Menanti Gebrakan Baru PKS

PKS ya_nPARTAI Keadilan Sejahtera (PKS) selalu menimbulkan penasaran, decak kagum dan pertanyaan berbagai kalangan. Selain karena sistem organisasi yang ajeg dan kultur aktivisnya yang ‘berbeda’, PKS yang lahir pada era awal reformasi ini, kata Burhanuddin Muhtadi (2010) juga merupakan partai politik yang didirikan dan digerakkan oleh kelompok studi kelas menengah ke atas yang kental dengan praktik keagamaan dan tradisi intelektualnya.

Agenda baru PKS yang cukup menyentak publik adalah suksesi pucuk pimpinan PKS yang dinilai dilakukan secara senyap pada awal Agustus 2015 lalu. Selain karena acaranya singkat, suksesi kali ini juga sepi dari pemberitaan media massa. Publik mengetahui justru setelah beberapa hari pasca suksesi. Apakah ini pertanda PKS kembali menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan sebagaimana ketika awal-awal ia dideklarasikan?

Daya Tarik Suksesi

Dalam konteks suksesi kepemimpinan PKS ada beberapa catatan yang mesti diapresiasi publik, pertama, PKS menghadirkan suksesi yang bebas dari ‘iming-iming’ uang. Selama ini publik selalu disuguhi berbagai fenomena dan perilaku politik yang kerap dinodai oleh politik uang. Praktik semacam itu selalu tercium publik, bahkan sampai menimbulkan konflik berbagai faksi di internal partai politik. Dan lagi-lagi, sebagaimana dilansir oleh berbagai media massa, PKS bebas dari isu ‘miring’ dan praktik ‘norak’ semacam itu.

Kedua, PKS menawarkan mekanisme suksesi yang efektif dan efesien. Yang memiliki hak suara dan bicara pada suksesi kepemimpinan PKS adalah anggota Majelis Syuro (MS) yang dari unsur Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) dan unsur/delegasi berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Selain memiliki moralitas yang terjaga, anggota MS juga merupakan para ahli dalam bidangnya masing-masing. Para anggota MS itulah yang menentukan kebijakan strategis partai, termasuk dalam suksesi kepemimpinan partai.

Ketiga, PKS hendak menyuguhkan satu kultur politik yang menarik yaitu keberanian melakukan regenerasi kepemimpinan. Tanpa disangka, pada suksesi yang diselenggarakan di Bandung dan dihadiri oleh seluruh anggota MS dari seluruh Indonesia awal Agustus lalu itu dua ikon utama PKS diganti. Kedua ikon tersebut adalah KH Hilmi Aminuddin (Kiai Hilmi), Ketua Majelis Syuro, yang juga pendiri partai, yang selama ini terkesan sangat berpengaruh, digantikan oleh Habib Salim Segaf al-Jufri (Habib Salim). Kemudian Anis Matta, presiden dan pelaksana operasional partai juga digantikan oleh Muhammad Sohibul Iman.

Dalam pandangan Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan (2015), Hilmi dan Anis, adalah satu tim solid yang menjadi penentu jalannya PKS sejak awal berdirinya. Sederhananya, gagasan kedua ikon ini sangat mewarnai PKS selama ini.

Menanti Gebrakan Baru

Para pengamat dan peneliti politik mengakui bahwa PKS (yang awalnya PK) merupakan salah satu partai “model” dalam percaturan politik Indonesia di era reformasi. Selain karena ideologinya yang moderat, ia juga dinilai satu-satunya partai berazas Islam yang memiliki platform kebangsaan yang sangat ajeg dan—meminjam gagasan Peter Mandaville (dalam Burhanuddin Muhtadi, 2012)—bahwa “partai dapat menjadi model bagi upaya modernisasi politik masa depan sebuah negara”, dalam hal ini tak terkecuali PKS.

Dalam konteks dinamika politik kebangsaan, termasuk setelah selesainya acara Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 PKS yang terselenggara di Cibubur dan Depok pada 12-15 September kemarin sebagai momentum pelantikan Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) dan penetapan kebijakan strategis partai untuk lima tahun ke depan (2015-2020), kita berharap agar PKS mampu meneguhkan harapan publik berikut ini, pertama, konsisten sebagai kekuatan politik oposisi pemerintah Jokowi-JK. Menurut Eep Saefulloh Fatah (2004), “selama ini sebagian besar orang mendefinisikan oposisi sebagai kegiatan menolak, anti tesis, lawan, musuh, penggugat, penghambat, penghalang dan terminologi semacam berikutnya. Padahal dalam negara demokrasi, oposisi adalah kekuatan pengingat sekaligus penyeimbang kekuasaan (penguasa).”

