Ramadan, Momen Melawan Syahwat

Foto2324Ibadah Ramadan untuk Pembersihan Jiwa

Dalam waktu dekat Ramadan kembali bersua dengan kita. Ini pertanda ibadah puasa dan berbagai jenis ibadah khas Ramadan kembali kita tunaikan. Tujuan puasa dan berbagai bentuk ibadah kita di bulan Ramadan sangatlah jelas, yakni kita diharapkan menjadi orang yang taqwa. Yang menonjol pada puasa adalah ibadah fisik. Tapi, dampak yang diharapkan adalah dampak kejiwaan: la’allakum tattaqun; menjadi hamba yang bertaqwa. Taqwa jelas kondisi jiwa, bukan kondisi badan. Karena itu, pada hakikatnya, puasa Ramadan adalah ibadah pembersihan kejiwaan, tazkiyyatun nafs (Adian Husaini, 2013).

Tazkiyyatun nafs menjadi satu tugas penting yang diemban oleh Nabi Muhammad Saw. terhadap umat beliau Saw. “Dialah (Allah) yang telah mengutus kepada ummat yang ummi, seorang Rasul dari kalangan mereka; dia membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2). Karena itu, kewajiban besar manusia pengikut Nabi Muhammad Saw. adalah melakukan upaya pensucian jiwanya. “Sungguh telah meraih kemenangan, orang yang mensucikan (jiwa)nya, dan merugikan orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9-10).

Jiwa manusia memang diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih yang baik dan yang buruk. (QS. Asy-Syams [91]: 8). Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Allah SWT berfirman bahwa sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian datanglah setan kepada mereka, maka kemudian setan pun menyelewengkan mereka dari agama mereka.” (HR Muslim).

Jiwa manusia memang diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih yang baik dan yang buruk (QS. Asy-Syams [91]: 8). Maka, menurut Imam Al-Ghazali, beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotori jiwanya. Sedangkan Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan, bahwa maksud mensucikan jiwa adalah menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Ada doa khusus yang dibaca Rasulullah Saw. saat membaca ayat ini (QS. Asy-Syams [91]: 8): “Allahumma Ẩti nafsiy taqwâhâ Anta waliyyuhâ wa-mawlâhâ wa khayru man zakkâhâ.” (Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, Engkaulah wali dan Tuannya; dan Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya).

Manusia adalah makhluk yang terdiri atas jiwa dan raga. Keduanya merupakan satu kesatuan yang unik dalam membentuk sosok bernama “manusia”. Islam tidak mengenal pemisahan yang ekstrim antara tubuh dan jiwa, sehingga ibadah dalam Islam juga memadukan dimensi jiwa dan raga (Yusuf Qardhawi, 2004).

Shalat, haji, puasa, dan sebagainya, merupakan paduan yang harmonis dan unik antara aspek jiwa dan raga. Dalam shalat, orang diwajibkan suci lahir dari hadats dan najis. Secara batin, dia pun harus suci dari penyakit jiwa, seperti riya’ dan ujub. Puasa dalam Islam adalah ibadah yang secara ketat melatih badan untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, pada saat yang sama, puasa harus didasarkan pada aspek kejiwaan, seperti niat yang ikhlas karena Allah Swt. Begitu pula berbagai jenis ibadah lainnya.

Itulah indahnya ibadah dalam Islam. Begitu ketat dan jelasnya petunjuk Rasulullah Saw. dalam pelaksanaan ibadah puasa, baik secara jasmani maupun rohani. Selama puasa, kita dilatih secara fisik, menahan lapar dan dahaga, dan pada saat yang sama, diharuskan menjalani puasa batin agar menjaga diri dari berbagai penyakit hati yang dapat merusak ibadah puasa. Niat baik saja tidak cukup. Niat baik harus juga disertai dengan cara yang baik, yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Saw.

Saat Ramadan, kita dilatih dengan keras untuk mensucikan jiwa dengan cara menundukkan hawa nafsu kita, supaya terhindar dari neraka Jahim dan masuk ke dalam surga. “Adapun orang yang durhaka, dan mengutamakan kehidupan dunia, maka neraka Jahim-lah tempat dia. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sorgalah tempat dia.” (QS. An-Naazi’aat [79]: 37-41). Hal ini sesuai juga dengan sabda Nabi Muhammad Saw.: “seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan nafsunya” (HR Tirmidzi). Menundukkan nafsu adalah jihad yang besar, sehingga perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan segala macam latihan ibadah yang sungguh-sungguh (mujahadah), kita berharap menjadi mukmin yang bahagia, memiliki nafsu yang tenang (nafsul-muthmainnah). “Wahai nafsul-muthmainnah (wahai jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr [89]: 27-28).

Imam Ibn Katsir menyatakan, bahwa saat sakaratul maut, dan saat di akhirat nanti, hamba Allah dengan jiwa yang tenang (muthmainnah) akan mendapatkan seruan: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu,” dengan hati yang ridha dan diridhai, yakni “dia rela menjadikan Allah sebagai Tuhannya dan Allah pun ridha menjadikan dia sebagai hamba yang dikasihi-Nya.

