billah. Umat Islam tidak secara otomatis menjadi umat yang terbaik jikalau tidak mengerjakan tiga perkara tersebut. Hal ini berlainan dengan konsep the chosen people, Yahudi, sebuah mandat kosong yang menyebabkan rasisme di mana-mana seperti yang terjadi di berbagai kawasan di dunia hingga kini.

Kedua, aktivisme sejarah. Bekerja di tengah-tengah manusia (ukhrijat li’lnas) berarti bahwa yang ideal bagi Islam ialah keterlibatan umatnya dalam menghadirkan peradaban islami umat manusia. Artinya, kegiatan yang bersifat wadat, uzlah dan gerakan mistik yang berlebihan bukanlah kehendak Islam, kerana Islam adalah agama amal dan mesti bergulat dengan realitas. Islam meniscayakan umatnya untuk hadir dalam segala situasi kehidupan umat manusia.

Ketiga, kesadaran untuk terlibat. Nilai-nilai ilahiah seperti amar ma’ruf nahi mungkar, iman menjadi tumpuan aktivisme Islam. Artinya, nilai-nilai itulah yang membangun kesadaran umat Islam untuk selalu hadir dalam realitas sosial. Peranan kesadaran untuk terlibat inilah yang membedakan etika Islam dan etika materialistis. Pilar sekaligus pijakan umat Islam dalam berbagai ‘keterlibatan’ sejarah adalah nilai-nilai ilahiah tersebut.

Keempat, berilmu sebagai etika profetik. Menjadi umat terbaik dengan segala rentetan peran sosialnya, mau tidak mau, umat Islam mesti memiliki modal dasar berupa ilmu pengetahuan. Ma’ruf bisa ditegakkan dengan ilmu, mungkar juga dibinasakan dengan ilmu. Sebagai pelembagaan dari pengalaman penelitian dan pengetahuan, diharuskan melaksanakan ayat ini, amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahi mungkar (mencegah kejelekan) dan tu’minuna billah (beriman kepada Allah).

Gerakan intelektual profetik mengharuskan ada atau terciptanya kultur intelektual yang kondusif bagi para pelaku atau pengusungnya. Ia mengharuskan menjamurnya tradisi intelektual semacam baca, tulis dan diskusi bahkan penelitian di seluruh level akademis dan pergerakan, terutama dalam lingkup gerakan mahasiswa. Parameternya yaitu nilai-nilai atau idealisme akademis dan gerakan punya atau ada ruang dan tempat eksperimentasinya atau implementasinya dalam realitas, agar ia tidak bertemu hanya dalam ruang hampa atau ruang dialektika wacana semata.

Dengan demikian, gerakan intelektual profetik dapat dipahami bahwa ia adalah gerakan yang memberikan kemanfaatan yang banyak atas realita sosial, seperti : Lingkungan, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan. Lebih dari sekadar melempar wacana dan adu gagasan, gerakan intelektual justru hadir sebagai pengubah dalam berbagai problematika sosial dan peristiwa sejarah umat manusia. Jadi, gerakan intelektual itu ilmunya amaliyah, amalnya ilmiah.

Jika kita menelaah sejarah, maka hal inipun merupakan gerakan yang pernah dilakoni oleh Nabi Muhammad Saw. juga para sahabat dan pengikut setia mereka. Untuk itu gerakan ini kita bisa sebut sebagai gerakan intelektual profetik.

 

Gerakan Sosial Independen

Gerakan sosial indpenden dapat dimaknai sebagai (1) gerakan kritis (baca: argumentatif, analitis) yang menyerang sistem peradaban materialistik dan menyerukan peradaban manusia berbasis tauhid. (2) gerakan kultural (baca: meng-habitus, membumi) yang berdasarkan kesadaran dan kesukarelaan yang berakar pada nurani kerakyatan, dan (3) gerakan pembebasan (baca: memerdekakan) yang tidak memiliki ketergantungan pada hegemoni kekuasaan politik-ekonomi yang membatasi.

Islam adalah dien yang universal dan menempatkan keragaman pada posisinya yang tepat. Dalam konsep Islam ada yang disebut dengan al-amr bil-ma’ruf dan al-nahy `anil mungkar. Dalam Qs. Ali Imran ayat 110 Allah Swt. Berfirman : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…”.

Jika ditelaah secara sosial, maka kita akan menemukan beberapa isyarat. Pertama, al-amr bil-ma’ruf. Aktifitas al-amr bil-ma’ruf bersifat humanisasi, dan tujuan humanisasi adalah untuk memanusiakan manusia atau dengan ungkapan lainnya membawa manusia kembali kepada fitrah kerana umat manusia kini sedang mengalami proses dehumanisasi yang kentara lantaran industrialisasi dan globalisasi atau apa yang kita dengan sebutan ‘pembaratan’.

