Tito Karnavian dan Optimisme Reformasi Polri

Tito Karnavian dan Optimisme...SETELAH diseleksi dan diajukan Presiden Joko Widodo ke DPR, Tito Karnavian akhirnya mendapatkan persetujuan DPR untuk menjadi Kapolri pada Sidang Paripurna Senin (27/6) lalu untuk menggantikan Badrodin Haiti yang segera pensiun. Menurut rencana, Tito dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden pada momentum Hari Bhayangkara ke-70 hari ini Juma’at 1 Juli 2016 di Jakarta.

Sebelumnya ada beberapa calon kuat yang akan dicalonkan menjadi Tribata I, namun Presiden akhirnya merekomendasikan Tito ke DPR. Tito yang didaulat sebagai Kapolri termuda pertama sepanjang sejarah kepolisian Indonesia menyingkirkan sejumlah perwira tinggi Polri yang lebih senior dari dirinya, masuk dalam daftar yang diajukan kepada Presiden.

Diantara nama-nama perwira tinggi yang punya kans menjadi calon Kapolri namun kemudian tak terpilih untuk diajukan ke DPR untuk mendapat persetujuan, yaitu (1) Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, Komjen Pol Dwi Priyatno, alumni Akpol 1982 dan pensiun pada 12 November 2017. Dwi Priyatno satu angkatan dengan Badrodin Haiti. (2) Wakil Kepala Polri, Komjen Pol Budi Gunawan (BG), alumni Akpol 1983 dan pensiun pada 11 Desember 2017. Sebelumnya BG mendapat dukungan dari beberapa fraksi di DPR karena telah lulus uji fit and proper test calon Kapolri di DPR pada masa uji sebelumnya. (3) Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komjen Pol Putut Eko Bayuseno, alumni Akpol 1984, pensiun pada 21 Mei 2019 dan pernah menjadi ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kemudian, (4) Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso (BW), alumni Akpol 1984 dan pensiun pada 19 Februari 2019. BW sendiri belum pernah menjadi Kapolda Tipe A di Pulau Jawa sebagaimana Peraturan Kapolri tentang Kriteria Calon Kapolri. (5) Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Kalemdikpol), Komjen Pol Syafrudin, alumni Akpol 1985 dan pensiun pada 14 April 2019.

Selanjutnya, (6) Sekretaris Utama Lembaga Pertahanan Nasional (Sestama Lemhanas), Komjen Pol Suhardi Alius, alumni Akpol 1985 dan pensiun pada 10 Mei 2019. (7) Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim), Komjen Pol Ari Dono Sukmanto, Akpol 1985 dan Pensiun pada 23 Desember 2019. Ari belum pernah menjadi Kapolda Tipe A di Pulau Jawa.

Tito lahir di Palembang, Sumatera Selatan 26 Oktober 1964. Suami Tri Suswati ini meniti karir bergensi di kepolisian sebagai Kepala Densus 88 (2009-2010), Kapolda Papua (2012-2014), Kapolda Metro Jaya (2015-2016), Kepala Badan Nasional Penanggulanan Terorisme (mulai 16 Maret 2016-30 Juni 2016).

Tito merupakan alumni SMP Xaverius 2 Palembang dan SMA N 2 Palembang. Setelah lulus sekolah SMA, ia lantas melanjutkan pendidikan di Akabri pada tahun 1987. Tahun 1993, Tito meraih gelar MA bidang Police Studies di Universitas Exeter. Kemudian pada tahun 1996 ia meraih S1 bidang Police Studis di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian. Tak berhenti di situ, Tito melanjutkan pendidikan di Massey Universiti Auckland yang berada di Selandia Baru dan lulus pada tahun 1998. Maret 2013, Tito mendapat gelar phD dengan nilai Excellent di Nanyang Technological University, Singapore.

