Menatap Masa Depan Umat

Menatap masa depanPADA Senin-Rabu, 13-15 Juni 2016 bertepatan dengan 8-10 Ramadhan 1437 lalu saya turut menghadiri acara Pengkajian Ramadhan yang diadakan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Acara yang mengambil tema “Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah” dan bertempat di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) ini menghadirkan 20-an lebih tokoh dan pakar dalam berbagai bidang sebagai narasumber.

Acara yang dihadiri delegasi pengurus Muhammadiyah berbagai level se-Indonesia serta undangan dari kalangan umum tersebut mengkaji berbagai topik dalam kerangka peneguhan Pancasila sebagai dasar dan filosofi bernegara; dari aspek filosofis, dan bentuk negara, hingga aspek hukum, tata negara, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, politik, relasi keagamaan, dinamika kebangsaan dan sebagainya.

Pada momentum tersebut Muhammadiyah kembali menegaskan apa yang pernah ditegaskan oleh Kuntowijoyo (2004) bahwa Pancasila sejatinya sama sekali tidak merintangi Islam, ia justru seiring sejalan dengan berbagai prinsip dan nilai-nilai keislaman. Hanya saja, tafsir dan pelaksanaan atas Pancasila kerap bertentangan dengan Islam dan Pancasila itu sendiri. Hal tersebut paling tidak ditegaskan pula oleh Din Syamsuddin (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ketua Dewan Pergerakan Indonesia Berkemajuan) dan diamini oleh Jimly Asy-Shidiqie (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Ketua Umum ICMI) yang turut hadir menjadi narasumber di hari terakhir acara.

Dengan segala keterbatasan dan kelemahan Muhammadiyah sekaligus kritik dan catatan kaki yang kita miliki atas Muhammadiyah, mesti diakui bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan keagamaan dan sosial yang mengambil peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa. Lahir jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah terus bergerak, berdenyut di setiap penjuru negeri. Muhammadiyah hadir di tengah kehidupan sosial masyarakat menjadi solusi dari setiap kondisi. Dari sinilah lahir amal usaha mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga berbagai pemberdayaan masyarakat lainnya.

Simpul-simpul

Kini di seluruh nusantara kita menyaksikan terhampar simpul-simpul pelayanan dengan jumlah yang tidak sedikit. Berdasarkan informasi dan data resmi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, kini Muhammadiyah memiliki 192 peguruan tinggi, 5.015 sekolah madrasah tingkat menengah, 16.346 TK ABA-PAUD, 122 pondok pesantren, 557 rumah sakit (besar, sedang dan kecil), 318 panti jompo, 437 BMT, 762 BPR syariah, 25 penerbitan, 21 ribu masjid, ribuan kelompok binaan ekonomi Aisyiyah, dan ribuan kelompok binaan pemberdayaan.

Jumlah ini tentu saja semakin meningkat, sebab seperti yang ditegaskan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah terpilih Haedar Nashir pada penutupan Muktamar 2015 lalu bahwa Muhammadiyah berkomitmen untuk meningkatkan jumlah amal usaha, di samping memperkuat sekaligus memperkokoh peran amal usaha yang sudah ada sejak awal Muhammadiyah berdiri.

Dalam konteks sejarah bangsa dan negara, Muhammadiyah juga turut merumuskan dasar negara, mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan mengisinya dengan berbagai peran penting, serta menebar baktinya bagi keutuhan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Atas dasar itu, acara yang baru saja selesai bukanlah satu tontonan, tapi menjadi tuntunan bagi bangsa ini bahwa cara terbaik menjadi warga negara adalah dengan cara terus menerus meningkatkan bakti demi mewujudkan tujuan bangsa dan negara agar mencapai keadilan sosial dalam berbagai dimensinya.

Dalam konteks itu, adalah benar apa yang diungkapkan oleh Pakar Sejarah asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra yang juga turut diundang sebagai narasumber pada acara yang diliput berbagai media massa tersebut bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi keagamaan paling besar di dunia yang memiliki peran besar dalam membangun sejarah umat Islam dan bangsa Indonesia juga dunia internasional. Tanpa Muhammadiyah, kata Azra, umat Islam juga bangsa ini akan kehilangan ruh, gagasan, penerus bahkan akan tercerai berai tanpa bentuk.

Dari berbagai perspektif dan pandangan di atas, sebagai warga biasa non Muhammadiyah, saya berpendapat bahwa dalam konteks menatap masa depan umat Islam dan Ormas Islam bahkan bangsa dan negara Indonesia, kita perlu banyak belajar dan mengambil hikmah kepada Muhammadiyah. Mengelaborasi pendapat Roni Tabroni (2016), diantara hal unik yang dimiliki Muhammadiyah yang perlu diteladani oleh siapapun penghuni bangsa dan negeri ini, pertama, fondasi keislaman Muhammadiyah yang bersumber pada Al-qur’an dan Al-sunnah yang disertai pengembangan ijtihad. Kedua, reputasi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern yang terbesar telah dikenal luas secara nasional dan internasional. Ketiga, jaringan organisasi Muhammadiyah yang sudah tersebar di seluruh penjuru tamah air dan beberapa negara di dunia. Keempat, perkembangan amal usaha Muhammadiyah yang sangat besar yang menjadi aset sumber daya, fasilitas dan infrastruktur. Kelima, Muhammadiyah sebagai kekuatan organisasi sosial keagamaan atau kemasyarakatan yang telah berkiprah lama dan luas di Indonesia mulai dari prakemerdekaan hingga pascakemerdekaan. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Tulisan ini dimuat pada halaman 12 Kolom Opini Harian Umum Kabar Cirebon edisi Kamis 23 Juni 2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s