Selamat Jalan Kiai Ali Mustafa Yakub!

ali+musthafa+yakub+darus+sunnahMASYARAKAT Asia Tenggara, khususnya Indonesia kembali berduka. Ulama yang pernah tercatat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan Imam Besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub meninggal dunia. Kiai Mustafa—demikian beliau kerap disapa—meninggal di Rumah Sakit Hermina pada Kamis 28 April pukul 06.00 WIB.

Kiai Mustafa sendiri lahir di Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952. Beliau dikenal sebagai ulama yang kritis terhadap isu-isu agama. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Seblak Jombang dan Pesantren Tebuireng Jombang-Jawa Timur. Dari pesantren, beliau melanjutkan di Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia, sampai lulus dengan mendapatkan ijazah license, 1980. Selanjutnya, ulama yang dikenal tegas dalam bersikap ini belajar di Universitas King Saud, Jurusan Tafsir dan Hadis, dan memperoleh ijazah Master pada 1985.

Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh ini pernah berkiprah sebagai pengajar di berbagai perguruan tinggi, antara lain: Institut Ilmu al-Quran (IIQ), Institut Studi Ilmu al-Quran (ISIQ/PTIQ), dan Pengajian Tinggi Islam Masjid Istiqlal. KH Ali juga aktif mengajar dalam Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah, dan IAIN Syarif Hidayatullah.

Diantara sederet ulama di tanah air, beliau dikenal sebagai salah satu ulama yang sangat produktif menulis. Banyak karya tulis dan terjemahan yang dihasilkannya, diantara lain: Memahami Hakikat Hukum Islam (Alih Bahasa dari Prof Dr Muh. Abdul Fattah al-Bayanuni, 1986), Nasihat Nabi kepada Para Pembaca dan Penghafal al-Quran (1990), Imam al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits (1991), Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Alih Bahasa dari Prof Dr Muhammad Mustafa Azami, 1994), Kritik Hadits (1995), Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat (Alih Bahasa dari Muhammad Jamil Zainu, Saudi Arabia, 1418 H), Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997), dan Peran Ilmu Hadits dalam Pembinaan Hukum Islam (1999).

Selain itu, beliau juga menulis buku Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Quran dan Hadits (2000), Islam Masa Kini (2001), Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’i (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abdurrahman al-Khumayis, 2001), Aqidah Imam Empat Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abdurrahman al-Khumayis, 2001), Fatwa-fatwa Kontemporer (2002), MM Azami Pembela Eksistensi Hadits (2002), Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003), Hadits-hadits Bermasalah (2003), Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan (2003), Nikah Beda Agama dalam Perspektif al-Quran dan Hadits (2005), Imam Perempuan (2006), Haji Pengabdi Setan (2006), Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007), Ada Bawal Kok Pilih Tiram (2008), Toleransi Antar Umat Beragama (Bahasa Arab–Indonesia 2008).

Kemudian menulis Islam di Amerika; Catatan Safari Ramadhan 1429 H Imam Besar Masjid Istiqlal (Bahasa Inggris–Indonesia 2009), Kriteria Halal-Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadits (2009), Mewaspadai Provokator Haji (2009), Islam Between War and Peace (Pustaka Darus-Sunnah 2009), 25 Menit Bersama Obama (Masjid Istiqlal Jakarta 2010), Kiblat Menurut al-Quran dan Hadits, Kritik Atas Fatwa MUI No.5/2010 (2011), Ramadhan Bersama Ali Mustafa Yaqub (2011).

Selebihnya, Kiai Mustafa adalah sosok ulama yang tegas namun santun, berilmu tinggi namun tawadhu, dan cerdas namun bersahaja. Beliau dikenal sebagai ulama yang kerap menjembatani berbagai perbedaan pendapat beberapa ormas Islam. Walau “berdarah”, beliau tetap menghormati dan menghargai ormas Islam yang lainnya seperti Muhammadiyah, PUI, Persatuan Islam dan sebagainya.

Sungguh, ajal kematian urusan Allah, ya ada dalam garis takdir-Nya. Kalau Kiai Mustafa sudah mendapatkan giliran awal, kelak kita juga begitu. Lalu,apa yang sudah kita persiapkan sebagai bekal? Sembari meningkatkan kualitas ibadah dan amal soleh lain, kita perlu melanjutkan kebaikan, termasuk peran sosial yang dilakoni oleh Kiai Mustafa selama ini. Sederhana saja, minimal bisa menulis buku untuk diwariskan kepada generasi setelah kita. Akhirnya, selamat jalan Kiai Ali Mustafa Yakub. Semoga mendapatkan ampunan dan jatah surga terbaik! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI BBC]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s