Belajarlah dari Kehidupan

4 Okt

LifeSAYA sangat percaya jika Anda pernah mendengar ungkapan ini : Kehidupan adalah guru. Ya, kehidupan ini sesungguhnya guru yang selalu mengajarkan banyak ilmu, hikmah juga pengalaman.

“Perjalanan hidup seseorang, siapa pun itu, sangat ditentukan oleh pemahaman dan lakonnya dalam kehidupan ini. Itulah gurunya.”

Ya, setiap orang tentu memiliki alur hidupnya masing-masing. Apakah terencana atau tidak, semuanya memiliki jalan hidupnya. Itulah kenyataan hidup yang terpampang nyata dalam kehidupan ini. Bagi mereka yang memiliki rencana hidup yang jelas tentu menjalani kehidupannya secara teratur, sedangkan mereka yang ‘hidup asal hidup’ menjalani kehidupannya apa adanya saja. Keduanya memperoleh hasil yang tentu saja jauh berbeda.

“Mereka yang memiliki rencana hidup akan memperoleh hasil yang maksimal juga memuaskan, apa pun bentuknya. Mereka siap menerima apa pun hasil dari rencana hidup yang mereka susun. Sebaliknya, mereka yang asal hidup akan frustasi dengan kehidupannya. Apa yang mereka peroleh dirasa seperti hukuman yang kadang membuat mereka bertambah gersang dan bingung menjalani kehidupan.”

Sejak SD hingga kuliah bahkan ketika sudah menikah saya termasuk yang dianugerahi untuk hidup mandiri. Dalam kondisi semacam ini saya pun terinspirasi untuk banyak belajar di luar sarana pendidikan formal yang saya geluti. Belajar bagaimana melakoni kehidupan, bagaimana menjadi seorang yang tahan banting dari berbagai tantangan hidup, bagaimana merawat impian-impian saya dan berbagai hal yang bermakna belajar.

Dari sini saya semakin terpahamkan bahwa sekolah atau perguruan tinggi memang tempat menuntut ilmu atau orang mengenalnya sebagai gudang ilmu. Sekolah, perguruan tinggi atau sarana sejenisnya bisa membentuk kepribadian siapa pun menjadi kuat dan meningkatkan kemampuan seseorang. Selain itu, sarana-sarana tersebut juga mampu menaikan derajat seseorang, mengingkatkan keahlian, prestasi dan status sosial.

Namun, itu saja tak cukup. Sekali lagi, tidak cukup. Saya termasuk yang menyaksikan betapa perkembangan dan perubahan zaman telah mendistorsi beberapa manfaat sarana formal tersebut. Bahkan pada kasus tertentu pendidikan formal tidak memberi apa-apa dan tak bermanfaat apa-apa jika seseorang menjalani kehidupan ini hanya berpegang pada sarana-sarana formal yang kerap dijadikan sebagai sarana formalitas semata.

Ada banyak orang yang sibuk mencari gelar atau titel demi mendapatkan penghargaan dan penghormatan dengan segala cara yang kadang tidak halal. Kerap menyontek untuk sebuah orientasi sesaat, mendapat nilai dengan cara curang, skripsi hasil palgiat dan serupanya.

Namun apa yang mereka peroleh? Satu hal buruk yang mereka peroleh adalah kebingungan dan kenestapaan dalam hidup. Betul mereka mendapatkan apa yang mereka kejar, tapi tak sedikit di antara mereka yang hanya mendapatkan simbol-simbol yang tak bermanfaat bagi kehidupan mereka. Bahkan kadang mereka menjadi orang yang “bodoh” dan “ngawur” menghadapi kehidupan nyata.

Dari situ, saya tersadarkan bahwa ujian sesungguhnya ada dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan nyata dimana dinamika kehidupan terjadi, bukan sekadar ujian dalam jalur pendidikan formal.

Pada situasi zaman yang terus berubah ini, manusia tidak lagi hanya dituntut belajar secara teori melainkan dengan praktik dalam kehidupan nyata. Terlepas dari apakah sarana-sarana pendidikan itu penting atau tidak, jika seseorang tidak memiliki niat dan orientasi baik dengan proses belajar pada jalur pendidikan yang ditempuhnya maka relevansinya dalam kehidupan tidak terlalu mampu mengubah seseorang ke arah yang lebih baik. Lebih buruk lagi jika seseorang tidak memiliki rencana dan prinsip hidup, maka ia pun akan terjungkir balik dalam menjalani kehidupannya.

“Sadarlah bahwa yang mengubah kehidupan ini sesungguhnya terletak pada kemampuan seseorang untuk berkompetesi dalam perjuangan hidup dan dalam kehidupan nyata. Hidup tidak lagi sekadar mengikuti anjuran, tidak lagi berdasarkan rumusan kaku, tapi mesti diujicoba dalam kehidupan nyata.”

Sahabat pena! Masa kini lebih fleksibel, lebih berdinamika dan lebih menantang. Ingat bahwa dunia ini telah maju lebih cepat ketimbang 50 atau 100 tahun sebelumnya. Sekarang seorang anak kecil saja sudah amat akrab dengan internet, HP, laptop dan semacamnya. Perubahan telah mengajak siapa pun ke sebuah dimensi ruang-waktu yang nyaris tanpa batas. Waktu 50 atau 100 tahun sudah dihitung 24 jam sehari—tujuh hari sepekan, bahkan lebih cepat dari itu.

Waktu berlalu begitu cepat dengan dimensi dunia tanpa batas yang ditunjukkan oleh perkembangan teknologi, terutama internet. Surat dari Indonesia bisa diterima dalam hitungan detik di Turki, Mesir, Arab Saudi, Malaysia, Jerman, Prancis, Spanyol, Inggris, Jepang dan lain-lain. Apa yang terjadi di luar angkasa sana dapat diketahui secara cepat di dunia. Itulah kecepatan, perubahan dan kemajuan. Dunia lama telah ditinggalkan dan diganti dengan perkembangan baru.

Mesti diakui secara jujur bahwa kehidupan nyata adalah ujian sesungguhnya dari proses perubahan menuju kehidupan. Sayangnya sarana-sarana pendidikan seperti yang disebutkan di awal tidak selalu mengantisipasinya secara dini. Dengan begitu, tak sedikit orang yang memiliki banyak gelar tapi minus peran alias kosong karya. Alih-alih mereka justru bingung dengan dirinya sendiri. Anda menyaksikan banyak orang seperti itu, bukan?

“Orang yang tak memahami apa yang tidak dia ketahui takkan pernah paham apa yang mesti dia pahami. Dengan begitu, dia pun hanya menjadi onggokan kosong yang tak memberi manfaat apa-apa untuk diri juga lingkungannya.”

Bagi saya, kehidupan ini adalah tempat belajar sekaligus guru. Dari kehidupan nyata saya belajar mandiri, menata dan melakoni kehidupan berdasarkan rencana yang telah saya susun sejak lama.

Saya sadar betul bahwa hanya mereka yang berani mengarungi tantangan hidup saja yang bisa bertahan dalam hidup; selebihnya hanya akan menjadi pemangsa kehidupannya sendiri. Dan karena itu, saya berusaha untuk belajar dan terus belajar.

“Manusia hidup bukanlah mereka yang hanya bisa bernafas, tapi mereka yang berani melakukan sesuatu dan mampu mengambil hikmah dari seluruh kejadian, peristiwa dan tantangan hidup yang mereka lalui secara tulus dan bijak.”

Selama di Bandung (termasuk menjelang pindah ke Cirebon Awal Oktober 2010 lalu), saya menyaksikan tak sedikit sahabat saya yang mandiri dalam hidup. Mereka begitu sukses melakoni kehidupan dengan rencana yang matang.

Uniknya, tak sedikit di antara mereka yang sukses dalam karir pendidikannya karena usaha sendiri. Ada yang mendirikan penerbitan, menjadi pedagang buku dan baju kaos, menjual bakso, dan beberapa jenis aktivitas yang sedikit-banyak telah membantu mereka dalam menjalani kehidupan—termasuk membiayai kuliah bahkan biaya walimahan pernikahan mereka.

Yang tak kalah dahsyatnya, di antara mereka ada yang menjual pulsa, mengajar, mendirikan lembaga pelatihan, menjaga warnet dan menjadi karyawan rentalan komputer. Uang hasil usaha dan aktivitas ini mereka gunakan untuk kehidupan sehari-hari, untuk biaya kuliah juga untuk berbagai aktivitas sosial seperti membantu yayasan yatim piatu, anak-anak berekonomi lemah agar melanjutkan sekolah juga kuliah dan lain-lain.

Untuk siapa pun Anda, saya ingin berbagi kepada Anda. Baca dan renungi pernyataan berikut ini:

“Mari melakukan penyadaran ulang untuk mengetahui bahwa dunia ini telah berubah dan berkembang. Zaman sekarang semuanya tidak bisa dilihat hanya sebelah mata, tidak bisa dilakoni tanpa tujuan yang jelas. Perubahan zaman dan pola hidup telah membawa manusia berada pada tingkatan hidup yang lebih makmur, tentu dengan berbagai tuntutannya. Perkembangan zaman telah memaksa manusia sehingga mau tidak mau mesti terlibat di dalamnya bahkan harus menjadi pelaku utamanya.”

Sahabat pena! Berubah adalah bertumbuh. Bertumbuh adalah berkembang. Bertumbuh adalah berjalan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna bagi diri sendiri dan orang lain, lebih memberi makna untuk keberhasilan atau kesuksesan kehidupan ini. Ruang-ruang itulah yang biasanya kosong dalam kehidupan manusia, sehingga tak sedikit orang yang tidak melihat dan enggan memahami esensi perubahan dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Persoalan lain adalah, tak sedikit orang yang tidak mengetahui di bagian mana kehidupannya yang harus dirubah, pada sisi mana ia harus tumbuh. Minimnya kesadaran akan perubahan telah menjadi sebuah dilema kehidupan yang mengakar dan membudaya sehingga jangankan mengubah sebuah negara, merubah dirinya sendiri belum bisa. Tragis, bukan?

“Kehidupan ini selalu memberi banyak kenangan yang sulit dilupakan. Ada banyak cerita dan pengalaman yang membuatnya menjadi lebih indah. Mereka yang sukses memahami kehidupan sebagai perjalanan yang mesti dilakoni dengan kesungguhan adalah diantara para pemenang sejati. Sebab merekalah yang bersedia menjadi murid atau siswa terbaik bagi kehidupannya. Karena mereka sadar bahwa kehidupan ini adalah guru terbaik.”

Akhir kata, tanpa bermaksud menggurui Anda, saya ingin mengingatkan bahwa apa pun profesi Anda, di mana pun Anda bekerja serta apa pun jabatan Anda, percayalah bahwa kehidupan ini adalah guru paling bijak. Tempat belajar yang selalu terbuka dan gratis bagi siapa pun yang ingin belajar sepanjang masa. Mari menjadi murid atau siswa terbaik baginya, semoga dengan begitu kehidupan ini semakin bermakna dan indah untuk dikenang! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku (1) “MERAWAT MIMPI, MERAIH SUKSES”, (2) MENULIS itu PRAKTIK”, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di IAI Bunga Bangsa Bangsa Cirebon, Narasumber Selamat Pagi Cirebon di Radar Cirebon Televisi-SPC di RCTV].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: