Konsep Life Skill Menurut Para Ahli dan Kementrian Pendidikan Nasional

3 Sep

KEBUTUHAN dasar manusia, pembangunan yang dilakukan semua bangsa bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Kualitas hidup manusia ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan yang paling utama bagi manusia, yang disebut dengan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar merupakan berbagai keperluan yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Kebutuhan dasar ini tidak statis, tetapi bersifat dinamis dan berkembang sesuai tingkat peradaban dan kesejahteraan manusia.

Life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Pengertian Pendidikan Life Skill
Menurut Para Ahli

Pengertian life skill atau biasa disebut sebagai kecakapan hidup jika di lihat dari segi bahasa berasal dari dua kata yaitu Life dan skill. Life berarti hidup, sedangkan skill adalah kecakapan, kepandaian, ketrampilan. Sehingga life skill secara bahasa dapat diartiakan sebagai kecakapan, kepandaian, keterampilan hidup. Umumnya dalam penggunaan sehari-hari orang menyebut life skill dengan istilah kecakapan hidup.
Menurur Listyono, kecakapan hidup (life skill) yaitu kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problematika kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari serta menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan.

Menurut Rais Saembodo dalam Wira Kurnia S (2006) mengatakan kecakapan, keterampilan (skill) menunjukkan suatu kecakapan atau keterampilan ini diperoleh melalui latihan atau pengalaman. Sasaran utama proses pengembangan sumber daya manusia dapat diarahkan pada usahausaha membina knowledge skillability seoptimal mungkin.

Menurut IOWA State University (2003), life skill diartikan sebagai berikut, a skill is alearned ability to do something well. Kecakapan tidak hanya diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu, lebih daripada itu, kecakapan dimaknai sebagai kemampuan belajar untuk melakukan sesuatu secara lebih baik. Jadi mampu melakukan sesuatu saja belum cukup untuk dikatakan sebagai cakap, melainkan kemampuan untuk melakukan sesuatu tersebut harus ditunjukan secara lebih baik dan diperoleh melalui suatu aktivitas belajar.

Sedangkan life skill oleh IOWA State University (2003), diartikan sebagai, are abilities individuals can lear that will help them to be successful in living a produktive and satisfying life. Kecakapan hidup dimengerti sebagai kemampuan individual untuk dapat belajar sehingga seseorang memperoleh kesuksesan dalam hidupnya, produktif dan mampu memperoleh kepuasan hidup. Indikator seseorang telah memperoleh life skill dengan demikian dapat dilihat dari sejauhmana ia mampu eksis dalam kehidupnya di tengah-tengah masyarakat. Apabila seseorang mampu produktif dan membuat berbagai kesuksesan, maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki life skill yang baik.

Menurut Anwar (2004) life skill adalah pendidikan yang dapat memberikan bekal ketrampilan yang praktis terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat.

Broling (1989) mengemukakan bahwa life skill adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang, sehingga mereka dapat hidup mandiri.

Kent Davis (2000) mengemukakan bahwa kecakapan hidup (life skill) “manual pribadi” bagi tubuh seseorang. Kecakapan ini membantu peserta didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerja sama dengan secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan didalam kehidupannya.

Menurut WHO (1997) life skill yaitu berupa berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berprilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya seharihari secara efektif.

Secara esensial, life skill didefinisikan sebagai semacam petunjuk praktis yang membantu anak-anak untuk belajar bagaimana merawat tubuh, tumbuh untuk menjadi seorang individu, bekerja sama dengan orang lain, membuat keputusan-keputusan yang logis, melindungi diri sendiri untuk mencapai tujuan dalam hidupnya. Sehingga dalam hal ini untuk menjadi tolak ukur life skill pada diri seseorang adalah terletak pada kemampuannya untuk meraih tujuan hidupnya.

