Membentuk Kompetensi Pedagogik Guru

1PADA Sabtu (29/10) lalu saya menghadiri acara Seminar Nasional dan Bedah Buku yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Syekh Nur Jati (DEMA FITK IAIN SNJ) Cirebon. Pada acara yang mengambil tema “Pengembangan Pendidikan Islami di Era Modern Menuju Karakter Bangsa yang Berkepribadian Mulia” tersebut penyelenggara menghadirkan penulis buku “Kompetensi Pedagogik” Nur Irwantoro sebagai narasumber.

Kehadiran saya, termasuk Fadilatul Atqiya dan Casia dari Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC) pada acara yang bertempat di lantai 3 Gedung Rektorat IAIN Cirebon tersebut tak sia-sia. Sebab di forum tersebut saya—sebagaimana juga peserta yang lain—mendapat banyak hal yang tentu saja memberi banyak manfaat dan kelak diharapkan mampu menginspirasi saya untuk melakukan lompatan dan percepatan terutama dalam membaca dinamika, perkembangan dan kebutuhan dunia pendidikan Indonesia ke depan.

Bagi saya—yang kini sedang bergiat di dunia pendidikan, tepatnya di Pendidikan Agama Islam IAI BBC—forum kemarin sangat bermanfaat. Karena di forum tersebut saya bisa bersua secara langsung dengan penulis buku yang sudah lama saya nanti kehadirannya di Kota Cirebon. Beberapa waktu sebelumnya saya sudah membaca sebagian buku setebal 554 halaman dan berukuran 19 x 26 cm tersebut; namun akan lebih baik kalau saya berkesempatan untuk bersua dengan penulis buku sekaligus pegiat pendidikan tersebut.

3Walau datang di sesi akhir acara, pada sesi diskusi saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan beberapa pertanyaan, misalnya, tentang efektivitas dan efesiensi masa pendidikan bagi para calon guru dan pola baru yang lebih kontekstual dalam membentuk kompetensi guru terutama dalam kompetensi kepribadian. Menurut Master Trainner BOS (2010-2014) dan Tim Pengembang BOS Kemendikbud (2014-sekarang) tersebut, pembentukan kompetensi kepribadian tidak hanya mengandalkan proses pendidikan di saat menempuh pendidikan sarjana, tapi juga membutuhkan proses pembudayaan secara individu oleh seorang pendidik maupun melalui pembudayaan di lingkungan sekolah juga kampus. Menurut Guru Berprestasi Tahun 2012 tersebut, para calon pendidik terutama guru, selain diharuskan untuk mengetahui kompetensi kepribadian, juga mesti menginternalisasi substansi kompetensi tersebut dalam dirinya di setiap saat. Pengalaman atau tindakan nyatalah yang membentuk komptensi kepribadian menjadi lebih autentik.

Berikutnya, saya bisa merayakan akhir pekan dengan riang-gembira. Saya berpandangan bahwa belajar dalam ruang pendidikan formal tak cukup mampu menginternalisasi berbagai tema keilmuan, karena itu forum seminar—apalagi dengan menghadirkan pembicara yang cukup kompeten—merupakan sarana sekaligus media yang perlu diikuti oleh siapapun yang bergulat dalam dunia pendidikan, termasuk para pemerhati bahkan penulis lepas bertema pendidikan.

Dan yang tak kalah pentingnya, IAIN SNJ—khususnya DEMA FITK—telah merespon secara cerdas kebutuhan dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi di wilayah III Cirebon. Walau dalam beberapa waktu terakhir berbagai kemajuan sudah terlihat, namun penyediaan sekaligus penguatan kepada sumber daya manusia (SDM) yang kelak bergulat dalam dunia pendidikan (baca: guru) perlu digiatkan dan mesti menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Kalangan kampus, termasuk unit kegiatan mahasiswa, perlu mengambil bagian dalam melakukan pengkondisian atau pencerdasan dini terhadap generasi baru yang kelak terjun dalam dunia pendidikan. Sukses pada proses ini sama dengan menorehkan kesuksesan bagi dunia pendidikan di masa depan.

Secara konstitusional, yakni berdasarkan UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) dijelaskan bahwa komptensi yang wajib dikuasai oleh guru minimal meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Merujuk pada Nur Irwantoro berdasarkan penjelasan pasal 10 ayat (1) tersebut, maksud dari keempat kompetensi yang wajib dikuasai oleh guru itu dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. 2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. 3. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. 4. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efesien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar (Kompetensi Pedagogik, 2016: 2),

Dalam PP RI No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Dasar Pendidikan (SNDP), penjelasan pasal 28 ayat (3) butir (a) dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kalau merujuk kepada pendapat Hoogveld yang mengatakan bahwa pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya” dan merujuk pendapat Sadulloh dkk (2010: 2)—sebagaimana dikutip Nur Irwantoro (2016: 3)—yang mengatakan bahwa “pedagogik adalah ilmu mendidik anak”, maka kompetensi pedagogik merupakan kompetensi instruksional-edukatif (mengajar dan mendidik) yang esensial dan fundamental bagi guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalannya, terutama tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik; sehingga kompetensi ini mesti dibangun secara masif atau terus menerus.

Untuk kebutuhan di atas, buku terbitan Mei 2016 lalu tersebut perlu dijadikan referensi terutama oleh penyelenggara pendidikan, mahasiswa, dosen, guru, dan siapapun yang hendak mengkaji secara mendalam tentang kompetensi pedagogik; termasuk hal lain yang masih relevan dan aktual tentang pendidikan.

Sungguh, maju atau mundurnya dunia pendidikan bahkan bangsa ini sangat ditentukan oleh kualitas sekaligus kompetensi para pendidik atau gurunya. Dengan begitu, di samping memiliki kompetensi kepribadian, profesional dan sosial, para pendidik atau guru juga mesti memiliki kompetensi pedagogik dalam maknanya yang luas. Semuanya demi kemajuan dunia pendidikan bangsa dan negera tercinta Indonesia. Semoga! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s