Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan

19 Jun

RAMADHAN adalah tamu yang sangat agung yang selalu dinanti oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Bulan ramadhan memiliki banyak nama lain yaitu bulan pendidikan. Sebab pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah dalam banyak hal. Dengan manajemen yang khas dan unik, ramadhan telah menyajikan proses pendidikan yang nyaris tak ada bandingannya.

Beberapa nilai pendidikan yang terkandung dalam shaum ramadhan sebagiannya dapat kita sebutkan, pertama, mendidik untuk menjaga sikap disiplin. Shaum adalah ibadah paling rahasia di mata manusia, yang bisa menumbuhkan sikap disiplin diri, merasa diawasi (muraqabah) oleh Allah. Sikap ini akan memunculkan perasaan ada pengawasan diri sendiri dan saat mengawasi itu kita pun sadar bahwa kita sedang diawasi oleh Zat Yang Maha Mengetahui segala-galanya.

Kedua, mendidik untuk menjadi orang yang sabar. Betapapun kita merasa haus mencekik tenggorokkan dan lapar melilit perut, ketika waktu magrib belum tiba, kita tidak diperbolehkan bersentuhan dengan makan dan minuman meskipun itu halal melainkan kita  harus bersabar menunggu hingga waktu berbuka tiba. Kalau tak sabar, pastinya kita sudah menghabiskan makanan dan minuman yang tersedia.

Ketiga, mendidik untuk selalu hidup dalam kejujuran.  Orang yang sedang ber-shaum atas dasar imanan wahtishaban (keimanan dan perhitungan), ia  tidak akan makan dan minum serta melakukan hal-hal yang membatalkan shaum betapapun tidak ada orang yang melihat dan tidak ada orang yang tahu kecuali dirinya dan Allah.

Keempat, mendidik agar selalu belajar dalam rangka memperoleh dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan. Pada bulan ramadhan ini terdapat  peristiwa turunnya al-Quran (Nuzulul Qur’an), Alqur’an surat  Al-Alaq: 1-5 sebagai ayat yang pertama kali diterima Nabi Muhammad menjadi bukti agar manusia mau belajar dan terus belajar hingga menguasai berbagai ilmu pengetahuan.

Kelima, mendidik sekaligus mengembangkan kecerdasan emosi.  Sesuai hakikat shaum, shaum adalah menahan diri dan menahan hawa nafsu bukan membunuh hawa nafsu, shaum mendidik manusia agar dapat melakukan latihan pengendalian diri (self controll) dan pengaturan diri (self regulation), baik yang sifatnya lahiriyah maupun ruhaniyah. Latihan secara lahiriyah diantaranya dengan cara menahan diri untuk tidak makan, minum dan berhubungan seks di siang hari. Sementara latihan diri secara ruhaniyah, diantaranya dalam bentuk menahan diri dari sifat marah, dengki, benci dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, ibadah puasa di bulan Ramadhan seringkali disebut sebagai bulan pengendalian diri. Nampak pada bulan Ramadhan, seluruh umat Islam berupaya meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak dan kepedulian sosial (sedekah dan zakat).

Keenam, shaum mendidik kesetaraan. Dalam ibadah shaum, Islam memandang manusia memiliki kesamaan derajat. Mereka yang memiliki banyak harta, status sosial yang  yang tinggi, memiliki kekayaan berlimpah ruah, atau yang mempunyai sedikit harta, atau bahkan orang yang tak memiliki sepeserpun ketika sedang ber-shaum, tetap merasakan hal yang sama yaitu lapar dan haus.

Dengan segala kekhasannya, ramadhan juga dikenal sebutan bulan ibadah. Bulan Ramadhan disebut juga dengan ulan ibadah karena pada bulan ini kita banyak sekali melakukan ibadah-ibadah sunnah di samping ibadah wajib seperti sholat sunnat dhuha, rawatib dan tarawih ataupun qiyamullai serta tadarusan al-qur’an.

Kemudian, sebagai bulan al-Qur’an. Al-Qur’an pertama sekali diturunkan di bulan Ramadhan dan pada bulan ini sebaiknya kita banyak membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an sehingga kita faham dan mengerti perintah dan larangan Allah serta berbagai pesan yang terkandung di dalamnya.

Ramadhan juga dapat disebut sebagai bulan persaudaraan. Pada bulan ini kita merasakan sekali ukhuwah diantara kaum muslimin terjalin sangat erat dengan selalu berinteraksi di tempat shalat seperti masjid atau tempat shalat lainnya untuk melakkukan sholat berjama’ah, sehingga antara kaum muslimin terasa sekali persaudaraan dan kebersamaannya. Dan berbagai sebutan lainnya.

Di atas segalanya, mudah-mudahan ramadhan kali ini dan berikutnya bias kita hiasi dengan pengamalan nilai-nilai ramadhan secara konsisten, agar tak sekadar dijadikan sebagai aktivitas simbolik dan ritualistik. Begitulah cara kita memanfaatkan ramadhan sebagai sekolah, tempat kita belajar dan menekuni banyak hal. Ya tempat kita menempuh pendidikan sejati dari Allah. Semoga! [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: