Transformasi, Reformasi dan Revolusi dalam Kepemimpinan Para Nabi

masjidil-haram-1Transformasi

Transformasi identik dengan perubahan, karena sejatinya transformasi adalah sebuah bentuk perpindahan menuju sistem yang dianggap lebih baik dan mendukung. Jika disandingkan dengan kepemimpinan, maka akan terbentuk sebuah pemikiran bahwa kepemimpinan transformasi adalah bentuk kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan dengan mengedepankan pemberian inspirasi untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan.

Gaya kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang visioner dan inspirasional. McShane dan Von Gilnow mengatakan bahwa kepemimpinan transformasi adalah kepemimpinan yang dapat mengubah tim dan organisasi yang dengan membentuk, mengkomunikasikan, dan memberikan visi yang menginspirasi para anggotanya. Kepemimpinan transformasional dicirikan dengan pemimpin yang dapat memberikan inspirasi bagi para pengikutnya sehingga dapat memberikan tujuan yang jelas pada tim yang dikelolanya.

Jika kita melihat bagaimana konsep kepemimpinan transformasi, maka role model yang tepat untuk dijadikan contoh yakni kepemimpinan para nabi dan rasul. Mereka merupakan teladan-teladan terbaik yang bisa memberikan kita contoh bagaimana cara memimpin sebuah perubahan yang besar.

Perubahan ini dilandasi oleh situasi dan kondisi yang menuntut sebuah sistem untuk berubah. Tidak mungkin nabi dan rasul melakukan suatu perubahan tanpa suatu alasan yang jelas. Nabi Ibrahim a.s misalnya, beliau mengajarkan bagaimana mengubah sistem yang telah mengakar kuat dalam diri umatnya untuk bisa dikembalikan ke jalan yang benar. Bagaimana Nabi Musa a.s melakukan gerakan reformis untuk mengubah cara pandang Fir’aun dan kaumnya yang menyesatkan. Atau dengan cara lain, Nabi Yusuf a.s melakukan gerakan reformis, gerakan yang dilandasi oleh strategi yang kuat dengan konsistensi diri yang juga kuat. Dan kemudian, bagaimana Rasulullah Saw. melakukan suatu perubahan dengan visi dan misi yang jelas, dengan ide-ide yang brilliant kala itu. Semua konsep kepemimpinan yang dilakukan oleh para nabi dan rasul menuntun kita untuk bisa bergerak ke arah yang lebih baik, karena itulah inti dari transformasi.

Reformasi

Gerakan reformasi merupakan gerakan yang dewasa ini banyak dilakukan oleh negara-negara yang mengalami gejolak hampir di semua lini kehidupan, karena sebuah kepemimpinan yang tidak berorientasi pada kepentingan rakyatnya. Katakanlah Indonesia, pada tahun 1998 terjadi suatu gerakan reformasi yang bersejarah untuk menumbangkan rezim yang dianggap lalim pada rakyatnya. Hal serupa terjadi pada Libya, Mesir, dan beberapa negara lainnya yang sebagian besar berada di kawasan Timur Tengah.

Gerakan ini bukanlah gerakan baru yang dilakukan hanya pada zaman ini saja. Jika kita mundur ke belakang, melihat sejarah masa lampau, maka kita akan melihat bagaimana konsep ini ternyata diterapkan dalam kisah-kisah kepemimpinan yang dilakukan oleh para nabi dan rasul terdahulu. Untuk gerakan reformis, kita dapat mengambil contoh dari yang dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s. Kisahnya tercatat lengkap dalam Alquran.

Dalam kisah Nabi Yusuf, banyak pembelajaran tentang reformasi, yakni upaya melakukan perubahan sistem. Dari Nabi Yusuf kita dapat memetik pembelajaran mengenai kesuksesan yang diraih dengan melakukan perubahan pada sistem. Tentu saja perubahan ini didasarkan pada kapabilitas, intelektual, dan moralitas.

