Konsep Melahirkan Manusia Beradab

adab_s7DALAM khazanah Pendidikan Islam, ada beberapa istilah kunci yang identik maknanya dengan kata “pendidikan”, yaitu kata “tarbiyyah”, “ta’lim”, dan “ta’dib”. Mengenai hal ini, Pakar Pendidikan asal Malaysia Syed Muhammad Naquib al-Attas (al-Attas) mengungkapkan, bahwa istilah “ta’dib” (pendidikan adab) lebih tepat untuk menggambarkan proses dan tujuan dari pendidikan dalam konsepsi Islam, yaitu untuk membentuk manusia yang baik, yaitu manusia yang beradab.

Adab adalah kemampuan dan kemauan untuk mengenali segala sesuatu sesuai dengan martabatnya (Adian Husaini, 2014). Istilah adab bisa ditemukan dalam sejumlah Hadits Nabi Saw. Misalnya, Anas ra. meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Akrimuu auladakum, wa-ahsinuu adabahum”, muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka (HR. Ibnu Majah).

Salah satu pendiri Nahdhatul ‘Ulama (NU) KH. Hasyim Asy’ari, pernah menulis sebuah buku berjudul Adabul ‘Aalim wal-Muta’allim (edisi Indonesia: Etika Pendidikan Islam), (Yogyakarta: Titian Wacana, 2007). Terjemahan sederhananya: Adab Guru dan Murid. Buku ini membahas secara runut tentang masalah adab. Kiai Hasyim membuka kitabnya dengan mengutip hadits Rasulullah Saw. : “Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.” (Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik).

Dalam Islam, tanpa adab dan perilaku yang terpuji maka apa pun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan diterima di sisi Allah Swt. (sebagai satu amal kebaikan), baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi’liyah (perbuatan). Dengan demikian, dapat kita maklumi bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah Swt. adalah melalui sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.” (KH. Hasyim Asy’ari, Etika Pendidikan Islam (terj.), Yogyakarta: Titian Wacana, 2007).

Bentuk-bentuk Adab

Dalam Islam, adab terkait dengan beberapa hal, pertama, adab terkait iman (tauhid) dan ketakwaan, lebih dari sekadar “sopan santun”. Karena itulah, menurut Islam harkat dan martabat sesuatu atau manusia mesti didasarkan pada ketentuan Allah, dan bukan semata standar manusia.

Adab kepada Allah (tauhid) mengharuskan seorang manusia tidak menserikatkan Allah dengan yang lain. Maknanya, tindakan menyamakan al-Khaliq dengan makhluk merupakan tindakan yang tidak beradab. Karena itulah, maka dalam al-Quran disebutkan, Allah murka kepada orang-orang yang mengangkat Nabi Isa as. sebagai Tuhan sebab beliau adalah makhluk. Kriteria orang yang mulia, menurut al-Quran adalah orang yang paling taqwa. (QS. 49: 13). Maka, dalam masyarakat yang beradab, kaum Muslim harus menghormati seseorang (terutama) karena keimanan dan ketaqwaannya. Bukan karena (sekadar) jabatan, kekayaan, kecantikan, atau popularitasnya.

Kedua, adab terkait misi kenabian. Ini bermakna keniscayaan beradab kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan Allah Swt. Caranya yaitu dengan menghormati, mencintai, dan menjadikan beliau sebagai suri tauladan kehidupan (uswah hasanah) dalam segala hal. Sangat tidak beradab jika Sang Nabi disamakan dengan manusia biasa, sebab beliau manusia yang dimuliakan Allah Swt. dan ma’shum (bebas) dari dosa. Lebih tidak beradab lagi jika ada orang yang mengaku mencintai Sang Nabi tapi membenci bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi yang tentu saja dicintai oleh Nabi.

Ketiga, adab terkait dengan pewaris para nabi. Ulama adalah pewaris nabi. Maka, kewajiban kaum Muslim adalah mengenal dengan baik siapa ulama yang benar-benar menjalankan amanah risalah, dan siapa ulama “palsu” atau “ulama jahat” (ulama su’). Ulama jahat harus dijauhi, sedangkan ulama yang baik harus dijadikan panutan dan dihormati sebagai ulama. Mereka tidak lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan para umara; pejabat, birokrat, hakim, politisi, ekonom, budayawan, seniman, jurnalis, penulis dan sebagainya.

Keempat, adab terkait dengan ilmu. Al-Quran memuliakan manusia yang berilmu (QS. 35: 28, QS. 3: 7, QS. 58: 11). Ini bermakna, sesuai konsep adab, seorang Muslim wajib memuliakan orang yang berilmu dan terlibat dalam aktivitas keilmuan. Masyarakat yang beradab juga masyarakat yang menghargai aktivitas keilmuan. Tentu menjadi tidak beradab, jika aktivitas keilmuan dikecilkan, sementara aktivitas “hiburan”—apalagi yang memamerkan aurat dengan alasan seni dan melampaui batas kewajaran alias pornografi atau pornoaksi—diagung-agungkan. Suatu bangsa akan maju jika tradisi ilmu dan penghargaan terhadap ilmu dijadikan sebagai bagian dari tradisi para pemimpin dan rakyatnya.

Imam Syafi’i dalam sejumlah syairnya berkata : Wa’lam bi-anna al-ilma laysa yanaaluhu, man hammuhu fi math’amin aw malbasin. (Ketahuilah, ilmu itu tidak akan didapat oleh orang yang cita-cita hidupnya hanya untuk makanan dan pakaian); Falaw laa al-ilmu maa sa’idat rijaalun, wa laa ’urifa al-halaalu wa laa al-haraamu. (Andaikan tanpa ilmu, maka seorang tidak akan mendapatkan kebahagiaan dan tidak dapat mengetahui mana halal dan mana haram).

Dalam Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali mengingatkan, orang yang mencari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Hal ini semakna dengan sabda Rasulullah Saw. : “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”

Bahkan seorang ulama terkenal Ibn al-Mubarak pernah menyatakan: “Nahnu ilaa qaliilin minal adabi ahwaja minnaa ilaa katsiirin mina ’ilmi.” (Mempunyai adab meskipun sedikit lebih kami butuhkan daripada banyak ilmu pengetahuan).

Akhirnya, dengan berpijak kepada konsep pendidikan adab (Islam), kita berharap agar tujuan pendidikan nasional seperti yang digariskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, yaitu untuk membentuk manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, bisa mewujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Cirebon, Penulis buku “Pendidikan dan Guru Peradaban”, “PUBLISH or PERISH”, “Sukses itu Kamu”. Tulisan ini dimuat pada Kolom Opini halaman 10 Harian Umum Fajar Cirebon pada Kamis 7 Januari 2016]

Bisa baca di:
http://opini.fajarnews.com/read/2016/01/07/7861/konsep.melahirkan.manusia.beradab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s