Ramadan Mulia dan Pendidikan Utama Anak

Ramadan Mulia dan Pendidikan Utama Anak
Ramadan Mulia dan Pendidikan Utama Anak

DALAM konteks kehidupan keluarga, Ramadan dengan segala rupa ibadah juga amal khasnya seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, zakat, infak, sedekah, silaturahim, sahur, berbuka puasa dan sebagainya; bukan saja dapat mendidik diri kita sebagai orangtua, tapi juga dapat dijadikan sebagai momen mendidik keluarga, ya khususnya anak kita, agar menjadi generasi terbaik. Bukan saja dalam skala individu dan keluarga, tapi juga dalam skala masyarakat dan bangsa.

Sebagai pasangan suami-istri yang mendapatkan amanah untuk memiliki anak (keturunan) yang baik dari Allah Swt., fakta dan fenomena anak-anak (remaja) yang terjerat kriminalitas akhir-akhir ini tidak serta merta disalahkan kepada sekolah dimana anak-anak menempuh pendidikan. Sebab—menurut Yusuf Qardhawi (2004)—tanggungjawab utama pendidikan anak sejatinya ada pada pundak kedua orangtuanya. Orangtuanyalah yang punya tanggungjawab bahkan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari akhirat.

Betul bahwa sekolah dimana guru diberi mandat untuk mendidik peserta didik (baca: anak-anak) wajib menunaikan proses pendidikan secara profesional, namun itu hanyalah sarana “bantuan” yang berbentuk formal (baca: pendidikan formal); sementara pendidikan utama anak dalam seluruh sudutnya tetap saja menjadi tanggung jawab kedua orangtuanya, baik dalam pendidikan yang menyangkut urusan duniawi (dunia) maupun menyangkut urusan ukhrawi (akhirat).

Tiga Pendidikan Prioritas

Menurut Subliyanto (2014), untuk memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita, maka anak mesti memperoleh tiga pendidikan utama yaitu pendidikan tauhid, pendidikan akhlak, dan pendidikan ibadah. Semakna dengan itu—menurut Adian Husaini (2014)—anak juga wajib mendapatkan pengetahuan akhlak (adab), tapi juga mendaptkan pendidikan teladan (adab) orangtuanya yang kelak dapat menunjang pembentukan dirinya menjadi anak atau generasi yang beradab dan paham akan hakikat kehidupan dunia serta terdorong untuk berkontribusi besar dalam kehidupan sosial: masyarakat, bangsa dan negaranya.

Pertama, pendidikan tauhid. Dalam hal ini, orangtua mesti mengenalkan kepada anaknya tentang Allah Swt. sebagai penciptanya dan pencipta alam semesta dan isinya, sehingga keimanan anak (kepada Allah Swt.) benar-benar melekat dan tertanam dengan kuat di hatinya. Dengan begitu, anak semakin menyadari dan meyakini bahwa ia adalah makhluk yang diciptakan Allah Swt. dalam satu proses panjang yang unik (QS. al-Mu’minun: 12-14).

Jika kesadaran imani semacam ini dibentuk sejak dini, terutama pada momen puasa Ramadan, maka kelak di saat remaja dan dewasa, sang anak akan muncul sebagai generasi yang bukan saja takwa kepada Allah Swt. (dalam makna menjalankan perintah Allah Sqt. dan menjauhi larangan-Nya), tapi juga menjadi generasi level ihsan, yaitu generasi yang menyadari bahwa kehidupan ini selalu diawasi oleh Allah Swt.; menyadari bahwa walaupun dirinya tak melihat wujud Allah Swt. tapi ia tetap meyakini bahwa Allah Swt. selalu mengawasinya.

Kedua, pendidikan akhlak. Dalam khazanah pendidikan Islam, pendidikan akhlak kerap juga disebut dengan pendidikan adab. Maka Rasulullah Saw. bersabda “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik”. (HR. Abu Dawud). Pada konteks ini orangtua wajib menamkan karakter-karakter baik kepada anaknya. Maka anak mesti diajar dan dibimbing agar memahami bagaimana akhlak atau adab dalam kehidupannya; baik adab kepada diri sendiri, maupun adab terhadap orang lain (orangtua, sahabat), serta adab atau beramal dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, kebangsaan bahkan kenegaraan.

Puasa Ramadan, misalnya, menghendaki kita untuk jujur; sehingga berdusta (seperti mengaku berpuasa padahal menyantap bakso di siang hari tanpa argumentasi yang dibenarkan syariat) bukan saja termasuk kategori perilaku buruk yang memalukan tapi juga dapat menghilangkan barakah dan hakikat puasa kita. Dalam konteks pendidikan anak, di sinilah momen bagi orangtua untuk menanamkan kejujuran bagi anaknya. Minimal latihan bersabar dan jujur atas kehendak syahwat perut untuk tidak makan melampaui batas, bahkan untuk makan di saat seharusnya dilarang makan.

Pendidikan akhlak atau adab sendiri merupakan prioritas pendidikan Islam, sebab ia merupakan misi utama diutusnya nabi Muhammad Saw. Beliau Saw. bersabda : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bazzar). Dalam maknanya yang mendasar, akhlak bukan sekadar urusan sopan santun, tapi soal adil, bijaksana, jujur, empati dan responsif serta tanggungjawab dan akhlak dalam kehidupan sosial.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab pernah berkata; “Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajlis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman, seorang fakih di kota Madinah di masanya. Ibuku berkata,“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Ketiga, pendidikan ibadah. Pada konteks ini orangtua mengajar dan membimbing anaknya untuk beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dan nabi Muhammad Saw. sebagai syarat diterima atau tidaknya ibadah.

Ramadan adalah momen terbaik bagi orang tua untuk menanamkan kesadaran kepada diri dan anaknya bahwa hakikat manusia yang sesungguhnya adalah sebagai ‘abdullah, yaitu hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah berfirman : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Menurut Fauzil Adhim (2008), sebagai generasi masa depan bangsa, anak-anak kita mesti mendapatkan pendidikan sejak dini. Pendidikan Islam dalam hal iman, ibadah, dan akhlak mesti menjadi prioritas utama. Sebab kegagalan dalam mendidik hal prioritas di usia anak-anak sangat berpengaruh terhadap kualitas mereka kelak di saat dewasa.

Mengamini Fauzil Adhim, maka benarlah jika dikatakan bahwa pendidikan tauhid, ibadah dan akhlak merupakan mata rantai pendidikan yang tidak bisa dipisahkan pelaksanaannya dalam kehidupan anak sejak kecil, masa remaja dan dewasa bahkan di hingga tua kelak. Sungguh, Ramadan tiba mendesak kita agar mampu menjadikannya sebagai momen untuk mendidik diri dan generasi setelah kita, ya anak kita menjadi generasi beradab dalam maknanya yang hakiki.

Akhirnya, selamat beribadah di Ramadan mulia, selamat mendidik generasi beradab! [Oleh: Uum Heroyati—Penulis adalah Pengajar (Guru) di SDIT Sabilul Huda Cirebon, Penulis buku “Pendidikan dan Guru Peradaban”. Dimuat pada halaman 12 Kolom Opini Harian Umum Fajar Cirebon, Rabu 1 Juli 2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s