Akhir Riwayat Nikah Beda Agama

Hakim MK Memutuskan bahwa Nikah Beda Agama Merupakan Pelanggaran atas Undang-Undang
Hakim MK Memutuskan bahwa Nikah Beda Agama Merupakan Pelanggaran atas Undang-Undang

SETELAH publik berpolemik panjang seputar pernikahn beda agama dan menanti lama keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya pada Kamis (18/6/2015) MK memutuskan satu keputusan final dan mengikat semua pihak. Dalam amar putusannya Hakim yang diketuai oleh Ketua MK Arief Hidayat menegaskan bahwa setiap warga negara wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan Undang-Undang dalam menjalankan hak dan kebebasannya, termasuk dalam hal menikah (Radar Cirebon, Jum’at 19/6/2015).

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, masalah pernikahan umat Islam diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. UU tersebut merupakan bagian dari peraturan perundangan-undangan yang dibuat dan dakui oleh negara. Dengan begitu, maka ketundukan umat Islam terhadap UU tersebut merupakan wujud nyata kewajiban untuk mentaati hukum yang berlaku dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nikah Beda Agama adalah Nista?

Dalam Islam, nikah (menikah) adalah ibadah yang sakral memiliki konsep tertentu yang final. Ia pun dapat dilakukan manakala sudah memenuhi syarat dan rukun yang terkonsepsi sekaligus bersifat final dan sakral pula. Kesamaan keyakinan (dalam pengertian seagama, yaitu Islam) dan beda jenis (laki dengan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan) merupakan syarat mutlak yang dimaklumi oleh semua mazhab fiqih dalam khazanah pemikiran fiqih Islam.

Lalu, apakah nikah bedah agama (NBA) dan nikah sama kelamin (NSK) merupakan salah satu bentuk penistaan agama? Menjawab pertanyaan ini memang perlu dipandang dari berbagai sudut. Pertama, dari sudut doktrin agama. “Sejak awal atau sejak kelahiran agama-agama, sudah menjadi pemahaman umum bahwa semua agama menghendaki praktik keagamaan yang sesuai sumbernya” (Anis Malik Thoha, 2005), dan—menurut Hamid Fahmy Zarkasyi (2012)—“Islam sama sekali menentang nikah beda agama, termasuk homoseks dan lesbian.” Bahkan dalam Islam, homoseks dan lesbian adalah bentuk perilaku yang sangat buruk dan terancam mendapat bencana juga penyakit asing selama di dunia, juga siksa yang pedih di akhirat kelak.

Nikah sendiri (terutama dalam Islam) akan melahirkan konsekwensi sebagai ikutannya. Misalnya, kejelasan perwalian anak, hak waris, syarat kesaksian dan sebagainya. Dalam konteks lain, jika NBA terjadi, maka bukan saja pelaku dan keluarga besar pelaku yang menjadi “korban”, anak (keturunan) pun menjadi “korban”. Menurut semua Imam Mazhab, si anak (jika kelak memilih menjadi muslim) tidak sah diwalikan oleh orangtua (Ayah atau sepadanannya) yang non muslim; dan begitu seterusnya.

Di Barat, menolak bahkan perlawanan terhadap doktrin agama sudah terjadi sejak lama. Selain karena adanya pemahaman sekularistis(me) yang memisahkan agama dan urusan sosial, di Barat juga terjadi distorsi konsep dan sumber agama. “Melalui rumusan Hermeneutika—yang berbasis pada konteks sejarah dan penulis teks, tanpa memperhatikan konsep tafsir ilmu tafsir atas Wahyu Tuhan—mereka menolak kesakralan kitab suci dalam agama, termasuk konsep, ajaran atau pesan-pesannya. Akhirnya agama semakin dimusuhi, dicampakkan, dipinggirkan, bahkan hanya menjadi onggokan kosong tanpa kejelasan” (Adnin Armas, 2005).

Nah, praktik keagamaan dan konstruksi sosial keagamaan semacam itu tentu tidak bisa diadaptasikan ke dalam struktur peradaban yang memiliki keajekan konsep dan kemantapan pandangan terhadap agama dan etika yang luhur. Dalam khazanah Islam, agama diposisikan secara terhormat, sebab ia memiliki konsep pandangan hidup, konsep ibadah, konsep muamalah, konsep akhlak dan sebagainya, yang tentu saja maslahat dan sangat relevan dengan kepentingan juga kehidupan umat manusia lintas zaman dan peradaban: untuk beragama (hifz al-din), berkepribadian atau berjiwa (hifz al-nafs), berfikir (hifz al-‘aql), berkeluarga (hifz al-nasl) dan berharta (hifz al-mal).

