Semakin Mencintai Bandung

17 Mar

BANDUNG adalah tempat dimana anak-anak muda menjadi dan selalu bangun cinta. Dari era kolonial hingga milenial semua orang terinspirasi dengan Bandung. Dari Bandung banyak orang yang sembuh dari wabah jomblo, duda juga janda.

Di Bandunglah Bung Karno menemukan dan membangun cinta. Di sinilah sang tokoh begitu cinta dengan politik. Karena cinta, sang proklamator pun kelak melakukan pleodi dengan narasi Indonesia Menggugat-nya. Tanpa cinta tak mungkin ia begitu berani berhadapan dengan para kolonial biadab itu.

Tak hanya itu. BJ. Habibie juga menemukan cinta bahkan membangun cinta di Bandung. Gadis manis dan cantik yang bernama Ainun ia dekati sejak di Bandung. Bandung pun menjadi nama yang selalu terngiang dalam qolbu kedua pecinta. Bukan saja dulu, tapi saat ini hingga nanti.

Akupun menemukan cinta ketika aku menjadi warga Bandung. Kota kembang mendesakku untuk mencintai seseorang dan mesti memilikinya sekaligus. Walau asli Subang, gadis Sunda yang kelak pada 4 Oktober 2010 halal menjadi istriku itu, sangat paham seluk beluk Bandung.

Walau kini ia telah meninggal, tepatnya Kamis 25 Oktober 2018 lalu, gadis sederhana bernama Uum Heroyati itu, namanya selalu terngiang dalam benakku. Wajah teduh, senyum manis dan tatap cantiknya masih dan akan terus terbayang. Ya Allah, sediakan baginya surga dan pertemukan kembali kami nanti di dalamnya!

Sembari berharap, semoga Allah berkenan mengirimkan untukku seorang wanita penerus posisi dan peran mulianya. Bukan saja sebagai istri tapi juga sebagai ibu bagi kedua anakku yang Allah cipta dan titip dari sekaligus melalui rahim sucinya: Azka Syakira dan Bukhari Muhtadin. Tak mesti orang Bandung, sebab orang Cirebon juga tak kalah hebat. Asal ia mencintai Bandung dan anak-anak muda Bandung. Ya, kreativitas, inovasi dan moral khas atau ala anak-anak Bandung.

Itulah Bandung. Kaya kenangan indah yang tak terlupakan. Selalu terngiang dan terbayang. Ratusan bahkan jutaan kenangan. Bukan saja indah, karena memang Bandung begitu indah, tapi juga menyisihkan semua pedih dan lelah.

Lalu, ada apa dengan cinta? Cinta itu misteri. Kekuatan dan kelemahannya tersembunyi. Begitu kata Bang Sandiaga Uno pada sebuah pertemuan kaum milenial di Kota Kembang berapa waktu lalu.

Ya, cinta adalah kekuatan bagi mereka yang tak henti mencintai. Sementara cinta jadi kelemahan bagi mereka yang terus menerus tak puas dan selalu berusaha dicintai. Maka teruslah mencintai, tak usah berlelah dan menderita karena menanti dicintai.

Cinta juga adalah energi. Ia adalah sumber inspirasi. Kerap jadi pemicu kegalauan banyak orang. Terutama anak-anak muda. Galau yang justru mencetuskan ekspresi dan memantik luapan jutaan ide-ide. Dan itu semuanya, sekali lagi, ada di Bandung.

Tak heran bila anak-anak muda Bandung sejak dulu, kini dan semoga nanti, sangat aktif, kreatif, dan inovatif.

Semua momen di Bandung selalu punya makna dan tentu inspiratif. Menyadarkan, mendorong dan menggerakkan anak-anak muda untuk hadir sebagai generasi terbaik bagi zaman terbaik, tentu dengan karya-karyanya.

Bandung memang punya daya yang kuat untuk membendung sekat-sekat kemalasan dan kebekuan dalam berpikir dan bertindak. Walau begitu, kondisi semacam itu tak membuat anak-anak Bandung menepikan tradisi. Malah dengan penuh cinta mereka mengangkatnya hingga Bandung bernyawa peradaban tinggi.

Maka anak-anak Bandung pun, baik yang asli maupun pendatang di Bandung selalu punya keunikan dan membuat mereka berbeda dengan yang lain. Merekapun eksis di berbagai tempat. Dari kota hingga desa. Di pergaulan nasional hingga global. Ah Bandung, kau bikin aku terus merinduimu.

Anak-anak Bandung pun dikenal akrab dengan semua jenis manusia. Beragam latar belakang dan selera. Karena mereka terlatih untuk berpikir dan bertindak besar. Tentu sembari itu mereka tetap menjaga keunggulan moral sebagai benteng penting dalam mengarungi kehidupan lintas zaman.

Ya, dengan kreativitas dan inovasi serta moral yang tinggi, kita menerobos kerumitan berbagai permasalahan yang ada, lalu kita secara bersama dan bangga menciptakan masa depan atau sejarah baru Indonesia. Sumber inspirasinya adalah Bandung.

Akhirnya, secara khusus aku hendak berpesan untuk anakku: Azka Syakira dan Bukhari, mari membuka hati secara seksama dan dalam waktu tak terhitung, lalu katakan setulusnya: Aku cinta Bandung, aku semakin mencintai Bandung. Karena memang di Bandung banyak kenangan dan cerita, bahkan cita juga cinta. [Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Semakin Mencintai Bandung; Karena di Bandung Kutemukan Cinta”]

 

Senin, 11 Maret 2019

Syamsudin Kadir

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: