Kontekstualisasi Makna Idul Fitri

KontekstualisasiTAK terasa, akhirnya bulan Ramadan berlalu begitu cepat. Hal itu ditandai dengan datangnya awal bulan Syawal sebagai momentum ibadah dan perayaan Idul Fitri yang baru saja kita lewati. Walaupun hari yang kerap disebut dengan Hari Lebaran itu telah berlalu meninggalkan kita, sampai detik ini kita masih merasakan suasana yang berbeda karena efek yang melingkupinya. Kita begitu riang merayakan kepulangan ke Idul Fitri dengan sukacita. Lalu, mampukah kita melanjutkan kepulangan ini ke hakikat yang sebenarnya dan mengabadi?

Hari raya Idul Fitri biasa disebut dengan Hari Lebaran. Istilah Lebaran dalam kosa kata kita mengandung muatan pengertian yang sepadan dengan harapan itu. Berasal dari bahasa Jawa “lebar”, lebaran bisa berarti rampung atau luas. Bisa juga dimaknai dalam satu tarikan nafas, kepurnaan ujian yang membawa kelapangan. Bahwa hidup bukanlah tanpa kesulitan dan ujian. Tapi kesulitan dan ujian bukanlah kutukan yang mendorong keputusasaan dan kesesatan, melainkan keberhasilan dan kegembiraan yang tertunda. Maka betul ungkapan Mohammad Affan (2015) Lebaran mendesak kita agar mampu melawan diri kita sendiri; melawan kesulitan dan berbagai ujian hidup yang kita lalui.

Dalam sebuah hadits dikatakan, “Ketahuilah bahwa pertolongan itu ada bersama dengan kesabaran dan jalan keluar itu selalu beriringan dengan cobaan.” Bahkan seorang penyair Arab menisbatkan, “Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah kepahitan, dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik ’Arasy, dia akan memetik manisnya buah yang dipetik dari pepohonan berduri.”

Puasa merupakan wahana aktualisasi diri dalam proses pencapaian kesempurnaan kemanusiaan. Dengan berpuasa, manusia bisa mengatasi gravitasi syahwat fisis yang membuatnya bisa menjadi “transender”. Transender dalam pengertian Abraham Maslow adalah seseorang yang mampu menerobos kebutuhan dasar dan mencintai “kebajikan luhur”, keindahan, kesempurnaan, kebenaran, keadilan, dan kesadaran kosmis (Yudi Latif, 2013).

Dengan berpuasa, manusia bisa menerobos mentalitas permukaan (everyday mind) menuju kesadaran yang lebih dalam (deeper mind, ultimate mind). Dengan ini, manusia dapat mentransendensikan diri dari hal-hal personal menuju transpersonal. Lewat kesadaran transpersonal, kehidupan dialami sebagai pola interkoneksi yang tak terputus dari segala kehidupan.

Kesadaran seseorang dan keterlibatannya langsung dengan kehidupan berkembang dari pernik-pernik eksistensi sehari-hari menuju eksistensi kosmik yang lebih luas. Menurut Kuntowijoyo (2000), dalam kesadaran kosmik, manusia bisa melihat kesalingtergantungan antar partikularitas: satu dalam semua, semua dalam satu. Kesatuan tidak dapat eksis tanpa perbedaan, mayoritas tak bisa hadir tanpa minoritas; kaya tak bisa hadir tanpa miskin, elite (pejabat publik) tak bisa hadir tanpa alit (rakyat) dan begitu seterusnya.

Dalam kesadaran transpersonal, timbul kesadaran untuk membuka diri penuh cinta untuk yang lain, serta ketabahan untuk menghadapi ketidakpastian di tingkat permukaan hidup sehari-hari. Orang-orang dalam kesadaran transpersonal (moksa, makrifat) pada gilirannya akan memiliki kesadaran hakikat.

Suatu bentuk kesadaran Rabaniyyah (pengayoman) yang menenggelamkan egosentrisme ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, suku dan serupanya demi mencintai dan bersatu dengan segala kemaujuan dan keragaman yang ada. Bahwa semakin besar, kaya, populer, terkenal, dan hebat bukan menjadi bahaya bagi yang lain, justru membuka sekaligus memberikan ruang hidup bagi keragaman yang lain untuk menikmati berbagai hal yang dicapai dan dinikmati.

Dengan begitu, berpuasa juga menimbulkan semangat untuk berbagi yang bisa menumbuhkan kesuburan dan kesejahteraan bagi sesama warga bumi. Al-Qur’an melukiskan kebaikan (nafkah) yang dibagikan ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir berbuah seratus biji (QS. 2: 261). Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima, sehingga kesuburan dan kesejahteraan negeri bertambah. Makin banyak berbagi, maka makin banyak meraih keberkahan. Itulah substansi keberadaan manusia dalam konteks kehidupan sosial. Maka, lagi-lagi puasa sekaligus zakat sejatinya mengajarkan kehidupan yang ‘kontekstualisasi’, menjadi manusia yang memiliki dampak positif secara individu sekaligus sosial.

Menurut Deepak Chopra—sebagaimana yang juga diafirmasi oleh Abdullah Gymnatsir (Aa Gym)—bahwa dampak positif terjadi karena tubuh dan mental (mind) manusia senantiasa menjalin relasi saling memberi dan menerima dengan semesta. Mencipta, mencintai dan menumbuhkan menjamin keberlangsungan relasi ini. Semakin banyak kita memberi semakin terlibat dalam sirkulasi energi semesta; pada gilirannya semakin banyak kita peroleh dalam bentuk cinta, materi dan ketentraman. Maka jika kita memberi, berilah dengan senang hati. Jika hendak diberkati, berkatilah sesama dengan mengirimkan buntelan pemikiran positif. Jika kita tak punya uang, berikanlah pelayanan. Jika kita tak sempat menjabat, maka lakukanlah pencerahan publik dengan menulis opini publik, dan begitu seterusnya. Sungguh, kita tidak pernah kekurangan dalam apa yang dapat diberikan. Begitulah, setiap keheningan peribadatan pada akhirnya harus berujung pada pelayanan dan kedamaian warga bumi.

Setelah sebulan berpuasa dan berbagai ibadah yang melingkupinya, marilah kita hikmati kepulangan kita: kembali Fitri, kembali ke Lebaran. Dalam kepulangan ini, semua keragaman berasal dari asal yang sama dan akan kembali ke asal yang sama: Fitrah atau Suci. Keragaman warga bumi adalah cerminan dari kekayaan Ilahi yang membawa rahmat bagi semesta: agar manusia bisa saling mengenal dan berlomba dalam kebajikan di atas altar kehidupan bumi.

Pada hakikatnya, Idul Fitri merupakan titik simpul antara tauhidullah (kesatuan ketuhanan) dan tauhidunnas (kesatuaan kemanusiaan). Dalam semangat itu, yang minoritas dan mayoritas bisa melumerkan sekat-sekat kompleks diri (minority complex atau majority complex). Semuanya terlibat dalam karnaval, berbagi kebahagiaan dalam semangat penyerbukan silang budaya, latar sosial dan kepentingan yang beragam.

Jika saja Puasa dan Idul Fitri dimaknai dalam konteks yang “melebar” atau kontekstualisasi semacam itu, maka akan sangat mudah bagi kita untuk menebar nilai-nilai fitrah (kesucian) ke seluruh elemen manusia. Sederhana saja, jika kita mencintai sesama warga bumi, maka akan mudah bagi kita untuk memberi (manfaat); dengan begitu akan mudah bagi kita untuk mendapatkan cinta dan kasih-sayang dari Allah. Semoga! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di Institut Islam Bunga Bangsa Cirebon, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Dimaut pada halaman 10 Kolom Opini Harian Umum Fajar Cirebon edisi Jumat 15 Juli 2016-10 Syawal 1437].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s