Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab

Ini aku dan anak keduaku, Bukhari Muhtadin, yang pada 10 Maret lalu genap berusia 2 tahun. Aku dan istriku menghadiahkan tuk dia dan kakaknya, Azka Syakira buku baru berjudul "Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab" setebal 230 halaman. Alhamdulillah...
Ini aku dan anak keduaku, Bukhari Muhtadin, yang pada 10 Maret lalu genap berusia 2 tahun. Aku dan istriku menghadiahkan tuk dia dan kakaknya, Azka Syakira buku baru berjudul “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab” setebal 230 halaman. Alhamdulillah…

“Manusia itu adalah barang tambang, laksana emas dan perak. Orang-orang terbaik diantara mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang terbaik juga di masa Islam, apabila mereka faqih fid-ddin.”—Muttafaq ‘alaih—

“Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut!” —Mohammad Natsir, dalam buku Percakapan Antar Generasi, 1989—

SEBUAH anonim mengingatkan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjangkau dan menemukan solusi atas berbagai tantangan yang menghinggapi dirinya.”

Anonim tersebut semakna dengan ungkapan fenomenal seorang da’i, pejuang, politisi, pendidik sekaligus negarawan muslim terkenal yang pada 2008 lalu mendapat gelar penghormatan dari pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional, Mohammad Natsir, sebagaimana yang dikutip di atas.

Ya, sebagai salah satu negara terbesar di dunia, Indonesia mengalami berbagai tantangan yang bertubi-tubi juga pelik. Dari munculnya berbagai pemikiran yang nyeleneh (seperti liberalisme agama dan sekularisme), terorisme, budaya permisif, pola hidup hedonistis, perkelahian antar kelompok, tawuran remaja, penyalahgunaan narkoba, sodomi, LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), pornografi, pornoaksi, prostitusi, seks bebas, pemerkosaan, pembegalan, pembunuhan, perampokan, mabuk-mabukan, perjudian, ijazah palsu, korupsi, kebijakan penyelenggara negara alias pejabat publik yang kerap membingungkan, dunia pendidikan yang terhantui kasus amoral, termasuk pandangan seputar ilusinya kurikulum hingga kultur positif yang nyaris terpenjara oleh hiruk pikuk duniawi; juga tantangan serupa lainnya.

Semua hal tersebut dapat kita saksikan secara terbuka, gratis dan masif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita. Baik melalui headline media (cetak seperti koran, majalah; media elektronik seperti televisi, radio), maupun media sosial seperti website, blog, twitter, facebook, youtube dan sebagainya. Atau bahkan terjadi di sekitar kita yang lebih dekat, dan—semoga saja ini tidak terjadi, karena tentu saja sangat memalukan—terjadi pada diri kita sendiri.

Berbagai pertanyaan pun muncul, misalnya, masih tersisa kah solusi terbaik yang dapat kita tawarkan untuk berbagai permasalahan yang ada? Langkah apa saja yang mesti ditempuh agar berbagai permasalahan tersebut dapat terselesaikan dengan baik dan tepat, tanpa menimbulkan masalah baru atau gejolak sosial?

Ya, intinya sebagaimana kandungan dan pesan ungkapan Natsir, jika kita sebagai bangsa ingin tidak terhanyut oleh tantangan dan kendala dalam berbagai bentuknya, maka bangsa ini mesti terus mencari titik tuju. Dengan kejelasan titik tuju, maka bangsa ini pun akan menemukan jalan dan langkah sigap sebagai jalan keluar. Kelak, dengan pola seperti itu maka berbagai tantangan dan kendala akan dengan sendirinya tersisihkan. Pola sekaligus jalan itu adalah jalan pendidikan.

Pendidikan sebagai Kunci

Kita semua mungkin pernah mendengar kisah ini, bahwa setelah dua kota besar Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, luluh lantak dibom atom Amerika, lalu Jepang menyerah kalah kepada Sekutu pada bulan Agustus 1945 silam, yang pertama sekali ditanyakan oleh Kaisar Hirohito adalah “berapa banyak guru yang masih hidup?”, bukan tentang jumlah kerugian material yang dialami Jepang.

