Arsip | Oktober, 2016

Membentuk Kompetensi Pedagogik Guru

30 Okt

1PADA Sabtu (29/10) lalu saya menghadiri acara Seminar Nasional dan Bedah Buku yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Syekh Nur Jati (DEMA FITK IAIN SNJ) Cirebon. Pada acara yang mengambil tema “Pengembangan Pendidikan Islami di Era Modern Menuju Karakter Bangsa yang Berkepribadian Mulia” tersebut penyelenggara menghadirkan penulis buku “Kompetensi Pedagogik” Nur Irwantoro sebagai narasumber.

Kehadiran saya, termasuk Fadilatul Atqiya dan Casia dari Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC) pada acara yang bertempat di lantai 3 Gedung Rektorat IAIN Cirebon tersebut tak sia-sia. Sebab di forum tersebut saya—sebagaimana juga peserta yang lain—mendapat banyak hal yang tentu saja memberi banyak manfaat dan kelak diharapkan mampu menginspirasi saya untuk melakukan lompatan dan percepatan terutama dalam membaca dinamika, perkembangan dan kebutuhan dunia pendidikan Indonesia ke depan. Baca lebih lanjut

Iklan

Worldview Koruptor

22 Okt

hamid-fahmyBeberapa bulan lalu sebuah dialog di televisi swasta membahas perilaku korupsi penegak hukum dan koruptor. Hadir dalam acara itu para guru besar dibidang hukum dan advokat. Yang muncul disitu pertanyaan mengapa hakim dan jaksa korupsi? Padahal mereka adalah penegak hukum dan sangat luas ilmu hukumnya. Mereka adalah pejabat yang tinggi tanggung jawabnya.

Host acara itu lalu mengarahkan pertanyaan itu kepada para guru besar: Apa yang Bapak ajarkan pada mereka sehingga mereka itu korupsi? Para guru besar itupun bersungut-sungut lalu menjawab “tidak ada yang salah dalam mata kuliah mereka.” Lalu dimana letak salahnya? Mengapa demikian dst..dst. menjadi kompleks. Baca lebih lanjut

Melahirkan Manusia Berkarakter

18 Okt

melahirkan-manusia-berkarakterBEBERAPA tahun terakhir, terutama setelah Kurikulum 2013 diberlakukan, dunia pendidikan kita begitu giat menggalakan pendidikan karakter dengan orientasi melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter. Hampir semua lembaga atau institusi yang berakaitan dengan pendidikan membincang pendidikan karakter dalam berbagai macam ekspresinya. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter itu sangat penting dalam melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter.

Tolbert Mc Carroll, pernah mengatakan, “Karakter adalah kualitas otot yang terbentuk melalui latihan setiap hari dan setiap jam dari seorang pejuang spiritual.” Selain Carroll, John Luther pernah mengungkapkan, “Karakter yang baik, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit—dengan pikiran, pilihan, keberanan dan usaha keras.”

Apa yang diungkapkan oleh Carroll dan Luther menunjukkan bahwa untuk menjadi seseorang yang berkarakter (baca: berakhlak mulia) diperlukan usaha yang serius dan terus menerus. Menjadi manusia yang berakhlak mulia, tidak diberikan sebagai anugerah yang datang begitu saja atau diberi secara otomatis. Akan tetapi, ia memerlukan proses panjang: melalui proses pendidikan sejak dini hingga tua dan melalui latihan yang terus menerus. Baik melalui pendidikan formal dan informal, maupun pendidikan non formal.

Mengafirmasi Carroll, karakter ibarat otot. Otototot karakter akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih. Sebaliknya, ia akan kuat dan kokoh kalau sering dipakai. Seperti seorang binaragawan (body builder) yang terus menerus berlatih untuk membentuk otot-nya. Otototot karakter juga akan terbentuk melalui praktik-praktik latihan, yang akhirnya akan menjadi kebiasaan (habit).

Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Al-Ghzali, ketika beliau mengatakan bahwa, akhlak adalah tabiat atau kebiasaan dalam melakukan hal-hal yang baik. Bahkan menurut Al-Ghazali, ukuran kemanusiaan seseorang sangat terlihat dari akhlaknya yang termanifestasi dalam kehidupannya sehari-hari. Jika ia berbuat buruk, maka sejatinya orang tersebut memiliki akhlak yang buruk. Sebaliknya, jika ia berbuat baik, maka sejatinya ia memiliki akhlak yang baik.

