Hak Anak adalah Kewajiban Kita

Azka Syakira
Azka Syakira

AKHIR-akhir ini sepertinya kita tak pernah berhenti mendengar pemberitaan media massa seputar anak-anak yang dilanda masalah, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Sudah banyak terobosan yang diajukan bahkan sudah diujicobakan dalam menyelesaikan semua permasalahan tersebut, baik yang dilakukan oleh sekolah, masyarakat bahkan oleh lembaga atau institusi negara.

Faktanya, pelibatan seluruh elemen tersebut belum mampu secara optimal melakoni berbagai solusi atas permasalahan yang menimpa anak-anak. Kenyataan semacam ini tentu bukan alasan bagi kita untuk membiarkan permasalahan yang menimpa mereka, anak-anak itu. Sebaliknya, ini merupakan alasan yang membuat kita semakin termotivasi untuk mencari solusi terbaik dan tepat. Diantara elemen utama dan pertama yang mesti menjadi penemu dan pelaku jalan keluar adalah keluarga, dalam hal ini kedua orangtua anak.

Mengapa demikian? Anak merupakan anugerah luar biasa dari Allah Swt. kepada manusia. Hampir semua orang, apalagi pasangan suami-istri menginginkan keturunan alias anak. Dalam Islam sendiri, keluarga—lingkungan pertama dimana sang anak hidup—merupakan tempat yang memiliki posisi penting. Di sinilah pertumbuhan sang anak sekaligus sang anak mendapatkan pengaruh besar bagi kehidupannya kelak. Pada masa awal (baca: masa anak-anak) inilah yang menjadi momentum amat penting dan paling kritis dalam pendidikannya.

Lebih jauh, Islam menggariskan bahwa anak merupakan cikal bakal masyarakat bahkan bangsa. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat-bangsa sekaligus tempat pembinaan pertama bagi sang anak sebagai generasi penerusnya, maka keluarga dimana hak-hak anak diberikan mendapat perhatian serius. Lagi-lagi, di sinilah kedua orangtua anak menjalankan peran strategis dan pentingnya.

Hak-hak Anak

Jika dielaborasi secara umum, terutama dalam perspektif Islam, maka dapat dijelaskan bahwa diantara hak-hak anak (yang tentu menjadi kewajiban kedua orangtuanya) yaitu, pertama, hak untuk hidup. Dalam QS. Al-Isra’ ayat 31 Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.“

Karena pentingnya hak hidup bagi anak, maka dalam keselamatan janin Islam telah memberi keringanan bagi wanita hamil dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ia diperkenankan untuk berbuka apabila ia tidak mampu atau apabila puasanya mengganggu pertumbuhan janin. Ia dapat mengganti puasanya di hari lain.

Kedua, hak mendapatkan nama yang baik. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.: “Ya Rasulullah, apakah hak anakku dariku?” Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik.” Sabda Rasulullah Saw. yang lain: “Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Ketiga, hak penyusuan dan pengasuhan (hadlonah). “Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS. Al-Baqarah: 233).

Penelitian medis dan psikologis menyatakan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak agar tumbuh sehat secara fisik dan psikis. Selama masa penyusuan anak mendapatkan dua hal yang sangat berarti bagi pertumbuhan fisik dan nalurinya.

Dikisahkan dari Amr bin Syu’aib dari kakeknya bahwa Rasulullah Saw. pernah ditemui seorang wanita, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku dulu dikandung dalam perutku, susuku sebagai pemberinya minum dan pangkuanku menjadi buaiannya. Sementara ayahnya telah menceraikanku, tetapi ia hendak mengambilnya dariku.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Engkau lebih berhak kepadanya selama engkau belum menikah.”

Keempat, hak mendapat kasih sayang. Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita untuk menyangi keluarga, termasuk anak. Ini berarti beliau Saw. mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap kasih sayang. Sabda Rasulullah Saw.: “Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling penyayang kepada keluarganya.”

Seorang ahli (Dorothy Law Nolte) berujar: “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” Ini bermakna, jika orang tua sukses mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, maka anak-anak tersebut niscaya akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain.

Kelima, hak mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga. “… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dangan cara yang ma’ruf…” (Qs. Al-Baqarah ayat 233). Kemudian firman Allah dalam surah Ath-Thalaq ayat 6, “Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu…”.

Keenam, hak pendidikan dalam keluarga. “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At-Tahrim ayat 6).

Sungguh, untuk mendapatkan hak-hak tersebut, maka kedua orangtua sang anak mesti (wajib) mampu menjadikan rumah tangga sebagai sekolah utama. Sebab di sinilah sang anak pertama kali mendapatkan hak pendidikannya sebelum ia mendapatkan pendidikan di sekolah, terutama dasar-dasar keislaman, di samping ilmu pengetahuan lain yang mendukung dan menopang kesuksesan kehidupannya kelak.

Jika saja keluarga dimana kedua orangtua sebagai elemen utamanya mampu menjalankan kewajiban-kewajiban di atas dengan baik dan tepat, maka berbagai permasalahan yang menimpa anak (baik menjadi pelaku maupun menjadi korban) akan bisa diminimalisir. Sebab anak bukan saja mendapat pendidikan utama sejak kecil, tapi juga terlatih menjadi anak yang bermoral dan bertanggungjawab.

Akhirnya, mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah, karena itu kerjasama yang baik keduanya adalah kunci sukses pendidikan anak dalam keluarga. Semoga kita mampu menjadi orangtua teladan dan mampu menjadikan rumah tangga (keluarga) sebagai sekolah utama yang bermanfaat bagi terbentuknya anak-anak islami sebagai generasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa menuju negara Indonesia yang semakin beradab. [Oleh: Uum Heroyati—Redaksi Penerbit Mitra Pemuda, Guru SDI Sabilul Huda Cirebon, Penulis Artikel dan Essai di berbagai Surat Kabar di Cirebon dan sekitarnya. Tulisan ini dimuat pada Kolom Opini halaman 12 Fajar Crebon edisi Rabu 28 Oktober 2015]

Sumber:

http://opini.fajarnews.com/read/2015/10/28/6142/hak.anak.adalah.kewajiban.kita?utm_source=REC&utm_medium=RECD&utm_campaign=CRECD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s