Biarkan Buku Bicara!

biarkan-buku-bicaraMEMILIKI karya tulis dalam bentuk buku merupakan satu bentuk prestasi yang menyenangkan juga membanggakan. Selain menyenangkan diri sendiri, menulis buku juga dapat dimaknai sebagai upaya mewariskan bacaan bagi keluarga besar dan generasi penerus, bahkan teman terdekat. Semua ini tentu saja membuat aku gembira dan orang-orang yang dicintai menjadi bangga.

Sudah banyak cerita tentang suka dan duka menulis buku, terutama dari para penulis tersohor, baik di level lokal, nasional maupun internasional. Kamu bisa mendapatkan kisah mereka di berbagai buku, website, blog dan media sosial. Intinya, tak ada penulis buku yang sepi dari ujian alias suka dan duka dalam menghadirkan karya tulis, terutama buku.

Sepengalaman aku sih, menulis buku memiliki suka dan duka tersendiri yang susah untuk aku lupakan. Misalnya, pertama, kurangnya referensi penunjang. Ya, aku sangat menyadari keterbatasanku dalam hal referensi. Buku yang ada di perpustakaan rumah pun tak cukup bagiku untuk dijadikan sebagai penunjang dalam menghasilkan karya tulis, terutama buku.

Dengan kondisi semacam ini aku pun terdorong untuk mencari berbagai buku di banyak tempat. Dari toko buku, perpustakaan (daerah, kampus dan sekolah) hingga perpustakaan rumah beberapa teman beragam profesi seperti guru, dosen, pengusaha, penulis, wartawan dan sebagainya. Dalam beberapa waktu aku kerap datang dan teridur di perpustakaan beberapa kampus hanya untuk mencari buku yang sesuai dengan tulisan tertentu, bahkan—yang sebagiannya—kelak menjadi tambahan tulisan untuk buku aku. Lelah itu sudah pasti, tapi semangat mesti terus berkobar.

Bersama istri dan kedua anak kami (Azka Syakira dan Bukhaari Muhtadin)
Bersama istri dan kedua anak kami (Azka Syakira dan Bukhaari Muhtadin)

Uniknya, aku melakukan semuanya dengan berjalan kaki. Ya, aku mencari buku referensi dengan berjalan kaki. Kadang naik angkot. Tapi sepertinya kurang asyik. Agak menantang rasanya kalau berjalan kaki. 30 menit sampai 60 menit cukup lah. Cape itu sudah pasti. Kalau engga percaya silakan dicoba. Kalau kaki kamu engga bengkak, nanti aku bantu bengkakin deh. Belakangan, setelah aku sudah punya kendaraan, niat dan semangat untuk mencari buku referensi pun sudah semakin mudah dan menggelora.

Kedua, pembaca mengembalikan buku. Sepintas memang tak masalah, namun aku juga manusia. Aku menulis dengan mengorbankan banyak hal, lalu dengan mudahnya orang meremehkan buku karya aku. Sedih toh? Menangis sih engga, tapi hati ini bergejolak liar… Kpengen tampar tuh mukanya. (Eit maaf, ini cuma di tulisan ya…)

Ya, pada awalnya, kondisi semacam ini membuat aku sedikit lemah semangat. Sebab, ketika itu aku baru saja menghasilkan buku karya pertama. Aku lupa pastinya tahun berapa. Pokoknya di awal-awal aku punya buku, ketika aku masih tinggal di salah satu kota kreatif ternama: Kota Bandung.

Namun kini, aku tersadarkan oleh nasihat seorang teman. Aku engga tahu juga, apakah dia benar-benar menasihati aku, atau sekadar menghibur aku agar aku tak menangis dalam hati. Temanku bilang bahwa buku yang terbaik itu bukan buku yang dikembalikan oleh pembaca, tapi buku yang bermanfaat dan membuat pembaca menjadi lebih baik. Ya, aku cukup terhibur lah…

Nah, belakangan aku baru tahu ternyata beberapa pembaca yang mengembalikan buku aku waktu itu memang bukan orang yang suka baca. Ya tentu saja wajar mereka kembalikan. Dan aku mesti berterima kasih juga kepada mereka. Daripada sekadar jadi pajangan di rumah, lebih baik dikembalikan ke aku sebagai penulisnya.