Menurut Aristoteles—seperti dikutip oleh Ratna Megawangi (2004)—“sebuah masyarakat yang budayanya memerhatikan pentingnya pendidikan tentang ‘good habits’ kebiasaan baik, akan menjadi masyarakat yang terbiasa dengan kebiasaan buruk.”

Kita dapat memahami alasan banyak orang dewasa yang mengetahui perbuatan baik atau buruk, tetapi tidak konsisten dengan perilakunya. Seringkali mereka melakukan perbuatan buruk atau tidak baik. Hal ini bisa diakibatkan karena otot-otot karakternya yang lemah dan tidak berfungsi, sebab tidak pernah dipakai atau dilatih. Misalnya, semua orang tahu bahwa membuang asap rokok atau menyimpan sampah mesti pada tempatnya, akan tetapi tetap saja ada orang yang menyebar asap rokok di sembarang tempat dan membuang sampah sebebasnya tanpa mempedulikan kepentingan atau kesehatan orang lain bahkan dirinya sendiri.

Berikutnya, siapapun mengetahui bahwa mengunjing atau memfitnah adalah perbuatan dosa yang sangat berbahaya dengan ancaman neraka, namun tetap saja ada yang suka dan begitu bangga melakukannya. Kalau perilaku semacam ini terus menerus dilakukan sejak dini, maka ia akan menjadi karakter bawaan yang sangat sulit dihilangkan pada diri pelakunya di saat dewasa atau tua kelak.

Dalam konteks keluarga atau dunia pendidikan, kita sebagai orangtua dan guru bahkan dosen, harus menyadari bahwa dengan memberikan nasihat moral saja sangat tidak cukup. Kita mesti melatih anak kita, baik anak sendiri maupun anak didik, sejak usia dini agar terbiasa dengan perbuatan baik dan mulia. Perbuatan baik haris diwujudkan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari. Bukan saja di rumah dan di luar rumah, tapi juga di sekolah atau di kampus tempat anak-anak itu belajar atau mengais berbagai macam ilmu pengetahuan.

Pendidikan karakter atau pembiasaan perbuatan baik hingga menjadi karakter baik mesti dilakukan sejak dini agar ia tertanam kuat. Ibn Jazzar Al-Qairawani pernah mengatakan, “Sifat-sifat buruk yang timbul dari diri anak bukan berasal dari fitrah, tetapi timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orangtua dan  para pendidiknya. Semakin dewasa semakin sulit meninggalkan sifat-sifat tersebut. Banyak orang dewasa yang menyadari sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya, karena sifat tersebut sudah mengakar di dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.”

Membiasakan anak, murid dan mahasiswa kita serta diri kita untuk hidup bersih, suka menolong orang lain, selalu berkata santun, suka berlaku jujur, dan menjaga adab baik dalam kehidupan sehari-hari, akan membentuk rasa (feeling), atau kecintaan pada kebiasaan berbuat baik, yang kelak menjadi karakter yang menyatu dalam diri anak-anak kita juga diri kita.

Sekadar contoh, orang yang terbiasa berkata jujur, apabila dihadapkan dengan situasi yang menggiringnya untuk berkata tidak jujur, akan timbul rasa khawatir dan malu sehingga ia tidak akan berani berkata tidak jujur. Tapi sebaliknya, kalau ia memang sudah terbiasa berbohong bahkan suka bermain mata dengan kehidupannya (pragmatis), maka akan sangat mudah baginya untuk melakukan kebohongan, bahkan merasa bangga dengan kebohongannya.

Tak ada cara lain, membentuk karakter manusia yang unggul atau pembentukan manusia berkarakter harus dilakukan secara integral (menyeluruh) yang melibatkan aspek ‘knowing’ (mengetahui), ‘acting’ (melatih dan membiasakan diri) serta ‘feeling’ (perasaan). Dengan begitu, upaya ini akan melahirkan manusia-manusia pecinta sekaligus pelaku kebaikan. Para pelaku dan pecinta kebaikan adalah mereka yang sudah terbiasa dan selalu rindu melakukan kebaikan. Manusia seperti inilah yang patut mendapatkan mandat mengelola dan hidup di muka bumi ini. Al-Quran menyebut mereka sebagai hamba yang sholeh. “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfuz, bahwasannya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (Qs. Al-Anbiya’: 105).