Garis tangan Tito sepertinya sudah ditakdirkan sebagai “pemburu terbaik” untuk buronan kelas kakap, berbahaya dan mendapat perhatian publik luas bahkan dunia internasional. Tahun 2005 lalu, misalnya, saat dirinya menjabat sebagai Kapolres Serang, Banten, ia diminta membantu pelacakan pelaku mutilasi 3 siswa di Poso, Sulawesi Tengah. Beberapa tahun sebelumnya, ia sudah memimpin pencarian Soewondo yang terjerat kasus Bulog. Oktober tahun 2000 timnya yang hanya terdiri dari 4 orang akhirnya berhasil menciduk tersangka.

Satu tahun berselang (2001), Tito kembali menorehkan prestasi di lingkungan Polri. Kala itu Tim Kobra yang dipimpinya berhasil menangkan Tommy Soeharto (Tomy) atas kasus yang mendapat perhatian dunia internasional ketika itu, yaitu kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiudin.

Prestasi lain yang tak kalah mentereng-nya adalah keberhasilanya menumpas Doktor Azhari di Malang, Jawa Timur, pada 2005 yang membuatnya naik pangkat menjadi Komisaris Besar Polisi. Karirnya semakin meroket tatkala berhasil membongkar jaringan teroris yang dipimpin Noordin M Top pada 2009 silam. Atas prestasinya tersebut, Tito lantas diberi jabatan sebagai Kepala Densus 88 Anti Teror.

Karena prestasinya yang terus gemilang, akhirnya pada 16 Maret 2016 lalu Tito dipilih dan dilantik menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Belum lama menjadi kepala BNPT, lulusan Akpol terbaik angkatan 1987 ini akhirnya resmi dipilih dan dilantik sebagai Kapolri menggantikan Badrodin Haiti yang pensiun.

Walau dengan terpilihnya Tito menjadi Kapolri melewati banyak senior berbintang tiga (6 angkatan, 1981-1986) yang cukup kuat, layak dan berpengaruh, pada prinsipnya menjalankan tugas negara di kepolisian membutuhkan keunggulan dalam banyak hal seperti pengalaman, kemampuan dan kompetensi kepemimpinan, berintegritas, kredibelitas, komunikatif, adaptif, cekatan, cerdas, jaringan, interpersonal skill dan profesionalitas dalam menjalankan tugas. Dan, sudah menjadi pengetahuan publik bahwa Tito tak diragukan lagi merupakan sosok yang mendekati kriteria tersebut.

Kita optimis bahwa dibawa komando perwira polisi yang menguasai 8 bahasa ini, Polri semakin reformis yang mewujud dalam berbagai aksi, misalnya, semakin profesional dalam menjalankan tugas negara alias kewajiban Bhayangkara. Apalagi—sebagaimana yang pernah dilansir oleh beberapa media massa dua pekan terakhir—polisi yang dikenal intelek dan pandai bergaul dengan berbagai kalangan ini sudah menyiapkan sejumlah program kerja, baik yang berjangka pendek dan panjang, terutama untuk reformasi internal polri. Misalnya, dengan penguatan sistem pelaksanaan dan evaluasi rekrutmen, karir berbasis prestasi dan reward and punishment yang objektif. Hal ini tentu saja diharapkan nantinya dapat berpengaruh pada reformasi birokrasi di tubuh Polri dan mentalitas pelayanan masyarakat yang lebih baik serta memperbaiki kualitas penegakkan hukum, terutama terhadap kejahatan besar seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, pemerkosaan, pembegalan, perampokan bersenjata, pembunuhan, dan terorisme. Akhirnya, selamat bertugas Jenderal Tito Karnavian! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis belasan buku seputar Sosial-Politik, Pendidikan, dan Motivasi, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon, dan Fans Jenderal Tito Karnavian. Tulisan ini dimuat pada halaman 4 Kolom Wacana Harian Umum Radar Cirebon edisi Jum’at 26 Ramadhan 1437/ 1 Juli 2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s