Menelisik Tugas dan Tanggungjawab Guru

guruPENDIDIKAN merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir (Handerson, 1959). Bagi Handerson, pendidikan merupakan proses interaksi yang berlangsung aktif antar tenaga pendidik dan peserta didik. Walau begitu, Handerson menyadari bahwa walaupun proses ini berlangsung interaktif, tetap saja penentunya adalah tenaga pendidik. Sebab tenaga pendidik-lah yang memahami dan berpengalaman dalam melakukan proses pendidikan dalam berbagai polanya.

Dalam peraturan perundang-undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pendidikan dimaknai sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Sebagaimana disinggung Handerson, stakeholders yang paling berpengaruh di dalam proses pendidikan adalah pendidik. UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 6, menggariskan bahwa guru merupakan salah satu kualifikasi tenaga kependidikan—di samping dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Tugas dan Tanggungjawab Guru

Sebagai tenaga pendidik, negara menstandarkan guru mesti memiliki beberapa kompetensi, yaitu, pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional (UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat 1). Keempat kompetensi tersebut menjadi modal utama guru dalam menjalankan profesinya.

Kalau ditelisik, tugas dan tanggungjawab guru sangat terkait dengan kompetensi guru seperti yang digariskan oleh UU No. 14 di atas. Bahkan keempat kompetensi itulah yang menentukan efektifitas tugas dan tanggungjawab guru itu sendiri. Ini bermakna, jika hendak menjadi guru yang mampu menunaikan tugas dan tanggungjawabnya secara jenial, maka guru mesti memiliki keempat kompetensi tersebut.

Menurut Peters (1963), ada tiga tugas dan tanggungjawab guru, yakni; (a) guru sebagai pengajar, (b) guru sebagai pembimbing, dan (c) guru sebagai administrator kelas.

Jika ditelisik, ketiga tugas guru yang disampaikan Peters merupakan tugas pokok profesi guru. Pertama, sebagai pengajar. Guru sebagai pengajar, lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam menjalankan tugas ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, di samping menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkannya.

Guru yang efektif dalam menjalankan perannya sebagai pengajar akan tampak dalam situasi belajar yang diciptakannnya (Abdul Yassa, 2013). Situasi belajar yang dimaksud, menurut Abdul, ditunjukkan dalam banyak hal seperti keluwesan dalam mengajar, adanya empati dan kepekaan terhadap segala kebutuhan siswa, kemampuan mengajar sesuai dengan selera siswa, kemauan memberi peneguhan (reinforcement), kemauan memberi kemudahan, kehangatan dan cara mengajar yang tidak kaku, kemampuan menyesuaikan emosi, percaya diri dan ada keriangan dalam mengajar.

Kedua, sebagai pembimbing. Sebagai pembimbing guru mesti memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Tugas pembimbing, menurut Nana Sudjana (2011), merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan, tapi juga menyangkut perkembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa.

Ketiga, sebagai administrator kelas. Tugas ini pada hakikatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanaan bidang pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya. Dengan perkembangan sumber informasi dan pelayanan publik yang terus mendapatkan kritik bahkan cemoohan, maka kemampuan dokumentatif dan tertib administrasi benar-benar menjadi kebutuhan yang sangat mendesak dan mesti dimiliki oleh guru.

Dalam perkembangannya, guru juga memiliki tugas dan tanggungjawab yang berlipat. Hal ini, misalnya, dikatakan oleh Amstrong. Dalam pandangan, Amstrong (1981) guru memiliki tugas dan tanggungjawab dalam mengembangkan materi atau kurikulum pembelajaran dan membina dengan baik hubungan dirinya dengan masyarakat luas.

Jadi, keempat, sebagai pengembang kurikulum atau materi ajar. Ini bermakna, guru mesti mampu mengadaptasikan materi ajar terhadap realitas sosial dan kemungkinan yang terjadi di masa depan. Dengan begitu materi ajar mesti disampaikan lebih dinamis dan fleksibel, tidak kaku atau a-historis dengan kebutuhan zaman. Sehingga proses pembelajaran pun mestinya semakin efektif dan efesien.

Lebih ril, guru mesti memahamkan siswanya tentang hal-hal yang menjadi tantangan dan peluang zaman di tengah arus globalisme yang begitu canggih dan kompetitif. Guru perlu menyadarkan siswanya bahwa mereka bukan saja “manusia” yang layak mendapatkan ijazah, tapi juga—yang paling utama—mesti bersedia dan siap berkompetensi dengan berbagai “manusia” lintas latar belakang serta berkontribusi positif bagi kepentingan masyarakat luas, bangsa dan negara.

Kelima, sebagai penghubung dan perekat sosial. Diakui bahwa guru merupakan bagian dari masyarakat luas yang—dalam strata sosial dan nalar budaya—masuk kategori terhormat dan kerap ditiru. Ini bermakna, guru mesti menjadi pelaku utama dalam mewujudkan integrasi sosial masyarakat yang beragam dalam segala lingkupnya. Baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan di luar sekolah atau masyarakat luas.

Pada posisi demikian, guru mesti menyadari bahwa profesinya merupakan panggilan suci dan aktivitas mulia dan berdampak luas. Dengan begitu, ia mestinya menghargai, menjaga dan meningkatkan kualitas tugas dan tanggungjawab profesinya; di samping berani berkorban dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya.

Syahdan, meningkatkan kualitas tugas dan tanggungjawab profesinya sebagai guru merupakan kewajiban yang mesti terus menerus dipahami, diperhatikan dan disadari oleh guru. Sebab guru sejatinya bukan saja memiliki tugas dan tanggungjawab profesi, tapi juga memiliki tugas dan tanggungjawab moral sekaligus tugas dan tanggungjawab sosial sebagai bagian dari warga negara yang mesti berkontribusi positif dalam menatap masa depan bangsa dan negara tercinta Indonesia. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku (1) “Pendidikan dan Guru Peradaban”, (2) “Merawat Mimpi, Meraih Sukses”, (3) “PUBLISH or PERISH”, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s