Merawat Toleransi Politik

PILKADA DKI Jakarta beerapa waktu lalu merupakan salah satu pilkada terhangat dalam jagat politik Indonesia berapa tahun terakhir. Kondisi ini disebabkan oleh banyak hal, misalnya, beragamnya latar belakang warga DKI Jakarta, di samping Jakarta sebagai pusat kepentingan atau ibukota negara dengan beragam tarikan kepentingannya. Dengan begitu, pilkada bukan sekadar momentum memilih kepala daerah dan wakilnya, tapi juga instrumen lain yang menjadi penopang dan ikutannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Terima Kasih Muhammadiyah

DALAM hitungan kalender masehi, tepat pada tanggal 18 November 2017, Muhammadiyah tepat berusia 105 tahun. Atau dalam hitungan hijriyah kini Muhammadiyah tepat berusia 108 tahun. Bisa dikatakan, siapapun penghuni negeri ini pasti mengenal organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini. Bagaimana tidak, sejak didirikan organisasi yang kini diikuti hampir 40-an juta ini sudah banyak berkiprah dalam berbagai aspek dan dimensinya.

Judul di atas sengaja saya ketengahkan pada tulisan kali ini karena beberapa alasan mendasar. Pertama, dalam konteks sejarah bangsa dan negara, Muhammadiyah turut merumuskan dasar negara, mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan mengisinya dengan berbagai peran penting, serta menebar baktinya bagi keutuhan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Adalah Pakar Sejarah asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra (2016) pernah mengatakan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi keagamaan paling besar di dunia yang memiliki peran besar dalam membangun sejarah umat Islam dan bangsa Indonesia juga dunia internasional. Tanpa Muhammadiyah, kata Azra, umat Islam juga bangsa ini akan kehilangan ruh, gagasan, penerus bahkan akan tercerai berai tanpa bentuk. Baca lebih lanjut

Menjadi Pahlawan Baru Indonesia

SEPERTI tak pernah bosan, di tiap tahunnya kita begitu antusias merayakan Hari Pahlawan dengan berbagai ragam cara. Namun biasanya kita merayakannya dengan pendekatan formalistik, dan belum melakukan pemaknaannya secara subtantif. Sehingga perayaan hanya sampai pada bias-bias aksesoris yang terus berulang di tiap tahunnya, lalu menepikan penghayatan yang memberi efek manfaat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita.

Kalau hal semacam itu kita anggap keliru, maka pada momentum perayaan tahun ini dan ke depan, kekeliruan semacam itu mesti dihentikan dengan segera. Kita mesti mulai menarasikan makna subtantif pahlawan dan kepahlawanan, agar sejarah dipahami sebagai hasil kerja bersama semua orang tanpa kecuali dengan keterbatasan kapasitas dan peranannya masing-masing. Sejarah mesti memberi ruang bagi tiap orang untuk menjadi penentu. Pejabat dan rakyat sejatinya memiliki peluang yang sama untuk menjadi pahlawan sesuai dengan potensi dan ruangnya masing-masing. Baca lebih lanjut

Pemuda Bangkit dan Bersatulah!

Kalau dulu para pemuda berbicara tentang Sumpah Pemuda, maka hari ini kita bicara tentang pemuda, ya para pemimpin Indonesia masa depan. Pemuda adalah wajah dan potret masa depan Indonesia. Di tangan pemuda, di tangan pemuda-lah insya Allah Indonesia akan mengambil gilirannya bukan saja membangun negeri ini tapi juga untuk memimpin dunia yang mulai terseok-seok.

Kalau dulu dengan semangat anti kolonialisme Soekarno pernah menggabung seluruh bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam sebuah gerakan internasional, maka sekarang, maka sekarang, para pemuda Indonesia juga harus mewarisi semangat itu. Supaya kita jangan dibuat panik oleh krisis, supaya kita tidak dibuat bertengkar oleh masalah-masalah kecil, supaya kita tidak dibuat terpecah-pecah oleh perkara-perkara yang membuat kita tidak akan pernah menjadi besar, supaya kita tidak terpisah-pisah oleh sekat-sekat kecil dan tipis diantara kita. Baca lebih lanjut

Melawan Politik Andai

AKHIR-akhir ini kita kembali merasakan suhu politik nasional dan lokal semakin meningkat. Kondisi demikian terutama menjelang pilpres dan pileg 2019 serta pilkada serentak di beberapa propinsi, kota dan kabupaten 2018 nanti. Dalam konteks lokal, di wilayah III Cirebon kita juga merasakan hal serupa. Kini kita bisa menyaksikan berbagai baligho berisi foto para politisi yang punya hasrat menjadi pemimpin publik di level eksekutif dan legislatif.

Apa yang kita saksikan sejatinya merupakan potret sekaligus indikasi bahwa politik menjadi salah satu tema seksi dalam wacana dan dinamika publik di seantero nusantara. Dalam perspektif Yudi Latif (2014), publik yang konsen dengan dinamika politik memiliki tempat yang khusus dalam proses perubahan dan kemajuan sebuah bangsa. Bahkan menurut Yudi, publik semacam ini menjadi penentu perjalanan sejarah sebuah bangsa juga peradaban, dalam hal ini termasuk di Indonesia. Baca lebih lanjut

Kontekstualisasi Makna Hijrah

KEMARIN (Kamis/21/9) saya didaulat menjadi narasumber acara Selamat Pagi Cirebon Radar Cirebon Televisi (SPC RCTV) bersama Kang Iin Masruchin. Pada acara yang digawangi oleh kolumnus sekaligus intelektual muda Mas Afif Rivai ini mengambil tema “Kontekstualisasi Makna Hijrah”. Ya, kemarin seluruh umat Islam di dunia merayakan hari besar dan bersejarah yaitu 1 Muharam 1439 H. Tulisan ini berupaya mengelaborasi apa yang saya sampaikan dan melengkapi apa-apa yang belum saya sampaikan pada acara yang berdurasi 1 jam tersebut.

Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi). Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Nabi Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Makkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman. Baca lebih lanjut

Dari FDS Ke Penguatan Pendidikan Karakter

HAMPIR sebulan terakhir publik terbawa arus dinamika pemberitaan berbagai media massa mengenai Five Day School (FDS). Polemik berawal ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Efendy mewacanakan hingga mengeluarkan kebijakan Full Day School (FDS)—yang belakangan berubah menjadi Five Day School (FDS)—yang mesti dilaksanakan oleh berbagai lembaga pendidikan baik sekolah maupun madrasah.

Ya, pada 12 Juni 2017 Mendikbud mengeluarkan Permendikbub nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, yang tentu isinya berisi penguatan dari kebijakan Full Day School (FDS) yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Respon publik pun beragam, tentu sesuai dengan pandangan dan kepentingannya masing-masing. Bahkan kedua Ormas terbesar (Muhammadiyah dan NU) pun turut terseret dalam polemik tersebut. Kebijakan tersebut yang pada awalnya bernyawa pendidikan, belakangan justru berbau politis. Baca lebih lanjut