Membangun Kembali Tradisi Ilmu Keislaman

Membangun kembali tradisi ilmu_nILMU adalah motor penggerak pemikiran dan aktifitas manusia. Kegiatan ilmu adalah aktifitas sangat tinggi nilainya di sisi Allah Swt. Tinggi rendahnya martabat manusia ditentukan oleh faktor ilmu. Bahkan Allah Swt. mengangkat derajat orang beriman dan berilmu dalam tingkatan derajat yang sama (QS. Al-Mujaadilah: 11). Melalui ilmu-lah manusia dapat mengenal Allah Swt. dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar. Bahkan dengan berilmu-lah umat Islam dapat berkontribusi positif dalam membangun peradaban umat manusia secara masif.

Klasifikasi Ilmu

Menurut Imam al-Ghazali, dari segi kewajiban mencari ilmu terkategori ke dalam dua pembagian yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang wajib bagi tiap-tiap individu muslim mengetahuinya. Mencakup ilmu yang berkenaan dengan i’tiqad (keyakinan). Ilmu-ilmu yang menyelamatkan dari keraguan (syakk) iman. Tujuan ilmu ini untuk menghilangkan kekeliruan iman, dan bisa membedakan antara yang haq dan bathil.

Dimensi lain—dari ilmu fardhu ‘ain—adalah ilmu-ilmu yang berkenaan dengan perbuatan yang wajib akan dilaksanakan. Misalnya, orang yang akan berniaga wajib mengetahui hukum-hukum fiqih perniagaan, bagi yang akan menunaikan haji wajib baginya memahami hukum-hukum haji. Dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang harus ditinggalkan seperti sifat-sifat tidak terpuji dan lain-lain.

Sedang ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian masyarakat Islam, bukan seluruhnya. Dalam fardhu kifayah, kesatuan masyarakat Islam secara bersama memikul tanggung jawab kefardhuan untuk menuntutnya. Dengan demikian—menurut Wan Mohd Nor Wan Daud (2003)—kategorisasi ilmu dalam Islam bersifat hierarkis dan tidak dikotomis.

Dinamisasi konsep fardhu ‘ain dan fardlu kifayah sangat signifikan menunjang pembaharuan pendidikan yang lebih beradab dan pembangunan peradaban umat manusia. Dalam perspektif Imam al-Ghazali, pengajaran yang baik itu bukan bersifat juz’i (parsial) tapi kulli (komprehensif). Kulli maksudnya, kurikulum yang membentuk kerangka utuh yang menggabungkan seluruh ilmu agama seperti tauhid, tasawuf, dan fikih. Menggabungkan antara ilmu agama dengan keterampilan duniawi. Tujuan kurikulum ini adalah membentuk mental ilmuan yang holisitik—pakar di bidang ilmu aqli sekaligus tidak buta ilmu syar’i.

Menurut Syed Mohammad Naquib al-Attas (2003), kekeliruan dalam pendidikan disebabkan oleh ketimpangan dalam memahami ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Sehingga menyebabkan kekacauan intelektual. Dalam pandangan Al-Attas, fardhu ‘ain bukanlah suatu kumpulan ilmu pengetahuan yang kaku dan tertutup. Cakupan fardhu ‘ain sangat luas sesuai dengan perkembangan dan tanggung jawab spiritual, sosial dan profesional sesesorang. Hal ini berarti bahwa Muslim diwajibkan menguasai ilmu-ilmu yang membantu memperoleh ilmu-ilmu yang lebih tinggi seperti ilmu dan ketrampilan membaca, menulis dan menghitung. Sedang ilmu fardhu kifayah terbagi menjadi delapan disiplin ilmu; ilmu kemanusiaan, ilmu alam, ilmu terapan, ilmu teknologi, perbandingan agama, ilmu kebudayaan Barat, ilmu linguistik dan ilmu sejarah.

Tradisi Ilmu Keislaman

Ilmu memiliki perhatian penting dalam tradisi Islam. Hal tersebut misalnya, dapat dilihat, Nabi Muhammad Saw. dan generasi gemilang setelahnya, dalam setiap episode historisnya selalu memberi titik berat kepada pengembangan tradisi keilmuan. Sebabnya, epistemologi—yang menjadi kerangka ilmu—adalah sentra aktifitas manusia (Kholili Hasib, 2014).