Life skill memotivasi anak-anak dengan cara membantunya untuk memahami diri dan potensinya sendiri dalam kehidupannya, sehingga mereka mampu untuk menyusun tujuan-tujuan hidup dan melakukan proses problem solving apabila dihadapkan persoalan-persoalan hidup.

Menurut Kemendiknas

Istilah life skill menurut Depdiknas tidak semata-mata diartikan memiliki keterampilan tertentu (vocational job) saja, namun ia harus memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti mambaca, menghitung, merumuskan, dan memecahkan masalah, mengelolah sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja mempergunakan teknologi.

Sedangkan pendidikan kecakapan hidup atau life skill menurut tim broad based education Depdiknas (2002) adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara pro aktif dan kreatif dapat mencari serta menemukan solusi untuk mengatasinya.

Apa yang diungkapkan oleh Depdiknas tentu masih relevan dengan arahan pendidikan nasional saat ini. Hanya saja ada penguatan tertentu sesuai dengan pengembangan pendidikan sekaligus kebutuhan zaman yang semakin kompleks era ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Jenis-Jenis Life Skill

Broling (1989) dalam pedoman penyelenggaraan program kecakapan hidup pendidikan non formal mengelompokkan life skill menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) Kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), antara lain meliputi ; pengelolahan rumah pribadi, kesadaran kesehatan, kesadaran keamanan, pengelolahan makanan-gizi, pengelolahan pakaian, kesadaran pribadi warga negara, pengelolahan waktu luang, rekreasi, dan kesadaran lingkungan. (2) kecakapan hidup sosial/pribadi (personal /
social skill), antara lain meliputi ; kesadaran diri (minat, bakat, sikap, kecakapan), percaya diri, komunikasi dengan orang lain, tenggang rasa dan kepedulian pada sesama, hubungan antar personal, pemahaman masalah, menemukan dan mengembangkan kebiasaan fositif, kemandirian dan kepemimpinan. (3) kecakapan hidup bekerja (vocational skill), meliputi: kecakapan memilih pekerjaan, perencanaan kerja, persiapan keterampilan kerja, latihan keterampilan, pengusahaan kompetensi, menjalankan suatu profesi, kesadaran untuk menguasai berbagai keterampilan, kemampuan menguasai dan menerapkan teknologi, merancang dan melaksanakan proses pekerjaan, dan menghasilkan produk barang dan jasa.

WHO (World Health Organization) mengelompokkan kecakapan hidup kedalam lima kelompok, yaitu : (1) kecakapan mengenal diri (self awareness) atau kecakapan pribadi (personal skill), (2) kecakapan sosial (sosial skill), (3) kecakapan berpikir (thinking skill), (4) kecakapan akademik (academic skill), dan (5) kecakapan kejuruan (vocational skill).

Slameto (2002) membagi life skill menjadi dua bagian yaitu: kecakapan dasar dan kecakapan instrumental. Life skill yang bersifat dasar adalah kecakapan universal dan berlaku sepanjang zaman, tidak tergantung pada perubahan waktu dan ruang yang merupakan fondasi bagi peserta didik baik di jalur pendidikan persekolahan maupun pendidikan non formal agar bisa mengembangkan keterampilan yang bersifat instrumental. Life skill yang bersifat instrumental adalah kecakapan yang bersifat relatif, kondisional, dan dapat berubah-rubah sesuai dengan perubahan ruang, waktu, situasi, dan harus diperbaharui secara terus-menerus sesuai dengan drap perubahan.

Kalau dikaji lagi pada dasarnya kecakapan hidup (life skill) hanya ada empat jenis, yakni (1) kecakapan pribadi (personal skill), (2) kecakapan sosial (sosial skill), (3) kecakapan akademik (academic skill), dan (4) kecakapan kerja (vocational skill).

