Penerbit Mitra Pemuda dan Pelajar Cirebon Bersatu untuk Menulis

1PADA Sabtu 31 Oktober 2015 lalu saya didaulat jadi pembicara pada Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (MGMP) yang bertempat di MTSN Ciledug, Kabupaten Cirebon-Jawa Barat.

Pada acara yang bertema, “Dengan Peringatan Bulan Bahasa Kita Optimalkan Potensi Siswa dalam Bidang Tulis-Menulis Bahasa dan Sastra Indonesia” itu saya tak sendiri. Karena setelah saya menyampaikan materi, kemudian dilanjutkan oleh dua pembicara yang sangat kompeten, yaitu Mas Khairudin Imawan (Trans 7) dan KH. M. Khairul Anwar (Juara Esay Internasional Tahun 2014).

Pada acara yang dihadiri oleh hampir 150 siswa dari berbagai SMP/MTS, SMA/MA dan sederajat dari Kabupaten Cirebon ini saya menyampaikan materi “Langkah Jitu Menulis Buku; Panduan Praktis Menjadi Penulis Sukses”.

Jujur saja, saya sebetulnya bukan contoh yang tepat untuk judul ini, sehingga sempat mengurungkan niat untuk hadir di acara yang dibuka oleh Ketua Pokjawas Kementrian Agama Kabupaten Cirebon Drs. H. Endang Saputra, M.Pd ini. Tapi karena panitia (baca: Pak Agus Sugiyatno) terus “memaksa” saya untuk hadir, akhirnya saya memilih untuk hadir.

Sebetulnya banyak hal yang saya sampaikan pada acara yang diberitakan Koran Radar Cirebon edisi Selasa 3 November 2015 pada halaman 11 Rubrik Kabupaten itu. Namun berikut merupakan poin inti yang dapat saya dokumentasikan, dan kini saya membaginya kepada siapapun yang membaca tulisan ini.

***

Jurus Jitu Menggali Ide Menulis

Bagaimana cara atau langkah jitu dalam menggali ide menulis? Pertama, mencintai ilmu. Ya sangat sederhana : mencintai ilmu. Sederhana memang, namun kuncinya justru di sini : pada rasa cinta. Disadari bahwa menulis adalah bagian dari aktivitas keilmuan yang sangat penting. Jika menulis diposisikan sedemikian penting, maka ada kemestian bagi penekun aktivitas ini untuk mencintainya secara tulus.

3Dengan mencintai ilmu, maka itu bermakna mencintai aktivitas menulis. Dengan mencintai maka akan dengan mudah bagi seseorang untuk menemukan ide unik, termasuk di saat ia dihadapkan pada kondisi sulit menemukan ide. Bukan kah rasa cinta kerap mengundang pikiran kreatif dan melahirkan aktivitas unik di luar kebiasaan? Ya, “pada akhirnya menulis menjadi terlalu sulit untuk dilakukan kecuali dengan cinta.”

Kedua, suka membaca alias menjadi kutu buku. Hampir semua orang percaya bahwa membaca merupakan saudara kembar menulis. Betul apa betul? Nah, kalau Anda terjun ke dunia kepenulisan, maka itu sama saja Anda memasukkan diri dalam dunia membaca.

Coba renungi pertanyaan ini : Bagaimana mungkin Anda menulis dan menginginkan agar tulisan Anda dibaca oleh banyak orang, sementara Anda sendiri tidak suka membaca karya Anda sendiri, bahkan tidak pernah membaca karya tulis orang lain?

Jadi sekarang, sukai aktivitas membaca dan jadilah kutu buku. Contoh praktis, biasakan diri Anda untuk membawa buku ke mana-mana. Pastikan hal pertama yang Anda sediakan di saat berpergian adalah buku. Bagi yang tak biasa, memulai hal ini merupakan sesuatu yang sangat sulit. Tapi di situlah letak keunikannya : pada kemampuan diri untuk memulai sesuatu yang tak biasa.

Sederhana saja, dengan banyak membaca maka tabungan kata dan gagasan dalam pikiran Anda menjadi bertambah banyak. Munculkan rasa suka membaca, maka dengan sendirinya Anda akan terdorong untuk terus membaca bahkan gila baca.

Pada gilirannya, selain menjadi gila baca alias kutu buku, Anda pun akan terus terdorong untuk menulis dan terus menulis. Bagi yang sudah terbiasa, apa yang saya sampaikan ini pasti sudah merasakan efek dan sensasinya. Untuk yang belum, saya sarankan agar segera memulai alias mencoba, lalu nikmati efek dan sensasinya.

2Ketiga, menulis apa saja. Sebagai pemantik ide, maka seseorang juga bisa membiasakan dirinya untuk menulis secara bebas : menulis apa saja dan tentang apa saja. Saya sendiri di saat mengalami kebuntuan dalam menulis kerap menggunakan kiat ini. Saya kerap menulis tentang apapun yang terlintas dalam pikiranku. Diksi atau pilihan kata juga kalimatnya bebas dan sesukanya saya saja. Tanpa menanti waktu yang lama, maka berbagai ide pun muncul begitu rupa.

Untuk menyukseskan kiat ini, jika hendak berpergian saya berusaha untuk membawa kertas kosong dan bulpen. Atau jika tak berkesempatan, saya biasanya menjadikan HP saya sebagai perekam terbaik. Di HP-lah saya menulis segala sesuatu yang seketika muncul di pikiran saya di saat berpergian, misalnya. Hasilnya, ya tak sedikit tulisan saya dalam berbagai tema yang justru dielaborasi dari kumpulan tulisan bebas semacam itu.

