Menatap Masa Depan Ciayumajakuning

Peta Ciayumajakuning
Peta Ciayumajakuning

Pendahuluan

Dalam skema pembangunan nasional, tiga wilayah di Jawa Barat yang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah wilayah Bandung dan sekitarnya (Bandung Raya), wilayah Bogor dan sekitarnya (Bogor Raya), serta wilayah Cirebon dan sekitarnya (Cirebon Raya).

Wilayah Cirebon Raya yang kerap disebut Wilayah III Cirebon meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan (Ciayumajakuning). Kawasan ini ditenggarai sebagai kekuatan ekonomi baru dan besar di Jawa Barat di samping kawasan Bandung Raya dan Bogor Raya.

Pemerintah daerah Se-Wilayah III Cirebon (baca: Ciayumajakuning) pada September 2010 dalam Forum Bersama yang difasilitasi Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah III Jawa Barat bersepakat untuk memproyeksikan Ciayumajakuning pada tahun 2028 sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang prestisius. Bahkan—menurut Ano Sutrisno (2011), Ciayumajakuning atau Cirebon Raya mesti menjadi magnet raksasa perekonomian, baik skala regional, nasional maupun internasional.

Ditambah lagi dengan letak beberapa daerah penyangga (Jawa Tengah) seperti Kabupaten Tegal, Brebes, Purwokwerto dan Pekalongan, kawasan Cirebon Raya benar-benar menjadi kawasan yang menjanjikan dan memiliki daya tarik yang menggiurkan bahkan pusat pembangunan ekonomi yang fenomenal.

Potensi

Kalau ditelisik, secara umum Wilayah III Cirebon merupakan salah satu kawasan yang sangat potensial dan strategis dari berbagai sisi. Pertama, kawasan ini memiliki potensi yang berlimpah. Potensi sumber daya alam (SDA) mencakup perikanan, pertanian, perkebunan, perdagangan, jasa, minyak dan gas.

Lalu, letak geografisnya juga sangat strategis. Kawasan ini merupakan tempat akses cepat ke berbagai tempat tujuan dengan jumlah pengunjung yang fantastis seperti ke Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Semarang.

Selanjutnya, topografinya yang khas. Ia mencakup daerah perairan, pesisir, pantai, dataran, hingga ke pegunungan. Semua daerah kabupaten dan kotanya terbentang dari Cirebon dan Indramayu sebagai daerah pesisir ke Majalengka dan Kuningan sebagai daerah pegunungan.

Kedua, kawasan ini ditopang oleh berbagai sektor yang sangat strategis dan menggiurkan. Misalnya, di sektor pertanian, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon merupakan salah satu lumbung padi nasional. Bahkan mangga gedong gincu terkenal sebagai produk unggulan Kabupaten Majalengka, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Indramayu yang sudah dikenal secara nasional dan Asia Tenggara.

Kemudian sektor industri jasa dan manufaktur. Beberapa diantara yang sangat terkenal dan memberi efek ekonomis adalah batik, rotan, makanan olahan, dan perdagangan, semuanya terpusat di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon.

Selain itu, produksi bola yang kini bukan saja terkenal di dalam negeri tapi juga di luar negeri karena sudah diekspor ke Eropa dan Afrika Selatan. Bola merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Majalengka. Berikutnya, kawasan ini juga memiliki stok minyak dan gas yang menjanjikan, yang hingga kini masih dikelola PT Pertamina. Ini merupakan salah satu unggulan Kabupaten Indramayu.

Dari sektor pariwisata, Kabupaten Kuningan memiliki unggulan tersendiri. Dalam konteks ini, misalnya mengandalkan kelestarian hutan di sekitar Gunung Ciremai dengan segala daya jualnya. Demikian pula Kabupaten dan Kota Cirebon menyuguhkan wisata budaya sekaligus religi melalui kehadiran tiga keraton (Kesepuhan, Kanoman dan Kacirebonan) dan makam Sunan Gunung Jati yang dikunjungi oleh berbagai pengunjung atau wisatawan dari berbagai daerah (lokal-nasional) bahkan asing (manca negara).

Dari sektor infrastruktur, ada tol fantastis dan stasiun kreta api, serta yang terkini adalah bandara udara dan sebagainya. Infrastruktur tersebut memperlancar akses di Ciayumajakuning seperti tol Palimanan-Kanci dan tol Kanci-Pejagan yang kian mempercepat arus lalu lintas kendaraan dari Jawa Tengah ke DKI Jakarta. Transportasi kereta api rute Jakarta-Cirebon-Jakarta juga tersedia. Termasuk adanya Bandara Internasional Kertajati di Majalengka yang tentu saja sangat mendukung keberlanjutan pembangunan (ekonomi) kawasan ini ke depan.