Misi dan Prinsip Pendidikan Life Skill

Life skill memiliki misi untuk meningkatkan kualitas keterampilan, kecakapan hidup dan profesionalitas, bagi anggota masyarakat yang membutuhkan dalam rangka meraih kesejahteraan jasmani dan rohani, dengan menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat dan untuk meningkatkan daya saing bangsa diera global.

Menurut Anwar (2004), prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup (life skill) adalah sebagai berikut: a) Tidak mengubah sistem pendidikan yang berlaku b) Tidak mengubah kurikulum yang berlaku c) Pembelajaran menggunakan prinsip empat pilar, yaitu: belajar untuk tahu, belajar untuk menjadi diri sendiri, belajar untuk melakukan, belajar untuk mencapai kehidupan bersama. d) Belajar konstektual (mengaitkan dengan kehidupan nyata) dengan menggunakan potensi lingkungan sekitar sebagai wahana pendidikan. e) Mengarah kepada tercapainya hidup sehat dan berkualitas, memperluas wawasan dan pengetahuan, dan memiliki akses untuk memenuhi standar kehidupan yang layak.

Sasaran dan Tujuan Pendidikan Life Skill

Sasaran life skill yaitu anggota masyarakat usia produktif 18-45 tahun, perempuan maupun laki-laki, putus sekolah maupun belum memilki pekerjaan, dengan kriteria : a) Memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja b) Memiliki komitmen mengikuti kegiatan belajar sampai dengan selesai yang dibuktikan dengan surat pernyataan kesedihan kesanggupan belajar. c) Domisi warga masyarakat desa yang berada pada lingkup satu kecamatan.

Secara umum tujuan pendidikan life skill yaitu untuk memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya yaitu untuk mengembangkan potensi manusiawi (peserta didik) untuk menghadapi peranannya dimasa yang akan datang.

Tujuan dari orientasi life skill adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti bagi peserta didik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun tujuan pendidikan life skill secara khusus bila dirinci adalah sebagai berikut: a) Melaksanakan program-program pendidikan dan pelatihan yang mampu mengembangkan ketrampilan, keahlian dan kecakapan serta nilai-nilai keprofesian untuk mendorong produktivitas sebagai tenaga kerja yang handal atau kemandirian berusaha. b) Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengikuti program khusus berbasis kompetensi, serta fasilitasi penempatan kerja pada dunia usaha / industri dan / atau berusaha mandiri.

Kesimpulan

Life skill adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Dengan demikian pendidikan berorientasi life skill bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai kehidupan pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.dengan hasil yang dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Mudah-mudahan pembahasan ini bisa menjadi pemantik pembaca dalam memperdalam pembahasan tentang konsep kecakapan hidup (life skill) dari berbagai dimensinya.

Daftar Pustaka

Buku
Anwar. 2004. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education): Konsep dan Aplikasi, Bandung : Alfabeta.

Depdiknas. 2002. Pengembangan Pelaksanaan Broad-Based Education, High Based Education, dan Life Skills di SMU. Jakarta: Depdiknas.

Kurnia S, Wira. 2006. Pendidikan Keterampilan Sebagai Upaya Pemberdayaan Siswa (Skripsi Sarjana Pendidikan), Malang: Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim.

Jurnal
Sri, Sumarni. 2002. Kajian Tentang Konsep, Problem dan Prospek Pendidikan Islam. (Jurnal Ilmu Pendidikan Islam). Yogyakarta : IAIN Kalijaga Fak Tarbiyah.

Wahab, Rohmalina. 2012. Reformulasi Inovasi Kurikulum: Kajian Life Skill Untuk Mengantarkan Peserta Didik Menjadi Warga Negara yang Sukses (dalam Jurnal TA’DIB, Vol. XVII, No. 02, Edisi Desember 2012), Palembang: Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.

Listyono. 2011. Orientasi Life Skill dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan Pendekatan Sets. (Jurnal). Surabaya: Perpustakaan UIN Sunan Ampel.

Online
http://pakguruonline.pendidikan.net.

Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon-Jawa Barat, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: