Penyair Alwy dan Budaya Kritik Kita

Kenangan bersama Kang Alwy

CIREBON kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, Ahmad Syubanuddin Alwy. Kang Alwy, demikian ia kerap disapa oleh banyak kalangan, meninggal pada Senin 2 November 2015 pukul 20.30 WIB di Rumah Sakit Sumber Waras, Cirebon. Sebagaimana yang dilansir berbagai media massa, Kang Alwy masih terlihat sehat di saat menghadiri salah satu bagian acara Gotra Sawala di Grage Hotel Cirebon. Setelah itu, tiba-tiba pada Sabtu sore (1/11/2015) Kang Alwy dilarikan ke Rumah Sakit Sumber Waras, Cirebon. Baca lebih lanjut

Iklan

DPR dan Kaum LGBT, Mau ke Mana?

BEBERAPA hari terakhir kita kembali diresahkan oleh isu seputar LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sebagaimana yang kita saksikan di berbagai media massa. DPR sendiri kebetulan sedang membahas tentang RUU Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKHUP) yang sudah terbit pada Januari 2015 silam, dimana pasal 292 dan 492-nya secara khusus membahas tentang LGBT.

Dalam pandangan Adian Husaini (2013), kelompok LGBT biasanya mendasarkan perilaku atau tindakannya pada prinsip kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat yang dikenal freedom of expression, yang dijamin UUD 1945.  Menurut kelompok ini, setiap warga negara dijamin haknya untuk  mengemukakan pendapatnya. Jika tidak setuju dengan pendapatnya, maka hak untuk mengemukakan pendapat tetap harus dihormati.

Sebagai warga negara Indonesia, kita mafhum dengan prinsip tersebut. Akan tetapi, konstitusi kita, UUD 1945 juga memberikan batasan yang jelas dan tegas terhadap prinsip kebebasan tersebut.   Pasal 28 (J)  UUD 1945 ayat 2 menyebutkan: “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Baca lebih lanjut

Mengais Berkah Konstelasi Politik

AKHIR-akhir ini kita kembali merasakan konstelasi politik nasional dan lokal semakin hangat. Kondisi demikian terutama menjelang 171 pilkada (17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota) pada 27 Juni 2018 dan pemilu (pilpres dan pileg) 9 April 2019 nanti. Dalam konteks lokal, di wilayah III Cirebon kita juga merasakan hal serupa. Perebutan tiket-dukungan partai politik dan kontestasi deklarasi bakal calon peserta pilkada muncul begitu masif dapat kita saksikan di berbagai media massa bahkan media sosial. Tidak saja dalam satu wadah partai politik, tapi juga lintas partai politik dalam bingkai koalisi dengan segala macam variannya.

Untuk membincang hal itu, selama Desember 2017 hingga Januari 2018 ini saya berturut-turut didaulat menjadi narasumber di acara Talkshow Selamat Pagi Cirebon di Radar Cirebon Televisi (RCTV). Misalnya, pada 6 Desember 2017 bertema “Membaca Konstelasi Politik Kota Cirebon”, 28 Desember 2017 bertema “Kilas Balik Konstelasi Politik 2017”, dan Sabtu 6 Januari 2018 bertema “Konstelasi Politik Menjelang 8-10 Januari”; di samping narasumber lain yang juga diundang pada waktu yang sama dan yang berbeda tapi masih membahas tema-tema yang hampir sama. Baca lebih lanjut

Islamic Worldview dan Peradaban Islam

KENAPA negara Islam sekarang pudar eksistensinya dalam skala ilmu pengetahuan dunia? Padahal Islam adalah suatu ajaran yang sangat konsen dan menyeru umatnya untuk mencari ilmu, megangkat derajat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dengan ilmu pula manusia (Nabi Adam ‘Alaihissalam) lebih mulia dan tinggi derajatnya dari pada makhluk lain tak terkecuali malaikat sekalipun. Lalu dimanakah letak kemuliaan itu sekarang, Ironisnya, dewasa ini yang terjadi pada umat Islam di seantero bumi sana adalah penyerangan, pembantaian umat, pertikaian antar ideologi notabennya juga dalam tubuh umat Islam sendiri dan pada akhirnya melahirkan peperangan dalam satu aqidah. Sekali lagi, dimanakah letak “Kewibaan umat Islam ?” Baca lebih lanjut

Fight!

If fighting is sure to result in victory, then you must fight! (Teh Art of War, Sun Tzu). Hidup adalah ruang tunggu ujian demi ujian. Satu ujian berlalu, ujian lain datang. Setiap hari sesungguhnya kita “naik kelas”. Jangan pernah khawatir dengan ujian yang hadir. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, melainkan ketakutan yang membuat kita sulit.

Saat di sekolah berhadapan dengan mata pelajaran yang begitu sulit, saat di kampus berhadapan dengan mata kuliah yang sulitnya bukan main, atau saat diberikan pekerjaan yang menantang di kantor, hadapi. Once alive, must matter!

Tantang adalah anugerah. Dada kita mungkin sesak saat meresponsnya, tapi ia semakin tegar. Kepala kita memusing, lalu ia semakin kuat. Life may not be the party we hoped for, but while we’re here we should dance. Baca lebih lanjut

Membangun Koalisi Sehat, Mungkinkah?

PADA Selasa (5/12/2017) lalu saya kembali didaulat menjadi salah satu panelis pada acara Selamat Pagi Cirebon Radar Cirebon Televisi (SPC RCTV) untuk membincang seputar dinamika politik Kota Cirebon akhir-akhir ini. Pada acara yang dipandu oleh Saudara Afif Rivai ini mengambil tema “Membaca Konstelasi Politik Kota Cirebon” dan menghadirkan panelis lain Sutan Aji Nugraha pegiat muda dan pemerhati politik di Kota Cirebon.

Seperti yang didedahkan berbagai media massa beberapa waktu terakhir hiruk pikuk politik di Kota Cirebon semakin hangat. Hal itu tentu kemestian dari elite partai politik (partai) dalam menyiapkan mesin partai dan bakal calonnya dalam kompetesi Pilkada Serentak (Pilwalkot) pada 27 Juni 2018 yang akan datang. Dinamikanya semakin hangat ketika partai sudah mulai saling mengintip dan menjaring koalisi yang bisa mengusung pencalonan sekaligus menopang kemenangan dalam pertarungan Pilwalkota nanti. Baca lebih lanjut

Merawat Toleransi Politik

PILKADA DKI Jakarta beerapa waktu lalu merupakan salah satu pilkada terhangat dalam jagat politik Indonesia berapa tahun terakhir. Kondisi ini disebabkan oleh banyak hal, misalnya, beragamnya latar belakang warga DKI Jakarta, di samping Jakarta sebagai pusat kepentingan atau ibukota negara dengan beragam tarikan kepentingannya. Dengan begitu, pilkada bukan sekadar momentum memilih kepala daerah dan wakilnya, tapi juga instrumen lain yang menjadi penopang dan ikutannya. Baca lebih lanjut