Membuat Catatan, Penting Lho!

Membuat Catatan, Penting Lho!
Membuat Catatan, Penting Lho!

DALAM berbagai pertemuan dengan teman-teman yang kerap bercengkrama dengan dunia kepenulisan, aku kerap berbincang soal cara praktis agar lancar dalam menulis alias menuliskan sebuah tulisan.

Ketika mengisi acara seputar kepenulisan di banyak tempat dan kesempatan, aku juga kerap ditanya oleh peserta seputar hal yang sama. Bahkan teman-teman yang belum pernah menulis (artikel, essay, buku) pun kerap juga bertanya perihal jurus atau cara agar lancar dalam menulis atau menghasilkan karya tulis.

Singkatnya, tak sedikit orang yang hendak mencari tahu apa jurus yang mesti ditempuh agar lancar dalam menulis.

Seperti biasa, aku tak perlu berteori, aku hanya ingin berbagi pengalaman yang—alhamdulillah—kerap aku gunakan selama ini. Semoga kamu berkenan membaca dan terinspirasi untuk menulis!

Intimlah dengan Catatan

Kok intim sih?

Ya, intim. Emang ada yang salah?

Oke, sebagai awalan, aku perlu memberi sedikit penjelasan. Boleh, kan?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “inim” diartikan sebagai “akrab, karib atau rapat” sehingga merujuk pada hubungan yang sangat akrab, karib dan akrab pada sesuatu.

Pada tulisan sederhana ini aku akan menjabarkan betapa pentingnya sebuah catatan dalam hal kepenulisan.

Lalu, mengapa catatan begitu penting, sehingga seseorang harus bergaul intim dan akrab dengannya? Itu mungkin pertanyaan yang muncul dalam benak kamu, sekarang. Iya, kan?

Oke, aku mencoba menjawab. Begini, menulis adalah sebuah proses perumusan dan pengorganisasian ide-ide sehingga menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Dalam proses menyusun sebuah tulisan, berbagai sumber sangat diperlukan untuk menghasilkan sebuah ide tulisan yang memiliki koherensi dan konsisten. Salah satunya catatan.

Dengan alasan tersebut, maka dapat dikatkan bahwa catatan sejatinya dapat membantu merangkai ide atau gagasan yang tercerai-berai menjadi sebuah tulisan yang utuh.

Untuk aku sendiri, beragam pengalaman dalam kehidupan sehari-hari sering kali menjadi bahan bagiku untuk menunataskan sebuah tulisan. Momen di rumah, masjid, perpustakaan, kampus, toko buku, pasar, bioskop, studio TV, studio Radio, lapangan futsal, angkutan umum, jalan raya dan lain sebagainya kerap aku jadikan sebagai latar dalam menuntaskan sebuah tulisan. Tentu saja aku awali dengan membuat catatan, atau mencatat seketika hal-hal yang menurutku penting.

Ya, aku sering mengalami hal seperti ini : ide muncul begitu saja di saat aku berada di beberapa tempat yang aku sebutkan tadi. Agar tak hilang, maka aku lekas mencatatnya. Agar ide-ide atau hal-hal inspiratif yang muncul seketika atau yang aku temukan tidak hilang dan terlupakan, maka aku pun langsung mencatatnya di kertas kecil atau HP yang kerap aku bawa ke mana-mana.

Biasanya, bagi seseorang yang berprofesi sebagai seorang penulis atau wartawan, catatan ibarat sebagai salah satu senjata yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi. Tujuannya adalah untuk merekam dan mendokumentasikan setiap peristiwa, hingga perlu mencatat setiap detail data dan informasi dari narasumber atau peristiwa yang terjadi.

Namun, kegiatan mencatat tersebut bukan hanya menjadi konsumsi seorang penulis atau wartawan saja. Semakin berkembang kegiatan ngeblog atau citizenjournalism, catatan sangat dibutuhkan sebagai alat untuk membantu seseorang dalam menyusun sebuah tulisan. Dan, aku termasuk yang memakai cara seperti itu. Kamu, bagaimana?

Manfaat Catatan

Bagiku, setidaknya ada beberapa manfaat dari memiliki catatan alias mencatat. Pertama, mendokumentasikan inspirasi. Seperti yang sudah aku ungkapkan di awal, proses menulis sangat membutuhkan ide atau gagasan.

Ya, ide atau gagasan sering kali aku dapatkan dari berbagai sumber, misalnya dari peristiwa-peristiwa di lingkungan sekitar. Ada berita kematian, bencana, demonstrasi mahasiswa, aksi buruh, dinamika politik, masalah pendidikan dan sebagainya.

Karena tidak semua hal bisa diingat dengan baik dan cermat, maka mencatat adalah sebuah solusi yang aku tempuh agar informasi yang diperoleh tidak terlupakan atau terabaikan.

