Pilkada Serentak dan Optimisme Kita

pilkada-serentak-2015PILKADA serentak terhitung tak lama lagi, kurang dari dua bulan (9 Desember 2015). Dalam situasi ekonomi yang semakin kompleks, dinamika politik yang tak menentu, kasus korupsi yang terus menggejala, penyalahgunaan narkoba yang terus meningkat, kasus amoral yang nyaris tak terbendung dan berbagai bencana yang menimpa akhir-akhir ini seperti asap-kebakaran hutan dan serupanya, sebagai pemilih kita pun selalui dihantui berbagai pertanyaan, misalnya, apakah pilkada serentak 9 Desember 2015 mendatang menjanjikan perubahan politik dan kepemimpinan daerah yang bermakna bagi pembangunan daerah dan nasional ke depan? Apakah kita mampu menyelamatkan pilkada serentak dari proses dan hasil yang buruk?

Problem Pilkada Serentak

Menurut tesis Syamsuddin Haris (2014), skema pemilu yang kita selenggarakan oleh Indonesia selama ini lebih didesain untuk memenuhi aspek prosedural demokrasi ketimbang menghasilkan para pejabat publik yang amanah dan bertanggung jawab.

Tesis peneliti senior LIPI tersebut bukan asal bunyi. Faktanya, bukan sekadar format pemilu (pileg dan pilpres), format pilkada serentak, misalnya, masih mengedepankan persyaratan formal administratif daripada faktor kompetensi, kapabilitas, dan integritas para kandidat yang diajukan parpol maupun perseorangan. Perangkat hukum pilkada serentak hanya memfasilitasi mereka yang mampu menjual popularitas, yang acapkali semu, ketimbang rekam jejak teruji sebagai calon pemimpin daerah yang berkualitas.

Bahkan pada level yang lain, peluang publik semakin terbatas lagi ketika para pasangan kandidat adalah mereka yang selama ini cenderung berkinerja buruk. Usai pilkada serentak pun, lagi-lagi hampir tidak ada ruang bagi publik untuk menggugat kinerja para pemimpin daerah yang tidak bertanggung jawab semacam itu.

Panggung Optimisme

Pertanyaannya, masih adakah ruang yang tersisa bagi kita untuk memiliki optimisme? Jika dikaji, dengan segala bentuk catatan kaki dan kritiknya, maka sejatinya selalu tersedia bagi kita panggung untuk selalu optimisme. Pertama, di tingkat negara, masih ada lembaga KPK yang menjanjikan optimisme dengan para komisioner dan penyidik yang tidak mengenal lelah, serta (semoga) tidak terkontaminasi kepentingan politik jangka pendek.

Di luar KPK, ada institusi peradilan seperti Mahkamah Agung (MA) yang akhir-akhir ini memberi harapan dengan melipatgandakan hukuman dan ganti rugi bagi beberapa terpidana koruptor. Sementara itu di tingkat daerah, masih ada sejumlah kepala daerah lain yang layak memperoleh apresiasi atas kinerja mereka dalam menegakkan pemerintahan yang relatif bersih, efektif, dan akuntabel.

Kedua, di tingkat masyarakat, ada organisasi-organisasi yang masih memiliki peran signifikan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan ormas lainnya yang tidak henti-hentinya mengkritisi arah kebijakan negara dan pemerintah serta mengawal demokrasi kita agar tetap berpihak pada kepentingan kolektif bangsa.

Di luar itu, terdapat anak-anak muda voluntir, seperti tercermin dari fenomena Indonesian Corruption Watch (ICW) dan beberapa gerakan mahasiswa (KAMMI, HMI, IMM, PMII, BEM/DEMA dan sebagainya) yang setiap saat siap membongkar korupsi, kebusukan politik, dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan para penyelenggara negara di semua tingkat pemerintahan, di pusat dan daerah.

Ketiga, masih di tingkat masyarakat, ada kekuatan media massa sebagai salah satu elemen utama tegaknya pemerintahan demokratis. Meskipun ada beberapa media massa yang menjadi bendera politik bagi parpol ataupun kandidat tertentu (seperti yang terjadi pada pileg dan pilpres 2014 lalu), hal itu tidak mengurangi kontribusi positif media massa pada umumnya, termasuk media online dan media sosial, dalam mengawal proses dan rasionalitas demokrasi kita selama ini dan ke depan. Melalui berbagai media ini pula para penjaga hati nurani bangsa (seperti para opinion leader) dan kaum akademisi yang masih peduli dapat mengingatkan para elite politisi dan penyelenggara agar kembali ke jalan yang benar dan taat terhadap konstitusi serta peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk etika publik.

Menyelamatkan Pilkada Serentak

Kendati KPK, dan berbagai elemen masyarakat sipil tidak terkait langsung dengan urusan persiapan pilkada serentak, namun kepedulian lembaga dan berbagai elemen hingga perorangan sekurang-kurangnya memberi harapan akan hari esok yang masih cerah. Artinya, dalam situasi ketika skema pilkada serentak tidak menjanjikan dan para kandidat hanya sibuk bersolek diri dalam meningkatkan potensi elektabilitas, harapan bangsa ini terletak pada potensi kerjasama dan konsolidasi berbagai elemen masyarakat sipil, baik dalam mendukung kerja KPK, maupun mengawal proses pilkada serentak dan pemerintahan hasil pilkada serentak kelak.

Selebihnya—mengutip ungkapan Saldi Isra (2015), harapan akan perubahan politik yang lebih bermakna bisa dirajut apabila segenap jajaran penyelenggara pemilu, mulai dari KPU, KPUD, Bawaslu, Panwaslu, dan DKPP bisa mempertahankan independensi mereka dari pengaruh berbagai kepentingan politik.

Di atas segalanya, pilkada serentak 2015 akan menjadi pesta demokrasi yang bermartabat dan bermanfaat jika selalu tersedia kepercayaan publik terhadap proses pilkada serentak, parpol dan para kandidat. Karena itu, seluruh elemen bangsa perlu mendukung langkah apa pun yang sifatnya mendukung dan menopang agar pilkada serentak terselenggara dengan baik. Dengan begitu, kita pun memiliki alasan untuk selalu optimis bahwa pilkada serentak merupakan momentum terbaik untuk menghadirkan para pemimpin daerah yang terbaik dan bertanggungjawab serta mampu menjalankan pembangunan di daerah sebagai basis utama sekaligus penunjang pembangunan nasional ke depan. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku “POLITICS; Membangun Budaya Politik yang Santun dan Beradab”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s