Melahirkan Pemimpin Transformatif

Melahirkan pemimpin transformatifBEBERAPA waktu lalu kita, secara nasional disuguhkan oleh agenda politik besar: pendaftaran bakal calon pasangan kepala daerah untuk kurang lebih 269 kepala daerah di tingkat propinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia; dengan beberapa daerah yang—menurut Media Indonesia (4/8/2015)—masih mengalami masalah seputar calon tunggal seperti Kota Mataram-NTB, Kabupaten Timur Tengah Utara-NTT, Kabupaten Tasikmalaya-Jawa Barat, Kota Samarinda-Kalimantan Timur, serta Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan dan Kota Surabaya-Jawa Timur.

Urgensi Kepemimpinan Transformatif

Leader is a dealer in hope. Seorang pemimpin adalah penjual sekaligus pembeli harapan, demikian petuah Napoleon Bonaparte. Pemimpin besar pastilah seseorang yang memiliki karakter yang kuat, punya visi yang mengakar pada kehendak publik, menjadi inspirator dalam setiap situasi, dan—ini yang lebih penting dan mendesak, terutama bagi publik (rakyat) akhir-akhir ini—ia mesti mampu memberi harapan meyakinkan di tengah kesulitan yang mendera kehidupan rakyatnya.

Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt mungkin bukan sosok terbesar dalam sejarah. Namun, keduanya adalah figur yang mampu menginspirasi rakyatnya di masa paling sulit yang harus dilalui bangsanya. Chrucill membawa Inggris melewati ganasnya Perang Dunia II, sedangkan Rosevelt menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat ketika “Depresi Besar” sedang melanda negaranya. Rosevelt berhasil menyuntikkan harapan kala harapan menjadi satu-satunya yang tersisa dari bangsanya.

Dalam perjalanan sejarah negeri ini (Indonesia), kita juga mendapatkan suguhan menarik yang patut dikaji lebih mendalam. Lebih-lebih jika kita ingin agar negeri ini ke depan memiliki pemimpin yang lebih autentik, bukan saja dalam hal keterpilihannya tapi juga kinerjanya, maka mengambil hikmah juga pelajaran dari kepemimpinan masa lalu menjadi niscaya.

Soekarno (Bung Karno), Mohammad Hatta (Bung Hatta), Mohammad Natsir (Pak Natsir) dan para tokoh besar lainnya adalah sosok-sosok yang mampu memimpin, bukan saja dalam konteks struktur negara tapi juga dalam geo-psikologis masyarakat (rakyat) secara umum. Mereka mampu mengalahkan ego personal demi melompat jauh menjadi pemimpin yang inspiratif, menggelorakan juga membanggakan rakyatnya.

Para pemimpin tersebut—terutama ketiga nama yang disebutkan—adalah model pemimpin negeri ini yang sangat unik. Ekspetasi rakyat kepada mereka pun bukan mengalir di saat mereka memimpin saja, tapi juga pasca mereka memimpin bahkan hingga kini di saat mereka telah tiada. Mereka pun mampu menjadi pemimpin yang terkenang sepanjang sejarah republik hingga kini. Sebagai pemimpin yang “transformatif”, mereka mampu menapak peran kepemimpinannya dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Tak ada basa-basi atau sekadar membangun citra, yang mereka miliki adalah kontribusi tanpa hiruk pikuk janji. Mereka gemar berbagi inspirasi hingga menggelorakan semangat rakyat untuk bekerja demi kemajuan bangsa, dan pada saat yang sama mereka tak gemar berpuisi janji, tapi lebih suka mengeja prosa. Merekalah—yang oleh Sastrawan terkenal, Taufik Ismail, menyebut mereka sebagai—tokoh dan pemimpin bangsa yang bukan saja dikenang sejarah, tapi juga mampu melahirkan banyak sejarah.

Dalam konteks momentum memilih pemimpin di era ini, khususnya pada perhelatan pilkada serentak yang segera menjelang (9 Desember 2015), apa yang dilakoni oleh pemimpin besar bangsa ini di masa lalu sejatinya merupakan alarm paling akurat bagi kita bahwa pemimpin itu bukanlah satu nama untuk mereka yang kerap berjanji tapi suka mengingkari; pemimpin itu bukanlah satu panggilan untuk mereka yang begitu pandai memadu citra tapi hanya berbalut kepalsuan.

Sebab, pemimpin adalah satu nama untuk mereka yang tak sibuk dengan janji dan tidak peduli dengan citra diri, karena mereka hanya sibuk membuat pekerjaan dan mengerjakan pekerjaan tersebut, sehingga mereka tercitra sebagai pemimpin yang layak diteladani. Tanpa media massa yang begitu masif mengenalkan mereka ke ruang publik pun, para pemimpin itu tetap saja dikenal dan dikenang oleh sejarah bangsa, termasuk oleh nurani rakyat.