Kisah tersebut bukan berarti materi tidak penting, justru ia merupakan suatu hal yang begitu penting. Namun di atas pentingnya materi ternyata masih ada hal lain yang lebih penting, yaitu guru. Ini menggambarkan kepada kita betapa pentingnya peran dan fungsi guru dalam membangun peradaban dan kemajuan sebuah bangsa. Bahkan ketika segala kekayaan sebuah bangsa sudah hancur lebur, untuk bangkit kembali yang diperlukan adalah guru, karena di tangan para gurulah terletak masa depan sebuah bangsa.

Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sendiri, misalnya, sungguh sangat besar dan tentu saja sangat menentukan. Guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa ini. Sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat integrasi kepada peserta didik dan masyarakat bangsa.

Pada tahap awal kebangkitan nasional, bahkan jauh sebelum itu, para ulama juga guru (ustadz/ustadzah)—atau sebutan lain—begitu aktif dalam organisasi keagamaan dan pembela tanah air untuk membina jiwa dan semangat para pemuda pelajar, santri, termasuk modal dedikasi, tekad, serta semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang mereka miliki.

Lakon historis tersebut perlu dipupuk, dipelihara dan dikembangkan sejalan dengan tekad dan semangat era globalisasi yang kompetitif ini demi masa depan bangsa yang lebih baik. Di samping kebutuhan mendesak terkait posisi Indonesia sebagai negeri besar dan negara muslim mayoritas terbesar di dunia.

Berbicara guru sebetulnya bermakna berbicara tentang pendidikan itu sendiri dengan segala macam turunannya. Pendidikan sendiri bukan sekadar di sekolah, tapi juga di rumah (keluarga) dan masyarakat dengan keragaman kultur, tradisi atau budayanya yang memiliki kandungan, konotasi atau terkait dengan pendidikan, yang tentu saja mampu menghadirkan peradaban yang lebih berkemajuan.

Pancasila bahkan telah menggariskan secara jelas dalam sila keduanya, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Ini menunjukkan bahwa negeri ini memiliki orientasi mulia, memuliakan manusia seutuhnya, menghadirkan karakter adil dan beradab bagi kemanusiaan dengan kandungan maknanya yang luhur sesuai pandangan hidup yang menopang urusan dunia juga akhiratnya.

Tidak itu saja, bahkan dalam syair lagu kebangsaan Indonesia Raya yang kerap dinyanyikan di berbagai momentum juga diingatkan “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…. Untuk Indonesia raya”. Dalam konteks membangun bangsa, jiwa (karakter, visi, misi, orientasi, cita-cita) dan badan (fisik, infrastruktur dan serupanya) mestinya dibangun secara menyeluruh, walau tetap berpijak pada perioritas utama.

Karena substansi kehadiran negara adalah untuk mengurus manusia atau kemanusiaan; maka dengan begitu, jiwa manusianya tetap menjadi hal utama dan perioritas, baru kemudian kepentingan badannya. Itulah substansi dan orientasi mulia kebangsaan dan kenegaraan kita yang sesungguhnya.

Dengan begitu, sibuk dan fokus mengalokasikan anggaran untuk membangun dunia pendidikan lebih utama dan mendesak—yang manfaatnya lebih subtantif dan abadi, misalnya—daripada sekadar membangun patung atau batu untuk mengenang suatu peristiwa atau tokoh—yang manfaatnya hanya prosedural, simbolik semata dan sepintas lalu.

Dengan pemaknaan semacam itu, maka Indonesia yang beradab bukanlah sebuah orientasi mengawang-awang yang hanya fokus pada pembangunan peradaban bersifat prosedural dan duniawi tapi juga yang bersifat substansi dan ukhrawi. Ia bukan saja berbicara tentang hal-hal yang bersifat fisik atau materi (makhluk), tapi juga yang bersifat imateri (karakter, visi, misi, orientasi dan cita-cita) bahkan ilahiyah (Ketuhanan, Allah). Bukan kah pendidikan pada dasarnya mengarah dan bertujuan agar mencapai kebahagiaan sejati dalam bimbingan dan menuju kepada Allah baik di dunia maupun di akhirat? Bukankah kata “adil” dan “beradab” pada sila kedua itu sendiri dijiwai oleh sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengandung arti, makna dan pesan transendental (tauhid, ilahiyah) sebagaimana yang digariskan dalam Islam; bukan bermakna liberal dan sekularistik yang tidak memiliki pijakan yang kuat dan utuh?