Misalkan ketika aku sedang berada di dalam bis atau angkutan umum, sering kali sebuah ide untuk menulis tentang pelayanan transportasi umum muncul; namun karena tidak langsung menuliskannya dalam sebuah catatan panjang atau artikel, mencatat ide-ide tersebut dalam sebuah catatan kecil bisa menjadi solusi agar tidak lupa dan tetap terdokumentasi. Itu yang aku biasakan selama ini.

Sebab aku sadar betul, bila aku tidak segera menuliskan ide tersebut pada hari itu juga, maka aku akan kehilangan. Maka di sini catatan sangat bermanfaat. Bagiku, tulisan di catatan yang berupa ide-ide pokok dapat membantu aku untuk mendapatkan kembali ide atau gagasan yang kemungkinan sudah lupa alias menghilang seketika apabila tidak dicatat.

Kedua, menampung garis besar tulisan. Sebagaimana air, sering kali ide atau gagasan bisa sangat melimpah dan tidak jarang ide atau gagasan tersebut kering. Serbuan ide atau gagasan sering kali terjadi. Oleh sebab itu, aku menjadikan catatan sebagai sebuah media untuk menampung serbuan semacam itu.

Aku sangat percaya dan menyadari bahwa kesibukan sehari-hari menyebabkan aku tidak memiliki cukup waktu untuk menuangkan ide atau gagasan yang muncul seketika ke dalam sebuah tulisan utuh.

Oleh sebab itu, catatan menjadi sebuah alat yang tepat untuk menampung (sementara) garis besar tulisan yang hendak dibuat. Bagiku, ini sangat membantu aku dalam menuntaskan berbagai tulisanku kelak.

Ketiga, menghemat waktu. Bisa dibayangkan ketika dalam proses menulis, aku mengingat-ingat ide yang ingin dikembangkan. Jika hal tersebut terjadi, sering kali aku marah dan jengkel karena tidak bisa mengingat ide atau gagasan yang terlintas begitu cepat dan terkadang menghilang dengan cepat pula.

Pada kasus seperti inilah, mencatat menjadi hal yang penting bahkan sangat penting, sebab aku segera merekam dan mendokumentasikan ide atau gagasan yang melayang-layang dalam pikiranku. Selain sebagai fungsi dokumentasi, fungsi lain yang tak kalah pentingnya adalah fungsi menghemat waktu.

Maka, hingga kini aku semakin percaya bahwa mencatat ide atau gagasan yang muncul di momen apapun sangat membantu ketika aku hendak menuntaskan sebuah tulisan atau melalui proses menulis.

Sederhana saja, aku bisa menghemat banyak waktu ketika bahan dan materi yang tertulis atau tercatat dengan baik. Kalau tidak, mungkin waktu yang aku miliki hanya dihabiskan untuk mencari sumber penguat dalam buku, majalah, surat kabar dan serupanya. Lalu, kapan menulisnya?

Dengan demikian, biaya atau waktu yang aku gunakan untuk mengingat-ingat bisa aku minimalkan; bahkan aku bisa manfaatkan untuk hal positif lainnya. Karena itu pula-lah aku semakin percaya bahwa mencatat ide atau gagasan sejatinya layak dijadikan teman akrab oleh siapapun dalam menulis.

Mencatat dapat menghilangkan ketegangan atau stress dan dapat membuat sebuah masalah yang kelihatan rumit jadi lebih terstruktur dan mudah terselesaikan, bahkan dapat menjadi bahan tulisan yang hendak diselesaikan. (Farida Susanty, Penulis Novel “Dan Hujan Pun Berhenti”)

Cara dan Media Mencatat

Berdasarkan beberapa manfaat mencatat yang sudah aku dikemukakan di atas, langkah berikutnya adalah menjawab pertanyaan sederhana : bagaimana cara mencatat? Lalu, apa saja medianya?

Sebagaimana menulis, mencatat juga memiliki keasyikan tersendiri dan memiliki gaya sendiri. Gaya mencatat seseorang sangat bervariasi dan disesuaikan dengan kebutuhannya.

Lebih jauh, gaya mencatat biasanya sangat berkaitan dengan media dan alat yang dipakai serta selera seseorang. Dalam perkembangannya, beberapa media berikut kerap dipakai oleh siapapun, termasuk aku, untuk mencatat dan mendokumentasikan ide atau gagasan sesuai selera aku.

Pertama, kertas dan alat tulis. Media ini sangat umum dipakai sebagai alat untuk mencatat. Kertas (berbentuk buku atau catatan kecil) sering kali dimanfaatkan untuk menulis setiap ide atau gagasan yang muncul. Para jurnalis/penulis/peneliti sering kali memanfaatkan media ini sebagai sarana untuk mencatat hal-hal penting yang diperoleh, baik dari hasil pengamatan atau pun hasil wawancara.

