Memaknai Tahun Baru Hijriyah 1438 H

tahun-baru-islam-2016-1438-hPADA Ahad lalu (2/10/2016) umat muslim di Cirebon dan sekitarnya bahkan di seluruh dunia memperingati tahun baru Islam 1 Muharam 1438 H. Seyogianya, peringatan kali ini menjadi momentum untuk melakukan perbaikan dan perubahan dalam berbagai sisi, baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat hingga bangsa.

Hijrah sendiri berarti berpindah. Berikutnya, hijrah kerap didefinisikan dalam banyak makna, diantaranya, yaitu hijrah makani dan hijrah maknawi. Maksud hijrah makani adalah hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik, dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keislaman.

Makna terakhir oleh Ibnu Qayyim bahkan dinyatakan sebagai al-hijrah al-haqiqiyyah. Alasannya, hijrah fisik adalah refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri. Dua makna hijrah tersebut sekaligus terangkum dalam hijrah Rasulullah Saw. dan para sahabatnya ke Madinah. Secara makani jelas mereka berjalan dari Makkah ke Madinah menempuh padang pasir sejauh kurang lebih 450 km. Secara maknawi  jelas mereka hijrah demi terjaganya misi Islam.

Tahun hijriyah adalah bagian yang penting dan tak terpisahkan dari sejarah peradaban Islam. Tahun hijriyah merupakan tonggak sejarah Islam, dimana kebangkitan Islam menemukan momentum yang tepat. Dan melalui sejarah Islam itulah, dapat dilihat, satu demi satu pengamalan dan penegakan ajaran Islam dalam konteks yang lebih ril yaitu kehidupan sosial umat secara bertahap sesuai dengan apa yang diwahyukan Allah.

Perlu diakui, sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi). Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Makkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah ini diinspirasi secara langsung dari Allah Swt. (QS. At-Taubah: 36). Hijrah atau perubahan, terutama perubahan perilaku manusia memerlukan ikhtiar yang dimulai dengan niat, termasuk memaknai pergantian tahun Islam 1437 Hijriyah yang baru berlalu dan kini memasuki awal Muharram 1438 Hijriyah.

Beberapa hal yang bisa diambil dari peristiwa hijrah adalah: (a) perisitwa hijrah Rasulullah dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki makna yang sangat berarti bagi setiap muslim; (b) Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi. Menegakkan aqidah di tengah budaya jahiliyah adalah perjuangan berat; (c) Hijrah mengandung semangat persaudaraan. Kaum Anshor Madinah dengan sepenuh hati menerima kaum Muhajirin Makkah, dan inilah contoh persaudaraan yang sejati.

Konstruksi bangunan peradaban Islam dimulai sejak berawalnya hijrah. Secara historis faktual, masyarakat Madinah sebagai komunitas yang menerima kedatangan kaum Muhajirin Makkah telah dengan sepenuh hati membuka lebar kesempatan untuk bergabung dan menempati wilayah Yatsrib sebagai tempat hunian yang layak dan nyaman.

Rasulullah Saw. dan para sahabat hendak membangun komunitas yang selanjutnya dikenal dengan masyarakat madani. Bangunan peradaban dalam masyarakat di kota Madinah itulah yang kemudian memancar dan mampu memberi warna dunia dengan segala pancaran cahaya keimanan, kekuatan aqidah yang membentang, sinaran budi yang menembus jagad semesta raya. Dan Nabi Muhammad Saw. memang diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.

Hijrah pada masa lalu tidak akan kita lakukan kini. Perintah hijrah dari Makkah ke Madinah adalah khusus untuk Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Tidak mungkin kita melakukan hal itu sementara kita berada di Cirebon atau Indonesia dengan kondisi yang tentu saja berbeda dalam segala konteksnya.

Hijrah pada masa kini adalah bahwa Allah Swt. dan Rasul-Nya menunjukkan bahwa kita mampu melaksanakan hijrah dalam bentuk kontekstual; meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan yang menular, melepas belenggu syahwat yang kronis, menepikan kepentingan pragmatis; menjauhkan sikap chauvinis yang dangkal dan membabi-buta; meninggalkan praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), mengkonsumsi produk lokal atau produk dalam negeri dan seterusnya.

Sebagai Muslim, berhijrah adalah suatu keniscayaan. Praktisnya, pemaknaan hijrah itu bergantung pada situasi dan kondisi yang mengitarinya. Hijrah tidak akan dilakukan tanpa adanya pertimbangan dan pemikiran yang mendalam. Hingga hijrah itu dilakukan sebagai bentuk pilihan yang aplikatif berdasar pada kesadaran dan keterpanggilan menjalankan titah Allah Swt. dan menegakkannya di muka bumi.

Secara praktis, sebagai apapun kita, kita mesti menekuni bidang yang kita geluti dan profesional di bidang tersebut. Baik sebagai petani, guru, penulis, wartawan, pengusaha, politisi, hingga pejabat publik, dan sebagainya.

Dengan semangat hijrah Nabi Saw setiap kita dapat berhijrah, misalnya, memperbaiki hubungan persaudaraan dengan siapapun tanpa sekat-sekat suku, ras, budaya, politik atau kepentingan yang bersifat pragmatis; membangun kesadaran sosial masyarakat di setiap tempat kita berdomisili; menerapkan asas kebersamaan dan sikap egaliter tanpa rasa sok kuasa; menyeimbangkan kualitas dan kuantitas hidup dalam segala aspeknya; dan sebagainya.

Di atas segalanya, mengupayakan transformasi nilai-nilai hijrah dalam bentuk nyata keseharian dapat menyelaraskan antara keyakinan dan perilaku kita. Nilai hijrah tidak sebatas semangat untuk beragama dan bersosial semata, melainkan meneguhkan kualitas keyakinan setiap diri dalam mengarungi bahtera kehidupan dalam beragam skala; dari individu, keluarga, masyarakat hingga bangsa. Mari berhijrah secara tulus dan tuntas! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s