Ibnu Katsir mengutip sebuah doa Rasulullah Saw.: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akan jiwa yang tenang yang beriman akan perjumpaan dengan-Mu dan ridha atas keputusan-Mu dan merasa puas dengan pemberian-Mu.” (Allahumma inniy as’aluka nafsan muthmainnatan tu’minu bi-liqâika wa-tardha bi-qadhâika wa-taqnau bi-‘athâika).

Jiwa yang Suci Melawan Syahwat

Kemuliaan jiwa itulah yang ditekankan oleh Islam; agar manusia mencapai taraf tinggi sebagai manusia, dan tidak terjebak dalam kehidupan yang memuja syahwat dan menuhankan hawa nafsu. Adalah pakar Pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas (2001) menggambarkan perkembangan falsafah Barat dan dunia umumnya yang telah membuang Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan mereka, sehingga mereka menempatkan manusia sebagai Tuhan yang merasa berhak mengatur alam dan dirinya sendiri, tanpa campur tangan siapa pun. Bahkan manusia semakin hedonis, primisif dan tidak mau mendengar nasihat dari manusia lain.

Al-Quran sendiri menggambarkan manusia-manusia yang berinteraksi dengan alam (ayat-ayat kauniyah dari Allah), tetapi tidak sampai mengenal Tuhan yang sesungguhnya, maka mereka itu laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat dari pada binatang ternak itu sendiri, sehingga mereka digaransi mendapat tempat di neraka (QS. Al-A’raaf [7]: 179). Juga disebutkan: “Orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan sebagaimana makannya binatang-binatang, dan neraka adalah tempat mereka.” (QS. Muhammad [47]: 12).

Orang mukmin juga makan-makan dan bersenang-senang menikmati makanan serta kesenangan hidup lainnya. Tetapi, orang mukmin tidak menjadikan makan dan segala kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidup dan kenikmatan tertinggi, sebab mereka memiliki tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yaitu mengenal dan beribadah kepada Allah Swt., agar jiwanya tentram. Itulah kebahagiaan yang sejati.

Betapa banyak manusia tertipu dengan kenikmatan duniawi. Ia menyangka akan bahagia saat mereguk segala syahwat dunia. Ternyata kesenangan dunia itu menipunya. (QS. Ali ‘Imran [3]: 185). Lihatlah, betapa banyak manusia tersohor dan bergelimang harta serta kebebasan, akhirnya hidup dalam keresahan dan berujung kepada obat-obatan terlarang, tersangkut kasus prostitusi bahkan berakhir dengan bunuh diri. Karena itulah, kita diingatkan, agar jangan terkecoh dan tidak terpedaya oleh kebebasan yang dinikmati oleh mereka yang tersesat. “Janganlah kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir di negeri(nya). Itu kesenangan yang sedikit, kemudian tempat mereka adalah Jahannam. Alangkah buruknya tempat itu!” (QS. Ali ‘Imran [3]: 196-197).

Banyak manusia terkecoh oleh kenikmatan duniawi sehingga melupakan kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Pada hakikatnya, itulah kesuksesan setan dalam menghiasi hal-hal maksiat dan kejahatan, sehingga tampak indah dan menawan di mata manusia. “Iblis berkata: Ya Tuhanku, karena Engkau telah sesatkan aku, maka pasti akan aku jadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 39). “Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka (yang salah), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. An-Nahl [16]: 63).

Sampai kapanpun, tantangan godaan setan akan semakin menguat. Berbagai tawaran setan untuk memuja syahwat dan mengikut langkah-langkahnya pun akan menjadi menu kehidupan setiap saat. Hanya saja, Allah Swt. pun memberikan senjata kepada kita untuk membentengi diri dari tipu daya setan. “Sesungguhnya setan itu tidak berkuasa atas orang-orang mukmin dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai wali (pepimpin, pelindung), dan orang-orang musyrik.” (QS. An-Nahl [16]: 99-100).

Semoga Allah Swt. menakdirkan kita semua agar bisa kembali bersua dengan Ramadan mulia, bulan seribu bulan, agar kita bisa mengisinya dengan berbagai bentuk ibadah khas Ramadan untuk tujuan transformasi subtantif: peningkatan ketaqwaan; sehingga kita, baik sebagai individu maupun bangsa mendapat petunjuk, kekuatan dan pertolongan dari Allah Swt. agar mampu melakukan perbaikan terhadap berbagai permasalahan hidup dan terhindar dari berbagai fitnah syahwat duniawi yang terus menipu dan permasalahan sosial yang semakin rumit. Marhaban ya Ramadan! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon, Penulis buku Pendidikan dan Guru Peradaban. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Ramadan, Momen Melawan Syahwat” yang dimuat di Kolom Wacana Harian Umum Radar Cirebon hal. 4, Jum’at 12 Juni 2015].

2 thoughts on “Ramadan, Momen Melawan Syahwat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s