Di saat fenomena plin-plan atau mencairnya sikap dan pilihan politik partai politik akhir-akhir ini, adanya partai politik yang konsisten pada pilihan oposisi kekuasaan menjadi penting dan mendesak. Syarat oposisi itu sederhana saja: tidak ikut larut dalam “menikmati” kekuasaan. Ia tetap berdiri kokoh “di luar” sebagai katalisator yang siap mendesakkan perubahan kepada penguasa yang bisa saja memilih jalan “status-quo”. Dengan begitu, oposisi tidak menjadi kekuatan politik yang hanya menjadi pemandu sorak. Kekuatan oposisi hadir justru menjadi “lidah rakyat” yang selalu memberi peringatan agar pemegang kekuasaan tidak terjebak (kembali) ke sistem autoritarian dengan jubah baru.

Kedua, meningkatkan jenjang dari partai papan tengah menjadi partai papan atas. Hal ini dapat diwujudkan dengan melakukan kagiatan atau program riil sebagai wujud partai yang terkenal dengan slogan “bersih, peduli dan profesional”. Publik tak butuh slogan berlabel janji, sebab realitas sosial-ekonomi masyarakat mengehendaki agar partai politik memiliki slogan berlabel bukti. Misalnya, PKS kembali memasifkan pelayanan sosial dan advokasi publik. Dengan begitu, kelak PKS bukan saja menjadi partai papan atas yang riilnya dapat dilihat pada momentum pilkada serentak 9 Desember 2015 dan pemilu 2019 mendatang; tapi juga mendapat “keberkahan” politik dalam sejarah perjalanan bangsa ini di masa depan.

Ketiga, mengokohkan diri sebagai partai politik Islam yang modern. Modernisai partai politik bukan berbicara simbol, tapi cara pandang dan kemampuan untuk mengisi ruang kosong dalam pergulatan politik bangsa. Misalnya, PKS—mestinya juga partai politik lain—menyediakan wadah khusus semacam laboratorium intelektual yang berfungsi memproduksi pemikiran atau ide-ide besar yang bernarasi dan berumur panjang dalam pergulatan politik bangsa.

Salah satu krisis besar bangsa ini, kata Yudi Latif (2010), adalah krisis para pemikir yang memiliki ide besar. Tesis Yudi sangat relevan. Kebutuhan bangsa ini sekarang dan ke depan adalah para pemikir yang memiliki ide besar yang bernarasi. Ciri utamanya adalah ide tersebut terintegrasi dalam pandangan hidup dan sikap politik para figur sebagai patron atau modelnya. Tanpa menegasikan berbagai catatan kaki atasnya, perlu diakui bahwa di era Orde Lama (Orla) ide naratifnya adalah demokrasi, modelnya adalah Soekarno. Sedangkan di era Orde Baru (Orba), ide naratifnya adalah pembangunan, modelnya adalah Soeharto. Lalu, apa ide naratif dan siapa model narator bangsa kita era ini dan ke depan?

Dalam konteks menjemput masa depan, partai politik didesak untuk melakukan proses pematangan sistem dan pelaksanaan pola kaderisasinya. Sebab itulah mekanisme yang memungkinkan terbentuknya para pemikir yang ber-ide naratif. Jika akhir-akhir ini berbagai partai politik selalu terselimuti oleh kegaduhan dan konflik yang tak menepi, maka salah satu penyebab utamanya adalah melemah atau tidak berjalannya mekanisme kaderisasi dalam tubuh partai politik. Jangan kan melahirkan negarawan yang ber-ide naratif, partai politik justru sibuk dengan konflik, pecah kongsi, tarik ulur ‘kue’ kekuasaan dan serupanya. Pada kondisi demikian, merupakan momentum terbaik bagi PKS untuk hadir sebagai partai politik yang solid, ber-ide naratif dan membawa semangat baru dalam dinamika politik kebangsaan kini dan di masa depan.

Pertanyaannya, mampu kah PKS melakukan gebrakan baru sebagai upaya mengamini kehendak sekaligus kebutuhan publik akan adanya lompatan dan warna baru dalam dinamika perpolitikan bangsa ini sekarang dan di masa depan? Itulah pertanyaan sederhana yang penting dan mendesak untuk dijawab oleh PKS. Bukan saja dalam bentuk pernyataan sikap tapi juga dalam bentuk praktik politik. Sebab substansi politik, kata Dedi Kurnia Syah Putra (2015), bukan terletak pada pernyataan sikap, tapi pada konteks kebijakan, sikap sekaligus pilihan politik yang lebih riil. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku “POLITICS; Membangun Budaya Politik yang Santun dan Beradab” (Edisi Cetakan ke-2). Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Menanti Gebrakan Baru PKS (Sebuah Catatan dan Rekomendasi)”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s