Dalam buku Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun, seorang tokoh senior Muhammadiyah, Kasman Singodimedjo menegaskan: “Dan segala tafsiran dari Ketuhanan Yang Maha Esa itu, baik tafsiran menurut historisnya maupun menurut artinya dan pengertiannya sesuai betul dengan tafsiran yang diberikan oleh Islam.” (Lihat, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hal. 123-125).

Pendidikan karakter yang akhir-akhir ini sedang digiatkan di dunia pendidikan kita, tentu agar mencapai mental dan sikap “adil” dan “beradab” mestinya dilaksanakan dengan berdasarkan kepada konsep Tauhid. Sebab itulah sebenarnya makna dan konsep yang paling tepat bagi pendidikan karakter di Indonesia, sesuai dengan makna Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sekadar mengingatkan kita, Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Situbondo, Jawa Timur, pada 16 Rabiulawwal 1404 H/21 Desember 1983 silam memutuskan sebuah Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam, yang antara lain menegaskan: (1) Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. (2) Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang-undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam. (3) Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. (Lihat, pengantar KH. A. Mustofa Bisri berjudul “Pancasila Kembali” untuk buku As’ad Said Ali, Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa, (Jakarta: LP3ES, 2009). Lihat juga, Munawar Fuad Noeh dan Mastuki HS (ed), Menghidupkan Pemikiran KH Achmad Siddiq, (Jakarta: Pustaka Gramedia Utama, 2002), hal. 118-145).

M. Ali Haidar, dalam bukunya, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), memberikan komentar terhadap keputusan Munas Alim Ulama tersebut: “Penegasan ini sebenarnya bukannya tidak terduga. Seperti dikemukakan Hatta ketika bertemu dengan beberapa pemimpin Islam tanggal 18 Agustus 1945 menjelang sidang PPKI untuk mengesahkan UUD, mereka dapat menerima penghapusan ‘tujuh kata’ yang tercantum dalam Piagam Jakarta, karena dua alasan. Pertama, bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan monoteisme tauhid dalam Islam. Kedua, demi menjaga kesatuan dan keutuhan wilayah negara yang baru diproklamasikan sehari sebelumnya… Salah seorang yang dipandang Hatta berpengaruh dalam kesepakatan ini ialah Wachid Hasjim, tokoh NU yang memiliki reputasi nasional ketika itu. Jadi rumusan deklarasi itu hakekatnya menegaskan kembali apa yang telah disepakati sejak negara ini baru dilahirkan tanggal 18 Agustus 1945 yang lalu.” (hal. 285-286).

Karena itu, sebagai penegasan, sudah sepatutnya pendidikan karakter di Indonesia memang didasarkan kepada konsep Tauhid, sehingga memiliki landasan, konsep, dan teladan (uswatun hasanah) yang jelas yaitu nabi Muhammad Saw. Sebagai aplikasinya, misalnya, karakter “toleransi”, harus diberi batasan, bahwa umat Islam tidak boleh bertoleran terhadap kemusyrikan, kemunafikan, kesesatan, kezoliman, kemunkaran, kebatilan, kriminalitas dan sebagainya.

Dalam tataran kebangsaan, sudah sepatutnya, negara tidak menfasilitasi berkembangnya paham-paham syirik dan menyesatkan lainnya yang bertentangan dengan konsep Tauhid yang menekankan adanya keadaban pada kehidupan manusia. Maka, keliru, jika atas nama liberalisme, pluralisme dan multikulturalisme, siswa diajarkan agar bertoleran terhadap segala bentuk aliran sesat atau kelompok yang jelas-jelas menebar kemungkaran, misalnya.

