Melawan Nalar yang Lumpuh

jaga-kepala-dari-benturanKASUS yang menimpa alias Dimas Kanjeng Taat Pribadi (Dimas) merupakan salah satu berita yang paling hangat di berbagai media massa dan media sosial beberapa hari terakhir. Kasus ini merupakan fenomena gunung es betapa sebagian masyarakat Indonesia masih dengan mudah percaya pada praktik mistik alias perdukunan. Ribuan orang yang bermukim di Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjadi bukti akuratnya. Mereka rela menjadi pengikut Dimas Kanjeng demi mendapatkan uang berlipat ganda.

Padahal, sudah terbukti bahwa duit yang digandakan Dimas merupakan uang palsu. Dimas juga diduga melakukan penggandaan uang dengan menipu para pengikutnya. Lewat jubah-jubahnya yang besar dan berkantong banyak, dia mendemonstrasikan kemampuannya dalam menggandakan uang. Padahal, apa yang dilakukan hanyalah manipulasi juga halusinasi. Hal ini terbukti dengan banyaknya korban yang mengandu ke pihak berwajib, yang hingga kini belum mendapatkan bonus pelipatgandaan uang yang dijanjikan Dimas.

Ya, zaman boleh maju, sains boleh pula tegak sebagai peradaban mutakhir, tetapi mitos dan takhayul sebagai bentuk kelumpuan akal sekaligus nalar belum juga musnah dari kehidupan sebagaian masyarakat kita. Perkembangan dan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat membuat nalar sebagian kita tercerahkan. Kasus Dimas menjadi satu fakta akurat betapa kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat rasional tak membuat keyakinan mistis menyisih dalam aspek kultural kita.

Fenomena seperti ini sebetulnya sudah terjadi sejak lama. Makanya tak heran ketika Sastrawan Mochtar Lubis (1978) sudah memberi kritiknya atas feneomena ini. Menurut Lubis, diantara ciri masyarakat Indonesia adalah percaya takhayul. Bagi Lubis, kepercayaan purba manusia Indonesia yang identik dengan animisme dan dinamisme mengakibatkan sebagian kita—betapa pun majunya ilmu pengetahuan dan cara bernalar —masih saja mempertahankan kesetiaan pada hal-hal yang mistis alias tak rasional.

Makanya, bukan saja kasus Dimas, bahkan beberapa waktu lalu—sebagaimana disinggung oleh Damhuri Muhammad (dalam “Takhayul dan Nalar yang Lumpuh”, 2016)—Syekh Padepokan Sangga Buana Putra bernama Abdul Muhjib menjual tiket ke surga seharga dua juta rupiah. Naifnya, sejumlah orang di Karawang, Jawa Barat pun dengan senang hati membelinya.

Begitu juga sebagian anak muda yang begitu “gatal” menjadi artis terkenal. Mereka pun rela menjadi murid dari seorang tokoh—yang di kalangan mereka terkenal sebagai guru—spiritual. Sang guru kerap mengaku mampu melakukan hal-hal tertentu agar menjadi artis terkenal dan kaya dengan syarat para murid menyerahkan sejumlah syarat wajib, seperti emas, uang, mobil hingga menyerahkan kelamin. Naifnya, walau peristiwa serupa kerap terjadi dan hanya menyisahkan sakit hati bagi korban dan jeruji besi bagi pelaku, tetap saja ada yang percaya dan mau menjadi korban.

Dalam konteks kasus Dimas, sampai detik ini saya dan mungkin juga pembaca masih terkagetkan oleh aksi pengikutnya yang begitu percaya dengan Dimas Kanjeng. Mungkin kalau mereka adalah masyarakat biasa, masih ada argumentasi standar yang bisa dijadikan alasan, misalnya, mereka terbelakang dalam hal pendidikan, keilmuan dan sebagainya. Tapi menjadi aneh ketika para tokoh dan elite pun turut serta menjadi murid setia bahkan memberikan pembelaan irasional yang begitu sengit di berbagai forum.

