Bekal Menulis Direktur Mitra Pemuda

Azka dan AyahnyaSEBAGAIMANA kesuksesan yang membutuhkan bekal, menulis juga begitu, ia membutuhkan bekal. Masing-masing orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Dalam menghasilkan sebuah karya tulis apapun jenisnya, setiap orang memiliki persiapan-persiapannya, memiliki bekalnya masing-masing.

Jika dalam membangun usaha membutuhkan bekal berupa rencana, dana dan sarana penunjang, maka dalam menulis juga membutuhkan bekal yang mesti dipersiapkan. Apa saja bekal yang mesti dimiliki bagi seseorang yang ingin menulis—dalam hal ini buku atau semacamnya?

Dari pengalaman saya sebagai Direktur Eksekutif Mitra Pemuda selama ini, paling tidak ada lima bekal yang saya miliki yaitu banyak menulis, banyak membaca, banyak berdiskusi, banyak berjalan dan banyak silaturahim.

Pertama, banyak menulis

Untuk mematangkan satu tulisan, atau jika ingin menuntaskan sebuah tulisan, biasanya saya membangun mental dan kesadaran dalam diri saya akan pentingnya sebuah tulisan. Lebih dari itu, saya menginternalisasi diri saya akan pentingnya sebuah tulisan yang sedang saya garap. Rasa ‘penting’ tersebut saya tidak diamkan begitu saja, tapi saya wujudkannya dalam sebuah tulisan. Selain bukuku ya_nmenulis tentang tema yang sedang atau ingin ditulis, saya juga menuliskan beberapa alasan mengapa saya perlu menulis tentang tema bersangkutan. Sehingga dengan begitu, dengan sendirinya saya banyak menulis. Bukan saja tentang tema yang sedang saya geluti, tapi juga mengenai alasan-alasan mengapa saya perlu menulis tentang tema tersebut.

Selain itu, saya juga membiasakan diri untuk menulis apa saja yang membuat tradisi menulis dalam hidup saya begitu masif. Saya tidak memikirkan apakah tulisan saya nanti bermanfaat atau tidak, bagus atau tidak, sesuai EYD atau tidak, itu bukan fokus saya. Yang menjadi fokus saya adalah menulis, ya banyak menulis. Selain untuk membiasakan diri, itu saya lakukan untuk mengingatkan alam bawa sadar saya akan pentingnya menulis, di samping untuk membiasakan jari-jari saya untuk selalu semangat menulis.

Untuk membantu semangat dan niatan ini, saya pun terbiasa menulis dalam HP saya. Kemudian, kalau berpergian saya memastikan untuk membawa kertas kecil dan bulpen. Melalui HP dan kertas kecil itulah saya menampung setiap sesuatu yang menurut saya perlu dicatat. Baik yang terlintas dalam pikiran, hasil refleksi atas sebuah bacaan, pengamatan atas lingkungan sekitar maupun apa yang saya saksikan di TV dan respon saya atas pemberitaan koran, inspirasi majalah, bahasan buletin dan sejenisnya yang saya baca.

Dengan kebiasaan seperti itu, saya pun berhasil menulis ribuan halaman tulisan. Ada yang berbentuk buku, makalah, artikel, puisi, renungan, nasihat dan seterusnya. Walau tak seberapa, bagi saya, apa yang saya coba biasakan selama beberapa waktu sudah memberi efek positif bagi niatan saya untuk menulis dan terus menulis setiap hari.

Di atas segalanya, hingga kini saya sudah terbiasa menulis. Yang terlintas dalam pikiran saya, kalau saya ingin menghasilkan karya tulis—apalagi yang bener-benar bermanfaat dan memberi efek positif bagi pembaca, termasuk diri saya—maka saya mesti banyak menulis. Saya sadar betul dengan pernyataan bijak yang menyatakan orang bisa karena biasa. Nah, itu pengalaman saya. Tentu saja masih banyak orang yang berpengalaman, Anda layak belajar kepada mereka. Saya sudah dan akan terus melakukan hal yang sama. Semoga saya dan Anda saling menyemangati!