Alhamdulillah sekitar sebulan kemudian, buku yang aku maksud sudah aku hadiahkan kepada beberapa tokoh ketika itu, ketika aku pergi silaturahim ke beberapa tokoh di Jakarta. Seperti ke Pak Jimly As-Sidiqie, Pak Rizal Ramli, beberapa staf di beberapa kementerian (aku lupa nama mereka, soalnya banyak) dan sebagainya. Selain ada kepuasan batin karena sukses memberikan hadiah buku kepada para tokoh, aku juga mendapat bonus : doa, dukungan dan pokoknya oke punya. Hasil kerja keras memang bakal kembali ke pelakunya.

Selebihnya, pesannya jelas : Aku tak boleh merasa rugi ketika buku karyaku tak dibaca orang, sebab di luar sana sudah banyak yang menanti buku karya aku. Aku percaya dengan nasihat seorang teman, “fokuslah berkarya atau menulis, suatu saat karya itu yang berbicara tentang apa yang kita peroleh dari apa yang dikaryakan!” Dalam hal ini, menulis juga begitu. Aku mesti fokus menulis dan menulis buku, nanti biarkan buku itu yang berbicara. Ya, biarkan buku bicara!

Ketiga, belum mampu menulis dengan fokus tema tertentu. Aku sadar betul bahwa aku bukan-lah keturunan penulis ternama. Kedua orangtuaku sendiri bukanlah penulis, walaupun dulunya merekalah yang mendidikku untuk membaca dan menulis. Dalam kondisi demikian, ketika hasrat ingin menulis itu muncul, aku tak mau mentahbiskan diri sebagai penulis karya berjenis kelamin tertentu. Menulis ya menulis saja.

Karena kondisi seperti ini, akhirnya bukuku bukanlah satu karya ilmiah seperti yang terpampang di berbagai perpustakaan kampus ternama itu. Hampir semua buku karyaku merupakan antologi alias kumpulan tulisan pendekku di beberapa media massa, majalah, blog juga media sosial.

Tapi aku merasa tersemangati ketika suatu saat mendapat apresiasi dari Pak Muhammad Zaein seorang pejabat di Kementrian Agama RI beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan bahwa apa yang aku lakukan merupakan kerja asing yang tak banyak dilakukan oleh banyak orang. Ya, alhamdulillah aku mendapat bonus dan lagi-lagi kembali terhibur…

Jadi, aku memang tak boleh puas dengan satu atau dua buku karya. Karena itu, aku mesti terus menulis walau diselimuti oleh berbagai keterbatasan dan kekurangan yang aku miliki. Sungguh, di luar sana masih banyak yang belum menulis buku, sementara aku sudah menulis buku. Menghibur diri itu perlu… Terima kasih istri dan anak tercinta, kalian telah menghiburku dengan cara yang berbeda!

Masih banyak hal yang masuk kategori suka maupun duka dalam menulis buku, terutama yang aku alami sendiri. Kalau aku ceritakan semuanya sekarang, aku khawatir kamu menangis dan menjadi enggan menulis buku. Selebihnya, beberapa hal di atas sudah cukup mewakili ya. Semoga di lain kesempatan aku bisa kembali berbagi. Atau kalau berkenan, silakan baca saja tulisanku di berbagai media sosial seputar tulis-menulis.

Oh iya, hawanya agak dingin nih. Itu pertanda secangkir teh manis hangat bikinan istri tercinta sudah mesti dinikmati, agar tehnya tak ikutan dingin. Jadi, apapun suka atau dukanya, teh manis sebagai penyegar tetap dinikmati. Silakan tehnya diminum, asal bukunya ditulis. Mari menulis, kalau sekadar bicara, orang gila pun bisa.. Selanjutnya, biarkan buku bicara! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon-IAI BBC. Kota Cirebon, Senin 26 September 2016, pukul 18.00-19.00 WIB]

https://mitrapemuda.wordpress.com/2016/09/26/biarkan-buku-bicara/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s