Kedua, ungkapan al-nahy `anil mungkar merupakan sesuatu yang menepati tuntutan umat dalam bentuk keterbukaan, emansipasi atau pembebasan umat dari kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi, pemerasan akibat dari kekuatan ekonomi raksasa atau pembebasan umat dari kongkongan fikiran yang bersifat konservatif dan berbagai bentuk penindasan lainnya.

Ketiga, ungkapan tu’minuna billah menjelaskan fanomena transendental yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam usaha menjelaskan fenomena humanisasi-emansipasi bersifat transendental itu, ia memerlukan rekonstruksi pemikiran umat untuk menterjemahkan di tengah-tengah masyarakat.

Atas dasar filosofi qur’ani semacam itulah mengapa KAMMI berkepentingan untuk mengambil peran-peran sosial dalam mengubah realitas sosial yang stagnan sebagai upaya mengobjektivikasi peran sejarahnya sebagai umat terbaik.

 

Gerakan Politik Ekstraparlementer

Gerakan politik ekstraparlementer dapat dimaknai sebagai (1) gerakan perjuangan melawan tirani dan menegakkan Islam secara egaliter, (2) gerakan sosial kultural dan struktural yang berorientasi pada penguatan rakyat secara sistematis dengan melakukan pemberdayaan institusi-institusi sosial atau rakyat dalam mengontrol proses demokrasi formal.

Jadi, gerakan politik ekstraperlementer adalah gerakan yang berpihak pada perjuangan nilai-nilai kebaikan-kebenaran dan proses infiltrasi pada aspek-aspek kultural-struktural dalam mengintrupsi proses kenegaraan secara formal.

Untuk mewujudkan perjuangannya atau dalam konteks peran atau aksi, ‘intra’ dan ‘ekstra’ parlementer tidak perlu dibenturkan. Justru keduanya memiliki peran yang dapat dicarikan titik temu. Dengan demikian, gerakan politik ekstraperlementer yang dimaksud meniscayakan KAMMI untuk keluar dari sekat ‘kebijakan strategis’ dan ‘sosial masyarakat’, lalu menyatukan keduanya untuk kemudian memecahnya berdasarkan disiplin agenda, memanfaatkan konsep LSO (kelompok kajian) dan lembaga kekaryaan, bersifat desentralistik dan bottom up,  ‘menghormati’ potensi, keunikan, dan keistimewaan kader, melengkapi aksi demonstrasi dengan : advokasi, kertas kerja, judicial review, legal drafting, lobi politik, public hearing dan lain-lain, berbicara dan bertindak pada isu yang lebih spesifik, lebih banyak bekerja keras daripada sekadar bersuara keras menyambung ‘lidah rakyat’. Sebab faktanya, kini, rakyat sudah bisa ‘berlidah’ dengan suaranya sendiri.

 

**

Menyaksikan fenomena sosial-politik yang terjadi di atas etalase zamrut khatulistiwa selama sekian periode tentu melahirkan banyak rasa. Berbagai rasa terakumulasi dalam satu kata, kegelisahan. Kegelisahan akan selalu ada bagi siapapun yang mencintai bangsa dan negara ini dan memikirkan apa yang hendak dilakukan. Bahkan dalam konteks tertentu, kegelisahan merupakan tunas bagi hadirnya kesadaran untuk bertindak menghadirkan perubahan atau kebangkitan bangsa dan negara.

Kegelisahan itu tercipta dari idealisme yang terpasung di alam kenyataan. Maka, setiap kali janji kemakmuran yang dilantunkan penguasa justru terpasung dalam krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat, suara keadilan terbungkam dalam tirani kekuasaan atau kebebasan ditindas kediktatoran, setiap kali itu pula ada kegelisahan yang meresahkan jiwa anak bangsa dan mencabut semua kenyamanan hidup mereka. Maka, mereka bergerak dan segera berdiri di garis depan menyambut panggilan sejarah untuk menghantam stagnasi menuju perubahan.

Demikianlah, kegelisahan menjadi isyarat dari anak-anak peristiwa yang akan lahir dari rahim sejarah. Kegelisahan memberi energi, dan energi itu tumpah ruah dalam semangat perlawanan dan pembelaan. Sederhananya, jika ada peristiwa maka terjadilah sejarah.