Berbagai fenomena di atas semakin menguatkan tesis Lubis bahwa di antara ciri masyarakat Indonesia—sehingga membuat mereka tak maju-maju—adalah percaya kepada hal-hal mistis yang melampaui batas, seperti, takhayul, perdukunan, peramalan, dan sebagainya. Bagi masyarakat yang terkena penyakit modern semacam ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersendikan nalar atau rasionalitas tak memberi efek sedikitpun dalam paradigma dan kultur hidup mereka. Mereka bisa jadi bergelar dan dikenal sebagai cendekia, dikenal sebagai tokoh terkenal di institusi penting dan berbagai latar mentereng lainnya, tapi kalau hati dan akal mereka lumpuh alias tak berfungsi dengan baik, maka hal-hal mistis pun tetap saja menjadi basis bahkan teman hidupnya.

Hal semacam ini semakin naif manakala tercampuri dengan praktik kriminalitas atau pelanggaran hukum seperti penipuan, pencuciang uang, manipulasi, pemerkosaan hingga pembunuhan. Di sini, penegak hukum bukan saja mesti bertindak cepat, tapi juga perlu melakukan tindakan preventif (baca: sidik dini); di samping peran para Ulama, Ormas Islam dan berbagai kalangan yang tak boleh berdiam diri. Sebab fenomena semacam ini bukan saja meresahkan sehingga mengganggu stabilitas nasional, tapi juga bisa menimbulkan kegoncangan sosial secara masal.

Kita perlu ingatkan bahwa fenomena seperti itu sebetulnya tak mesti terjadi manakala kita masih mau mempercayai tuntunan Allah dalam hal harta. Allah memerintahkan kita untuk menjemput harta yang halal dengan cara yang halal pula. Mendapatkan rezeki perlu ditempuh dengan kerja keras dan bersusah payah, bukan simsalabim (QS. Al-Muzamil: 20).

Kalau menelisik sejarah, dapatlah kita pahami bahwa para nabi rasul yang diutus oleh Allah pun bekerja mencari nafkah yang halal dengan cara-cara yang rasional. Padahal mereka mendapatkan mukjizat yang memungkin mereka meminta apa saja kepada Allah pasti diberi. Namun status delegasi Allah tak membuat mereka berdamai dengan kenyataan. Mereka justru menjadi pioner dalam mempraktikkan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas dalam konteks kehidupan ril. Mereka paham betul bahwa rezeki adalah hak prerogatif Allah, tapi untuk mendapatkannya butuh ikhtiar atau jalan tempuh yang sebetulnya sudah Allah gariskan.

Para nabi dan rasul itu punya selendang sebagai delegasi Allah, namun mereka tak jumawa lalu meminta deskresi agar uang atau harta turun dari langit tanpa upaya atau usaha manusiawi. Sejarah mencatat bagaimana nabi Adam bercocok tanam, nabi Idris menjahit, nabi Daud membuat baju besi, nabi Musa menggembala, dan Rasulullah Muhammad Saw berdagang.

Sungguh, ilmu pengetahuan mengajarkan kepada kita bahwa beragama bukan berarti menepikan hati dan akal sehat. Agama, dalam hal ini Islam, justru meniscayakan kita untuk menggunakan hati dan akal sehat dalam menjalankan ajaran agama, termasuk dalam menjalani kehidupan sosial yang akhir-akhir ini kerap dianggap culas, penuh liku, bertubi tantangan dan manipulasi. Ini bermakna, dalam segala kondisinya kita mesti melawan seluruh fenonema nalar lumpuh dalam berbagai bentuk praktiknya. Selebihnya, semoga Allah selalu menunjuki kita kepada jalan yang lurus dan menyediakan bagi kita rezeki yang halal serta terjangkau oleh ikhtiar manusiawi kita! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s