Menjadi Pemilih dan Pemimpin Tanpa Basa-Basi

Kalau menjadi pemilih dan pemimpin yang basa-basi maka harga Anda hanya Rp 55,5.
Kalau menjadi pemilih dan pemimpin yang basa-basi maka harga Anda hanya Rp 55,5.

Dalam Tafsir Fakhr al-Razi—sebagaimana dikutip dalam buku The Great of Two Umars (2013)—dikisahkan ada seorang penguasa mendatangi suatu tempat. Di sana ia meminum jus dari buah delima. Jus itu terasa begitu enak, hingga membuat ia tertarik untuk mengunjungi kebun delima itu. Sang penguasa berpikir untuk merampas kebun itu. Ia lalu kembali meminta jus. Namun, kali ini jus itu terasa kecut, tidak enak seperti sebelumnya. Karena penasaran, ia lantas bertanya kepada seorang anak kecil yang ada di situ, “Mengapa delima ini kecut?”

Anak itu menjawab, “Mungkin ada penguasa yang memiliki niat jahat kepada rakyatnya.”

Sontak saja, penguasa itu terkejut. Ia kemudian bertaubat dan berniat untuk tidak berbuat sewenang-wenang lagi kepada rakyatnya. Ia lalu meminta jus delima lagi. Sungguh ajaib, kali ini rasanya jauh lebih manis dan enak daripada sebelumnya. Ia pun bertanya lagi, “Mengapa sekarang buah delima ini manis sekali?”

Anak itu menjawab, “Mungkin ada penguasa yang bertaubat atas kesalahannya dan akan mengisi sisa hidupnya dengan berbuat baik.”

Penguasa dalam cerita di atas bernama Nusyirwan, raja Persia yang terkenal dengan keadilannya. Pada masa Nusyirwan inilah Rasulullah Saw. lahir.

Kisah di atas sangat sederhana, namun menyiratkan hikmah sekaligus pelajaran berharga bahwa, pertama, pemimpin yang selalu menjaga kekuatan tekad dan kemauan serta keikhlasannya dalam melayani rakyat selalu mendapat kekuatan yang tak terkira berupa dukungan tulus dari rakyat dan—ini yang sangat penting—barokah dari Allah. Termasuk dalam masalah yang mungkin terlihat kecil dan sepele seperti yang disinggung pada kutipan kisah di atas.

Kedua, sebaliknya, manakala sang pemimpin tergoda untuk berbelok dari kemurnian amanah dan ketulusan orientasi, maka ia pun akan mendapat kesulitan dalam menjalankan amanahnya, bahkan rakyat mengacuhkannya, dan—ini yang sangat berbahaya dan membahayakan yaitu ketika Sang Kuasa (Allah)—tidak memudahkan urusan terkecil sang pemimpin, apalagi dalam menyelesaikan masalah rakyat yang dipimpinnya.

Konteks Pilkada Serentak

Dalam konteks kekinian, terutama bagi kabupaten/kota yang menyelenggarakan pilkada serentak, kita perlu memperhatikan kembali beberapa hal penting. Pertama, (calon) pemimpin hendaknya memiliki tekad, kemauan dan niat yang ikhlas dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin. “Dalam ilmu falsafah kepemimpinan klasik dijelaskan bahwa tekad adalah energi yang selalu mendorong sang pemimpin untuk melakukan kebaikan tanpa pamrih. Ia adalah salah satu modal terpenting seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan publik” (Rhenald Kasali, 2007).

Di samping tekad yang kuat, yang tak kalah pentingnya adalah kemauan yang kuat. Kemauan bukan soal pernyataan sikap dan retorika, tapi ia merupakan sikap nurani yang selalu terbersit untuk melakukan pekerjaan. Katakanlah sang pemimpin ingin memberantas kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan daerahnya, maka upaya-upaya penyelesaian masalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan mesti selalu terngiang dalam hati juga pikirannya.

Selain itu, ini yang juga penting, sang pemimpin mesti memiliki niat yang ikhlas. Pemimpin yang ikhlas tidak mudah terkecoh dengan sanjungan dan pencitraan yang seakan-akan “wah” tapi jauh panggang dari api, jauh dari keaslian diri sang pemimpin. Pemimpin yang ikhlas tidak mudah tergoda membeli suara rakyat demi menggapai “kemenangan semu”.

Sederhananya, pemimpin yang ikhlas tidak tergoda dengan sanjungan dan pujian (dari media massa, lembaga survei, media sosial dan serupanya) yang bisa jadi hanya menjauhkan autentisitas sang pemimpin; sebab sang pemimpin lebih fokus mematangkan kapasitas dirinya sebagai pemimpin, sekaligus menyibukkan diri untuk menuntaskan agenda pemerintahan yang diagendakannya.

Kedua, rakyat sebagai (calon) pemilih hendaknya memiliki basis dan dasar yang kuat dalam menentukan pilihannya. Bagaimanapun, kualitas pemimpin yang terpilih sangat ditentukan oleh kualitas rakyat sebagai pemilihnya. Kita tentu masih ingat sebuah kisah yang kaya hikmah. Dikisahkan, pada zaman Utsman bin Affan menjadi khalifah, datanglah seorang warga bertanya perihal dinamika dan kekacauan warga dibawah kepemimpinan Utsman. Suatu kondisi yang sangat jauh dari kondisi warga di masa Rasulullah Saw. dan pada masa dua khalifah sebelumnya (baca: khalifah sebelum Utsman adalah Abu Bakar dan Umar). Ketika itu, dengan bijak dan inspiratif Utsman menjawab bahwa pada masa Rasulullah Saw. kondisinya demikian dinamis namun tetap terjangkau oleh kepemimpinan Rasulullah Saw. karena pemimpinnya sekaliber Rasulullah Saw. dan rakyatnya adalah Utsman dan para sahabat yang lain. Sementara sekarang, pada masa Utsman memimpin, rakyatnya adalah seperti yang disaksikan saat itu.

Jadi, realitas pembangunan daerah dimana kita tinggal baik saat ini maupun ke depan sejatinya bukan saja menjadi tanggung jawab pemimpin (kepala daerah), tapi juga tanggung jawab rakyat. Ini bermakna, dalam konteks pilkada serentak, kemampuan memimpin kepala daerah kelak sangat ditentukan oleh rakyat sebagai pemilih. Jika rakyat-pemilihnya memilih dengan azas rasionalitas, cerdas dan bertanggung jawab, maka pemimpin yang terpilih pun berkualitas, dan tentu saja mampu mengamini kehendak rakyatnya.

Sebaliknya, jika rakyat memilih dengan “asal”—berupa memilih karena dibayar, memilih karena diiming-imingi, memilih karena terpesona janji, memilih karena terpaksa—maka pemimpin yang terpilih pun hanya akan mengobral janji, melayani rakyat dengan keterpaksaan, bahkan membuat jarak dengan rakyatnya sendiri.

Syahdan, pilkada serentak kali ini adalah perhelatan yang sangat menentukan. Bukan saja mengenai siapa kelak yang memimpin daerah, tapi juga mengenai sejauhmana dan seperti apa kualitas rakyatnya sebagai pemilih. Dengan begitu, mari menjadi pemilih dan pemimpin tanpa basa-basi; atau jika tidak, pembangunan tetap stagnasi alias setengah mati! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Narasumber Selamat Pagi Cirebon di RCTV, Penulis buku “POLITICS”].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s