Budi Manfaat, Akademisi Muda Inspiratif

Syamsudin Kadir (memegang buku Membumikan Matematika) dan Budi Manfaat (memegang buku Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab)
Syamsudin Kadir (memegang buku Membumikan Matematika) dan Budi Manfaat (memegang buku Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab)

SAYA mengenal namanya sejak 2013-an. Setahu saya ia kerap diundang menjadi narasumber berbagai acara mahasiswa juga di luar kampus di Cirebon dan sekiarnya. Dari pelatihan, bedah buku, workshop hingga diskusi terbuka dalam berbagai tema seperti motivasi, manajemen diri, merebut impian, dan sebagainya, termasuk seputar Matematika sebagai salah satu studi yang ditekuni juga diampuhnya sebagai akademisi berlabel negeri.

Jujur saja, saya termasuk orang yang sangat penasaran dengan nama juga orangnya. Bagaimana tidak, di beberapa media sosial saya kerap melihat beberapa foto seputar kegiatan dimana ia menjadi narasumber atau fasilitatornya. Tentu saja dalam berbagai ragam tema, yang lagi-lagi, yang ia tekuni dan pahami.

Suatu ketika, tepatnya 20 Maret 2015 lalu sebuah komunitas mahasiswa—yang belakangan saya tahu kalau itu dalam asuhannya—mengadakan acara bedah buku, salah satu buku karyanya berjudul “Merajut Asa: Kuliah, Kerja dan Cinta“. Buku setebal 160 halaman itu diterbitkan pada Januari 2015 oleh Penerbit Eduvision, salah satu penerbitan buku yang ia dirikan pada tahun 2010.

Buku berlatar perjalanan hidup yang berliku namun romantis dan kaya akan pesan tersebut saya dapatkan sebagai hadiah dari panitia ketika saya menjadi penanya pada sesi diskusi di saat bedah buku yang dihadiri oleh sekitar 50 orang mahasiswa dan bertempat di Kampung Bima Cirebon setahun lalu tersebut.

Sekadar berbagi kesan, buku—yang kerap ia sebut sebagai novel—berukuran 13 x 19 cm tersebut sangat menarik dan mengandung kesan-kesan unik. Bahasanya ringan, tidak menggurui, pola berbagi, dan sangat meremaja. Sederhananya, sangat layak dimiliki dan dibaca oleh pelajar dan mahasiswa yang hendak merajut asa atau cita-citanya dalam beragam tema: cinta, kuliah, dan kerja.

Saya tak perlu mengungkap secara detail apa saja yang ia bahas dalam buku ini, karena itu saya menganjurkan agar pembaca langsung membeli dan membaca bukunya. Jangan lihat harganya, cukup nikmati sensasi di saat pembaca bisa bermesraan dengan bukunya. Lagian harganya hanya Rp 25.000. Nominal yang tentu saja tidak membuat isi dompet pembaca bertambah tipis, karena justru membuat isi dompet pembaca semakin tebal. Tak percaya? Silakan dicoba.

Apakah cukup di situ? Tentu tidak. Dalam berbagai momentum saya kerap menyapa sehingga bisa “menculik” inspirasi darinya. Apalagi status facebook-nya yang “wah”, kerap saya baca. Lagi-lagi, saya-lah “pencuri” terbaik atas status-statusnya… hehehe

Sekadar menambah cerita, saya dan Ayah dua orang anak ini kerap mendapat undangan menjadi narasumber acara mahasiswa di IAIN Syekh Nurjati (IAIN SNJ) Cirebon. Walau berbeda waktu, acara semacam itu ternyata semakin memperkuat silaturahim dan komunikasi saya dengan suami dari Imroatul Hasanah ini.

Belakangan saya baru tahu ternyata ia sudah menulis 5 buku diantaranya yang saya ingat, berjudul “Membumikan Matematika: Dari Kampus ke Kampung” (2010), dan beberapa judul lain seputar Matematika dan Penelitian Ilmiah. Bahkan belakangan ia sudah menuntaskan naskah untuk buku ke-6. Lebih jelasnya, silakan temukan di website penerbitan buku yang ia miliki: Eduvision.