Yang benar—menurut Adian Husaini (2013)—negara wajib melindungi segenap warganya, khususnya warga Muslim, agar tidak melakukan berbagai tindakan amoral dan tidak mengikuti paham syirik dan kemungkaran. Yang terangkit perilaku amoral dan penyakit syirik, diupayakan agar berbenah diri dan bertobat. Bukan malah dikembangkan dengan alasan bahwa itu merupakan local wisdom secara serampangan. Anak-anak Muslim perlu ditanamkan untuk memiliki karakter yang kuat dalam bertoleransi, tetapi tanpa merusak keimanannya dan tetap didorong untuk aktif menjalankan kewajiban dakwah, yakni malaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Itulah model umat yang mampu membangun bangsa dan dunia yang benar-benar beradab.

Tentang Buku ini

Buku ini merupakan kumpulan opini atau tulisan penulis—yang bernada kritik, saran, refleksi dan catatan—yang pernah dimuat di Kolom Wacana Harian Umum Radar Cirebon, Kolom Opini Harian Umum Fajar Cirebon dan Kolom Opini Harian Umum Kabar COVER BUKU PENDIDIKANCirebon selama beberapa waktu berjalan terutama tema seputar pendidikan dari berbagai sisi, di samping masalah lain yang dianggap perlu; ditambah dengan tulisan lepas atau coretan singkat yang berserakan dalam berbagai kertas kusam juga dua laptop yang sangat berjasa dan tak pernah mengeluh untuk menemani penulis selama sekitar 5 tahun terakhir.

Penulis menyadari bahwa tak pantas mengidentifikasi diri ke dalam kelompok manusia yang disinggung Dean Koontz dalam pengantar buku David Copperfield’s Tales of the Impossible (1995) yang mengatakan, “Semakin sering orang menulis dan semakin sering orang memikirkan tulisannya, semakin bagus juga karyanya.”

Bagi penulis, sederhana saja, menulis adalah suatu bentuk ekspresi personal yang sangat bebas dan merdeka. Melalui penulisan, penulis menggunakan hak sebagai warga negara untuk menyampaikan pikiran, pendapat dan interupsi secara bebas, masuk akal sehat dan apa adanya.

Dengan begitu, menulis sebagai salah satu sarana menyampaikan pikiran, pendapat dan interupsi bukanlah kegiatan yang penuh dengan berbagai ancaman—apalagi pembunuhan, sama sekali tak ada firasat untuk ancaman semacam itu. Karena itu, ketika menulis penulis tidak pernah membayangkan akan ada orang yang menuding-nuding penulis karena tulisan penulis jelek, tidak jelas, tak berisi dan tak sesuai selera mereka.

Ketika menulis, penulis tak membayangkan bahwa ada penilai dan pemberi sanksi yang akan melototi tulisan (opini) penulis. Penulis berupaya memperlakukan kegiatan penulisan sebagai ekspresi personal yang tak boleh diganggu oleh ancaman, penilaian buruk dan—apalagi—sanksi berat seperti terkekang dalam bilik besi penjara atau pembunuhan seperti yang kerap terjadi di masa lalu, baik era Orde Lama (Orla) maupun era Orde Baru (Orba).

Sehingga dengan demikian, dalam buku ini pembaca akan menemukan ada banyak pilihan kata yang sangat bias, sobjekif, emosional bahkan provokatif, di samping beberapa pengulangan yang secara ilmiah mungkin tak layak dan sistematika penulisan yang jauh dari standar ilmiah. Bagi penulis, ini bukan korupsi kata dan egoisme yang tak wajar, tapi memang inilah penulis, memilih menulis dengan jalan bebas tanpa satu pun kekuatan yang menghambat atau menghalangi untuk menulis.

Di samping itu, memang setiap tulisan punya konteksnya masing-masing sesuai kondisi dimana tempat, kapan waktu dan tentang apa sebuah tulisan dibuat. Jadi, bagi penulis itu bukan sebuah masalah, justru menjadi penguat untuk sebuah pembahasan atau tema yang sedang dibahas.

Penulis percaya, dengan sikap seperti ini sebetulnya setiap orang bisa menulis—walau tak harus menjadi seorang “penulis” seperti mereka yang telah banyak menghasilkan karya tulis yang mencerahkan juga menginspirasi publik selama ini—tanpa ada satu pun hambatan yang membatasinya untuk mewariskan salah satu tradisi para pejuang kebenaran dalam kanvas sejarah kemanusiaan ini.