Dalam studi kepemimpinan, politisi-negarawan pasti menerapkan model kepemimpinan tranformasional yang memiliki visi yang kuat dan memasa depan. Pemimpin model ini tidak mudah tersuluh dalam kubangan politik transaksional dengan berbagai jargon ilutif yang bisa jadi hanya branding di media massa demi meraup suara tanpa kejelasan arah. Pemimpin (politisi-negarawan) akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dalam memimpin, baik dalam skala individu maupun organisasi (Tichy dan Devanna, 1993).

Bass dan Avolio (1994), dalam buku Improving Organizational Efectiveness through Transformasional Leadership, kepemimpinan transformasional dicirikan oleh The four I’s, kepemimpinan transformasional dicirikan oleh The Four I’s (empat huruf ‘I’). Pertama, idealized influence, rakyat dibuat berdecak kagum, hormat dan percaya. Tidak ada elemen publik (yang benar-benar sesuai nurani publik) yang “menuduh” pemimpinnya sedang melakukan kebohongan publik—termasuk dalam berbagai situasi politik. Autentisitas menjadi mantra yang membuatnya “bersungguh-sungguh” bekerja untuk kepentingan publik.

Kedua, mampu menggelorakan inspirational motivation, menyuntikkan motivasi dan asa pada rakyatnya serta mampu merealisasikan harapan menjadi kenyataan. Ketiga, intellectual stimulation. Gaya kepemimpinan transformasional kaya akan ide-ide baru, gagasan-gagasan baru juga terobosan yang inspiratif. Sebab sang pemimpin sadar betul bahwa pemimpin adalah leader bukan dealer.

Keempat, individualized consideration, yang mau mendengar keluhan bawahan, bersikap layaknya manusia, dan apa adanya. Dalam arti yang luas, pemimpin tidak membuat benteng pemisah dengan rakyatnya. Ia sadar bahwa diri dan yang dipimpinnya adalah “orang” bukan “orang-orangan”.

Harapan Rakyat-Pemilih

Dalam konteks menjelang dan momentum pilkada 9 Desember 2015 mendatang, kita sebagai rakyat-pemilih tentu memiliki harapan, misalnya, pertama, para pemimpin segera berhenti berpuisi dan segeralah membuat prosa. Janganlah menjejali rakyat dengan bait-bait janji dan harapan atas nama “pengalaman”, “rakyat”, “kemampuan”, “karakter”, “ketegasan”, “mentalitas” dan serupanya yang dipidatokan di berbagai momentum dan panggung. Bagi rakyat, semua itu adalah “puisi janji”, padahal rakyat hanya butuh “prosa naratif” yang sangat mungkin mampu ditunaikan kelak.

Bagi rakyat (pemilih), memerintah itu bagaikan membuat prosa yang diisi dengan narasi yang “menguraikan” sekaligus “menuntaskan”. Ketika pidato politik hanya menyentuh “langit” elite tapi tak menyentuh “bumi” rakyat, maka pidato tersebut pun segera masuk dalam kategori puisi janji. Padahal, memimpin daerah di negeri belasan ribu pulau, berratusan juta penduduk dan berbagai permasalahan yang begitu rumit ini membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan teknokrasi yang canggih dan kemampuan pemetaan masalah yang strategis, di samping kematangan yang ditopang oleh pengalaman menyelesaikan masalah-masalah yang nyaris tak terjangkau oleh para pemimpin yang sudah berlalu.

Kedua, para pemimpin tak mudah menjual nama rakyat dengan berbusa-busa menyebar tema “demi kepentingan rakyat” yang justru menodai hak azasi dan harga diri rakyat. Bagi rakyat, pemimpin yang pro rakyat itu bukan sekadar yang kerap menyapa rakyat dengan balutan citra dan kemasan yang serba mengada-ada. Pemimpin pro rakyat adalah pemimpin yang kebijakannya tidak mencekik hak dasar (azasi) rakyat dalam segala aspeknya.

Di atas segalanya, kita sejatinya memiliki tugas sejarah yaitu menyokong dan mendukung proses pilkada, termasuk memberi kritik dan interupsi kepada siapapun yang pemimpin terpilih agar menjaga amanah, janji dan tanggungjawab. Hanya dengan begitulah, kita tidak terjebak sebagai penagih janji atau mengharap autentisitas kepada pemimpin/kepala daerah semata, tapi juga menjadi rakyat-pemilih yang autentik kepada diri kita sendiri. Itulah kunci utama yang membuat pilkada serentak benar-benar menjadi momentum bagi terlahirnya kepemimpinan transformatif dalam kehidupan kita. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku “POLITICS; Membangun Adab Politik”, Penulis artikel dan esai di berbagai media cetak lokal dan nasional. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Melahirkan Pemimpin Transformatif (Catatan dan Harapan untuk Pilkada Serentak 2015)”, yang dimuat pada Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Senin 10 Agustus 2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s