Merayakan Kemerdekaan dengan Merdeka

Merayakan kemerdekaan dengan merdekaSENIN 17 Agustus 2015 adalah hari yang sangat penting bagi bangsa dan negara kita, Indonesia. Sangat penting, sebab pada tiap tanggal 17 Agustus-lah kita peringati sebagai HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI), yang untuk tahun ini kita selenggarakan sebagai HUT RI yang ke-70.

Sebagaimana hari besar serupa, HUT RI kali tentu saja banyak harapan yang kita inginkan. Baik sebagai penyelenggara pemerintahan maupun rakyat biasa, kita semua menghendaki agar nilai dan pesan-pesan proklamasi dapat terejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Sebab—sebagaimana yang diungkapkan oleh Taufiq Ismail (2013)—bahwa, “substansi perayaan apapun, termasuk HUT RI adalah mengkristalnya nilai-nilai perjuangan sekaligus pesan-pesan proklamasi sebagaimana yang diperjuangkan para pejuang dengan jiwa dan raga mereka (yang hingga kini tak berbilang jumlahnya) dalam jiwa dan raga bangsa kita di era sekarang; bukan mengulangi kembali perilaku khas penjajah berupa pemiskinan, pemboikotan, pemecahbelahan dan pemborosan”

Catatan Kaki

Mengafirmasi apa yang disampaikan oleh Taufiq Ismail di atas, lintasan pikiran saya menjadi terngiang oleh dua catatan kaki dalam bentuk dua pertanyaan sederhana: pertama, apakah perayaan yang kerap kita lakukan selama ini benar-benar mengandung makna subtantif yaitu bersyukur kepada Sang Kuasa yang menganugerahkan kemerdekaan, menyampaikan “terima kasih” kepada para pejuang yang telah berjuang sekaligus mengenang juga merefleksikan secara sadar masa “kelahiran” dan “deklarasi” kita sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat?

Kedua, apakah perayaan yang kerap kita peringati begitu rupa (serba sibuk, hiruk pikuk serta—ini yang sangat mencengangkan kita—biaya atau anggaran yang tak sedikit) mampu “menyadarkan” kita agar tidak mengulangi perilaku khas penjajah yang sangat biadab dan di luar batas-batas kemanusiaan?

Kedua pertanyaan tersebut menjadi penting untuk dijawab, sebab faktanya, kita sudah memperingati HUT kemerdekaan bangsa dan negara kita selama 70 kali, namun model perayaan yang kerap kita tunaikan masih bersifat simbolik dan prosedural tanpa kesan dan jauh dari makna substansial. Efek perayaan pun hanya berhenti pada “hiruk pikuk” yang bersifat (dan berkonotasi) materil, belum mampu menumbuhkan jiwa dan sikap-sikap patriotis. Tak perlu jauh, misalnya, korupsi yang jelas-jelas merugikan negara bahkan—menurut data ICW tahun 2013—jika saja hasil korupsi dikumpulkan, maka negara mendapat tambahan anggaran yang mampu membiayai seluruh masyarakat Indonesia sampai 6 atau 7 keturunan, justru belum secara bombastis kita sepakati sebagai musuh bersama (negara) yang mesti kita lawan secara massal; struktural maupun kulturalnya.

Anehnya, para penyelanggara negara-lah justru yang kerap melanggar aturan sehingga berurusan dengan institusi/lembaga penegak hukum dan pemberantas korupsi (seperti kepolisian, kejaksaan dan KPK). Bukan rakyat biasa yang begitu semangat membayar pajak demi kelangsungan perjalanan bangsa dan negaranya. Bahkan, dalam kondisi yang tragis dan ironis semacam itu, para elite begitu ramai mengkampanyekan hidup sederhana dan janji pembelaan atas nama dan untuk kepentingan rakyat, tapi jauh dari sikap dan perilaku kesederhanaan. Rakyat kerap “dipaksa” untuk tidak korupsi dan taat hukum, tapi elite masih tersangkut kasus hukum, korupsi, kriminalitas dan berbagai bentuk pelanggaran amoral lainnya.

Tidak itu saja, pada tiap momentum perayaan HUT, kita (terutama para penggawa negara) kerap hiruk pikuk (dengan hal-hal yang “tidak penting”) hingga “menghamburkan” anggaran negara yang tak sedikit atas nama negara, pada saat sebagian masyarakat masih hidup dibawah garis kemiskinan—yang menurut data BPS angkanya mencapai 40-an juta jiwa, atau menurut standar PBB mencapai 130 juta jiwa.

Bayangkan saja, sebagaimana yang dilansir berbagai media massa, untuk perayaan HUT ke-69 (17/8/2014) di Istana Negara saja ditengarai menghabiskan anggaran sebanyak 11, 3 miliar rupiah (Rp. 11.319.085.353) dengan rincian biaya (lebih besar dari anggaran HUT ke-67 pada 2012 sebesar 7,8 miliar)—yang menurut nurani publik justru terkategori sebagai pemborosan anggaran yang tentu saja lagi-lagi “tidak penting”—sebagaimana layaknya sebuah refleksi dan rasa syukur yang mesti menghadirkan sikap dan perilaku simpati, empati juga kesederhanaan.