Sungguh, waktu atau kesempatan masih bersama kita. Itu pertanda proyeksi atau agenda melahirkan manusia berkarakter masih mungkin kita lakukan. Tentu bukan saja untuk anak kita (di rumah) dan anak didik kita (di sekolah dan kampus), tapi juga diri kita sendiri di seluruh lingkup kehidupan kita; baik di rumah, sekolah, kampus maupun di lingkungan masyarakat luas. Semoga saja begitu! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon-IAI BBC. Dimuat pada halaman 12 Kolom Opini Harian Umum Fajar Cirebon edisi Senin 17 Oktober 2016 M/16 Muharam 1438 H]

 

 

Melawan Nalar yang Lumpuh

13 Okt

jaga-kepala-dari-benturanKASUS yang menimpa alias Dimas Kanjeng Taat Pribadi (Dimas) merupakan salah satu berita yang paling hangat di berbagai media massa dan media sosial beberapa hari terakhir. Kasus ini merupakan fenomena gunung es betapa sebagian masyarakat Indonesia masih dengan mudah percaya pada praktik mistik alias perdukunan. Ribuan orang yang bermukim di Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjadi bukti akuratnya. Mereka rela menjadi pengikut Dimas Kanjeng demi mendapatkan uang berlipat ganda. Baca lebih lanjut

Memaknai Tahun Baru Hijriyah 1438 H

9 Okt

tahun-baru-islam-2016-1438-hPADA Ahad lalu (2/10/2016) umat muslim di Cirebon dan sekitarnya bahkan di seluruh dunia memperingati tahun baru Islam 1 Muharam 1438 H. Seyogianya, peringatan kali ini menjadi momentum untuk melakukan perbaikan dan perubahan dalam berbagai sisi, baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat hingga bangsa.

Hijrah sendiri berarti berpindah. Berikutnya, hijrah kerap didefinisikan dalam banyak makna, diantaranya, yaitu hijrah makani dan hijrah maknawi. Maksud hijrah makani adalah hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik, dari negeri kafir menuju negeri Islam. Adapun hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keislaman. Baca lebih lanjut

Kota Cirebon Tanpa Wakil Walikota, Sampai Kapan?

9 Okt

kantor-walikota-cirebonMASYARAKAT Kota Cirebon selama hampir dua tahun terakhir terhantui oleh ironi yang memalukan. Elite politik yang seharusnya menjadi teladan politik pun seperti kehilangan kesantunan, bahkan kerap memamerkan aksi politik yang memalukan dan tentu saja tak layak dicontoh. Dalam banyak hal publik selalu menyaksikan dan mendapatkan hasil yang nihil dan suguhan yang menyebalkan. Kota Wali (tanpa Wakil Walikota) ini pun dihantui oleh—apa yang pernah disinggung oleh Bung Karno (1952)—“krisis gejag, kewibawaan otoritas”. Ya, para elite (asal paprol) di Eksekutif dan Legislatif seperti kehilangan otoritasnya sebagai pengemban mandat publik.  Baca lebih lanjut

Bencana dan Kesadaran Kolektif Kita

3 Okt

bencana-dan-kesadaran-kolektif-kitaBEBERAPA waktu lalu kita dikagetkan oleh bencana longsor dan banjir yang menimpa beberapa daerah seperti Garut, Sumedang dan sebagainya. Ya, mesti diakui bahwa diantara masalah kerap menjadi langganan negeri ini adalah bencana alam dalam berbagai bentuknya; dari tsunami, longsor, banjir, gunung berapi, macet, tabrakan, kebakaran dan sebagainya. Korban pun nyaris tak terhitung, dari nyawa manusia, rumah warga, infrastruktur, dan sebagainya.

Sebagai orang biasa kita pun selalu terhantui pertanyaan-pertanyaan menggelitik : apakah Tuhan sudah mulai bosan dengan kita?, apakah amal buruk (dosa) kita sudah melebihi amal baik (pahala) kita?, dan apakah kita memang layak mendapatkan bencana agar kita semakin mau dan mampu menyadarkan diri?, lalu, mengapa bencana terjadi berulang-ulang? Semua ini salah siapa? Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: