Menumbuhkan Gairah Politik PPP

romahurmuziyPADA Ahad (4/9/2016) lalu saya menghadiri acara Silaturahim dan Konsolidasi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Se-Wilayah III Cirebon yang meliputi Kota/Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning). Acara yang berpusat di salah satu hotel ternama di Kota Cirebon tersebut dihadiri oleh Ketua Umum DPP PPP Muhammad Romahurmuzy (Romy), beberapa pengurus pusat, anggota DPR/DPRD (Provinsi/Kabupaten-Kota) fraksi PPP, pengurus wilayah, cabang dan anak cabang, serta kader dan simpatisan PPP dari Wilayah III Cirebon dan sekitarnya; di samping undangan umumnya.

PPP merupakan partai berbasis massa Islam yang cukup tua dan tentu punya peran besar dalam perjalanan sejarah politik Islam dalam tubuh bangsa dan negara ini. Tentu maknanya, PPP punya peran besar dalam membangun bangsa dan negara ini. Karena itu, saya memandang perlu untuk hadir pada acara yang dihadiri sekitar 400-an orang tersebut. Saya sendiri hadir sebagai penikmat sosial-politik; karena saya bukan partisan, bukan pula kader atau pengurus PPP.

Kalau ditelisik, sejak berdiri (1971) PPP sudah berlambang ka’bah dan kerap dinobatkan sebagai “rumah besar” umat Islam. Bahkan dalam tagline PPP dan di berbagai momentum, elite PPP selalu “mengklaim” bahwa PPP adalah “rumah besar” umat Islam. Dengan demikian, PPP mestinya menjadi tempat dimana berbagai gagasan umat Islam ditampung dan dielaborasi menjadi kebijakan penting negara.

Beberapa waktu lalu PPP dihantui oleh berbagai intrik dan kepentingan. Misalnya, menjelang pileg dan pilres yang lalu, PPP mengalami dinamika yang cukup memantik perhatian banyak kalangan, terutama internal PPP sendiri. Dinamika PPP tentu bukan saja soal konsistensi PPP dalam memegang ideologi politiknya, tapi juga soal pilihan sekaligus sikap politik PPP yang justru menghadirkan gugatan dalam bentuk pertanyaan: masih otentik kah posisi PPP sebagai “rumah besar” umat Islam, atau sekadar klaim politis?

Dalam konteks menumbuhkan dan meningkatkan gairah politik PPP di masa depan, saya mengusulkan agar PPP memperhatikan beberapa hal, pertama, benahi mental pengurus dan kadernya. Lebih riil, hal ini bisa dilakukan dengan menempuh langkah praktis, misalnya, lakukan pelatihan internal pengurus PPP seputar kompetensi dasar pengurus dalam hal keislaman, keindonesiaan, kepartaian, jaringan, manajemen konflik, manajemen sumber daya dan sebagainya.

Kemudian, PPP mesti fokus dalam melakukan kaderisasi dan regenerasi partai. Kaderisasi adalah tulang punggung berjalannya partai politik, termasuk PPP. Bukan saatnya lagi PPP melakukan kaderisasi hanya sekadar menjelang pemilu atau pilkada. Sebab kaderisasi adalah kerja yang bersifat kontinyu dan mesti menjadi perhatian semua elemen yang ada di PPP. Itulah yang kelak berlanjut menjadi regenerasi partai.

Berikutnya, sebagai salah satu parpol tertua dan berbasis masa Islam, PPP mesti konsisten dan tegas dalam bersikap. Misalnya, jika kini sikap dan pilihan politiknya mesti mendukung pemerintah, maka PPP mestinya tegas dan tak perlu ragu untuk memilih sikap dan pilihan tersebut serta diwujudkan dalam berbagai aksi politik yang lebih praktis. Kalau hendak berhidup lama, PPP mesti bekerja nyata dan bermental menang.