Kedua, banyak membaca

Sebagaimana menulis, membaca juga dapat menstimulus seseorang untuk menulis. Saya sendiri memiliki kebiasaan membaca. Semoga pengalaman saya menginspirasi Anda untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari saya. Sejak 2006 yang lalu hingga kini, saya terbiasa membaca minimal 2-5 buku perhari. Buku apa saja, yang penting buku. Kalau buku setebal 100 halaman, biasanya saya habiskan hanya 2 jam-an. Sehingga kalau bukunya setebal itu atau kurang dari itu, dalam sehari saya bisa membaca 4-5 buku. Tapi kalau buku setebal 300-500 halaman kadang saya selesaikan sehari penuh atau paling tidak dua sampai tiga hari. Lelah memang, tapi kalau rasa ingin tahu itu begitu kuat, maka setebal apapun akan selesai juga, ya akan terbaca juga.

Mengapa saya membaca sebanyak itu? Awalnya, dulu kan saya sekolah dan kuliah dengan biaya yang serba kekurangan. Sehingga saya pun nyaris tidak memiliki buku mata pelajaran atau bidang study yang mesti saya miliki. Kondisi itulah yang membuat saya berpikir lebih keras, bagaimana caranya agar saya tetap belajar tapi tidak menyusahkan hidup saya. Akhirnya saya pun sering meminjam buku teman-teman. Tujuannya satu, membaca.

Selain untuk menghemat biaya, saya terbiasa membaca sebetulnya karena buku-buku yang saya baca. Sejak SD saya sudah terbiasa membaca buku-buku populer dalam berbagai tema, termasuk seputar motivasi dan semangat hidup. Alhamdulillah, dari situlah semangat baca saya nyaris tak terbendung. Ya, saya banyak membaca karena motivasi dari para penulis yang berhasil menulis buku dengan penjelasan atau pemaparan yang begitu menarik, inspiratif dan menyentuh hati saya.

Selain itu, saya menyadari bahwa dengan banyak membaca, maka stok ilmu, pengetahuan dan pengalaman saya semakin banyak. Walau tak seberapa, dengan banyak membaca saya merasa begitu banyak perubahan dalam hidup saya. Skema dan peta hidup saya pun menjadi berubah juga.

Karena saya bukan tipe pembaca tematik (khusus), saya pun membaca semua jenis buku. Saya tidak melihat siapa penulisnya, saya juga tidak peduli mereka menulis tentang apa, selama ada buku yang di dalamnya ada tulisan, maka akan saya lahap habis. Bukan sombong, sampai-sampai suatu ketika teman saya berkomentar atas kegilaan saya ini, “Mas ini kaya keracunan ya. Semuanya dibaca.” Ya itu pengalaman saya. Intinya, kalau saya ingin menulis tentang satu tema tertentu, maka saya pun membiasakan diri untuk membaca banyak buku, terutama seputar tema yang hendak saya tulis. Dengan begitu, tulisan saya pun terasa lebih baik dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. Karena itu, bagi saya membaca adalah menulis itu sendiri. Keduanya merupakan satu keterpaduan yang utuh.

Ketiga, banyak berdiskusi

Berdiskusi adalah sarana terbaik untuk membangun kematangan gagasan mengenai tema yang hendak ditulis. Katakanlah saya ingin menulis tentang motivasi menulis, maka ia mesti banyak membaca dan menulis tentang menulis. Nah, agar apa yang saya baca dan tulis lebih matang dan memberi efek positif, maka saya mesti mendiskusikannya dengan orang-orang yang berpengalaman. Atau bahkan saya bisa berdiskusi dengan mereka yang tidak berpengalaman sama sekali.

Berdiskusi adalah sarana paling mujarab untuk memunculkan ide yang terpendam. Tak jarang sebuah ide menjadi lebih matang ketika saya didiskusikan. Selain itu, dengan berdiskusi biasanya akan muncul gagasan-gagasan baru yang memperkuat ide tentang tema yang akan ditulis.

Saya sendiri terbiasa berdiskusi dengan teman-teman. Ada yang bertemu langsung, tapi ada juga yang tidak langsung. Secara sederhana, misalnya, saya sering telponan, SMS-an, facebok-an, e-mail, blog dan seterusnya. Ada banyak tema yang saya diskusikan, intinya berdiskusi. Dengan begitu, kosa kata saya bertambah banyak, pilihan kata saya lebih baik, dan kalimat saya menjadi lebih renyah. Bahkan yang lebih penting lagi, gagasan dalam tema yang saya diskusikan semakin tajam dan menyentuh alam bawa sadar saya. Akhirnya, tulisan saya pun semakin oke juga. Sederhananya, diskusilah yang membuat saya menjadi berbeda dari biasanya.

Keempat, banyak berjalan

Ini mungkin satu kebiasaan yang jarang dimiliki oleh setiap orang. Tapi percayalah dengan banyak berjalan suasana hati dan alam bawa sadar seseorang akan berubah dan semakin menemukan banyak hal yang belum seseorang temukan sebelumnya.

