Meneladani Ayah Imam al-Nawawi

1 Apr

NAMA lengkapnya Yahya Bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam al-Nawawi al-Dimasyqi, Abu Zakariya, al-Imam al-Hafiz al-Mu’arrikh al-Faqih. Yang kita kenal namanya hingga saat ini masyhur ialah “Al-Imam al-Nawawi”, dinisbatkan kepada Nawa tanah kelahirannya. Nawa merupakan pusat Kota Golan, bagian dari distrik Hauran di Damaskus, Ibukota Suriah saat ini.

Di Damaskus al-Nawawi mondok di sebuah pesantren spiritual, al-Nawawi bertutur bahwa dalam masa sekitar dua tahun, ia tidak pernah meletakan lambungnya di bumi.[1] Dan ia hanya makan roti kasar (jiroyah) yang disediakan oleh madrasah tempat beliau menuntut Ilmu. Inilah usaha keras al-Nawawi muda dalam melatih diri atau dalam bahasa tasawuf dikenal dengan sebutan Riyadhoh, agar mencapai tingkat spiritual yang tinggi.

Nawawi kecil diasuh dan dididik dengan gigih: cinta Ilmu dan menguasai al-Qur’an menjadi cita-cita mulianya dalam pendidikan dini ini. Segala keperluan sehari-harinya imam al-Nawawi termasuk makan dan minumnya dilayani secara tulus ikhlas oleh ayahnya. Ia mengawali aktifitasnya menuntut Ilmu di Katatib (tempat belajar baca-tulis untuk anak-anak) yang terdapat di Nawa. Menjelang baligh imam al-Nawawi mengkhatamkan hafalan al-Qur’an dengan sempurna.

Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syeikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang yang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam.

Memasuki usia ke-18 pada tahun 649 H, ayahnya membawanya ke Damaskus dan tinggal di Lembaga Pendidikan Rawahiyah. Seluruh jiwa dan raganya didedikasikan untuk meraih ilmu sebanyak-banyaknya. Tak heran, dalam kurun waktu kurang lebih empat bulan setengah Imam Nawawi berhasil menghafal kitab al-Tanbih fi Furu’ al-Syaf’iyyah (Karya Abu Ishaq al-Syairazy) dan seperempat kitab al-Muhadzdzab fi al-Furu’ pada bulan-bulan tersisa pada tahun yang sama.

Imam al-Nawawi melalui hari-hari kehidupannya dengan semangat luar biasa. Tak kurang dari dua belas pelajaran dibacanya setiap hari: al-Wasith, al-Jam’u Bayna al-Shahihain, Shahih Muslim, al-Luma’, Ishlah al-Manthiq, al-Tashrif, Ushul al-Fiqh, Asma’ al-Rijal dan Ushuluddin. Semua pembacaan dan penelitiannya terhadap penjelasan yang pada akhirnya melahirkan karya ilmiah sendiri.

Imam al-Nawawi memang ulama klasik yang sangat pantas untuk dijadikan suri teladan bagi para kaum milenial saat ini dalam menuntut ilmu, dengan semangat belajar yang tinggi, tekun, zuhud, dan memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan al-Qur’an.

Semua itu beliau jalani dengan keistiqamahan. Tentu, semua itu ada peran orang tua yang besar mendukung penuh anaknya dalam menuntut Ilmu dan berharap anaknya menjadi seorang tokoh ulama yang kehadirannya membawa keberkahan dan manfaat bagi disekitarnya hingga dibelahan dunia.

Pada akhirnya, Allah pun melimpahkan untuk imam al-Nawawi ilmu pengetahuan yang banyak, sehingga nyatalah tanda-tanda kecerdasan dan pemahaman beliau.

Meskipun mendidik anak tidak semudah apa yang dibayangkan.  Akan tetapi, semangat orang tua dalam mendidik anak tidak boleh padam begitu saja karena kesibukan, dan minim pengharapan agar anaknya menjadi soleh-solehah.

Hal ini tentu bisa dilakukan oleh orang tua dalam berikhtiar mendidik anak sejak dini dengan menanamkan akhlak yang baik, kecintaan terhadap ilmu, dan menyekolahkan di sekolahan yang terbaik. Terutama di era milenial ini, orang tua tidak boleh menyepelekan pendidikan anak-anaknya.

Akhirnya, mari memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar anak-anak kita semua menjadi orang-orang yang memiliki manfaat bagi keluarga, bangsa, agama dan membahagiakan kedua orang tua! [Oleh: Rifki Azis—Mahasiswa Studi Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana IAIN Syeikh Nurdjati Cirebon-Jawa Barat angkatan 2019. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Meneladani Ayah Imam al-Nawawi; Sosok Teladan dalam Mendidik Anak”]

[1] Mungkin maksudnya tidak pernah tidur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: