Substansi dan Makna Transformatif Haji

Substansi dan Makna Transformatif HajiMUSIM haji kembali tiba, Indonesia sudah menerbangkan jemaah haji melalui kelompok terbang di berbagai embarkasi yang ditentukan. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, telah tercatat sejarah yang cukup spektakuler karena bisa memberangkatkan jemaah haji dengan jumlah yang fenomenal. Bahkan, daftar tunggu (waiting list) calon jemaah haji sudah mencapai 5-15 tahun. Fenomena ini bisa dikatakan cukup menggembirakan sekaligus menggundang keprihatian.

Menggembirakan, karena hal itu menunjukkan secara kuantitatif semangat umat Islam Indonesia dalam memenuhi panggilan Allah sebagai bentuk perwujudan dari praktek rukun Islam yang kelima begitu tinggi. Tapi, pada konteks lain justru menghadirkan keprihatinan. Sebab di tengah spirit umat Islam Indonesia untuk pergi ke tanah suci yang menggebu-gebu itu, tidak serta merta diimbangi dengan praktek tranformasi dalam menafsirkan pesan penting ibadah haji.

Tak sedikit jemaah haji yang pergi demi mendapatkan gelar haji semata. Tak mustahil, jika demi mendapat “predikat haji” itu kabar miring bahwa mereka pergi haji dari uang korupsi, tidak peduli terhadap tetangga yang dililit kemiskinan bahkan saat pulang dari haji pun tidak mengalami perubahan dramatis sebagai buah manis dari imbalan haji mabrur, bukan bualan belaka.

Memang setiap orang (muslim) bisa pergi haji, selama ia memiliki dana cukup. Tetapi, hanya orang khusus yang bisa meraih haji mabrur. Karena untuk meraih haji mabrur itu tidaklah gampang.

Makna Substansi

Alkisah, sepasang suami-istri yang tak sempat ke Mekah bisa meraih derajat seperti haji mabrur. Apa sebab? Sepasang suami-istri yang tidak tergolong kaya ingin pergi haji. Praktis, keduanya bekerja siang malam, dan bekerja dengan susah payah untuk bisa mengumpulkan uang sebagai bekal ke Mekah. Rupanya, kerja keras itu tidak sia-sia, mereka berhasil mengumpulkan uang dan bisa berangkat. Akhirnya, saat musim haji tiba, mereka berangkat.

Sebelum keduanya tiba di Mekah, di perjalanan mereka menemui perkampungan miskin, banyak warga miskin dan anak-anak diserang busung lapar. Saat itu, keduanya tak kuasa menahan air mata. Keduanya merasa iba, bahkan akhirnya memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke Mekah, dan memberikan semua uang dan bekal yang dibawa kepada penduduk tersebut.

Di balik keputusan itu, keduanya ingat sebuah hadits nabi, “Tidak beriman seseorang yang tidur lelap sementara ia mengetahui tetangganya kelaparan.” Itulah yang menjadi landasan bagi keduanya. Apalagi, mereka paham bahwa ibadah haji adalah perintah Allah yang wajib ditunaikan tetapi manfaatnya hanya bagi mereka berdua. Karena itu, mereka pun memilih memberikan bekal yang dibawa dan kemudian pulang ke kampung halaman.

Hal yang tak terduga pun terjadi. Ketika suami-istri itu sampai di rumah, ada orang asing tidak dikenal yang menunggu di rumah. Setelah memberi salam, orang itu berkata, “Selamat datang dari haji mabrur.” Tentu, suami-istri itu terperangah. Keduanya tak merasa pergi haji. Akhirnnya, mereka menceritakan apa yang dialami di perjalanan. Anehnya, setelah mendengarkan cerita dari sepasang suami istri itu, tamu tersebut menjawab, “Itulah haji mabrur!”

Kisah seperti ini bukan saja terjadi dalam tradisi sufi, tetapi memang kerap terjadi. Tanpa mengurangi keniscayaan untuk berangkat haji dan kendati kisah ini terlihat dramatis, tapi pesan dan substanisnya bisa jadi bahan renungan kita semua. Apalagi, ketika musim haji tiba, orang-orang kaya berlomba-lomba pergi ke Mekah, tetapi mereka nyaris menutup mata dan telinga terhadap keadaan di sekeliling, tetangga yang dilanda kepahitan hidup. Jadi, pesan dari kisah tersebut tidak lain bahwa untuk meraih haji mabrur itu selain menyinergikan nilai keimanan pada Allah, faktor lain adalah tak melupakan perhatian atau empati terhadap kemanusiaan. Setiap orang muslim yang pergi ke tanah suci, tidak ada lain kecuali ingin merengkuh buah manis ibadah haji berupa haji mabrur. Tetapi, ruh (substansi) penting dari haji mabrur itu kerap kali diabaikan oleh sebagian besar jamaah haji Indonesia.

Makna Transformasi

Dalam konteks transformasi, praktek ibadah haji menghendaki beberapa hal. Pertama, secara substansi ibadah haji itu untuk meraih tingkat ketaqwaan yang lebih tinggi. Tidak mustahil, jika jemaah sepulang dari tanah suci akan lahir sebagai manusia yang memiliki kesadaran baru. Ibadah haji bukan piknik, tetapi ritual agung yang dapat membawa manfat besar, bisa mengubah prilaku dan sikap hidup pasca haji, serta merengkuh tahap demi tahap perubahan ke arah yang lebih baik.

Kedua, semua jenis ibadah (mahdah), termasuk haji, titik tekannya adalah aspek vertikal (dengan Allah), tetapi bukan berarti lepas dari aspek horizontal (dengan sesama manusia). Karena itu, tanpa dibarengi aspek terakhir tersebut, tentu ibadah haji yang dilaksanakan dengan susah payah bisa saja berkurang maknanya di hadapan Allah. Tidak jarang jamaah haji hanya lebih menekankan aspek vertikal dan melupakan aspek sosial. Karena iming-iming surga, orang kemudian egois dan berkali-kali pergi haji, sementara tetangga di sekitar banyak yang menderita dan hidup dalam kelaparan.

Padahal—sebagaimana yang diungkap oleh Kuntowijoyo (2000), makna ibadah haji tidak bisa dilepaskan dari tiga hal penting, yakni aspek horizontal, vertikal dan aspek diagonal frontal. Ketiga aspek penting tersebut, kata Kunto, membangun konfigurasi spiritual dan sosial bagi jemaah haji pasca dari tanah suci. Ketika bangunan ketiga aspek itu diejawantahkan dalam kehidupan sosial, maka yang lahir adalah terkikisnya ego dan kesombongan (keangkuhan). Dengan cara pemaknaan semacam itulah, maka seseorang muslim kembali dari haji akan menemukan jati diri sebagai manusia yang memiliki kesadaran baru, yang penuh pengabdian kepada Sang Khalik di samping memiliki kesadaran untuk berempati pada dunia, lingkungan, dan orang lain.

Jika saja cita menunaikan ibadah haji dibarengi dengan semangat empati sosial-kemanusiaan, maka ibadah haji dapat memenuhi salah satu peran fungsionalnya sebagai sarana transformasi manusia dari egoisme dan keangkuhan individu menuju empati dan kolektifisme kemanusiaan. Dan sekali lagi, itulah makna lain haji mabrur. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku “Pendidikan dan Guru Peradaban”, Pegiat PENA di IAI Bunga Bangsa Cirebon. Tulisan ini dimuat pada halaman 4 Kolom Wacana Harian Umum Radar Cirebon Jumat 4 September 2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s