Dari kebiasaan semacam ini pun aku menjadi percaya bahwa sebetulnya dalam otak manusia itu tersimpan banyak kata dan ide. Di saat hendak ditulis, maka pemiliknya hanya mebutuhkan stimulus alias pemantik.

Keempat, suka bertanya. Anda mungkin tak percaya bahwa saya sebetulnya manusia paling rewel. Meminjam ungkapan seorang teman tentang saya, “Saya ini laki-laki, tapi kalau soal bertanya lebih perempuan daripada perempuan”.

Ya, saya akui bahwa dalam berbagai momentum saya selalu berusaha untuk bertanya. Dalam acara formal, misalnya, saya selalu berusaha untuk bertanya. Untuk acara non formal atau informal, saya juga berusaha untuk bertanya kepada siapapun yang saya temui.

Tak cukup di situ, saya juga kerap memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menggali ide. Untuk yang ini biasanya saya menyempatkan bertanya kepada beberapa teman melalui media sosial seperti e-Mail, facebook (FB) dan serupanya; dan tak ketinggalan melalui SMS bahkan komunikasi secara langsung melalui HP. Tujuan saya sederhana dan terkesan agak gila : menculik ide dan inspirasi orang lain.

Kelima, curi pengalaman orang lain. Lagi-lagi, saya pada dasarnya termasuk orang gila dan pencuri yang cukup kurang ajar. Mengapa? Saya kerap menulis beberapa tulisan setelah mendengar cerita dan perbincangan banyak orang. Bagi pemilik cerita dan pengalaman bisa jadi itu tak penting, bagi saya itu penting.

Kurang ajarnya saya adalah pada usilnya aku dalam mencuri ide dari banyak orang tanpa minta izin ke empunya. Ya namanya juga orang kurang ajar, pastinya tak suka sopan santun semacam itu. Bodoh amat minta izin, yang punyanya saja tidak menghargai miliknya kok. Buktinya, mereka tidak mau menulis tentang apa yang mereka miliki, ya cerita, pengalaman dan ide yang mereka miliki. Daripada mubazir (jadi sahabat setan), mendingan jadi sahabat saya saja.

Keenam, silaturahim. Jika seseorang sudah terjun dalam dunia kepenulisan, maka silaturahim merupakan aktivitas rutin yang mesti mengikat dalam dirinya. Selain mendapat pahala dari Allah, dengan silaturahim seseorang bisa memperoleh banyak hal positif, termasuk ide-ide kreatif yang jarang melintas di pikirannya.

Sudah banyak yang mengakui bahwa silaturahim menjadi pembuka bagi jalan buntu, termasuk dalam dunia kepenulisan. Saya sendiri kerap menggunakan kiat ini. Misalnya, di saat saya hendak menulis artikel seputar sosial-politik, pendidikan dan sebagainya, maka saya berusaha menyempatkan diri untuk silaturahim dengan tokoh yang menurut saya kompeten dengan tema yang saya tulis. Latarnya bisa beragam seperti akademisi, guru, pengamat, wartawan, penulis dan sebagainya.

Ketujuh, nikmati saja. Ya ini tak kalah pentingnya : menikmati karya tulis Anda sendiri apa adanya. Di saat Anda menulis lalu dihadapkan dengan kebuntuan, maka hal pertama yang mesti Anda lakukan adalah menikmati karya Anda; hargai dan nikmatilah tulisan Anda.

Menjadi sang hebat mesti berproses dan membutuhkan waktu tak sedikit. Kemampuan menghargai hasil karya sendiri apa adanya adalah cara lain dalam mencapai posisi sebagai penulis yang menghasilkan karya-karya hebat. Jika Anda sudah terbiasa menikmati karya Anda, maka alam bawa sadar Anda bahkan batin Anda akan tenang; berikutnya akan terdorong untuk menulis kembali. Pada kondisi semacam itu, Anda akan menemukan celah untuk menulis kembali; ya menuliskan kembali ide-ide yang berserakan dalam pikiran Anda, atau yang berada di sekitar Anda.

Lagi-lagi, kiat inilah yang kerap saya jadikan sebagai senjata di saat menemukan kebuntuan dalam menulis. Sebagai manusia biasa, saya kerap mengalami hal semacam ini. Namun saya tak mau kalah dengan kenyataan, saya mesti mampu melampauinya secara cerdas : menikmati karya atau tulisan saya apa adanya.

Demikian, mudah-mudahan beberapa kiat sederhana di atas bisa membantu Anda dalam menggali ide di saat Anda hendak menulis. Jika Anda memiliki kiat lain, saya mengusulkan agar Anda berkenan berbagi dalam bentuk tulisan. Semoga dengan begitu, pengalaman Anda bisa menjadi inspirasi bagi saya dan para pembaca di luar sana. Selamat mencoba, mari menulis!

***

Demikian, ini sekadarnya saja. Namanya juga berbagi tulisan. Praktik menulis tanpa teori ini itu. Satu hal yang pasti, saya hadir pada acara semacam itu sebagai wujud nyata bahwa Penerbit Mitra Pemuda sejatinya adalah mitra penulis muda Indonesia, tak terkecuali penulis muda Cirebon. Oke, cukup ya. Terima kasih. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku “MENULIS itu PRAKTIK”, Pegiat PENA di IAI Bunga Bangsa Cirebon, Ketua Forum Penulis Cirebon]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s