Belajar Memimpin Sebelum Memimpin

Belajar Memimpin sebelum Memimpin
Belajar Memimpin sebelum Memimpin

AKHIR-akhir ini kita disuguhkan berita seputar pilkada serentak. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa di sekitar 269 daerah (propinsi dan kabupaten/kota) kini sedang menjalani persiapan pilkada serentak yang akan terselenggara pada 9 Desember 2015 mendatang. Satu hal penting dari fenomena ini adalah bahwa memilih dan menjadi pemimpin (kepala daerah) merupakan urusan yang sangat penting. Karena penting, maka siapapun (terutama para bakal calon) mesti menyiapkan diri, terutama dalam hal model sekaligus modal kepemimpinan.

Keunikan Kepemimpinan Umar

Dalam konteks pembelajaran, baik sebagai pemimpin (kepala daerah) maupun sebagai rakyat biasa (pemilih), kita sepatutnya banyak mengambil hikmah dari kepemimpinan para pemimpin besar dan berpengaruh dalam sejarah manusia, misalnya, Umar Bin Khattab ra. Dengan harapan, agar ke depan kita tak “sekadar memimpin” tapi juga mampu menjadi pembawa semangat baru dalam pembangunan daerah, bahkan menjadi spirit kepemimpinan dalam sejarah bangsa dan kemanusiaan lintas sejarah dan peradaban.

Kisahnya memang unik dan melegenda. Ya, Umar Bin Khattab ra. termenung lama. Lama sekali. Apakah ini kebaikan atau musibah? Begitu ia bertanya pada dirinya sendiri tentang fenomena kemenangan–kemenangan besar yang ia peroleh. Tiba-tiba ia tersadar bahwa eranya terlalu jauh berbeda dengan era kedua pendahulunya: Rasulullah SAW. dan Abu Bakar As-Siddiq ra.

Di era Umar teritori pemerintahannya menjadi lebih dari 18 negara kalau dikonversi dengan era sekarang. Populasi umat Islam juga bertambah begitu pesat. Lahirlah sebuah masyarakat yang mulitikultur yang sangat besar. Lalu ada kemakmuran dan kesejahteraan serta kekayaan yang melimpah ruah. Ini semua belum ada di era Nabi dan Khalifah pertama. Itu meresahkan Umar. Apakah ini kebaikan? Atau malah musibah? Kalau ini kebaikan, mengapa ini tidak terjadi pada masa sebelumnya? Kalau ini musibah, Apakah Allah hendak memisahkan aku dari kedua pendahulu?

Ini tentu bukan keresahan pemimpin biasa, tapi merupakan pemimpin luar biasa yang tidak pernah selesai belajar. Ia adalah pemimpin-pembelajar yang bertanya dan terus bertanya, walau hanya dalam alam kesadaran dirinya. Ia berpikir dan terus berpikir. Dan hasilnya nyata. Hasil pembelajaranya sekarang menjadi sumber pembelajaran nyata. Hasil pembelajarannya sekarang menjadi sumber pembelajaran kita semua. Beliau telah mendampingi Rasulullah SAW. sekitar 18 tahun dan mendampingi Abu Bakar selama 2.5 tahun. Umar telah belajar banyak.

Jadi walaupun zaman yang Umar lalui terlalu jauh berbeda, tetapi Umar memiliki sumber pembelajaran lapangan selama 20-an tahun dan itu memadai untuk membantu pemimpin yang sangat tegas dan cekatan itu dalam meletakkan dasar-dasar negara baru di Madinah.

Umar sangat berjasa dalam meletakkan dasar-dasar dari konstitusi dan sistem pemerintahan, menata sistem keuangan negara, memulai pembentukan dan pengorganisasian tentara profesional setelah sebelumnya setiap warga negara diharuskan menjadi mujahid dan prajurit negara, mengatur strategi ekspansi militer yang kemudian melahirkan futuhat atau pembebasan-pembebasan besar yang berpuncak pada pembebasan Al-Aqsha, mendistribusi para ulama ke berbagai wilayah, membentuk pemerintahan-pemerintahan daerah di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan.

