Catatan Politik Menuju Pilkada Serentak

SENIN (12/2) lalu saya didaulat menjadi narasumber acara Selamat Pagi Cirebon (SPC) di Radar Cirebon Televisi. Pada acara yang dipandu oleh penulis produktif sekaligus pemerhati politik Mas Afif Rivai tersebut saya dipanelkan dengan pemerhati politik Bang Agus Sukanda. “Mengulik Peta Politik Pilkada 2018” adalah tema yang diangkat oleh SPC kali ini. Tema SPC kali ini cukup menarik dan perlu ditindaklanjut. Menarik, sebab dengan begitu RCTV telah memenuhi kehendak publik selama ini yaitu melakukan pencerahan dan pencerdasan publik secara masif. Karena itu, segala hal yang diperbincangkan mestinya ditindaklanjut, terutama oleh mereka yang kini sedang berkompetisi di medan pilkada serentak.

Melalui tulisan ini saya berupaya untuk mengelaborasi beberapa poin penting yang perlu mendapat perhatian tindaklanjut dari acara yang dimulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB tersebut. Pertama, kita semua mesti mentrasformasi demokrasi; dari sekadar demokrasi prosedural ke demokrasi substansial. Dalam demokrasi, rakyat ditempatkan sebagai sobjek sekaligus objek utama. Rakyat dipahami sebagai elemen penting dalam bernegara, sehingga menempatkannya pada posisi yang “mulia” dan “strategis”. Demokrasi menjadi sistem karena di dalam demokrasi-lah kepentingan dan kehidupan bersama dikelola begitu rupa. Baca lebih lanjut

Iklan

Mari Melawan Politik Andai

AKHIR-akhir ini kita kembali merasakan suhu politik nasional dan lokal semakin meningkat. Kondisi demikian terutama menjelang pilpres dan pileg 2019 serta pilkada serentak di beberapa propinsi, kota dan kabupaten 27 Juni 2018 nanti. Kini kita bisa menyaksikan berbagai baligho berisi foto para politisi yang punya hasrat menjadi pemimpin publik di level eksekutif dan legislatif. Baca lebih lanjut

Menjadi Mahasiswa yang Negarawan

BERAPA hari terakhir kita dihebohkan oleh pemberitaan media massa perihal aksi “kartu kuning” dan meniup pluit untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) oleh Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (Presma BEM UI), Muhammad Zaadit Taqwa (Zaadit). Aksi tersebut dilakukan pada saat Jokowi usai berpidato pada acara Dies Natalis ke-68 dan peresmian Forum Kebangsaan UI di kampus UI Depok-Jawa Barat Jumat (2/2/2017). Sebagaimana dilansir berbagai media massa, pada momentum tersebut Zaadit membawa tiga tuntutan kepada presiden Jokowi yaitu (1) mendesak penyelesaiaan masalah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua; (2) mendesak dianulirnya rencana penetapan anggota TNI/Polri sebagai Plt atau Pejabat Gubernur dari unsur TNI/Polri; (3) menolak rencana penerbitan Peraturan Menristekdikti yang mengatur tentang organisasi mahasiswa. Baca lebih lanjut

Mengenal TGB, Ulama yang Umaro

KRISIS kepemimpinan yang terjadi di Indonesia, membuat sebagian kalangan pisimis akan keberlangsungan republik ini. Namun munculnya nama baru dalam pentas nasional memberikan angin segar kepada kita semua bahwa masih banyak figur-figur pemimpin yang masih pro terhadap rakyat. Salah satunya adalah Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB).

Ya, TGB merupakan salah satu tokoh yang masih muda namun semakin familiar dalam wacana politik nasional beberapa waktu terakhir. Menelaah sosok TGB memang unik dan menarik, baik perihal perjalanaan pendidikan dan karirnya maupun sebagai salah satu tokoh yang digadang-gadang sebagai calon wakil presiden bahkan presiden pada pemilihan umum 2019 mendatang. Baca lebih lanjut

Penyair Alwy dan Budaya Kritik Kita

Kenangan bersama Kang Alwy

CIREBON kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, Ahmad Syubanuddin Alwy. Kang Alwy, demikian ia kerap disapa oleh banyak kalangan, meninggal pada Senin 2 November 2015 pukul 20.30 WIB di Rumah Sakit Sumber Waras, Cirebon. Sebagaimana yang dilansir berbagai media massa, Kang Alwy masih terlihat sehat di saat menghadiri salah satu bagian acara Gotra Sawala di Grage Hotel Cirebon. Setelah itu, tiba-tiba pada Sabtu sore (1/11/2015) Kang Alwy dilarikan ke Rumah Sakit Sumber Waras, Cirebon. Baca lebih lanjut

DPR dan Kaum LGBT, Mau ke Mana?

BEBERAPA hari terakhir kita kembali diresahkan oleh isu seputar LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sebagaimana yang kita saksikan di berbagai media massa. DPR sendiri kebetulan sedang membahas tentang RUU Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKHUP) yang sudah terbit pada Januari 2015 silam, dimana pasal 292 dan 492-nya secara khusus membahas tentang LGBT.

Dalam pandangan Adian Husaini (2013), kelompok LGBT biasanya mendasarkan perilaku atau tindakannya pada prinsip kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat yang dikenal freedom of expression, yang dijamin UUD 1945.  Menurut kelompok ini, setiap warga negara dijamin haknya untuk  mengemukakan pendapatnya. Jika tidak setuju dengan pendapatnya, maka hak untuk mengemukakan pendapat tetap harus dihormati.

Sebagai warga negara Indonesia, kita mafhum dengan prinsip tersebut. Akan tetapi, konstitusi kita, UUD 1945 juga memberikan batasan yang jelas dan tegas terhadap prinsip kebebasan tersebut.   Pasal 28 (J)  UUD 1945 ayat 2 menyebutkan: “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Baca lebih lanjut

Mengais Berkah Konstelasi Politik

AKHIR-akhir ini kita kembali merasakan konstelasi politik nasional dan lokal semakin hangat. Kondisi demikian terutama menjelang 171 pilkada (17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota) pada 27 Juni 2018 dan pemilu (pilpres dan pileg) 9 April 2019 nanti. Dalam konteks lokal, di wilayah III Cirebon kita juga merasakan hal serupa. Perebutan tiket-dukungan partai politik dan kontestasi deklarasi bakal calon peserta pilkada muncul begitu masif dapat kita saksikan di berbagai media massa bahkan media sosial. Tidak saja dalam satu wadah partai politik, tapi juga lintas partai politik dalam bingkai koalisi dengan segala macam variannya.

Untuk membincang hal itu, selama Desember 2017 hingga Januari 2018 ini saya berturut-turut didaulat menjadi narasumber di acara Talkshow Selamat Pagi Cirebon di Radar Cirebon Televisi (RCTV). Misalnya, pada 6 Desember 2017 bertema “Membaca Konstelasi Politik Kota Cirebon”, 28 Desember 2017 bertema “Kilas Balik Konstelasi Politik 2017”, dan Sabtu 6 Januari 2018 bertema “Konstelasi Politik Menjelang 8-10 Januari”; di samping narasumber lain yang juga diundang pada waktu yang sama dan yang berbeda tapi masih membahas tema-tema yang hampir sama. Baca lebih lanjut