Kedua, dari sudut sosial. Menurut Syamsuddin Arif (2008), “dalam konteks perkembangan umat beragama, termasuk dalam memahami doktrin dan praktik ajaran agama memang cukup problematis dan kompleksis. Hal ini terutama di Barat, di satu sisi agama memiliki doktrin yang final, namun di sisi lain ada semacam kesepahaman bahwa agama dan “keberagamaan” terpisah (sekular-liberal). Agama menghadirkan konsep umum, sementara praktiknya diserahkan kepada masing-masing individu sesuai penafsiran, pemahaman dan seleranya masing-masing tanpa memperdulikan penjelasan yang otentik dari para agamawan yang otoritatif.” Bahkan di Amerika, dalam beberapa tahun berjalan mereka yang NBA, termasuk pelaku homoseks dan lesbian atau NSK “dilindungi” negara, karena dinilai sebagai hak azasi manusia yang paling mendasar: kebebasan beragama.

Sepintas, pandangan semacam itu seakan-akan relevan dan tidak bertentangan dengan doktrin agama dan kewajaran umum. Namun kenyataannya, pandangan semacam ini mengandung problem yang mendasar. Pertama, ia menolak sifat agama yang bersifat konsepsional, sempurna dan sakral. Dalam agama (terutama Islam), nikah (menikah) memiliki syarat dan rukun yang sudah diatur secara sistematis, dan diakui bahkan dipraktikkan oleh penganutnya sejak era awal Islam hingga kini. Misalnya, wanita muslimah tidak sah menikah dengan laki-laki non muslim, walaupun mereka mengaku saling “mencintai”; dan seterusnya.

Dengan demikian, ketika ada pandangan yang berseberangan dengan konsep tersebut, maka perlu mendapatkan pelurusan atau pencerahan. Di sini agama (melalui pencerahan para Ulama) mesti hadir secara tegas. Itulah bedanya agama dan lawakan (lelucon), yaitu pada ketegasan dan sakralitasnya. Agama itu tegas dan sakral, sementara lawakan (lelucon) tidak.

Kedua, ia bertentangan dengan fitrah manusia yang menghendaki keharmonisan yang berbasis pada konsep “berpasang-pasangan”, bukan kebebasan tanpa batas. Hidup berpasang-pasangan dalam kehidupan sosial yang normal tentu punya batas-batasan tertentu yang diadaptasikan dari doktrin agama dan kewajaran umum. Misalnya, manusia hanya sah menikah dengan manusia (sesuai syarat dan rukun agamanya). Dengan begitu, manusia tidak sah menikah dengan monyet, walaupun manusia tidak dilarang untuk menghargai dan menjaga habitat monyet; laki-laki tidak sah menikah dengan kambing, walaupun kambingnya betina dan si laki-laki mengaku mencintai si kambing; laki-laki tidak sah menikah dengan laki-laki (homoseks), walaupun mereka mengaku dapat saling melengkapi; wanita tidak sah menikah dengan wanita (lesbian), walaupun mereka bersepakat dan saling “mencintai”; dan begitu seterusnya.

Kembali ke Jalan Agama

Bagi mereka yang “terlanjur” dalam “jebakan” NBA (termasuk homoseks dan lesbian alias NSK), maka paling tidak ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Pertama, mereka mesti kembali ke jalan yang benar sesuai konsep dan doktrin agama (misalnya, memutuskan hubungan dengan pasangannya lalu bertaubat kepada Tuhan, Allah Swt.), di samping keharusan untuk mendalami dan menjalankan ajaran agamanya secara sungguh-sungguh dan benar.

Kedua, dalam batasan tertentu, pelaku NBA (termasuk pelaku homoseks dan lesbian alias NSK) tidak perlu dikucilkan dari kehidupan sosial, sebab agama memiliki sifat lemah-lembut dan “menyelamatkan” yang tentu saja layak dihadirkan atau dipraktikkan oleh umat beragama dalam berbagai konteks. Dengan begitu, mereka yang terlibat NBA dan serupanya atau pendukung pemahaman tersebut layak mendapatkan bimbingan keagamaan dari para agamawan (seperti Ulama) yang paham betul agama yang dianut.

Di atas segalanya, sungguh, hidup di dunia ini sementara. Jangan sampai dalam kesempatan yang sementara ini kita terkena sindiran Allah, “Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?”, “(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya” (Qs. Al-Kahfi [18]: 103-104), sehingga kelak terjebak dalam kenestapaan abadi. Astaghfirullah. [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis adalah Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di Institut Islam Bunga Bangsa Cirebon-II BBC, Jawa Barat]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s