Itu baru di tingkat nasional. Dari tahun ke tahun hitungannya tentu semakin akumulatif dan bombastis alias meningkat ketika 33 propinsi, ratusan kabupaten/kota, ribuan kecamatan dan desa/kelurahan serta berbagai instansi juga merayakan HUT dengan anggaran yang tentu saja tak sedikit. Bayangkan saja, hanya untuk sebuah perayaan selama dua sampai tiga jam, negeri ini menghabiskan anggaran begitu banyak. Benar-benar perilaku yang jauh dari keluhuran nurani, nalar sehat dan substansi perayaan HUT kemerdekaan itu sendiri.

Padahal HUT dalam artian refleksi dan rasa syukur sejatinya ditunaikan untuk membangun kesadaran jiwa kita bahwa—sebagaimana yang diungkapkan Mohammad Hatta (Bung Hatta)—“kemerdekaan yang kita rayakan bukan hadiah penjajah Belanda dan Jepang, tapi rangkaian hasil perjuangan para pejuang yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk Indonesia Raya sehingga mendapatkan takdir kemerdekaan dari Sang Kuasa”. Dengan demikian, HUT sejatinya dirayakan secara seksama, menanam pesan perjuangan yang kuat dan menyentuh alam kesadaran untuk selalu menjaga sikap patriotis, serta jauh dari sikap boros seperti manipulasi dan eksploitasi anggaran negara.

Itu bermakna, ketika para penggawa negara begitu semangat “mengkhutbahkan” kesederhanaan, namun pada tempat dan waktu yang sama mereka juga menampilkan pola pemborosan (terutama anggaran negara), maka perayaan HUT kemerdekaan menjadi jauh dari subtansi dan orientasinya. Pada tingkat selanjutnya, perayaan HUT kemerdekaan pun dipertanyakan: apakah negeri ini sudah merdeka, atau hanya (pura-pura merayakan kemerdekaan) serupa kemerdekaan?

Rayakan Kemerdekaan dengan Merdeka

Ketika awal-awal memproklamirkan kemerdekaan, para pemimpin bangsa ini begitu semangat dan penuh patriotis; mereka tidak punya tujuan lain selain memerdekakan bangsa dan mewariskan bumi pertiwi kepada kita (generasi era ini dan ke depan) dalam kondisi merdeka tanpa jajahan asing. Mereka menyadari betul bahwa hidup dalam keterjajahan—apalagi selama hampir 350 tahun—adalah satu pengalaman hidup yang tak perlu dirasakan kembali oleh anak-cucu mereka kelak.

Dengan begitu, proklamasi pada era awal itu pun tak mengeluarkan biaya (uang) sedikit pun. Pengorbanan, keikhlasan, kesungguhan, ketangguhan, semangat, optimisme, kerja keras dan berpikir futuristik (memasa depan) adalah “anggaran” utama mereka untuk memproklamirkan kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan yang mereka torehkan benar-benar menyentuh jiwa mereka; mereka sudah melampaui keterjajahan fisik pada saat jiwa mereka tak pernah berhasil dijajah penjajah. Di atas punggung para pendahulu itu, negeri ini benar-benar merdeka, bukan saja raganya tapi juga—lebih-lebih karena ini yang utama—jiwanya.

Mengenang para pendahulu semacam itu, malu rasanya jika di era ini kita rayakan dengan hura-hura, manipulatif, formalistik, simbolistik dan kosong dari penyadaran kolektif untuk membangun negeri ini secara tulus. Dan karena itu, mari rayakan dengan sederhana, penuh hikmat, evaluatif dan reflektif hingga mampu membangun kesadaran kolektif kita untuk berdiri tegak dan menyolidkan seluruh elemen bangsa dalam merangkai tenunan baru Indonesia.

Di atas segalanya, sejarah negeri ini sejatinya adalah industri para pejuang dan pahlawan yang memiliki jiwa merdeka. Kepada mereka yang berjiwa merdeka itulah negeri ini Allah anugerahkan kemerdekaan; dan kepada generasi penerus yang berjiwa merdeka itu pula-lah para pejuang dan pahlawan itu mewariskan kemerdekaan bangsa dan negara ini. Akhirnya, mari merayakan kemerdekaan dengan jiwa dan raga merdeka dari berbagai bentuk penjajahan! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di RCTV, Penulis buku “POLITICS; Membangun Adab Politik”. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya “Merayakan Kemerdekaan dengan Merdeka; Sebuah Refleksi dan Catatan Politik” yang dimuat pada Kolom Wacana hal. 4 Radar Cirebon pada Sabtu 15 Agustus 2015].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s