Kudeta Militer dan Patriotisme Erdogan

Patriotisme ErdoganJUMAT malam lalu waktu setempat (15/7/2016), Turki kembali menghadapi kudeta sekelompok militer. Sekitar 100-an militer pro kudeta menyerang beberapa tempat strategis di Turki termasuk kantor perlemen, kepresidenan, kantor satelit, media massa nasional, jembatan Bosporus, Turki. Kurang dari 24 jam, peristiwa yang menelan korban ratusan jiwa tersebut akhirnya berhasil digagalkan oleh militer dan kepolisian Turki dibawah kendali Presiden Racep Tayyip Erdogan (Erdogan) dengan menembak dan menahan ribuan orang pro-kudeta, sehingga suasana keamanan negara pun kembali terkendali seperti biasanya.

The Telegraph melansir pada Sabtu, 16 Juli 2016, bahwa sejarah kudeta di Turki sudah terjadi sejak lama. Pada 1960, misalnya, tentara menangkap semua anggota Partai Demokrat yang berkuasa dan menyeretnya ke pengadilan. Pada 1961, Adnan Menderes, Perdana Menteri yang saat itu digulingkan, digantung bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Keuangan. Kemudian pada 1971, tentara memaksa Perdana Menteri aliran konservatif, Suleyman Demirel, untuk mundur dari jabatannya. Saat itu negara dinyatakan darurat militer dan merancang pemerintah teknokrat.

Pada 1980 tentara melakukan intevensi besar dalam politik dengan mengambil alih Turki setelah kekerasan yang terjadi antara pelajar sayap kiri dan sayap kanan menyeret mereka ke ambang perang saudara. Pemimpin junta militer, Kenan Evren, menaikkan jabatannya ke kursi kepresidenan dan menulis ulang konstitusi untuk menjamin kekuatan militer. Kemudian, pada 1997, tentara memaksa koalisi pimpinan Islamis, Necmettin Erbakan, untuk mundur. Namun, tentara menahan diri merebut kekuasaan dan membiarkan politikus sekuler untuk membentuk pemerintah baru.

Presiden Turki kini, Erdogan, merupakan politisi kelahiran Istanbul 26 Februari 1954. Masa kecil suami Emine Gulbaran dan ayah empat anak ini dihabiskan di dekat laut hitam. Ayahnya merupakan seorang pelaut dari Kota Rize. Masa sekolahnya ia habiskan untuk belajar agama di Sekolah Imam Hatif, kemudian dari sana ia kemudian memilih untuk melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di jurusan Ekonomi dan Bisnis di Universitas Marmara, Turki.

Karir politiknya dimulai ketika ia mulai bergabung dengan Partai Islam yang bernama Milli Selamet Partisi (MSP). Partai tersebut bubar sebab terjadi kudeta militer pada tahun 1980 yang mengakibatkan semua partai yang ada di Turki dibubarkan. Setelah stabilitas politik di Turki sudah mulai pulih, ia bergabung dan menjadi Ketua Partai Kesejahteraan (PK) yang didirikan oleh para bekas anggota partai MSP. Berikutnya ia mulai mencoba mencalonkan diri sebagai Walikota di Istanbul Tengah dan juga sebagai calon Dewan Nasional Agung Turki. Walaupun gagal terpilih, baginya ini merupakan pengalaman berharga.

Pada tahun 1991, Erdogan terpilih sebagai Anggota Parlemen melalui Partainya, walau kelak posisinya sebagai anggota parlemen dicabut oleh Komisi Pemilihan Pusat Turki. Nama Erdogan kemudian mulai dikenal luas oleh masyarakat Turki ketika ia berhasil terpilih sebagai Walikota Istanbul Raya dan membawa partainya yaitu Partai Kesejahteraan (PK) sebagai Partai Terbesar di Turki. Dari situ ia juga menjadi Presiden dari Dewan Metropolitan Istanbul Raya.

Keberhasilannya dalam merancang tata Kota Istanbul yang nyaman dan modern membuat ia semakin terkenal. Ia juga berhasil memerangi masalah umum di ibukota seperti mengurangi pengangguran, memberikan air bersih bagi warga Istanbul, pengurangan kadar polusi kota, memerangi prostitusi, pengurangan kadar polusi melalui aksi penanaman ribuan pohon di Istanbul, serta pelarangan minum minuman keras di berbagai tempat.