Dalam konteks aku, sebagai seorang yang sedang belajar menjadi blogger atau masyarakat umum yang jatuh cinta atau tertarik dengan dunia kepenulisan aku kerap menggunakan dan memanfaatkan media yang sama.

Kedua, mencatat di handphone/smartphone. Bagiku, pada bagian ini, perkembangan teknologi membantu aku untuk mencatat. Jika tidak menggunakan kertas dan alat tulis, mencatat ide dan gagasan bisa aku lakukan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas di handphone/smartphone yang aku punya. Jadi, tinggal catat saja, lalu simpan. Mudah kan?

Ketiga, voice/video recorder. Cara lain yang biasa aku pakai untuk menyimpan, mencatat dan mendokumentasikan ide atau gagasan, informasi dan serupanya adalah dengan merekam dalam bentuk audio/audio video. Dengan voice/video recorder, aku dapat memutar kembali rekaman yang disimpan kemudian dipakai sebagai bahan menulis.

Keempat, kamera dan foto. Alat ini juga kerap aku pakai sebagai media untuk mencatat ide atau gagasan, bahkan sesuatu yang menurutku inspiratif. Ketika menjumpai peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, aku kerap memanfaatkan kamera HP-ku.

Bagiku, mengambil sekaligus mendokumentasi gambar adalah langkah brilian. Melalui foto, aku akan mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis.

Selain itu, foto juga dapat menjadi penguat sebuah tulisan yang aku tulis dengan menjadikannya sebagai ilustrasi yang ditampilkan, misalnya.

Untuk hal ini, kamu bisa baca dan lihat di blog kesayangan yang sudah lama menjadi sahabat aku seperti : akarsejarah.wordpress.com, atau bisa juga blog ini: mitrapemuda.wordpress.com.

Kelima, draft di blog/Microsoft Word. Dalam beberapa tahun terakhir tak sedikit blogger yang mencoba untuk menuliskan ide atau gagasan yang muncul dengan cara menuliskannya sebagai sebuah draft di blog atau di Microsoft Word.

Aku sendiri sedang belajar dan mencoba untuk itu. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena prinsipnya adalah mencatat ide atau gagasan untuk membantu saat menulis. Itu saja.

Dengan adanya berbagai media yang biasa dipakai untuk mencatat, bagiku media-media tersebut berperan sebagai sebuah “bank ide” sekaligus “bank data” yang berfungsi untuk menyimpan ide atau gagasan yang muncul, atau berbagai informasi yang seketika aku peroleh.

Hal ini karena ide atau gagasan serta informasi tersebut akan sangat berharga, tidak hanya sebagai materi menulis, tetapi juga sebagai sebuah tabungan jika suatu saat nanti aku kehilangan atau kehabisan ide menulis.

Bahkan dalam banyak hal, dengan memiliki catatan semacam itu, aku sendiri sangat terbantu untuk menyusun banyak tulisan yang sedang atau akan aku garap. Baik dalam bentuk makalah, artikel, essay maupun tulisan lepas gaya curahan hati yang aku publikasi di berbagai media seperti surat kabar, blog, facebook, e-Mail dan sebagainya. Pokoknya sesuai dengan selera dan gayaku aja.

Jadi, aku akan merasa berguna jika aku membawa buku catatan kecil dan alat tulis (atau media-media yang lain) sebagai langkah untuk mencatat setiap ide atau gagasan yang aku temui. Aku yakin kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Sungguh, hal tersebut sangat berguna lho. Ini benaran, bukan asal-asalan.

Praktisnya, di saat menonton televisi, membaca surat kabar atau buku dan berbagai aktivitas sehari-hari lainnya, aku selalu siapkan alat untuk mencatat setiap ide atau gagasan yang didapat. Jika ingin segera mengolahnya menjadi sebuah tulisan, catatan semacam itu dapat dan sangat membantu aku.

Jika tidak segera aku menuliskannya, aku terbiasa menyimpan informasi dan ide atau gagasan tersebut, sebab hal tersebut adalah “bank data” sekaligus “bank ide” yang sangat berharga bagi aku nanti.

Singkatnya, seberapa sering aku mencatat maka sebesar itu pula manfaat yang aku dapatkan, bahkan lebih dari itu.

Nah, apakah kamu sering memanfaatkan catatan untuk mencatat ide-ide atau gagasan yang muncul, atau inspirasi yang kamu dapatkan dalam berbagai kesempatan? Apakah kamu merasakan manfaat seperti yang aku alami sebagaimana yang aku sampaikan di atas?

Hem… tunggu apa lagi? Jangan begong, yuk mencatat: membuat catatan, penting lho! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA di Institut Islam Bunga Bangsa Cirebon, Penulis buku (1) POLITICS, (2) Pendidikan dan Guru Peradaban, (3) Agar Ramadan Merindui Kita]

3 thoughts on “Membuat Catatan, Penting Lho!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s