Saya sendiri membiasakan diri untuk berjalan santai setiap hari. Misalnya, di pagi hari saya berusaha untuk berjalan-jalan sekitar 50-100 meter dari rumah ke tempat yang saya suka. Kadang ke warung, ke kompleks perumahan dan begitu seterusnya.

Selain itu, pada sore harinya saya membiasakan diri untuk berjalan santai ke gang-gang rumah tetangga dekat rumah. Selama berjalan santai seperti itu saya menemukan banyak hal baru dan unik. Bukan saja layak dinikmati, bahkan semua yang saya dapatkan menambah semangat saya untuk menuliskannya dalam sebuah tulisan ringan. Lucu ya lucu, karena setiap yang ‘aneh’ juga saya tulis. Ada nenek-nenek yang berpacaran dengan kakek-kakek, ya tentu saja suami mereka masing-masing. Terus para pedagang yang begitu semangat dalam menjual dagangannya, dan begitu seterusnya.

Dengan banyak berjalan, pikiran saya yang terasa sumpek biasanya langsung segar kembali. Otot-otot yang dirasa sakit terasa nikmat kembali. Sehingga pikiran saya pun kembali normal, dan tentu saja ketika ingin menulis pun tak ada hambatan lagi. Semangat untuk menulisnya hadir begitu saja.

Intinya, kalau saya ingin menuntaskan sebuah tulisan saya membiasakan diri untuk berjalan-jalan. Bahkan tak hendak menulis pun saya mengupayakan untuk berjalan-jalan. Orientasinya ya agar pikiran tak jenuh dan hati tak sumpek. Semakin terbiasa berjalan santai, maka semakin banyak inspirasi yang didapat.

Jadi, jalan-jalan adalah cara lain untuk menemukan inspirasi dalam menuntaskan berbagai tulisan saya.
Kelima, banyak silaturahim

Inilah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh para penulis hebat. Dari banyak buku yang saya baca dapat dipastikan para penulisnya adalah orang-orang yang suka bersilaturahim. Mereka adalah orang-orang yang mampu menemukan gagasan berserakan di rumah-rumah sahabat, keluarga, dan tetangga mereka secara gratis.

Ya, silaturahim adalah satu tradisi unik yang layak dibiasakan oleh siapaun, terutama seorang yang ingin menulis buku atau semacamnya. Dengan silaturahim, selain berbagi pengalaman, tradisi ini juga dapat menghilangkan kejenuhan. Di samping menambah pengalaman dan stok pengetahuan.

Saya sendiri terbiasa dengan tradisi silaturahim. Walau kadang rasa malu itu muncul seketika, namun karena tekad dan niat yang sudah menghujam, akhirnya tradisi ini menjadi kebiasaan rutin. Walau tak terjadwal, namun bisa dipastikan saya punya kesemptan untuk silaturahim.

Oke, itu beberapa bekal saya yang sudah saya miliki selama ini. Bukan saja bekal untuk menulis, beberapa hal di atas juga sudah saya jadikan kebiasaan rutin dalam kehidupan saya. Dengan demikian, selain menambah bekal untuk menuntaskan berbagai tulisan, semuanya juga sudah menjadi hal yang menyatu dalam kehidupan saya—bahkan keluarga saya seperti istri dan anak saya. Saya dan Anda tentu saja berbeda pengalaman, namun semuanya punya manfaat dan nilainya masing-masing. Iya kan?

Saya memang bukan contoh yang pantas untuk soal kepenulisan. Namun Anda tak salah jika berkenan mengambil manfaat dari pengalaman saya seperti yang saya sampaikan di atas. Selebihnya, jika para penulis hebat di luar sana sudah memiliki bekal tersebut dan sudah memberi efek positif bagi keinginan mereka untuk menuntaskan karya tulis seperti buku, novel, cerpen, artikel dan semacanya yang mempesona dan layak dibaca para pembaca di luar sana, maka tentu saja Anda memiliki peluang yang sama untuk itu, bahkan untuk menghasilkan karya tulis yang lebih dahsyat dari itu. Saya yakin Anda bisa, asal Anda percaya bahwa impian Anda akan tercapai menjadi kenyataan. Lebih jauh, saya yakin Anda bisa, karena Anda diciptakan dengan luar biasa oleh Yang Maha di atas segala yang “maha”: Allah Swt. [Syamsudin Kadir, Direktur Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Nomor HP: 085 323 027 046]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s