Bangkitlah Gerakan Mahasiswa!

Syamsudin Kadir.SEPERTINYA terlalu banyak mitos yang berkembang mengenai gerakan mahasiswa. Kalimat yang kadangkala sloganistis masih terus dipercaya melekat dalam diri gerakan mahasiswa. Semisal, agent of change, iron stock, atau yang lainnya. Gelaran seperti itu, hendaknya bukan hanya sebuah teriakan kosong tanpa makna dan aplikasi. Gerakan mahasiswa secara organis harus terus berfikir tentang efektifitas strategi dan taktis (stratak) gerakan, terutama ketika struktur sosial, politik dan ekonomi bangsa tengah mengalami perubahan seperti saat ini.

Bulan Mei 18 tahun silam, gerakan mahasiswa tampil sebagai kekuatan baru dan berhasil menjatuhkan rezim dibawah kendali Soeharto. Pasca jatuhnya Soeharto, gerakan mahasiswa mengalami polarisasi gerakan. Hal ini mengundang kritik, bahwa gerakan mahasiswa ternyata—dianggap—tidak bersungguh-sungguh atas perjuangan reformasi hingga implementasi strategis Enam Visi Reformasi yang kerap mereka ‘khutbahkan’.

Saat ini, gerakan mahasiswa masih mengalami kegamangan akibat ketidakberdayaan terhadap drama politik elite, ya senior mereka juga. Dari kebijakan yang jauh dari naluri publik, penegakan hukum yang tebang pilih, aksi politik yang basi-basi hingga mengikisnya budaya luhur bangsa. Bahkan ‘konon’ mahasiswa begitu mudah ‘diinstruksi’ oleh para seniornya yang sudah masuk dan menikmati kekuasaan. Berikutnya, mahasiswa pun terjebak dalam gerakan pragmatis.

Benar apa yang dikatakan Kuntowijoyo (1993), tidak terbukti dalam sejarah bahwa politik sangat menentukan. Yang lebih berperan dan menentukan adalah arus besar berupa kekuatan-kekuatan sejarah yang meliputi perubahan-perubahan sosial, ekonomi dan kultural. Fernand Braudel (1998), Sejarawan Perancis, mengkategorikan perubahan politik pada sejarah jangka pendek. Interaksi gerakan mahasiswa dengan politik setelah 32 tahun rezim Soeharto amat pendek. Namun sudah cukup berhasil menyadarkan masyarakat akan arti kebebasan dan partisipasi, walau gagal menyadarkan arti kemerdekaan dan kemandirian.

Walau begitu, sejauh ini banyak pihak yang melihat bahwa gerakan mahasiswa masih sangat dibutuhkan dalam ranga mengawal jalannya reformasi dan transformasi kebangsaan dalam berbagai aspeknya. Justru saat ini merupakan momentum bagi gerakan mahasiswa untuk mencari titik temu bahkan—kalau memungkinkan—menyatukan platform gerakannya demi kemajuan bangsa dan negara. Dengan tidak terlibat jauh ke dalam wilayah politik praktis, sesunguhnya, mahasiswa tak perlu ragu dan risau dalam menempatkan posisinya. Karena itu, agar gerakan mahasiswa tetap mempunyai legitimasi moral yang kuat di masyarakat, seyogyanya aspirasi dan agenda yang diusung oleh mahasiswa mesti dilandasi oleh daya kritis, rasional, objektif dan konstruktif; bukan asal marah, sumpah serapah, caci maki dan sobjektif.

Konsekwensi logis berubahnya orientasi struktur dan tatanan sosial dan politik ke arah demokratisasi saat ini sejatinya adalah sinyal baik bagi tumbuhnya partisipasi publik, termasuk mahasiswa. Dengan demikian, masih terlalu banyak alasan bagi gerakan mahasiswa untuk terus menerus melontarkan protes sosial dalam rangka meluruskan dan mematangkan agenda reformasi, transformasi dan demokratisasi bangsa. Tanpa begitu, bukan saja reformasi yang dibajak, tapi juga upaya transformasi dan demokratisasi dibajak elite yang terjebak dalam agenda pragmatis.

