Urgensi Mendidik Diri dan Keluarga

azka_nMENURUT perhitungan tahun syamsiyah kemarin Sabtu (16 Juli 2016) bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) anak kami yang pertama, Azka Syakira, yang ke-5. Azka—demikian kami dan anak ke-2 kami menyapanya—lahir pada Ahad 16 Juli 2011. Azka sendiri kini sudah dikarunia seorang adik, Bukhari Muhtadin (Bukhari) berusia 2 tahun lebih, yang lahir pada 10 Maret 2014 silam.

Dalam Al-Qur’an Surat at-Tahrim ayat 6 Allah Swt. berfirman, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini sangat tegas dan jelas menggariskan betapa menjaga diri dan keluarga—termasuk anak keturunan—dari sayatan api neraka merupakan tugas dan amanah yang amat sangat berat. Karena berat, ia pun mesti dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Padahal, seperti disabdakan Rasulullah SAW., surga itu diselimuti hal-hal yang tidak disukai manusia; sedangkan neraka diselimuti hal-hal yang disukai manusia (syahwat).

Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya menjelaskan, bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. memberikan penjelasan, cara menjaga diri dan keluarga agar tidak terjatuh ke dalam neraka adalah dengan mendidik diri dan keluarga menjadi manusia-manusia beradab dan berilmu. “Addibūhum wa-‘allimūhum,” (Tanamkan adab dan didik mereka), begitu kata Ali bin Abi Thalib r.a.

ariMendidik keluarga menjadi beradab dan berilmu, dalam praktiknya, bukan sederhana dan mudah. Tugas itu memerlukan ilmu dan kemampuan. Mendidik tidak sama dengan menyekolahkan. Pendidikan tidak sama dengan sekolah. Bisa jadi, sekolah merupakan bagian dari proses pendidikan. Bisa juga, sekolah justru menjauhkan anak dari proses pendidikan yang sebenarnya, karena salah guru dan salah kurikulum. Mendidik—dalam istilah Prof. Naquib al-Attas—adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan atau keadilan dalam diri seseorang. Menurut al-Attas, “menanamkan” (to inculcate) bukan sekadar mengajarkan. Menanamkan nilai-nilai kebaikan itu perlu kesungguhan, keikhlasan, dan kemampuan ilmu.

Di sinilah bisa dipahami bahwa pendidikan adalah sebuah usaha lahir batin yang harus dikerjakan dengan penuh kesungguhan. Usaha ini tidak akan berhasil jika guru dan murid tidak bersungguh-sungguh dan saling ikhlas. Karena itu, proses pendidikan tidak sama dengan proses pembuatan roti, bakso, sate dan makanan selainnya.

Dalam pandangan al-Attas, pendidikan berhadapan dengan manusia yang memiliki jiwa dan aneka problema kehidupan. Penanaman nilai-nilai kebaikan itulah yang disebut sebagai proses ta’dib atau proses penanaman adab dalam diri seseorang. Inilah tanggug jawab orang tua yang sangat berat. Yakni, menanamkan adab dalam diri dan keluarganya. Proses ini akan berhasil jika ada faktor keimanan, keteladanan, pembiasaan, dan penegakan disiplin aturan. Karena itu, orang tua harus terus mendidik dirinya dengan adab dan ilmu, agar mereka bisa mendidik anaknya dengan baik. Tugas orang tua bukan hanya cari uang untuk memberi makan dan menyekolahkan anak. Sebab, anaknya adalah manusia, yang harus dididik dengan adab, agar menjadi manjadi manusia yang mulia.

Sejauh yang saya jalani dan saya perhatikan, ternyata tidak mudah berlaku adil dan beradab terhadap diri, keluarga, dan juga masyarakat serta bangsa. Peran sosial-kemasyarakatan yang begitu padat bisa saja suatu ketika berdampak kepada perlakuan tidak adil kepada diri dan keluarga. Kita bukan hanya wajib memperjuangkan tegaknya kebenaran pada tataran sosial-kemasyarakatan, tetapi juga wajib membangun jiwa dan raga sendiri. Jiwa harus semakin bersih dari waktu ke waktu. Proses pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) wajib terus dilakukan, tanpa henti. Sebab, hanya manusia yang mensucikan jiwanya yang akan meraih kemenangan. Dan, sungguh celaka orang-orang yang mengotori jiwanya.

Jiwa yang sehat adalah yang bersih dari kekufuran, kemunafikan, kemusyrikan, riya’, sombong, dengki, cinta dunia, cinta kedudukan, dan berbagai penyakit jiwa lainnya (Adian Husaini, 2016). Membersikan jiwa dari penyakit-penyakit tersebut, lanjut Adian, bukan perbuatan yag mudah, tetapi perlu perjuangan yang sungguh-sungguh. Inilah yang disebut sebagai “mujahadah ‘alan nafsi”, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. sebagai satu bentuk jihad fi sabilillah, jihad di jalan Allah (HR Imam Tirmidzi).

Imam al-Ghazali menjelaskan secara panjang lebar tentang pentingnya pensucian jiwa ini dalam kitabnya, Ihya’ Ulumiddin. Seharusnya, setiap kita, termasuk anak kita, semakin bertambah umur, semakin dididik untuk “bersuci” dari penyakit-penyakit jiwa tersebut. Jiwa yang bersih adalah jiwa yang tenang, jiwa yang bahagia, jiwa yang tidak mudah galau dan resah oleh aneka ujian kehidupan. Dengan jiwa yang tenang, maka kita akan meraih hidup bahagia.

Masalah “adab” adalah hal yang sangat mendasar kedudukannya dalam ajaran Islam. Al-Quran, hadits Nabi Saw., dan kitab-kitab para ulama Islam, begitu banyak menekankan pentingnya kedudukan adab dalam Islam. Tesis penting telah disampaikan Prof. Naquib al-Attas tahun 1977, bahwa problem yang paling mendasar dari umat Islam saat ini adalah “loss of adab”, hilang adab. Adalah mengagumkan, bahwa tiga istilah kunci dalam konsep adab rumusan Prof. al-Attas, yakni “hikmah, adil, dan adab”, tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam perspektif Islamic Worldview, Pembukaan UUD 1945 tampak sebagai suatu rumusan yang kokoh konsep suatu negara merdeka yang ideal.

Siapa sebenarnya perumus Pembukaan UUD 1945? Rumusan itu adalah produk dari Panitia Sembilan yang dipimpin Soekarno, dan beranggotakan empat tokoh Islam: KH Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Kahar Muzakkir. Saya belum menemukan data siapa konseptor awal rumusan Pembukaan UUD 1945 tersebut. Saya menduga-duga, bahwa rumusan itu ada pengaruh dari para ulama, khususnya KH Hasyim Asy’ari, ayah dari KH Wahid Hasyim.

KH Hasyim Asy’ari adalah penulis kitab “Adabul Alim wal-Muta’allim”, yang juga berkedudukan sebagai Ketua Majelis Syuro Masyumi ketika itu. Kitab KH Hasyim Asy’ari tersebut memuat rumusan tentang adab yang sangat mendasar dan komprehensif. Dalam kitab ini, kita bisa memahami, bahwa tanpa adab, maka keimanan dan syariat menjadi tidak bernilai apa-apa.

Di atas segalanya, sebagaimana pembaca, kami berharap, untuk kami, keluarga, dan kita semua, semoga kita semakin terdidik sehingga kita beradab dan jiwa kita semakin bersih, sejalan dengan bertambahnya umur kita, juga anggota keluarga kita. Di saat tindakan kriminal semakin menjadi-jadi, kita mesti mampu menjadi orangtua yang sukses mendidik diri dan anak keturunan kita menjadi manusia yang benar-benar beradab. Dengan harapan, kelak kita semua bebas dari tindakan kriminal dan terselamatkan dari neraka, karena kita telah melakukan berbagai upaya dan amalan yang meniscayakan kita beradab dan dimasukkan oleh Allah ke dalam surga-Nya. [Oleh: Syamsudin Kadir dan Uum Heroyati—Pimpinan/Redaksi Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s