Keluarga Gila Buku

Alhamdulillah istri dan anak saya kalau ke mall langsung ke toko buku. Mereka sepertinya paham betul bahwa buku adalah jendela ilmu dan informasi. Memiliki dan membacanya merupakan satu bentuk kemajuan, terutama dalam konteks keluarga kecil seperti kami. Saya sangat percaya bahwa mereka kelak akan menjadi sumber inspirasi negeri ini tuk terus maju ke masa depan. Hal ini ditandai, misalnya, beberapa waktu lalu istri saya mendapat penghargaan sebagai salah satu guru Sekolah Dasar yang paling banyak membaca buku di tingkat Kota Cirebon-Jawa Barat. Sebelumnya istri saya juga sukses menulis buku bersama saya yang berjudul “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Semoga ke depan prestasi dan karyanya semakin berkualitas. Salam literasi, salam penerbit mitra pemuda. [Oleh: Syamsudin Kadir, Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda. Senin 26 Juni 2017]

Iklan

Saat Cinta Menyapa

Tak ada yang salah dengan rasa suka, tak ada yang keliru dengan jatuh cinta… Setiap insan tercipta tuk menyempurnakan cintanya…
Tak ada yang salah dengan sebuah janji,
Terlebih janji suci antara dua insan untuk memadu kasih, mengokohkan pijakan kaki di semesta ini… Karena itu adalah sebuah kenikmatan yang berbuah pahala…
Tapi jika rasa dan cinta itu dibiarkan liar berkelana, memilih tambatan nya tanpa diawali janji suci maka bersiaplah kita tuk mendapatkan murkaNya…
Rawatlah rasa dan cinta itu, janganlah buat janji sebelum Allah tetapkan taqdirNya untuk kita. Biarlah ketawakkalan kita akan taqdir Allah dengan segenap ikhtiar yang bening, sejernih air tanpa noda mengotorinya menjadi sandaran kita. Baca lebih lanjut

Aksi 212 dan Reaktualisasi Nasionalisme

Laju sejarah selalu tak bisa dibendung. Karena sejarah memiliki nyawa, memiliki daya hidup. Seperti arus laut yang mengikuti suhu air, seperti angin yang mengikuti kerapatan udara dan seperti air yang mengikuti kemiringan tanah. Aksi 212 tak tertahankan.

Upaya membendung dan membelokkan arus sejarah bukan tidak dilakukan, bahkan bertubi-tubi. Para pimpinan ormas dan pimpinan partai didatangi dan dipanggil. Fatwa bid’ah shalat di jalan dikeluarkan.

Degradasi narasi aksi 212 disebar lewat media konvensional maupun media sosial. Intimidasi dilakukan dengan diksi makar, dibayar, dan ditunggangi aktor politik. Perusahaan bus dilarang mengangkut rombongan yang hendak ke Jakarta. Baca lebih lanjut