Meneguhkan Keluarga Sebagai Benteng Bangsa

Kadir-uumBAGAI gelombang besar, akhir-akhir ini berbagai fenomena penyakit sosial berupa perilaku amoral dan aksi intoleran merebak secara masif. Hampir semua kalangan lintas usia dan latar sosial terkena imbas bahkan tersangkut perilaku juga aksi serupa.

Dari penyalahgunaan narkoba, minuman keras, pencurian, perampokan, pemerkosaan, pencabulan, pembegalan hingga pembunuhan. Dari kekerasaan perilaku personal hingga atas nama kelompok dengan basis ideologinya yang variatif.

Semuanya, lagi-lagi, bagai gelombang besar. Kita pun dibuat terengah-engah walau sekadar untuk mencari tempat menepi sejenak.

Diantara fenomena paling mutakhir adalah menggeliatnya praktik “norak” seperti Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), di samping aksi teror para teroris.

Uniknya, para pelaku atau kelompok-kelompok tersebut berperilaku dan melakukan aksinya atas nama HAM, pembelaan atas keyakinan dan berbagai alibi lainnya—yang tentu saja jauh dari nalar akal sehat dan kejernihan jiwa.

Sebagaimana perilaku amoral lainnya, LGBT dan aksi teror merupakan penyakit sosial sekaligus penyakit jiwa yang sangat berbahaya dan membahayakan. Karena penyakit, maka perilaku LGBT dan aksi teror kerap tak dirasakan oleh pelakunya sebagai sebuah pelanggaran moral atau perilaku buruk. Sebab—dalam pandangan Imam Al-Ghazali—jiwa yang sakit tak mungkin bisa menilai baik dan buruk, bahkan tak mampu memahami antara benar dan salah. Maka, menurut Al-Ghazali, mereka yang sakit jiwa perlu ditolong dan diobati.

Naifnya, para pelaku kerap menjadikan generasi muda (terutama pelajar dan anak-anak) sebagai korbannya. Sebagai aset masa depan keluarga, masyarakat dan bangsa, elemen emas ini dirampas hak-haknya untuk hidup bebas dari perilaku amoral dan teror, untuk bercita-cita tinggi melampaui usianya, serta untuk memimpikan yang terbaik bagi masa depan diri, masyarakat juga bangsanya.

Peran Penting Keluarga

Sebagai individu maupun sebagai elemen bangsa, kita mesti menyediakan ruang bagi ide segar, agar langkah jitu atau solusi terbaik dapat kita temukan. Dengan begitu, waktu yang kita miliki pun tidak terbuang begitu saja, karena kita mesti menyediakan kesempatan yang cukup bagi hadirnya optimisme dan harapan, agar berbagai fenomena yang merusak masa depan generasi baru dan pelanjut bangsa tersebut segera tersolusikan. Diantara langkah yang dapat kita tempuh adalah meneguhkan pendidikan keluarga sebagai benteng utama bangsa.

Dalam khazanah Islam, keluarga memiliki posisi penting. Selain sebagai lingkungan pertama dimana sang anak hidup, ia juga merupakan tempat pertumbuhan sekaligus tempat mendapatkan pengaruh besar sang anak bagi kehidupannya kelak. Pada masa awal (baca: masa anak-anak) inilah yang menjadi momentum amat penting dan paling kritis dalam pendidikannya (Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab, 2016).

Bahkan, Islam menggariskan bahwa anak merupakan cikal bakal masyarakat juga bangsa. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat-bangsa sekaligus tempat pembinaan pertama bagi sang anak sebagai generasi penerusnya, maka keluarga dimana hak-hak anak diberikan sudah selayaknya mendapat perhatian serius semua elemen, baik pemerintah, elemen sosial dan—terutama—keluarga (orangtua) tempat dimana anak-anak itu hidup, tumbuh dan berinteraksi perdana secara aktif.

Menurut Elly Risman (2014), pendidikan keluarga menjadi sangat penting karena, pertama, keluarga merupakan lembaga pendidikan paling alamiah; kedua, prosesnya tanpa didramatisasi atau didesain secara rumit sebagaimana terjadi pada lembaga pendidikan profesional; ketiga, materinya meliputi seluruh bidang kehidupan, metodenya sebagaimana keadaan yang sesungguhnya, dan evaluasinya dilakukan secara langsung oleh anggota keluarga; keempat, dalam keluarga juga tak mungkin terdapat komersialisasi jasa pendidikan. Para orangtua memberikan pendidikan dan fasilitas pendidikan tentulah tak mengharapkan imbalan materi, selain didorong kewajiban moral.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan di keluarga? Pertama, orangtuanya (termasuk anggota keluarga yang lain) mesti memastikan anak-anaknya mengenal dan memahami dasar-dasar agama. Orangtua mesti menjadi model bagi anak soal pengetahuan dan pengamalan agama. Bukan saatnya bagi orangtua untuk malas dalam mendalam berbagai sumber pengetahuan, terutama tentang agama.

Lebih riil, orangtua “wajib” menyediakan waktu khusus untuk membaca, mendalami, dan mengkaji berbagai sumber bacaan; baik dasar-dasar agama, maupun pengetahuan lain yang menunjang berjalannya pendidikan keluarga.

Kedua, orangtua mesti berkomunikasi, membantu dan membimbing anak-anaknya tentang aktivitas, pergaulan dan dalam menentukan cita-cita serta misi hidupnya yang luhur nan mulia. Di samping itu, orangtua juga perlu mengarahkan anak-anaknya agar ikut aktif dalam organisasi yang baik dan teratur sehingga membentuk kepribadian dan wawasan anak-anaknya menjadi semakin luas dan terjaga dari berbagai hal buruk.

Di era teknologi ini, orangtua tidak boleh merasa bodoh dengan anak-anaknya yang aktif berorganisasi, namun kerap meninggalkan shalat, suka berpacaran atau bermesraan dengan lawan jenisnya, suka “keluyuran” pada malam hari dan menyia-nyiakan waktu untuk hal yang sia-sia.

Secara rutin, orangtua perlu mengecek HP, facebook, twitter, e-mail dan media lain yang dimiliki anak-anaknya. Karena alat komunikasi dan media (terutama media sosial) turut mengambil peran dalam membentuk, merubah dan mengarahkan perilaku anak-anaknya; baik yang baik maupun yang buruknya.

Selebihnya, kita perlu menambah saldo optimis dan harapan, karena beberapa waktu lalu pemerintah telah melahirkan sebuah direktorat baru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yaitu Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (Dirbidik), untuk menguatkan peran orangtua sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga.

Dalam pandangan Mohammad Fauzil Adhim (2008), “Pada umumnya jika pendidikan keluarga berjalan dengan baik, maka keluarga pun akan memberi efek positif bagi keberlangsungan keluarga bahkan memberi efek konstruktif kepada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.

Untuk itu, pendidikan keluarga perlu kita teguhkan sebagai benteng utama kita; ya benteng utama bangsa dan negara kita Indonesia, dari berbagai perilaku amoral dan aksi teror. Insya Allah, bisa! [Oleh: Syamsudin Kadir dan Uum Heroyati—Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab, Maret 2016”]

Sumber: https://mitrapemuda.wordpress.com/2016/04/15/meneguhkan-keluarga-sebagai-benteng-bangsa/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s