Kiai Hasyim, Ulama Militan yang Berwatak Moderat

MENINGGALNYA KH Hasyim Muzadi (Kiai Hasyim) hari Kamis (16/3/2017) benar-benar mengagetkan sekaligus menyisahkan kesedihan tak berbilang berbagai kalangan. Bukan saja kalangan NU, tapi juga kalangan ormas Islam lainnya, termasuk tokoh bangsa dan dunia, juga rakyat biasa di berbagai penjuru Indonesia juga dunia.

Sebagai sesama Pondok Pesantren Gontor Ponorogo sekaligus sahabat dekatnya Prof Dr. Din Syamsuddin yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, mengenang Kiai Hasyim sebagai ulama yang memiliki wawasan keislaman yang luas, wawasan kebangsaan dan kemasyarakatan yang luas, serta memiliki pemikiran strategis, serta mampu menempatkan Islam secara tepat dalam konteks global.

Menurut Din, kepergian Kiai kelahiran Tuban 8 Agutus 1944 ini merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi masyarakat NU, tapi juga bagi umat Islam Indonesia, bangsa Indonesia, dan dunia Islam.

Kita tentu mengamini sekaligus mengafirmasi apa yang dikenangkan oleh Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat itu. Bahwa tokoh yang meninggal pada usia 72 tahun ini merupakan figur unik atau salah satu pioner dalam berbagai dialog tokoh di level nasional bahkan dialog kekuatan Islam dengan kekuatan Barat. Wawasan dan komitmen dengan Islam dan bangsa Indonesia dari mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden era SBY tersebut juga sangat kuat.

Kalau membaca kisah hidupnya, kita dapat mengetahui bahwa Kiai Hasyim pernah menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, dan menuntaskan pendidikannya tingginya di Institut Agama Islam Negeri IAIN Malang, Jawa Timur pada tahun 1969. Tokoh yang akrab dengan berbagai kalangan dan yang pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang, nampaknya memang terlahir untuk mengabdi di Jawa Timur.

Sederet aktivitas organisasinya beliau lakoni sejak di Jawa Timur. Organisasi kepemudaan semacam Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiwaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pernah beliau pimpin. Hal inilah yang menjadi modal kuat penulis buku Membangun NU Pasca Gus Dur (1999), NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa (1999), dan Menyembuhkan Luka NU (2002) bias terus berkiprah dan berkontribusi dalam “membesarkan” NU.

Sebagai dilansir berbagai media massa, kiprah organisasinya mulai dikenal ketika pada tahun 1992 Kiai Hasyim terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999. Banyak yang mafhum, sebagai organisasi keagamaan yang memiliki massa besar, NU selalu menjadi daya tarik bagi partai politik untuk dijadikan basis dukungan. Hasyim pun tak mengelak dari kenyataan tersebut. Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun, jabatan sebagai Ketua Umum PBNU-lah yang membuat Hasyim mendadak menjadi pembicaraan publik dan laris diundang ke berbagai wilayah. Bisa dikatakan, wilayah aktivitas alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo ini tidak hanya meliputi Jawa Timur, namun telah menasional. Basis struktural yang kuat itu, masih pula ditopang oleh modal kultural yang sangat besar, karena ia memiliki pesantren Al-Hikam, Malang, yang menampung ribuan santri.

Kiai Hasyim telah disebut-sebut sebagai pendamping Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden Indonesia seawal November 2003. Beliau resmi maju bersama Megawati pada 6 Mei 2004. Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Megawati dan Kiai Hasyim meraih 26.2% suara di putaran pertama, tetapi kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) di putaran kedua.

Walau begitu, Kiai Hasyim sosok yang unik. Beliau mampu memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin umat Islam sekaligus pemimpin Indonesia dalam dinamika global sekaligus dialog Islam dan Barat. Selain sebagai ulama yang militan, Kiai Hasyim cukup memahami realitas kebangsaan bahkan global-dunia. Sebagai tokoh muslim Indonesia, beliau pernah diundang ke Amerika Serikat untuk memberikan penjelasan kepada dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang moderat, kultural, dan tidak memiliki jaringan dengan organisasi kekerasan internasional.

Kiai Hasyim berpandangan agar dunia internasional perlu mengetahui kondisi umat Islam di Indonesia dan perilaku mereka yang tidak menyetujui tindak kekerasan. Beliau adalah salah satu sekian dari tokoh umat di Indonesia yang dijadikan referensi oleh dunia Barat dalam menjelaskan karakteristik umat Islam di Indonesia. Menurut Kiai Hasyim, untuk menghadirkan perdamaian dan keteraturan dunia, perlu ada upaya komunikasi antar elemen penting global, tak terkecuali umat Islam dan Barat secara intensif.

Walau memilih dialog, Kiai Hasyim tetap menjaga pembelaannya terhadap Islam. Sebagaimana pernah dilansir berbagai media massa internasional pada masa itu, Kiai Hasyim mengingatkan AS bahwa mengatasi berbagai aksi terror tak perlu dengan cara teror. Tindakan semacam itu, bukan hanya kontraproduktif, tapi bisa memunculkan aksi teror yang menjadi-jadi. Dalam pandangan Kiai Hasyim, sekali AS bertindak teror, seperti dilakukannya di Afghanistan, Irak dan sebagainya atau negara-negara Timur Tengah lainnya, dengan intervensi langsung, hasilnya bisa runyam, dan memang faktanya benar-benar runyam.

Saya berpandangan bahwa Kiai Hasyim adalah sosok ulama militan berwatak moderat. Dalam berbagai dialog, seminar dan forum diskusi, beliau mampu memahami, memaknai dan mengobjektifikasi Pancasila sebagai dasar Negara dalam prespektif yang mendalam dan luas, tanpa menafikan nilai-nilai keluhuran dan kekhasan yang terkandung di dalamnya.

Satu pandangan beliau yang saya ingat adalah perihal Islam tak merintangi Pancasila atau sebaliknya Pancasila sama sekali tak merintangi Islam. Menurut beliau, Pancasila justru merupakan ejahwantah prinsip dan nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ya, kepergian Kiai Hasyim tentu tak boleh membuat semangat kita untuk memperkuat hubungan baik antara sesama umat Islam dan dialog antar umat beragama menjadi redup. Justru dalam kondisi begini, kita tetap meningkatkan peran sekaligus melanjutkan peran-peran beliau yang masih tertinggal, semuanya demi kemajuan umat Islam, bangsa dan peradaban baru dunia.

Akhirnya, semoga Allah SWT mengampuni dosanya, melimpahkan rahmat-Nya untuknya, dan menyediakan baginya surga terbaik. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon. Dimuat pada halaman 4 Kolom Wacana Koran Radar Cirebon edisi Jumat 17 Maret 2017]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s