Melawan Hegemoni Syahwat dengan Puasa

Melawan Syahwat dgn PuasaTAZKIYYATUN nafs (penyucian jiwa) menjadi satu tugas penting yang diemban oleh Nabi Muhammad Sa. terhadap umat beliau Saw. (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2). Karena itu, kewajiban besar manusia pengikut Nabi Muhammad Saw. adalah melakukan upaya pensucian jiwanya (QS. Asy-Syams [91]: 9-10). Jiwa manusia memang diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih yang baik dan yang buruk. (QS. Asy-Syams [91]: 8). Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Allah Swt. berfirman bahwa sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian datanglah setan kepada mereka, maka kemudian setan pun menyelewengkan mereka dari agama mereka.” (HR Muslim).

Jiwa manusia memang diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih yang baik dan yang buruk (QS. Asy-Syams [91]: 8). Maka, menurut Imam Al-Ghazali, beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotori jiwanya. Sedangkan Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan, bahwa maksud mensucikan jiwa adalah menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Ada doa khusus yang dibaca Rasulullah Saw. saat membaca ayat ini (QS. Asy-Syams [91]: 8): “Allahumma Ati nafsiy taqwaha Anta waliyyuha wa-mawlaha wa khayru man zakkaha.” (Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, Engkaulah Wali dan Tuannya; dan Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya).

Dalam pandangan Yusuf Qardhawi (2004), manusia adalah makhluk yang terdiri atas jiwa dan raga. Keduanya merupakan satu kesatuan yang unik dalam membentuk sosok bernama “manusia”. Islam tidak mengenal pemisahan yang ekstrim antara tubuh dan jiwa, sehingga ibadah dalam Islam juga memadukan dimensi jiwa dan raga Misalnya shalat, haji, puasa, dan sebagainya, merupakan paduan yang harmonis dan unik antara aspek jiwa dan raga. Dalam shalat, orang diwajibkan suci lahir dari hadats dan najis. Secara batin, dia pun harus suci dari penyakit jiwa, seperti riya’ dan ujub. Puasa dalam Islam adalah ibadah yang secara ketat melatih badan untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, pada saat yang sama, puasa harus didasarkan pada aspek kejiwaan, seperti niat yang ikhlas karena Allah Swt. Begitu pula berbagai jenis ibadah lainnya.

Itulah indahnya ibadah dalam Islam. Begitu ketat dan jelasnya petunjuk Rasulullah Saw. dalam pelaksanaan ibadah puasa, baik secara jasmani maupun rohani. Selama puasa, kita dilatih secara fisik, menahan lapar dan dahaga, dan pada saat yang sama, diharuskan menjalani puasa batin agar menjaga diri dari berbagai penyakit hati yang dapat merusak ibadah puasa. Niat baik saja tidak cukup. Niat baik harus juga disertai dengan cara yang baik, yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw.

Saat Ramadan, kita dilatih dengan keras untuk mensucikan jiwa dengan cara menundukkan hawa nafsu kita, supaya terhindar dari neraka Jahim dan masuk ke dalam surga (QS. An-Naazi’aat [79]: 37-41). Hal ini sesuai juga dengan sabda Nabi Muhammad Saw.: “seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan nafsunya” (HR Tirmidzi). Menundukkan nafsu adalah jihad yang besar, sehingga perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan segala macam latihan ibadah yang sungguh-sungguh (mujahadah), kita berharap menjadi mukmin yang bahagia, memiliki nafsu yang tenang (nafsul-muthmainnah). (QS. Al-Fajr [89]: 27-28).

Imam Ibn Katsir menyatakan, bahwa saat sakaratul maut, dan saat di akhirat nanti, hamba Allah dengan jiwa yang tenang (muthmainnah) akan mendapatkan seruan: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu,” dengan hati yang ridha dan diridhai, yakni “dia rela menjadikan Allah sebagai Tuhannya dan Allah pun ridha menjadikan dia sebagai hamba yang dikasihi-Nya”.

Adalah pakar Pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas (2001) menggambarkan perkembangan falsafah Barat dan dunia umumnya yang telah membuang Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan mereka, sehingga mereka menempatkan manusia sebagai Tuhan yang merasa berhak mengatur alam dan dirinya sendiri, tanpa campur tangan siapa pun. Bahkan manusia semakin hedonis, primisif dan tidak mau mendengar nasihat dari manusia lain.
Al-Quran sendiri menggambarkan manusia-manusia yang berinteraksi dengan alam (ayat-ayat kauniyah dari Allah), tetapi tidak sampai mengenal Tuhan yang sesungguhnya, maka mereka itu laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat dari pada binatang ternak itu sendiri, sehingga mereka digaransi mendapat tempat di neraka (QS. Al-A’raaf [7]: 179, QS. Muhammad [47]: 12).

Orang mukmin juga makan-makan dan bersenang-senang menikmati makanan serta kesenangan hidup lainnya. Tetapi, orang mukmin tidak menjadikan makan dan segala kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidup dan kenikmatan tertinggi, sebab mereka memiliki tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yaitu mengenal dan beribadah kepada Allah Swt., agar jiwanya tentram. Itulah kebahagiaan yang sejati.

Betapa banyak manusia tertipu dengan kenikmatan duniawi. Ia menyangka akan bahagia saat mereguk segala syahwat dunia. Ternyata kesenangan dunia itu menipunya. Lihatlah, betapa banyak manusia tersohor dan bergelimang harta serta kebebasan, akhirnya hidup dalam keresahan dan berujung kepada obat-obatan terlarang, tersangkut kasus prostitusi bahkan berakhir dengan bunuh diri. (QS. Ali ‘Imran [3]: 185, 196-197). Banyak manusia terkecoh oleh kenikmatan duniawi sehingga melupakan kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Pada hakikatnya, itulah kesuksesan setan dalam menghiasi hal-hal maksiat dan kejahatan, sehingga tampak indah dan menawan di mata manusia. (QS. Al-Hijr [15]: 39, QS. An-Nahl [16]: 63). Hanya saja, Allah Swt. pun memberikan senjata kepada kita untuk membentengi diri dari tipu daya setan. (QS. An-Nahl [16]: 99-100).

Akhirnya, semoga kita bisa mengisi Ramadan kali ini dengan berbagai bentuk ibadah khas Ramadan untuk tujuan transformasi subtantif: peningkatan ketaqwaan dalam berbagai aspeknya; sehingga kita, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat maupun bangsa mendapat petunjuk, kekuatan dan pertolongan dari Allah Swt. agar mampu melakukan perbaikan terhadap berbagai permasalahan hidup dan terhindar dari berbagai fitnah syahwat duniawi yang terus menipu dan permasalahan sosial keumatan dan kebangsaan yang belakangan ini semakin rumit. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Dimuat pada halaman 10 Kolom Opini Harian Umum Fajar Cirebon, edisi Selasa Juni 2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s