Itu sebabnya, Rasulullah SAW. dan Abu Bakar ra. bersama Umar Bin Khattab ra. selalu diletakkan sebagai founding fathers dari Negara Madinah. Suatu saat sang pendiri negara itu berpesan kepada siapapun yang akan menjadi pemimpin: “Ta’allamu Qobla An Tasuuduu: Belajarlah sebelum kalian memimpin.” Dan Umar pun telah mewujudkannya dalam rentang waktu dan sejarah kepemimpinannya.

Harapan untuk Para Pemimpin

Dari sejarah kepemimpinan Umar—termasuk juga para pemimpin berpegaruh lainnya—kita dapat memahami beberapa catatan dan hikmah menarik yakni, pertama, pemimpin mesti mampu mewujudkan harapan rakyat. Leader is a dealer in hope. Seorang pemimpin adalah penjual sekaligus pembeli harapan, demikian petuah Napoleon Bonaparte. Pemimpin besar pastilah seseorang yang memiliki karakter yang kuat, punya visi yang mengakar pada kehendak publik, menjadi inspirator dalam setiap situasi, dan—ini yang lebih penting dan mendesak, terutama bagi publik (rakyat) akhir-akhir ini—ia mesti mampu memberi harapan meyakinkan di tengah kesulitan yang mendera kehidupan rakyatnya.

Kedua, pemimpin mesti menjadi inspirator yang mendapat ekspetasi dari rakyatnya. Selain Umar, dalam sejarah pemimpin dunia kita tentu masih ingat dengan Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt. Keduanya bukan sosok terbesar dalam sejarah. Namun, keduanya adalah figur yang mampu menginspirasi rakyatnya di masa paling sulit yang harus dilalui bangsanya. Chrucill membawa Inggris melewati ganasnya Perang Dunia II, sedangkan Rosevelt menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat ketika “Depresi Besar” sedang melanda negaranya. Rosevelt berhasil menyuntikkan harapan kala harapan menjadi satu-satunya yang tersisa dari bangsanya.

Ketiga, pemimpin mesti tak pernah berhenti belajar. Dalam konteks Umar, maka dapat dikatakan bahwa pemimpin tak pernah berhenti belajar, karena pemimpin adalah pembelajar sejati. Dalam perjalanan sejarah negeri ini (Indonesia), misalnya, kita juga mendapatkan suguhan menarik yang patut dikaji lebih mendalam bahkan layak diteladani.

Kita tentu sangat ingat sejarah kepemimpinan Soekarno (Bung Karno), Mohammad Hatta (Bung Hatta), Mohammad Natsir (Pak Natsir) dan para tokoh besar lainnya. Mereka adalah sosok-sosok yang mampu memimpin dan menjadi pemimpin-pembelajar, bukan saja dalam konteks struktur negara tapi juga dalam geo-psikologis masyarakat (rakyat) secara umum. Mereka mampu mengalahkan ego personal demi melompat jauh menjadi pemimpin yang inspiratif, menggelorakan juga membanggakan rakyatnya.

Akhirnya, belajar dari Umar dan para pemimpin yang lainnya memang mestinya menghadirkan kesadaran baru pada diri kita, terutama sebagai kepala daerah yang dinanti dan patut diteladani oleh rakyatnya. Kepala daerah mesti menjadi pembawa semangat baru dan mendorong secara aktif rakyatnya untuk segera terlibat dalam pembangunan daerah. Sebab substansi pilkada bukan sekadar memilih kepala daerah, tapi juga membangun kesadaran rakyat untuk menjadi pelaku utama pembangunan daerah. Mari menjadi pemimpin/kepala daerah dan rakyat pembelajar! [Oleh: Uum Heroyati—Tenaga Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon-Jawa Barat sejak 2009, Penulis buku “Pendidikan dan Guru Peradaban”, Tim Redaksi Penerbit Mitra Pemuda. Dimuat di hal. 4 Kolom Wacana Radar Cirebon pada 6 Agustus 2015 dengan judul “Belajar Memimpin sebelum Memimpin”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s