Kemerdekaan dan Optimisme Kita

Kemerdekaan dan Optimisme Kita
Kemerdekaan dan Optimisme Kita

HARI ini, Senin 17 Agustus 2015 adalah hari yang sangat penting bagi bangsa dan negara kita, Indonesia. Sangat penting, sebab pada tiap tanggal 17 Agustus-lah kita peringati sebagai HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI), yang untuk tahun ini kita selenggarakan sebagai HUT RI yang ke-70.

Substansi perayaan apapun, termasuk HUT RI adalah mengkristalnya nilai-nilai perjuangan sekaligus pesan-pesan proklamasi sebagaimana yang diperjuangkan para pejuang dengan jiwa dan raga mereka (yang hingga kini tak berbilang jumlahnya) dalam jiwa dan raga bangsa kita di era sekarang; bukan mengulangi kembali perilaku khas penjajah berupa pemiskinan, pemboikotan, pemecahbelahan dan pemborosan (Taufiq Ismail, 2013).

Mesti diakui, selama ini kita terbiasa membayangkan Indonesia sebagai sebuah “satuan besar” yang beban pembenahannya diletakkan sepenuhnya di pundak kita. Kita tak dibiasakan memandang pembenahan Indonesia sebagai hasil penjumlahan atau akumulasi dari usaha-usaha kecil yang dikerjakan banyak orang dengan segenap keterbatasan masing-masing.

Kita pun terbiasa memandang sejarah sebagai hikayat orang besar yang di pundak mereka Indonesia Raya diusung ke mana-mana. Kita tak terbiasa memahami sejarah sebagai percikan keringat orang-orang yang namanya (mungkin) tak dikenal, yang jumlahnya jutaan, yang memikul serpihan-sepihan kecil Indonesia sesuai dengan keterbatasan kemampuan dan arena kerjanya masing-masing. Mereka adalah penguasa yang memangku jabatan kenegaraan dalam berbagai institusi negara dan rakyat yang bekerja di ruang profesinya masing-masing. Ya, mereka itu adalah kita semua, bukan orang lain.

Namun, inilah penyakit kita. Karena salah dan “dangkal” dalam memahami peran dan tanggung jawab, maka terjadilah kekeliruan paradigmatik sebagai konsekwensinya. Kita terbiasa menunggu orang-orang besar bekerja atas nama dan untuk kita. Kita terbiasa menitipkan perebutan masa depan pada segelintir orang yang kita pandang “lebih dari kita”. Kita pun tak terbiasa “mencicil Indonesia” menjadi bangsa besar dan berwibawa mulai dari keragaman potensi dan spektrum kepentingannya.

Sebagai sebuah proyek, agenda kerja, tanggung jawab, atau tuntutan hidup, Indonesia pun terasa berat. Kita pun dipaksa untuk tak bisa memelihara optimisme. Pesimisme pun begitu dekat dengan kita, bahkan tak hadir sebagai sebuah pilihan, melainkan sesuatu yang tak terhindarkan. Kita terbiasa memborong begitu giat pesimisme, dan sebaliknya, tak pernah belajar secara sungguh-sungguh mencicil optimisme.

Memaknai Kemerdekaan dengan Optimis

Dalam konteks kekinian, kemerdekaan bagi kita bermakna, pertama, mampu menyisihkan mental dan sikap pesimisme. Bahwa dalam memahami dan menghadapi berbagai kondisi yang kadang “tidak menguntungkan” yang melilit bangsa ini, kita tentu tak perlu terjebak lama dalam kubangan putus asa yang melampaui batas.

Pesimisme pada dasarnya tak akan pernah menjadi modal memadai untuk merebut hari ini dan esok yang lebih baik. Pesimisme justru lebih “mantap” untuk menegasikan bahkan menghambat perubahan. Meminjam Noam Chomsky, “Jika Anda berlaku seolah-olah tak ada peluang bagi perubahan, maka sebetulnya Anda sedang menjamin bahwa memang tak akan ada perubahan.”

Dalam konteks inilah, setiap orang tak berkesempatan menjadi penonton tapi justru menjadi pemain yang terlibat aktif. Setiap orang dituntut menjadi pemain (yang terlibat aktif) dalam kapasitasnya masing-masing yang serba terbatas, baik sebagai penguasa maupun sebagai rakyat; baik sebagai generasi tua maupun sebagai generasi muda, apapun latar sosial, politik, suku dan profesinya.

Kedua, mampu membangun dan menjaga optimisme. Ya, langkah kaki kita ke depan selayaknya dimulai dengan belajar membangun dan menjaga optimisme, sedikit demi sedikit. Kita, orang per orang, memang tak akan pernah kuasa membuat Indonesia yang lebih baik sendirian. Tapi, kita bisa melakukan perbaikan dalam skala yang terjangkau, di arena tempat aktivitas masing-masing. Setiap orang pun akan punya skala atau ukuran optimisme versus pesimismenya masing-masing. Maka, setiap orang, dengan cara masing-masing, dapat membangun optimisme sekaligus menyisihkan pesimisme. Pada titik inilah optimisme bukan saja menjadi kemungkinan yang terbuka tapi juga perlengkapan yang sesungguhnya telah kita miliki.

Bagi mereka yang terbiasa dengan mekanisme kerja sentralistik dan perolehan hasil yang instan, gagasan ini tentu tak menarik. Tapi, di sinilah persoalan Indonesia selama pasca reformasi. Kita terbiasa mengelola turbulensi di era baru—yang diakibatkan oleh proses perpindahan dari yang lama ke yang baru itu—dengan menggunakan logika lama dan cenderung antitesis—yang selalu mengemas perlawanan tanpa ada upaya mencari titik temu berbagai potensi dan kepentingan yang terfragmentasi. Padahal itulah kerja besar yang mesti kita jejakkan di era ini dan di masa depan: ya mencari titik temu.

Gagasan ini mungkin tak lazim untuk “membaca” fenomena penguasa, elite politik serta sebagian rakyat akhir-akhir ini. Namun, inilah paling tidak sumbangsih sederhana yang bisa diberikan di saat kita masih saja terjebak dalam kungkungan kepentingan pribadi dan kelompok, tapi menegasikan kepentingan bangsa dan negara. Karena hanya dengan begitulah, rakyat akan menempati posisinya sebagai warga negara yang tahu hak dan kewajiban punya makna dan relevansinya dalam tenunan negara yang kita namai Indonesia.

Indonesia yang lebih baik dan bangkit menjadi lokomotif kebangkitan dunia hanya akan hadir dan terjadi manakala semua elemen menaikan jenjangnya dari sekadar massa kerumunan menjadi massa barisan. Massa kerumunan adalah rakyat, penguasa dan elite politik yang berhenti pada prosedural demokrasi tapi absen untuk menuntaskan kerja-kerja substansi demokrasi. Sementara massa barisan adalah rakyat, penguasa dan elite politik yang tidak saja melalui proses prosedural demokrasi tapi juga menunaikan kerja-kerja substansi demokrasi. Dengan cara dan pola begitulah kita dapat mencicil optimisme untuk negeri ini, sedikit demi sedikit. Akhirnya, mari merayakan dan mengisi kemerdekaan dengan optimisme! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis Esai dan Artikel untuk berbagai media cetak serta Penulis buku POLITICS. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul ‘Kemerdekaan dan Optimisme Kita; Refleks atas HUT RI ke-70]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s