Ramadan: Memupus Keserakahan Diri

Memupus keserakahan diriALHAMDULILLAH Ramdhan telah tiba membersamai kita lagi. Rasa syukur tentu saja mengharu biru menghiasi kegembiraan kita. Mengapa? Karena tak sedikit diantara keluarga, tetangga, sahabat dan orang-orang yang kita cintai kini tak bisa bersua dengan Ramadhan lagi. Mereka telah meninggal mendahului kita. Ini pertanda bahwa Allah masih memberi kita kesempatan untuk banyak bersyukur dan memperbaiki diri, terutama dalam menghadapi ajal kematian yang datangnya tak terduga namun pasti itu.

Dalam konteks kepemimpinan, Ramadhan yang suci adalah momentum yang terbaik dan sangat tepat bagi para pemimpin di berbagai lembaga/institusi di berbagai jenis dan levelnya untuk memupus keserakahan. Misalnya, dengan cara menghitung diri dan membangun kesadaran bahwa kehidupan ini termasuk jabatan yang diemban adalah amanah. Di sini pula letak pentingnya pembersihan jiwa agar mereka tebebas dari persepsi bahwa kepemimpinan yang ada pada dirinya merupakan milik kita yang harus dipertahankan secara terus menerus. Persepsi seperti itulah, dalam sejarah kepemimpinan bangsa-bangsa, yang memicu para pemimpin terjerumus dalam kesewenang-wenangan.

Selain itu, Ramadan juga bulan penghindaran bagi para pemimpin, yaitu penghindaran dari persepsi bahwa semakin lama dia memimpin semakin terbuai oleh rayuan iblis. Bahkan mempersepsi lamanya kepemimpinan merupakan pertanda bahwa kepemimpinannya diridhai Allah. Mustahil mereka akan lama memimpin kalau bukan karena bukan dicintai atau diridhai Allah. Ingat, bisa saja para penjahat pun dapat lama memimpin. Akan tetapi kepemimpinan dan kekuasaan yang dimiliki pemimpim dan penguasa jahat, seperti ditegaskan Ibnu Jauzi, masuk dalam kerangka penagguhan atas azab yang akan diterima mereka di akhirat sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, “Kami (Allah) menangguhkan bagi mereka supaya mereka bertambah dosa” (QS. Ali ‘Imran: 178).

Untuk itu, saatnya para pemimpin memasuki Ramadhan dengan tekad memperkaya keilmuan dan memajukan spiritualitas. Rasulullah Saw menekankan, “Hendaknya kalian membiasakan terlibat dalam majelis para ulama dan kata-kata para hukama. Sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Ia menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan.”

Ulama adalah komunitas manusia yang dengan keluasan ilmu dan integritas moralnya dapat mentransformasikan pengetahuan dan bimbingan masyaakat menuju cita-cita individual dan klektifnya. Nabi Muhammad Saw melukiskan bergaul dengan orang-orang berilmu dan shalih tak ubahnya seperti berteman dengan penjual minyak wangi. Walaupun kita tidak mendapatkan percikan minyak wanginya secara langsung, namun semerbak wanginya mengharumkan tubuh kita. Maka selalu terlibat dalam majelis-majelis para ulama dalam memperluas wawasan, memperoleh berbagai ilmu yang mencerahkan pikiran, hati dan aktivitas kita. Di majelis itu tidak sekadar digelar pengajian-pengajian yang bersifat keilmuan yang mencerahkan akal dan pemikiran tetapi juga dipadukan dengan zikir yang menjadi salah satu makanan ruhani paling bergizi ang dapat mencerahkan hati dan spiritulitas.

Melalui keberadaan ulama pula kita dapat mengikuti keteladanan Nabi Muhammad Saw. Beliau Saw mengingatkan betapa kritisnya kehidupan masyarakat yang telah kehilangan ulamanya. “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari hamba-hamba-Nya melainkan Dia mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, sehingga tiada seorang ulama pun yang tertinggal. Akibatnya, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu mereka ditanya tentang masalah agama, maka mereka memberikan fatwanya tanpa pemgetahuan, karena itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan hukama dengan kata-kata hikmah dan ungkapan-ungkapan bijaknya yang sarat makna terus-menerus memberikan pencerahan spiritual dan menyikapi berbagai selubung kegelapan hati, menyingkiran keraguan dan kebimbangan, serta menghidupkan kembali hati yang elah membeku. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah melukiskan posisi hati manusia dalam kitab-nya Al-Fawait, “Allah telah menciptakan hati dan menjadikannya sebagai tempat bahkan singgsana yang paling tinggi untuk memahami, mencintai, dan menjalankan iradah-Nya”.

Memang hati adalah karunia besar yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Hati adalah tempat cahaya Ilahi, rumah bagi kebenaran yang datang dari Allah. Di dalamnya-lah kesejahteraan sejati bersemayam. Dzunnun Al-Mishri mengatakan, “Orang yang mengenal Allah akan menjadi orang yang setia, hatinya cerdas dan amalnya bersih”.

Maka tanpa pembiasaan menyimak kata-kata hikmah para hukama bisa jadi kegelapan akan bertahta di hati seseorang. Sedangkan dalam hati yang penuh kegelapan, setan akan membangun istananya yang akan menjadi pusat pengendalian seluruh aktivitas dan amal perbuatan syaithoniyah. Dari istana itulah setan mengobarkan nafsu keserakahan yang tidak pernah mengenal akhir dan menghancurkan seluruh tata kehidupan.

Harapannya, kita mampu menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memupus seluruh bentuk keserakahan yang kita miliki. Bukan saja kita sebagai warga negara biasa tapi juga (tertama) untuk para pejabat yang mengemban mandat rakyat atau negara. Tak ada kata terlambat, asal kita memiliki kesungguhan untuk memperbaiki diri, niscaya Allah akan memberi kita petunjuk juga ampunan-Nya. Semoga dengan begitu, Ramadhan hadir tak sekadar seremonial belaka, tapi mampu memperluas ruang amal dan manfaat kita dalam menjalani mandat juga kehidupan ini. Itulah yang oleh sebagian para ulama menyebutnya sebagai berkah alias keberkahan. Insya Allah. [Oleh: Uum Heroyati—Guru SDIT Sabilul Huda Cirebon, Redaksi Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Dimuat pada halaman 10 Kolom Opini Harian Umum Fajar Cirebon edisi Senin 20 Juni 2016/15 Ramadhan 1437]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s