Untuk buku “Membumikan Matematika: Dari Kampus ke Kampung” sendiri sudah saya kenal sejak lama. Pastinya lupa. Belakangan, tepatnya pada Ahad 20 Maret 2016 buku itu ia bedah di Kampung Bima Cirebon dan saya pun turut mendapatkannya—karena dibelikan oleh seorang sahabat saya, Very Wahyudi, seorang Penulis Muda Berbakat, yang kini aktif bersama saya di PENA IAI Bunga Bangsa Cirebon dan kerap “bersaing” dengan saya dalam hal menulis untuk berbagai Surat Kabar di Cirebon untuk setiap pekannya. Seru kan?

Oh iya, mengapa bedah buku mesti tanggal 20 Maret? Menurut pengakuannya, karena pada itulah ia menempuh hidup baru. Ya, pada 20 Maret 2008 atau 8 tahun lalu itulah ia menikah.

Sebagai penulis pemula dan pemilik penerbitan buku (Penerbit Mitra Pemuda) di Cirebon, saya termasuk yang salut dan bangga dengannya. Alasannya tentu tak terhitung… banyak bangat. Namun alasan yang paling mudah disebut adalah karena ia akademisi muda (kelahiran Mojokerto, 28 Nopember 1981) yang cukup produktif, sehingga layak diberi gelar “akademisi muda inspiratif”.

Oh iya, ada yang menarik. Pada 28 Nopember 2015 lalu saya dan beberapa koleganya, termasuk mahasiswa didikannya di IAIN SNJ mendapat undangan untuk menghadiri acara ulang tahunnya di salah satu kompleks perumahan dekat Kampung Bima Cirebon. Karena benar-benar hendak bersua dan mendapatkan inspirasi darinya, saya “memaksakan” diri untuk hadir. Walau menemukan alamat rumahnya cukup menimbulkan rasa lelah, saya mesti bersyukur karena akhirnya saya pun bisa bersua dengannya, ya bisa silaturahim ke rumahnya. Uniknya, pada hari itu jugalah saya dan dosen muda yang suka senyum ini mengisi acara di LDK IAIN SNJ.

Alhamdulillah pada acara syukuran alias ulang tahun yang ala kadarnya itu saya mendapatkan banyak hal darinya. Suguhan makanan dan minuman sudah pasti. Seperti biasa, saya pun mendapatkan buku gratisan. Sesuatu yang perlu menjadi inspirasi bagi pembaca di luar sana. Ya, rajin-rajinlah memberi hadiah buku kepada sahabat atau orang-orang yang dicintai. Apalagi untuk saya, perlu dibiasakan ya… Hehehe..

Tapi di sini ada tapinya ya. Apa itu? Pada kesempatan itu ia sempat berbagi cerita seputar perjalanan hidupnya; baik sebagai anak, menantu, ayah, dosen, motivator, penulis dan pemilik penerbitan buku. Rasanya tulisan ini tak cukup mampu merekam apa saja yang saya dapatkan ketika itu. Intinya, apa yang ia peroleh saat ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Istri yang pengertian, anak-anak yang lucu, sahabat yang memahami, jenjang pendidikan yang terus berlanjut, karir akademik yang oke punya, karya tulis yang bermanfaat, dan segala rupanya, semuanya adalah hasil kerja keras, doa dan cinta yang tak pernah bertepi. Maka sangat inspiratif ungkapannya ketika itu, “Hidup ini adalah momentum berkarya. Allah akan memberi dan menambah rezeki untuk kita sejauhmana manfaat kita kepada sesama melalui karya-karya bermanfaat. Maka bersyukurlah dalam berkarya. Itu kuncinya”.

Beberapa waktu lalu saya memohon kesediannya untuk mengomentari naskah buku saya berjudul “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab: Percikan Gagasan untuk Pendidikan Masa Depan”. Buku setebal 230 halaman, berukuran 14 x 21 cm dan berharga Rp 40.000 tersebut kini sudah diterbitkan oleh Penerbit Mitra Pemuda, tepatnya pada Maret 2016. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan saya dan istri (Uum Heroyati) seputar pendidikan yang pernah dimuat di kolom opini dan wacana beberapa Surat Kabar di Cirebon seperti Fajar Cirebon, Kabar Cirebon dan Radar Cirebon sejak 2013 hingga 2015 sebagai hadiah untuk kedua anak kami (Azka Syakira dan Bukhari Muhtadin), juga upaya “turut serta” dalam membangun pendidikan dan bangsa Indonesia agar semakin beradab. Semoga saja Allah mengabulkan niat baik ini!

COVER BUKU PENDIDIKANBerikut merupakan komentar singkat nan “cerdas”-nya di cover buku saya yang kini sudah dibaca oleh pembaca dari berbagai kampus dan kota di seluruh Indonesia tersebut:

“Buku ini adalah sebuah otokritik, sebagai salah satu tanda bahwa ada cinta dan kepedulian pada nasib generasi penerus bangsa. Sebagai seorang pendidik, saya merinding membacanya. Buku ini sarat dengan narasi yang membesarkan hati, menyemangati, mengingatkan, menginspirasi, sekaligus memberikan pecutan hebat. Siapa saja perlu baca buku ini, karena bicara pendidikan adalah bicara tentang kita”.

Saya tentu belum mampu membalas kebaikannya selama ini, terutama dalam mengomentari buku saya. Namun saya berupaya tuk tak melupakan selamanya, minimal menghadiahkan untuknya satu eksamplar buku saya. Mudah-mudahan, karya tulis juga penerbitan yang masing-masing saya dan ia kelola mampu menginspirasi anak muda untuk merajut asa terbaiknya. Bahwa tak boleh cepat lelah dalam meraih cita-cita dan berbagi manfaat, karena selalu tersedia kesempatan juga peluang untuk bekerja keras dan melakukan hal terbaik sebagai jalan-proses pencapaiannya.

Kalau ia memiliki “Eduvision” (berdiri 2010) dengan moto “your book is your future”, maka saya memiliki “Mitra Pemuda” (berdiri 2011) dengan moto “satu kata mengubah dunia”. Setahu saya dua penerbit inilah penerbitan buku pertama dan yang kini familiar di wilayah III Cirebon dan sekitarnya. Jujur saja, saya tak menganggapnya “saingan”. Justru saya berkeyakinan, semakin banyak komunitas positif yang dikelola oleh kalangan muda kreatif (apalagi akademisi muda), itu pertanda Cirebon bahkan Indonesia memiliki masa depan yang cerah dan tentu saja lebih siap bersaing dalam level global.

Lagi-lagi, ah… tulisan ini terlalu sederhana untuk menjelaskan sisi-sisi unik dan inspiratif dari akademisi muda yang produktif menulis dan pandai bergaul ini. Pembaca tentu saja penasaran dengan orangnya. Iya kan? Mendengar namanya namun tak pernah bersua dengannya. Betul apa betul? Ya, sepintas, ia mungkin bukan siapa-siapa. Namun, percayalah ia akademisi muda yang memiliki akal budi yang penuh manfaat dan selalu berupaya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Maka, tulisan ini hanyalah sebuah kesaksian sekaligus bukti salut dan bangga saya kepadanya, bahwa ia merupakan salah satu akademisi yang telah membuktikan bahwa nama yang dimiliki mesti memberi efek terhadap tingkah laku serta cita-cita luhur: Budi Manfaat. Dalam nama, karya dan karirnya ia membuktikan bahwa asa bisa dirajut oleh siapapun yang hendak mendapatkannya, termasuk pembaca tulisan ini.

Akhirnya, wahai kaum muda… buku adalah kata, buku adalah karya, buku adalah nyata, bahwa kita bersepakat untuk mengubah Cirebon, Indonesia hingga Dunia dengan karya terbaik kita. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis belasan buku diantaranya: “Spirit to Your Success”, “Politik Sambalado”, “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”, dan lain-lain]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s