Gerakan mahasiswa untuk perubahan senantiasa mengidentifikasi diri sebagai gerakan moral (moral force). Sebuah istilah yang justru akan menjebak gerakan mahasiswa pada kemandekan (stagnasi) proses perubahan sendiri. Dalam pandangan Eep Saefulloh Fatah (2004), perubahan sesungguhnya adalah proses berkelanjutan, bukan proses pemanfaatan momentum belaka (termasuk untuk revolusi sekalipun), karena masyarakat akan sangat lebih membutuhkan perubahan yang terarah dan riil membawa perubahan sosial padanya.

Mengafirmasi Eep, perlu ditegaskan bahwa pengalaman ’66, ’74, dan ’98 menunjukkan ‘kegagalan’ perubahan itu sendiri. Ketika generasi ’66 menjadi lambang status quo pada Orde Baru, dan ketika generasi ’74 pun terhenti dan terdiam. Mereka akhirnya terperangkap pada jebakan-jebakan politik yang menjadikan mereka sebagai kendaraan politik kekuasaan belaka. Termasuk generasi ’98 yang kini pun ‘terdiam’ dan membiarkan proses reformasi tergagalkan. Bukan oleh orang lain, namun oleh generasi mereka sendiri.

Dalam konteks masa kini dan masa depan, reposisi gerakan mahasiswa dalam proses perubahan adalah tema yang perlu diangkat kembali oleh gerakan mahasiswa era sekarang. Bahwa gerakan mahasiswa bukan lagi sekadar pendorong proses perubahan, tetapi pelaku perubahan itu sendiri. Keterbatasan wacana dan intelektual masyarakat Indonesia menunjukan bahwa mereka masih sangat membutuhkan pendampingan mahasiswa melalui berbagai sarana yang secara formal diatur oleh berbagai perguruan tinggi masing-masing, bahkan oleh masing-masing organisasi mahasiswa, baik intra maupun ekstra kampusnya. Dengan begitu, mahasiswa perlu meningkatkan kualitas jam terbangnya, di samping pembacaan yang masif terhadap realitas sosial hingga penguatan basis data gerakannya.

Tanpa menafikan kebaikannya, pengulangan hal-hal yang kurang baik dalam sejarah ’66, ’74 dan ’98 bukanlah pilihan yang baik. Tuntutan tersebut ter-representasikan dalam pendidikan politik berkelanjutan (bukan sekadar pembentukan opini massa), dalam bentuk kesadaran terstruktur, dalam bentuk langkah-angkah rii di masyarakat, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Sebagai pelaku perubahan, maka mahasiswa secara individu maupun kolektif (organis), harus menempatkan diri dalam arus besar perubahan secara bijak. Basis kompetensi keilmuan menjadi suatu yang signifikan untuk membangun masyarakat transformatif. Sederhananya, gerakan mahasiswa mesti mampu memperkuat kaderisasi dan kompetensi internalnya dengan, misalnya, menguasai bidang studi yang digelutinya, lalu menjadikannnya sebagai pijakan dalam melakukan transformasi sosial.

Menegakkan dan meneguhkan idealisme memang sebuah pilihan yang sangat sulit di saat atmosfir pragmatisme begitu kuat bahkan mewujud seperti udara yang dapat dihirup setiap saat. Untuk itu, gerakan mahasiswa perlu memperkuat idealismenya, namun tetap berbasis pada realisme sosial masyarakat. Bahwa, dalam kondisi apapun gerakan mahasiswa mesti tetap punya tanggungjawab moral dan sosial, bukan saja untuk mendorong perubahan tapi juga menghadirkan perubahan sosial. Sungguh, kepahlawanan kaum intelektual selalu mempunyai momentumnya. Ada potongan waktu tertentu dimana anasir kepahlawanannya menyatu padu. Saat itulah ia tersejarahkan, tak terkecuali gerakan mahasiswa. Singkatnya, bangkitlah gerakan mahasiswa! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Aktivis Mahasiswa 2000-an, Penulis Artikel-Essay di berbagai Surat Kabar. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Bangkitlah Gerakan Mahasiswa! (Refleksi 18 tahun Reformasi dan Catatan untuk Gerakan Mahasiswa)”, Cirebon, 21 Mei 2016]

One thought on “Bangkitlah Gerakan Mahasiswa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s