Kota Cirebon Butuh Pemimpin Transformatif

Kota cirebonMENGAWALI tahun 2016 ini elite Kota Cirebon sepertinya masih saja terjebak dalam urusan kelompok atau golongan yang pragmatis dan loyo-lunglai. Bukan saja soal penentuan Wakil Walikota yang tersandera oleh kepentingan syahwat elite politik dan pelayanan publik yang masih dirasa “acak-acakan”, kini timbul masalah baru berupa kisruh soal batas wilayah antar Kota dan Kabupaten Cirebon. Di samping itu, soal kehendak sebagian elite politik agar rute Jalan Kartini menjadi satu arah, pengelolaan taman Kota yang asal, pembangunan gedung yang lamban dan sebagainya.

Berbagai pandangan dan pendapat sudah disuarakan oleh berbagai elemen publik dalam berbagai bentuknya. Harapannya tentu agar kelumpuan komunikasi elite politik segera berakhir dan stagnasi pelayanan publik segera selesai, sehingga Kota Cirebon semakin kondusif, dinamis, maju dan berdaya saing.

Pemimpin Transofrmatif

Napoleon Bonaparte pernah mengatakan “Leader is a dealer in hope. Seorang pemimpin, kata Bonaparte, adalah penjual sekaligus pembeli harapan. Ya, pemimpin yang autentik pastilah seseorang yang memiliki karakter yang kuat, punya visi yang mengakar pada kehendak publik, menjadi inspirator dalam setiap situasi, dan—ini yang lebih penting dan mendesak, terutama bagi publik (rakyat) akhir-akhir ini—ia mesti mampu memberi harapan meyakinkan di tengah kesulitan yang terus mendera.

Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt mungkin bukan sosok terbesar dalam sejarah. Namun, keduanya adalah figur yang mampu menginspirasi rakyatnya di masa paling sulit yang harus dilalui bangsanya. Chrucill membawa Inggris melewati ganasnya Perang Dunia II, sedangkan Rosevelt menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat ketika “Depresi Besar” sedang melanda negaranya. Rosevelt berhasil menyuntikkan harapan kala harapan menjadi satu-satunya yang tersisa dari bangsanya.
Dalam perjalanan sejarah negeri ini (Indonesia), kita juga mendapatkan suguhan menarik yang patut dikaji lebih mendalam. Lebih-lebih jika kita ingin agar negeri ini ke depan memiliki pemimpin yang lebih autentik, bukan saja dalam hal keterpilihannya tapi juga kinerjanya, maka mengambil hikmah juga pelajaran dari kepemimpinan masa lalu menjadi niscaya.

Soekarno (Bung Karno), Mohammad Hatta (Bung Hatta), Mohammad Natsir (Pak Natsir) dan para tokoh besar lainnya adalah sosok-sosok yang mampu memimpin, bukan saja dalam konteks struktur negara tapi juga dalam geo-psikologis masyarakat (rakyat) secara umum. Mereka mampu mengalahkan ego personal demi melompat jauh menjadi pemimpin yang inspiratif, menggelorakan juga membanggakan rakyatnya.

Para pemimpin tersebut—terutama ketiga nama yang disebutkan—adalah model pemimpin negeri ini yang unik. Ekspetasi publik kepada mereka pun bukan mengalir di saat mereka memimpin saja, tapi juga pasca mereka memimpin bahkan hingga kini di saat mereka telah tiada. Mereka pun mampu menjadi pemimpin yang terkenang sepanjang sejarah republik hingga kini. Sebagai pemimpin yang “transformatif”, mereka mampu menapak peran kepemimpinannya dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Tak ada basa-basi atau sekadar membangun citra, yang mereka miliki adalah kontribusi tanpa hiruk pikuk janji. Mereka gemar berbagi inspirasi hingga menggelorakan semangat publik untuk bekerja demi kemajuan bangsa, dan pada saat yang sama mereka tak gemar berpuisi janji, tapi lebih suka mengeja prosa. Merekalah—yang oleh Sastrawan terkenal, Taufik Ismail, menyebut mereka sebagai—tokoh dan pemimpin bangsa yang bukan saja dikenang sejarah, tapi juga mampu melahirkan banyak sejarah.

Dalam konteks menjadi pemimpin dalam berbagai skala dan levelnya di era ini, apa yang dilakoni oleh pemimpin besar bangsa ini di masa lalu sejatinya merupakan alarm paling akurat bagi kita bahwa pemimpin itu bukanlah satu nama untuk mereka yang kerap berjanji tapi suka mengingkari; pemimpin itu bukanlah satu panggilan untuk mereka yang begitu pandai memadu citra tapi hanya berbalut kepalsuan. Sebab, pemimpin adalah satu nama untuk mereka yang tak sibuk dengan janji dan tidak peduli dengan citra diri, karena mereka hanya sibuk membuat pekerjaan dan mengerjakan pekerjaan tersebut, sehingga mereka tercitra sebagai pemimpin yang layak diteladani. Tanpa media massa yang begitu masif mengenalkan mereka ke ruang publik pun, para pemimpin itu tetap saja dikenal dan dikenang oleh sejarah, termasuk oleh nurani rakyatnya.

Dalam studi kepemimpinan, politisi-negarawan pasti menerapkan model kepemimpinan tranformasional yang memiliki visi yang kuat dan memasa depan. Pemimpin model ini tidak mudah tersuluh dalam kubangan politik transaksional dengan berbagai jargon ilutif yang bisa jadi hanya branding di media massa demi meraup suara tanpa kejelasan arah. Pemimpin (politisi-negarawan) akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dalam memimpin, baik dalam skala individu maupun organisasi (Tichy dan Devanna, 1993).

Bass dan Avolio (1994), dalam buku Improving Organizational Efectiveness through Transformasional Leadership, kepemimpinan transformasional dicirikan oleh The four I’s, kepemimpinan transformasional dicirikan oleh The Four I’s (empat huruf ‘I’). Pertama, idealized influence, rakyat dibuat berdecak kagum, hormat dan percaya. Tidak ada elemen publik (yang benar-benar sesuai nurani publik) yang “menuduh” pemimpinnya sedang melakukan kebohongan publik—termasuk dalam berbagai situasi politik. Autentisitas menjadi mantra yang membuatnya “bersungguh-sungguh” bekerja untuk kepentingan publik.

Kedua, mampu menggelorakan inspirational motivation, menyuntikkan motivasi dan asa pada rakyatnya serta mampu merealisasikan harapan menjadi kenyataan.

Kemudian ketiga, intellectual stimulation. Gaya kepemimpinan transformasional kaya akan ide-ide baru, gagasan-gagasan baru juga terobosan yang inspiratif. Sebab sang pemimpin sadar betul bahwa pemimpin adalah leader bukan dealer.

Keempat, individualized consideration, yang mau mendengar keluhan bawahan, bersikap layaknya manusia, dan apa adanya. Dalam arti yang luas, pemimpin tidak membuat benteng pemisah dengan rakyatnya. Ia sadar bahwa diri dan yang dipimpinnya adalah “orang” bukan “orang-orangan”.

Ya, sederhana saja, masyarakat bahkan masa depan Kota Cirebon sama sekali tak membutuhkan pemimpin (baca: para elite politik dan penggawa institusi) yang sekadar menumpang panggung, tapi butuh pemimpin transformatif: pemilik optimisme dan pewujud harapan publik. Semoga Allah dan sejarah masih menyediakan pemimpin unik semacam itu. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direkur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku “Politik Sambalado” dan Pegiat PENA & Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s