Langkah politik Erdogan selanjutnya adalah mendirikan partai AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi) atau yang dikenal sebagai Partai Keadilan Pembangunan (PKP) pada tahun 2001 yang berhaluan Islam. Partainya kemudian melesat dan menang dalam pemilihan umum di Turki serta secara otomatis mengantarkannya menjadi Perdana Menteri Turki pada tahun 2003.

Sepak terjangnya melalui kebijakan pemerintahnya, baik dalam maupun luar negeri, membuat namanya semakin melambung sebagai salah satu pemimpin terbaik Eropa bahkan Dunia. Hal tersebut dibuktikan Erdogan dengan berhasil membuat Produk Domestik Nasional Turki mencapai 100 Milyar Dollar di tahun 2013 setahun sebelum masa jabatannya sebagai Perdana Menteri habis. Kemudian ia juga membuat Turki berhasil masuk dalam anggota G-20 yaitu negara-negara dengan ekonomi terkuat di Dunia. Turki berhasil merangsek masuk ke urutan 16 sebagai negara dengan ekonomi terkuat Dunia, padahal sebelumnya berada di peringkat 111 Dunia.

Di bidang militer atau pertahanan negara, Erdogan membuat Turki berhasil memproduksi sendiri peralatan pertahanan atau militer seperti tank, pesawat serta satelit militer sendiri. Pendapatan Perkapita Turki pun berhasil naik dari 3500 dolar pertahun menjadi sebesar 11.000 di tahun 2013 bahkan ia berhasil membuat nilai tukar mata uang Turki naik beberapa kali lipat di masa pemerintahannya. Di masa pemerintahannya, pengangguran berhasil ditekan hingga 2 persen saja dari 35 persen yang diimbangi dengan kenaikan gaji hampir 300 persen untuk upah pegawai. Utang Turki sendiri terhadap IMF berhasil diselesaikan dan cadangan devisa juga ditingkatkan hingga 100 Milyar Dollar.

Di sektor pendidikan, Erdogan menggratiskan biaya pendidikan dimana semua biaya kuliah untuk rakyat Turki di tanggung oleh pemerintah dan meningkatkan biaya riset atau penelitian ilmiah demi tujuan menjadi negara nomor satu pada tahun 2023. Selain itu, ia juga mengembalikan pengajaran Al-Quran dan Hadits di sekolah-sekolah negeri di Turki yang sudah lama dihilangkan, di samping kebebasan berhijab bagi umat Islam di sekolah dan berbagai kampus di Turki.

Ketika masa jabatannya selesai pada 28 Agustus 2014, Erdogan mencalonkan diri sebagai Presiden Turki dengan dukungan dari partai AKP. Hasilnya pada tanggal 10 Agustus 2014 ia berhasil terpilih sebagai Presiden Turki melalui pemilihan umum yang demokratis dan damai yang menggantikan presiden sebelumnya dengan masa jabatan selama lima tahun.

Kalau ditelisik, satu kata yang melekat pada tokoh terpopuler di tahun 2011 (menurut majalah Time) dan tokoh muslim paling berpengaruh nomor dua di dunia pada tahun 2010 (menurut The Royal Islamic Strategic Studies Centre) tersebut adalah patriotisme. Ia buktikan dalam berbagai kebijakan pemerintahannya sejak awal ia memimpin Turki hingga kini. Baik kebijakan ke dalam negeri maupun ke luar negeri.

Dalam konteks dinamika global, Erdogan sejatinya bukan saja pemimpin bagi Turki, tapi juga pemimpin bagi dunia. Ia kerap menjadi juru bicara Dunia Islam dalam berbagai pertemuan internasional dan dinamika global. Selain tegas dalam bersikap, ia juga memiliki kemampuan diplomasi yang canggih. Itulah yang memperkuat patriotisme Erdogan. Ya, itulah yang membuat dunia salut dan bangga kepada Tuan Erdogan. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon. Dimuat pada halaman 4 Kolom Wacana Harian Umum Radar Cirebon edisi Senin 18 Juli 2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s