Bukan itu saja, kawasan ini juga memiliki potensi air yang sangat berlimpah. Kabupaten Kuningan, misalnya, hingga kini masih “berbagi” air untuk warga Kota dan Kabupaten Cirebon. Ke depan, potensi ini tentu akan menjadi sumber ekonomi yang menguntungkan jika dikelola secara transparan dan semakin profesional.

Selain itu, kawasan ini juga memiliki berbagai sekolah unggulan yang berpretasi dalam berbagai kompetisi (regional dan nasional) dan menjamurnya Perguruan Tinggi dengan segala unggulannya. Karena pembangunan ekonomi beririsan dengan kualitas sumber daya manusia, maka keberadaan penyelenggara dan pusat pendidikan semacam itu semakin penting.

Beberapa hal di atas menjadi alasan paling akurat bahwa kawasan ini sangat layak dijadikan sebagai pusat pembangunan. Bukan saja dalam kerangka sebagai penunjang pembangunan regional Jawa Barat tapi juga menjadi tumpuan pembangunan nasional. Menurut Maman Abdurahman (2015), dalam data riil, sejak 2008 hingga tahun 2014 kawasan Ciayumajakuning mampu menyumbang 10% untuk pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Misalnya, dalam sektor industri pengolahan, perdagangan dan pertanian. Bahkan mampu mempengaruhi pergerakan ekonomi nasional, terutama dari sisi daya dukung infrastruktur dan pengembangan pariwisata.

Masalah Krusial

Dalam pandangan Chairul Tanjung (2009), diantara masalah krusial yang mempengaruhi pembangunan ekonomi nasional adalah kenyamanan investasi dan pasar, kebersihan birokrasi dan keluhuran budaya masyarakat, kualitas produksi dan sumber daya manusia, dan penguasaan jaringan global.

Dalam konteks merefleksikan sekaligus memandang masa depan Ciayumajakuning, pandangan Chairul Tanjung masih relevan dan perlu dikaji lebih mendalam. Bahwa, keamanan dan kenyamanan investasi sekaligus pasar masih menjadi masalah besar, yang tentu saja dapat menghambat pembangunan ekonomi. Investor dan pasar tentu tidak merasa nyaman ketika aspek keamanan masih dihantui oleh tindakan teror (terorisme) dan perilaku hegemonik (baca: rente) para mafia.

Hal lain, birokrasi yang koruptif di tingkat kekuasaan. Jika praktik korupsi dan permainan proyek masih diidap para pengambil kebijakan (Eksekutif dan Legislatif), maka sangat sulit rasanya para investor dan pasar masuk mengambil bagian dalam pembangunan ekonomi. Dengan begitu, pembangunan pun hanya berjalan di tempat bahkan mundur ke belakang.

Begitu juga budaya buruk masyarakat. Jika masyarakat masih terjebak dalam perilaku amoral, kriminal dan berbagai macam perilaku yang tak patut, serta antipati atau acuh terhadap pembangunan, maka pembangunan hanya berjalan di tempat bahkan mundur ke belakang.

Kemudian soal kualitas produksi dan sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan kualitasnya. Dalam pandangan Jusman (2012), kualitas produksi bagi pasar ekonomi bukan sekadar daya jual, tapi juga soal produktifitas. Semakin banyak jenis dan pusat perekonomian yang menjajakkan hasil karya yang berkualitas dan masif (produktif), maka itu pertanda ekonomi masyarakat berkembang dan siap berdaya saing dalam skala lokal, nasional bahkan global.

Selanjutnya, dalam soal pemberdayaan potensi budaya, mesti diakui bahwa hingga kini potensi budaya di kawasan ini masih belum terkelola secara maksimal. Bahkan bukan saja dalam skala pengkajian dan informasi budaya, tapi juga dalam skala pengelolaan dan pengembangan yang masih jauh dari harapan. Padahal kawasan ini kaya akan warisan budaya yang memiliki daya jual. Baik dari aspek sejarah maupun dari aspek geografisnya.

Kemudian, soal lemahnya jaringan strategis. Mesti diakui partnership ekonomi (usaha, bisnis) kawasan ini belum merambah ke tingkat global. Pengelolaan potensi alam, misalnya, masih terjebak dalam pola lokal dengan kualitas kinerja yang tak berdaya saing tinggi. Padahal kini sudah menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN dimana strategi dan kualitas jaringan menjadi penting.

Itulah beberapa tantangan sekaligus peluang yang dapat diantisipasi kini dan ke depan. Bukan saja oleh pengambil kebijakan, investor, pengusaha, perguruan tinggi bahkan masyarakat umumnya.

Agenda Strategis

Setelah menelisik berbagai potensi, peluang dan masalah krusial di atas, maka dalam konteks masa depan Wilayah III Cirebon, paling tidak membutuhkan beberapa agenda strategis dan langkah penting. Pertama, penguatan regulasi dan sistem partnership yang fleksibel. Pengambil kebijakan (Walikota dan DPRD) dan institusi koordinatif seperti Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah III Jawa Barat perlu menghadirkan regulasi yang “aman” dan “menyamankan” bagi investor dan pasar. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat sekaligus stakeholder lain seperti DPRD Jawa Barat, DPR RI, DPD, mesti mengambil bagian, terutama dalam hal regulasi dan akses investor serta jaringan usaha—dalam level regional, nasional dan global.

Kedua, memastikan birokrasi yang transparan dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Di saat kepercayaan publik terhadap pengambil kebijakan yang menurun karena berbagai kasus seperti pelayanan publik yang buruk dan praktik KKN yang semakin menggila, hingga bermain proyek dan serupanya, tak ada jalan lain selain adanya sistem baku pelayanan publik yang transparan, profesional dan bertanggungjawab sekaligus melakukan pembersihan birokrasi dari praktik KKN. Pengambil kebijakan mesti terikat oleh kesepakatan bersama, misalnya, jika terbukti terlibat KKN maka secara otomatis langsung mundur dari jabatannya.

Ketiga, hadirnya masyarakat yang berbudaya luhur. Sebagai elemen penting, masyarakat mesti memahami dan menyadari bahwa budaya luhur yang termanifestasi dalam bentuk perilaku seperti sopan, santun, tenggangrasa, simpati, empati, gotong raya, disiplin dan bertanggung jawab adalah modal utama dalam membangun daerah, termasuk pembangunan ekonomi. Dalam konteks otonomi daerah, iklim investasi dan usaha yang nyaman sebagai penentu pembangunan ekonomi sangat ditentukan oleh perilaku masyarakat.

Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kunci pembangunan ekonomi adalah adanya sumber daya manusia yang berkualitas yaitu kreatif, inovatif, produktif, tahan banting, komunikatif, memahami pasar dan berdaya saing (Jusman, 2014). Selain pemerintah dan pengusaha, Perguruan Tinggi tentu memiliki andil besar dalam melahirkan SDM semacam itu. Meminjam Anis Baswedan (2014), penyelenggara pendidikan seperti sekolah dan kampus mestinya tidak sekadar melahirkan para pemegang ijazah dan gelar, tapi juga generasi atau lulusan yang berkualitas dan siap bersaing di tingkat nasional dan internasional.

Kelima, pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Model pemberdayaan yang paling praktis, misalnya, pemerintah (pusat, daerah) memberi kemudahan dalam mendapatkan modal usaha, menyediakan pusat pelatihan dan pengembangan usaha, menyediakan pasar atau pusat distribusi produksi atau karya, dan sebagainya.

Keenam, adanya peta sekaligus branding pengelolaan dan pemberdayaan ekonomi berskala kawasan dan potensi. Praktisnya, pemerintah mesti membangun brand “pasar” berbasis produk khas masing-masing tempat. Misalnya, Plered menjadi pusat batik, Tegalwangi menjadi pusat rotan, Ceremai menjadi pusat wisata alam, dan begitu seterusnya sesuai potensi kawasannya masing-masing.

Penutup

Sungguh, potensi alam dan ketersediaan infrastruktur sangat menentukan percepatan pembangunan ekonomi suatu daerah. Namun itu belum cukup. Maka—menurut Hendri Saparini (2014), “percepatan pembangunan dari perspektif ekonomi akan menjadi lebih riil manakala tersedia pemerintahan yang bersih, birokrasi yang cepat tanggap, dan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi”. Dan tentu saja masyarakat yang berbudaya luhur.

Selebihnya, hiruk pikuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi memiliki makna subtantif manakala mampu membawa masyarakat ke kehidupan yang semakin sejahtera. Maknanya, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di Wilayah III Cirebon memiliki relevansi manakala mampu menghilangkan—atau paling tidak menurunkan—angka kemiskinan masyarakatnya.

Akhirnya, tulisan ini hanyalah satu diantara banyak tulisan lain yang membincang Wilayah III Cirebon. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, diharapkan memberi manfaat bagi pembangunan Wilayah III Cirebon, terutama dalam memperkuat posisinya sebagai salah satu PKN Jawa Barat dengan seluruh peran dan tanggungjawabnya. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat Forum Penulis Cirebon Kota (For Pena), Penulis ratusan Essay-Artikel di berbagai Surat Kabar dan Majalah, Penulis buku (1) “Politik Sambalado”, (2) “Merawat Mimpi, Meraih Sukses”. Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam “Mahtum Award” yang diselenggarakan oleh Radar Cirebon Group dalam rangka HUT Radar Cirebon ke-16, 20 Desember 2015 dengan judul asli “Menatap Masa Depan Ciayumajakuning (Perspektif Ekonomi)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s