Kedua, bangun kekuatan logistik. Lebih riil, saya mengusulkan agar PPP memperkuat basis massa di kalangan pengusaha, termasuk mengelola secara masif kader potensial yang fokus dalam membangun unit usaha atau ekonomi kreatif. Dengan begitu, keberadaan mereka kelak akan membantu kebutuhan logistik PPP dalam melakukan misi dan aksi politik. Agar langkah ini bisa berjalan lancar, maka PPP mesti lebih dinamis dan fleksibel. Apalagi belakangan ini PPP hendak melompat ke masa depan sebagai partai Islam yang lebih modern dan go public, maka PPP perlu mengakrabkan dirinya dengan berbagai kalangan yang potensial mendukung kebutuhan logistik PPP tanpa “menjual” diri.

Ketiga, perkuat dan pertajam taktik. Praktisnya, saya mengusulkan agar PPP tetap konsisten untuk mengambil posisi sebagai parpol “rumah besar” umat Islam. Sebagai rumah besar, PPP mesti siap menampung semua gagasan yang berserakan dan berbagai dinamika yang muncul di tengah arus politik umat Islam. Bukan saja gagasan warga PPP tapi juga gagasan warga (baca: umat Islam) non PPP. Selain taktik, ini juga cara paling sederhana agar massa yang sudah terjaga bisa tetap terjaga bahkan bisa menambah basis massa baru di luar basis massanya selama ini.

Keempat, memperjelas basis pembeda dengan parpol lain. Sederhana saja, PPP mesti memperjelas titik pembeda dengan partai lain yang selama ini berbasis massa Islam dan kerap mengangkat tema-tema keislaman. Mengapa diperjelas? Sebab titik beda itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi PPP dalam persepsi publik. Praktisnya, PPP perlu menarasikan platform-nya sehingga akan mempermudah PPP dalam melakukan proses transformasi gagasannya ke ruang publik yang lebih luas. Dengan begitu, publik pun semakin memahami kehendak PPP untuk Indonesia.

Kelima, mesti keluar dari kepentingan yang sifatnya pragmatis, lalu masuk dalam jenjang politik pengetahuan. Dengan lompatan atau sikap semacam ini, PPP tidak sibuk dengan tarik-menarik kepentingan yang “dihegemoni” oleh kekuatan politik tertentu, karena PPP justru mesti lebih sibuk menghadirkan gagasan besar tentang pembangunan bangsa dan negara yang lebih strategis sekaligus praktis. Bahkan dalam kondisi hambarnya komunikasi dan hubungan antar kekuatan politik, PPP mestinya hadir menjadi pencetus sekaligus pewarna rekonsiliasi seluruh kekuatan politik bangsa.

Sungguh, idealisme dan cita-cita besar hanya akan menjadi ornamen kosong makna manakala diekspresikan dalam bentuk: perilaku serampangan, sikap egoistis, miskin implementasi dan mental kalah sebelum bertarung. Maknanya, kalau dianggap perlu bagi upaya PPP dalam meraih prestasi politik sebagai pemenang tiga besar pada pemilu mendatang (seperti yang dideskripsikan oleh Romy beberapa waktu lalu), maka PPP perlu soliditas internal, kecepatan dalam bersikap dan akurasi dalam aksi politik, di samping memperkuat basis logistiknya sejak dini.

Dalam konteks lokal wilayah III Cirebon, PPP mesti lebih kreatif dan inovatif dalam membesarkan dirinya sekaligus dalam memperluas basis massanya. Sudah saatnya PPP menepikan egoisme personal dan kelompok elite serta menepikan konflik yang tak berbobot; sebab PPP—seperti tagline barunya—mesti “bergerak bersama rakyat” menuju bangsa dan negara yang semakin maju. Itulah yang membuat publik semakin menanti dan penuh harap kepada PPP. Ya, mari kita nantikan bertumbuh dan meningkatnya gairah politik PPP! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku “POLITICS”. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya berjudul “Menumbuhkan Gairah Politik PPP (Catatan atas Fenomena PPP)”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s