Untuk kebutuhan penerbitan dalam bentuk buku, akhirnya seluruh tulisan yang ada penulis elaborasi kembali hingga menjadi satu naskah buku yang diberi judul “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab; Percikan Gagasan untuk Pendidikan Masa Depan” seperti yang ada di hadapan pembaca sekarang. Harapannya, dapat memudahkan pembaca dalam membaca dan mengambil banyak manfaat dari seluruh tulisan yang ada.

Pada dasarnya banyak hal yang terjadi di luar sana. Namun penulis menyadari betapa penulis baru mampu merespon semampu dan seadanya saja. Jadi buku ini pun benar-benar sederhana, bukan saja dari sisi bentuknya tapi juga dari sisi isi atau kandungannya.

Walau begitu, penulis dapat meyakinkan bahwa buku ini sejatinya dapat pembaca miliki, baca dan pahami serta mengambil manfaat darinya. Baik untuk menambah wawasan dan pengetahuan maupun sebagai kenangan dan hadiah kepada orang-orang yang dicintai. Selebihnya, bukan kah aktif membaca—sebagaimana menulis juga diskusi dan penelitian—adalah salah satu ciri manusia beradab dan bangsa yang berperadaban maju?

Terima Kasih

Hadirnya buku sederhana ini meniscayakan penulis untuk menyampaikan rasa syukur kepada Allah Swt. yang telah memberi penulis nikmat berupa nikmat iman, ilmu, waktu juga kesempatan selama ini, termasuk menganugerahkan bagi penulis banyak hal sehingga buku ini berhasil dihadirkan. Ya Allah, jadikan buku ini sebagai wujud syukur kepada-Mu sekaligus warisan terbaik untuk generasi penerus penulis kelak!

Selanjutnya, secara moral penulis perlu menyampaikan terima kasih kepada banyak orang yang telah berjasa dalam berbagai bentuk dan caranya, baik langsung maupun tidak langsung.
Siapapun yang telah membantu dan berjasa banyak serta memberi komentar, saran dan kritik atas buku ini, yang sebagian nama-namanya dapat pembaca baca di bagian awal buku ini, sementara sisanya tak cukup penulis sebutkan dalam pengantar sederhana ini. Atas jasa mereka-lah akhirnya buku ini berhasil diterbitkan dan semakin memiliki nilai lebih dan terasa nikmat ketika dibaca. Semoga kontribusinya menambah berat timbangan amal soleh di sisi-Nya!

Seluruh Guru dan Dosen, baik yang telah mendidik penulis selama 20 tahun terakhir (1996-2016) maupun mereka yang berada di seluruh pelosok bumi Nusantara (Indonesia), yang telah berkomitmen, selalu bertekad dan teguh berjuang dalam dunia pendidikan. Percayalah, kontribusi apapun, selama dilakukan dengan baik dan ikhlas, insya Allah akan menghasilkan yang terbaik dan mendapat balasan terbaik dari Sang Kuasa, Allah.

Keluarga besar Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (IAI BBC), baik Para Pimpinan, Dosen, Seluruh Karyawan maupun Mahasiswa yang secara diam-diam atau terang-terangan telah banyak menginspirasi, memotivasi, menyemangati, mendukung dan mendoakan penulis dalam berbagai hal, termasuk Pegiat PENA IAI BBC dan para Pengunjung Perpustakaan IAI BBC yang selalu membuat penulis tersulut untuk terus belajar, tak terkecuali dalam hal kepenulisan.

Keluarga besar SDIT Sabilul Huda-Cirebon (Teman-teman guru dan seluruh siswa juga karyawan) yang secara diam-diam atau terang-terangan telah banyak menginspirasi, memotivasi, menyemangati, mendukung dan mendoakan penulis dalam berbagai hal. Semoga semuanya mendapatkan balasan terbaik dari Allah.