COVER BUKU PENDIDIKANSejak zaman Nabi Muhammad Saw., tradisi ilmiah tumbuh dan berkembang. Salah satunya yang terkenal adalah, komunitas Ilmiah Ashabu al-Suffah. Tradisi intelektual zaman Nabi Muhammad tersebut dapat dibuktikan dengan wujudnya madrasah Ashabu al-Suffah (yang hampir mirip dengan Pondok Pesantren era ini) yang diikuti oleh sekitar 70 orang sahabat Nabi saw.

Sekolah Rasulullah Saw. yang pertama tersebut didirikan sekitar kurang lebih 17 bulan sesudah Hijrah telah melahirkan generasi sahabat yang memiliki tingkat intelektualitas yang hebat, seperti Abu Hurairah, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, dan Abdullah bin Mas’ud. Peran madrasah ini begitu sentral, sebab, dari komunitas kajian ilmu inilah pandangan hidup Islam (Islamic Worldview) tersistemasi yang berasas al-Qur’an dan al-Sunnah. Tradisi keilmuan di madrasah Ashabu al-Suffah tersebut diteruskan dan dikembangkan, sampai akhirnya peradaban Islam mampu “menghegemoni” dunia yang membentuk mental keilmuan seorang muslim.

Maka tidak-lah heran jika seorang Orientalis, Fitcha, menggambarkan tradisi ilmu di Cordoba begitu hebat. Hingga ia menyimpulkan, Islam itu gemar membaca dan menulis dan Islam adalah agama yang mendorong pemeluknya untuk memperolah pengetahuan. Kekagaman Fitcha cukup beralasan, sebab di Cordova itu terdapat sebuah tempat untuk menyalin buku, yang menggunakan 200 lebih gerobak, yang digunakan untuk memindahkan buku-buku, yang diperuntukkan kepada mereka yang membutuhkan buku-buku langka untuk disalin.

Dalam konteks kekinian, tradisi keilmuan ini perlu dibiasakan, mengingat tantangan terbesar muslim kontemporer adalah rusaknya Ilmu. Rusaknya konsep ilmu akan berkonsekwensi pada kerusakan pemikiran dan metode memahami Islam. Apalagi, sebagaimana difatwakan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, kerusakan umat diakibatkan oleh kejahatan intelektual muslim (ulama’). “Seburuk-buruk manusia adalah ulama yang buruk”, kata Rasulullah Saw.

Oleh sebab itu, diskusi ilmu dan kajian ilmiah tak kalah mulyanya dengan ibadah shalat, shoum, haji dan ibadah lainnya. Bahkan pada zaman dimana kerusakan dan fitnah merajalela, kajian ilmiah menjadi lebih utama dam mesti ditingkatkan. Ibnu Abbas pernah mengungkapkan, “Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih aku sukai daripada menghidupkan malam itu.”

Singkatnya, jika umat Islam ingin berkontribusi secara masif dalam membangun peradaban umat manusia, salah satu jalan yang mesti ditempuh adalah kembali mengkaji secara mendalam, lengkap dan mapan berbagai sumber ilmu sesuai dengan yang dicontohkan oleh para pendahulu umat Islam. Pesantren, Madrasah, dan Perguruan Tinggi Islam serta Ormas Islam mesti menjadi pionir dan bertanggungjawab besar dalam mewujudkan agenda ini dalam lingkup kehidupan umat dan basis massa Islam. Simpul-simpul umat tidak lagi sibuk membangun massa yang hanya pandai berkerumun, karena ada satu tugas besar yang menanti dan mesti segera ditunaikan yaitu membangun barisan umat di atas bangunan ilmu yang produktif dan bermanfaat banyak bagi peradaban umat manusia, termasuk untuk negeri tercinta Indonesia. [Oleh: Uum Heroyati—Staf Redaksi di Penerbit Mitra Pemuda, Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon, Penulis buku “Membangun Pendidikan dan Bangsa yang Beradab”. Tulisan ini pernah dimuat pada halaman 12 Kolom Opini Harian Umum Kabar Cirebon edisi Jumat 11 Maret 2016]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s