Kegelisahan itu sendiri memiliki daya ledak rendah saat ia hanya berupa hiruk pikuk pemikiran semata. Nah, agar kegelisahan menghadirkan ledakan dahsyat, ia perlu dilukiskan dengan nyata lewat berbagai dialektika gagasan atau pergumulan intelektual yang meng-‘aksi’. Mungkin memang mesti seperti itu kejadiannya : bahwa sejarah menghendaki kita melangkah lebih cepat untuk menyelamatkan bangsa ini.

Pesimisme pada dasarnya tak akan pernah menjadi modal memadai untuk merebut hari ini dan esok yang lebih baik. Pesimisme justru lebih “mantap” untuk menegasikan bahkan menghambat perubahan. Meminjam Noam Chomsky, “Jika Anda berlaku seolah-olah tak ada peluang bagi perubahan, maka sebetulnya Anda sedang menjamin bahwa memang tak akan ada perubahan.”

Selama ini, kita terbiasa membayangkan Indonesia sebagai sebuah “satuan besar” yang beban pembenahannya diletakkan sepenuhnya di pundak kita. Kita tak dibiasakan memandang pembenahan Indonesia sebagai hasil penjumlahan atau akumulasi dari usaha-usaha kecil yang dikerjakan banyak orang dengan segenap keterbatasan masing-masing.

Kita pun terbiasa memandang sejarah sebagai hikayat orang besar yang di pundak mereka Indonesia Raya diusung ke mana-mana. Kita tak terbiasa memahami sejarah sebagai percikan keringat orang-orang yang namanya (mungkin) tak dikenal, yang jumlahnya jutaan, yang memikul serpihan-sepihan kecil Indonesia sesuai dengan keterbatasan kemampuan dan arena kerjanya masing-masing. Mereka adalah penguasa yang memangku jabatan kenegaraan dalam berbagai institusi negara dan rakyat yang bekerja di ruang profesinya masing-masing. Ya, mereka itu adalah kita semua, bukan orang lain.

Namun, inilah penyakit kita. Karena salah memahami peran dan tanggung jawab, maka terjadilah kekeliruan paradigmatik sebagai konsekwensinya. Kita terbiasa menunggu orang-orang besar bekerja atas nama dan untuk kita. Kita terbiasa menitipkan perebutan masa depan pada segelintir orang yang kita pandang “lebih dari kita”. Kita pun tak terbiasa “mencicil Indonesia” menjadi bangsa besar dan berwibawa mulai dari keragaman potensi dan spketrum kepentingannya.

Sebagai sebuah proyek, agenda kerja, tanggung jawab, atau tuntutan hidup, Indonesia pun terasa berat. Kita pun dipaksa untuk tak bisa memelihara optimisme. Pesimisme pun begitu dekat dengan kita, bahkan tak hadir sebagai sebuah pilihan, melainkan sesuatu yang tak terhindarkan. Kita terbiasa memborong pesimisme, dan sebaliknya, tak pernah belajar mencicil optimisme.

Langkah kaki kita ke depan selayaknya dimulai dengan belajar membangun optimisme, sedikit demi sedikit. Kita, orang per orang, memang tak akan pernah kuasa membuat Indonesia yang lebih baik sendirian. Tapi, kita bisa melakukan perbaikan dalam skala yang terjangkau, di arena tempat aktivitas masing-masing. Setiap orang pun akan punya skala atau ukuran optimisme versus pesimismenya masing-masing. Maka, setiap orang, dengan cara masing-masing, membangun optimisme sekaligus menyisihkan pesimisme. Pada titik inilah optimisme bukan saja menjadi kemungkinan yang terbuka tapi juga perlengkapan yang sesungguhnya telah kita miliki.

Walau kita mesti optimis bahwa kerja perubahan adalah kerja kolektif, namun bangsa ini butuh langkah cepat. Republik ini perlu pemimpin yang mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk “lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang mempesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih mempesona dari dekat dan saat kerja bersama.

Itulah alasan utama mengapa  saya mengupayakan untuk menghadiri undangan aktivis KAMMI, ya hadir di hadapan kaum muda seperti aktivis KAMMI UIN Bandung ini. Sebagaimana mendiang Mohammad Natsir, seorang Muslim Negarawan tulen negeri ini—dalam bukunya Percakapan Antar Generasi yang mengatakan, “Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut!”—saya ingin menegaskan spirit kebangkitan baru : memaksa seluruh anak bangsa untuk memproklamirkan semangat sekaligus mengultimatum praktik stagnasi. Agar dengan gegap gempita secara kolektif kita berkata : minggir! Saatnya kami (kaum muda; manusia Indonesia berjiwa muda) memimpin dan menata ulang Indonesia! [Oleh: Syamsudin Kadir—Pengamat Sosial-Politik dan Gerakan Mahasiswa, Editor dan Penulis lepas]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s