Pimpinan dan Tim Redaksi untuk beberapa Harian Umum di Cirebon seperti Radar Cirebon, Kabar Cirebon dan Fajar Cirebon yang telah berkenan menerima dan memuat tulisan penulis selama ini, khususnya di Kolom Wacana atau Opini di tiap pekannya; termasuk Pimpinan dan Staf Radar Cirebon Televisi (RCTV) yang hingga kini masih mengundang penulis menjadi Narasumber di acara Selamat Pagi Cirebon (SPC). Atas bantuan dan peran publikasi dari semuanya membuat penulis semakin termotivasi untuk terus belajar termasuk untuk menulis. Semoga jasanya bernilai amal soleh di sisi Allah Swt.

Para penulis di Cirebon dan sekitarnya yang turut menginspirasi penulis untuk terus menulis dalam berbagai bentuk dan jenisnya tak terkecuali dalam bentuk opini yang dimuat di berbagai media massa. Semoga pena kita tak pernah lelah untuk menorehkan karya terbaik bagi pencerahan publik dan pendidikan bangsa.

Orangtua (Bapak, Mama), Nenek, Kakak dan semua keluarga besar di beberapa kota di seluruh Indonesia yang telah menginspirasi, memotivasi, menyemangati, mendukung dan mendoakan penulis selama ini dalam berbagai aktivitas juga dalam meraih impian atau cita-cita. Semoga seluruh jasa dan kebaikannya mendapat balasan terbaik dari Sang Kuasa, dan semuanya mendapat tempat kembali yang terbaik berupa surga-Nya. Buku ini penulis hadiahkan untuk semuanya, sebagai ucapan terima kasih dan bukti cinta kepada keluarga besar, insya Allah.

Anak tercinta, Azka Syakira (Azka) dan Bukhari Muhtadin (Bukhari) yang masih lucu-lucunya, yang begitu tulus menemani dalam berbagai aktivitas selama ini. Nak, Ayah dan Bunda mohon maaf jika selama ini belum mampu membanggakan, menyamankan dan membahagikan kalian. Nak, buku ini Ayah dan Bunda hadiahkan untuk kalian. Semoga ia menjadi penambah sumber motivasi dan penyemangat diri, sekaligus bermanfaat dan terwariskan hingga ke alam abadi kelak. Mohon doakan Ayah dan Bunda agar mampu menjadi Ayah dan Bunda terbaik bagi kalian, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Keluarga besar Penerbit Mitra Pemuda yang telah banyak berjasa dalam menghadirkan buku ini. Semoga Allah menyediakan balasan terbaik.

Syahdan, penulis menyadari selalu ada ide, gagasan, komentar dan pendapat yang tak selalu disepakati oleh pembaca, tak terkecuali yang tertulis dalam bentuk buku. Ya, penulis sangat menyadari kekurangan, kelemahan dan keterbatasan penulis dalam menghadirkan buku ini dari berbagai aspek, terutama isi, sistematika dan referensi; karena itu kritik, saran dan interupsi dari pembaca setia selalu penulis nantikan, sehingga karya selanjutnya lebih baik dan semakin sempurna.

Di atas segalanya, meskipun banyak sekali pihak yang secara diam-diam atau terang-terangan turut berkontribusi bagi hadirnya buku ini, tanggung jawab atas keseluruhan isi dan pembahasannya di hadapan hukum adalah tanggung jawab penulis. Semoga buku ini menjadi awalan yang baik, yang “Kalau kita sudah memulai, maka tuntaskan!” (Emha Ainun Najib, 2013), semuanya untuk pendidikan dan bangsa Indonesia yang semakin beradab! [Oleh: Azka Syakira—Redaksi Penerbit Mitra Pemuda. Tulisan ini merupakan Kata Pengantar Penulis (Syamsudin Kadir dan Uum Heroyati) pada buku berjudul “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab (Percikan Gagasan untuk Pendidikan Masa Depan)” setebal 230 halaman, terbitan Penerbit Mitra Pemuda (Maret 2016) dengan judul “Pendidikan untuk Peradaban Bangsa yang Maju” pada halaman 19-33. Pusat informasi: 085 323 027 046]

Sumber:
https://mitrapemuda.wordpress.com/2016/03/13/membangun-pendidikan-dan-bangsa-yang-beradab/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s