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’ Ayahnya berkata: ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'” (Q.S. Yusuf: 4-5)

Pelajaran yang bisa diambil dari kedua ayat tersebut antara lain, adalah tentang perubahan reformis. Perubahan reformis adalah perubahan yang dilakukan dari dalam, sangat mungkin membutuhkan waktu yang panjang dan menuntut keterkaitan antar generasi, yakni mulai dari Nabi Yaqub hingga Nabi Yusuf.

Poin pertama mengenai ayat di atas adalah bahwa setiap diri kita senantiasa memiliki mentor. Mentor di sini dimaksudkan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita untuk bisa belajar dari kesalahan-kesalahan Beliau. Kemudian master plan berikut grand design-nya menuntut nilai-nilai kerahasiaan yang harus dijaga.

Tokoh-tokoh perubahan dalam reformasi ini menuntut sebuah kualifikasi, agar agent of change yang diharapkan sesuai untuk bisa melanjutkan perjuangan reformasi tersebut. Kualifikasi perspektif yang muncul antara lain pilihan terbaik, kredibilitas moral, kapasitas intelektual, visioner, dan memiliki ikatan mata rantai dengan sejarah terdahulu.

Gerakan reformasi ini dipenuhi tantangan dan hambatan, bahkan mungkin lebih menyakitkan ketimbang revolusi.  Agent of change adalah sosok yang senantiasa disikapi secara kontroversial. Dalam ayat di atas, diuraikan bagaimana sikap kakak-kakak Nabi Yusuf terhadapnya. Mereka menganggap Nabi Yusuf sebagai sosok yang akan mengancam eksistensinya.

Hidup seorang reformis senantiasa dipenuhi dengan sifat kompetitif, masalah yang kompleks, keberanian membela yang haq, dan memiliki semangat yang heroik. Hal yang menjadi menarik adalah tekanan-tekanan yang dilakukan oleh pihak lawan terhadap agent of change tanpa disadari justru akan menjadi investasi perjuangan bagi kekuatan perubahan itu. Tentang takwil mimpi, adalah suatu perbuatan yang mencerminkan bagaimana seorang pemimpin menyampaikan visinya.

Revolusi

Dalam membahas mengenai kepemimpinan dengan memilih jalan revolusi sebagai agen pengubahnya, kita bisa melihat dari kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s. Kisahnya tertuang dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 247:

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ Nabi (mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”

Dalam kutipan ayat di atas, dapat dilihat bahwa kepemimpinan dalam sebuah revolusi yang dilakukan memunculkan dua kaidah dasar. Mengangkat Thalut sebagai pemimpin revolusioner. Thalut tidak memiliki harta dan kekuasan. Pemimpin revolusi setidaknya memiliki dua kualifikasi, yakni berwawasan luas dan kemampuan fisik yang handal. Revolusi juga merupakan perjuangan orang-orang yang tidak mendapatkan kekuasaan. Bani Israil menolak kepemimpinan Thalut kerana merasa lebih berhak atas klaim kepemimpinan dan kekuasaan.

Setiap perjuangan revolusi tidak bisa dilepaskan oleh unsur materi, maka pemimpin tidak boleh tergoda oleh keterlibatan unsur materi. Munculnya segmen peripheral, yakni lapisan pinggir dari kekuatan perjuangan.

Pasukan Jalut adalah pasukan yang berbaris dengan rapi, sedangkan pasukan Thalut adalah pasukan yang tidak beraturan. Dalam kondisi kritis sekalipun, kita tidak boleh dalam kenyamanan yang menyenangkan. Revolusi bukanlah gerakan yang hanya terdiri dari satu babak, melainkan 4 babak, yakni babak penghancuran, babak peletakan pondasi baru, babak pembangunan sistem, dan babak pemeliharaan.

Rina Nourmasari
Mahasiswa Departemen Geografi Universitas Indonesia

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/13/01/23/mh2yc7-transformasi-reformasi-dan-revolusi-dalam-kepemimpinan-para-nabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s